
Para warga mendengar adanya keributan, segera datang melerai mereka berdua.
Ardan menarik tangan Amelia dan membawanya pergi
“Astaga Ardan, kenapa lama sekali dari tadi kita menunggu kamu lho?” ucap Ibunya.
“Kenapa dengan wajahmu ini babak belur begini?” sambung Ibunya lagi.
“Itu tadi tetangga sebelah cari masalah terus,” jawab Ardan.
Ardan datang membawa Amelia ke rumah orangtuanya, “Eh ... eh kenapa kamu membawa perempuan ini sih Ardan?” tanya Ibunya geram.
Amelia yang tidak siap hanya memakai pakaian seadanya, ternyata pesta ulang tahun Rossa ke lima tahun ini di rayakan sangat meriah, “Sudahlah Bu, jangan ngomel nanti malu sama tamu, suruh si Amelia kampung itu ke belakang saja untuk bantu-bantu dan cuci piring,” bisik Mbak Ute yang berada tak jauh dari Ibunya.
“Ya sudah, kamu ikut Mbak Ute biar diobati lukanya!” pinta Ibunya.
Ardan pun menurut masuk ke dalam rumah, Amelia ingin mengikuti Ardan tetapi di cegah, “Eh mau kemana kamu? Cepat bantu-bantu ke belakang dan cuci piring!” perintah Ibu Mertuanya.
Amelia terpaksa segera ke belakang karena malu jika terdengar omelan Ibu Mertuanya oleh orang lain.
Para tamu undangan pesta ulang tahun yang digelar anak Mbak Rosi tak hanya teman anaknya tetapi juga teman-teman kantor dari Suami Mbak Rosi yang katanya kerja sebagai di perusahaan exportir sawit di kota B, selain itu Rossa adalah cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Ardan, sebab Mbak Ute memiliki dua orang putra. Sehingga Ibu mertuanya begitu membanggakan cucu perempuan dan juga menantunya itu.
Di kamar Rossa, Mbak Ute mengobati luka Ardan, memberikannya sedikit obat agar hidungnya tidak mimisan.
“Ardan nanti Mbak Rosi dan suaminya akan kenalin kamu dengan bosnya di kantor, kamu harus bisa mengambil simpatiknya!” ucap Mbak Ute.
“Hah, bos Mas Reza?” Reza adalah nama dari suami Rosi.
“Iya, dia seorang cewek walaupun sudah sedikit berumur tetapi, katanya masih cantik dan seorang janda tanpa anak, jabatannya dikantor sebagai manager, makanya kamu harus bisa merayunya, emang kamu gak mau hidup enak punya istri yang kerja kantoran dan banyak uang?” bujuk Mbak Ute.
“Ya mau lah Mbak, lalu gimana dengan Amelia?” tanya Ardan.
“Gampang itu mah, lelaki kan bisa nikah dua sampai tiga kali,” ujar Mbak Ute.
Selesai mengobati luka Ardan mereka ke luar untuk menjamu para tamu, dan akhirnya yang ditunggu datang yaitu Bos dari suami Mbak Rosi. Seorang wanita dengan cantik dan memakai atasan jas yang berwarna senada dengan rok span pakaian khas seorang pekerja kantoran tetapi sangat ketat memperlihatkan bentuk tubuhnya, dia turun dari mobil yang ditumpanginya.
“Selamat datang Bos Mira,” ucap Reza suami dari Mbak Rosi, ditemani Istri dan Anaknya.
“Terima kasih telah bersedia hadir meluangkan waktunya datang ke acara pesta ulang tahun anak saya,” sambungnya lagi.
“Sama-sama Pak Reza, karena Anda karyawan yang berdedikasi saya sengaja meluangkan waktu sebentar untuk kemari, dan ini hadiah untuk putri Anda,” ujar wanita itu menyerahkan sebuah kado besar.
Rossa memandang itu dengan mata yang berbinar dan senyum yang mengembang.
__ADS_1
“Terima kasih banyak Bu, maaf merepotkan dan mari kita masuk, dan menikmati jamuan!” ajak Reza.
“Ini adalah istri Rosi dan anak saya Rossa,” ucap Reza sambil memperkenalkan anggota keluarganya.
“Ini adalah Ibu mertua dan juga Bapak Mertua saya.”
Ibunya Ardan cepat-cepat, mengulurkan tangannya menyalami Mira.
Mira membalas dengan ramah, “Nah ini ipar-ipar saya, ada Mbak Ute berserta suami dan anaknya, dan ini adalah adik ipar saya yang paling ganteng,” ujar Reza mulai menyikut lengan Ardan agar melancarkan aksinya.
“Oh hallo, salam kenal saya Ardan,” sapa Ardan.
“Ya salam kenal juga, saya Mira,” balas Mira.
“Benar apa yang dikatakan oleh Mas Reza ternyata Nona Mira ini wanita sangat cantik dan anggun sekali,” puji Ardan.
“Ah kamu bisa saja, saya jadi malu,” lirih Mira tersenyum simpul.
“Bu Mira silakan nikmati hidangannya! Maaf kami harus menyapa tamu yang lain juga,” sela Reza.
Mira hanya menggangukkan kepalanya, sedangkan Ardan masih tetap berada di dekat Mira.
“Oh ya bolehkah saya tahu nona Mira ini apakah sudah mempunyai pacar?” tanya Ardan sekedar basa-basi melancarkan aksinya.
“Ah pasti banyak lelaki yang berada di sekeliling nona Mira yang cantik ini.”
“Hahaha tidak, saya ini seorang janda sudah lebih tiga tahun yang lalu.”
“Oh ya masa sih? Saya kira Anda masih seorang gadis karena saya terpesona dengan kecantikan Anda,” goda Ardan.
“Ah kamu ini bisa saja.” Mira tersenyum malu lagi.
“Duh, kalau tersenyum bikin meleleh,” rayu Ardan tak henti-hentinya.
“Udah deh ah, kamu itu gombal melulu bikin saya salting.” Mira tak bisa menahan tawanya sedari tatadi di rayu oleh Ardan.
“Tidak apa-apa, saya mengatakan yang sebenarnya. Oh ya Nona tinggal di mana? ”
“Memang kenapa kamu ingin ke rumah saya?”
“Ya kalau diperbolehkan, jika ada waktu saya ingin sekali nanti mengajak perempuan secantik Nona dinner.”
“Ini kartu nama saya di situ ada nomor telpon dan juga alamat saya.” Mira memberikan sebuah kartu namanya pada Ardan.
__ADS_1
“Terima kasih Nona, sangat berkesan berkenalan dan berjumpa dengan Anda,” sahut Ardan.
“Jangan panggil saya Nona lagi, panggil saja saya Mira,” sambung Mira.
“Baiklah Mira cantik,” ucap Ardan sambil mengedipkan mata sebelahnya.
...****************...
Amelia yang melihat suaminya bercanda tawa dengan perempuan lain, begitu marah, ‘Jadi ini tujuan Ibu melarang Bang Ardan membawaku ke acara ini, sengaja agar memperkenalkan Bang Ardan dengan perempuan-perempuan yang seperti itu,’ batin Amelia.
“Woi kenapa benggong di situ? Cepat bawakan kue-kue dan minuman lagi ke depan!” bentak Mbak Ute pada Amelia.
“I-Iya Mbak,” sahut Amelia. Segera ia membawa beberapa mampan berisi kue dan cemilan lainnya.
Amelia mendekati meja jamuan, agar mendengarkan pembicaraan Ardan dan wanita itu.
“Oh ya kamu sendiri gimana kerja?” tanya balik Mira.
“Saya punya usaha walau kecil jasa bengkel dan cuci motor masih lumayan tetapi, bisa berkembang,” ucap Ardan.
“Oh kalau kekasih bagaimana?” tanya Mira sambil menikmati hidangannya.
“Oh itu ... sa-saya masih single,” jawab Ardan terbata.
“Akheemmz ... Bang Ardan!” Amelia berdehem agar Ardan tahu bahwa ia mendengarkan perkataan suaminya tadi.
Mata Ardan melotot dan seakan ingin mengusir Amelia dari situ.
“Siapa?” tanya Mira binggung.
“Oh itu cuma pembantu di rumah ini,” kilah Ardan memincingkan matanya agar Amelia pergi dari hadapan mereka.
Ameli benar-benar kecewa karena suaminya tidak mengakuinya. Lantas ia pergi begitu saja.
“Oh kenapa dia memanggilmu?”
“Mungkin hanya reflek saja, mungkin karena dia terlalu terpesona dengan kecantikan kamu yang memukau, tidak ada tamu yang lebih menarik dari pada kamu,” jawab Ardan agar Mira tak curiga.
“Hehehe, kamu ini bisa saja,” ujar Mira tersipu malu.
Bersambung ....
__ADS_1