MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 26 Lika-Liku Kehidupan Amelia.


__ADS_3

Sesampainya Amelia ke rumah orang tuanya di kampung, “ Bapak ... Ibu?” Amelia memanggil mencari-cari mereka, tetapi tak ada sahutan dari dalam rumah, sepertinya rumah sedang kosong.


“Eh Ada Neng Amelia?” tanya salah satu tetangga yang mendengar suara Amelia.


“Iya Bu, di mana ya Bapak dan Ibu saya?” tanya Amelia.


“Oh tadi diantar Pak RT ke puskesmas,” jawab Ibu tadi.


“Terima kasih Bu,” ujar Amelia, segara ia mencari ojek untuk pergi menyusul ke puskesmas.


...****************...


Setibanya ia di sana, ia mencari di mana ruang Bapaknya di rawat, “Sus, di mana ruang Bapak Arman?” tanya Amelia pada perawat petugas piket.


“Sebentar dicek, ada di ruang Melati nomor lima Bu.”


“Terima kasih Sus,” ucap Amelia, dengan langkah cepat.


Amelia menuju ruang itu, melihat ada Bapak dan Ibunya di sana, ”Bapak ... Ibu,” seru Amelia.


“Ya Allah Nak, akhirnya kamu datang juga,” ucap Ibunya terharu dengan kedatangan Amelia.


“Bu bagaimana keadaan Bapak?”


“Dia sudah ditangani oleh Dokter, tetapi ya gitu nanti batuknya bisa kambuh lagi,” jelas Ibunya.


Bapak Arman mengalami penyakit batuk TBC di usianya yang sudah mulai senja, membuat kondisi tubuhnya kurus kering dan lemah.


“Kamu sendiri, Mana Ardan?” tanya Ibunya.


“Itu ... Bang Ardan lagu sibuk kerja, dia gak bisa datang ke sini Bu,” jawab Amelia gugup.

__ADS_1


“Oh begitu, bagaimana kehamilan kamu, sehat?”


“Allhamdulilah sehat Bu, dia anak yang kuat.” Amelia sambil mengusap perutnya yang terlihat buncit.


Ini adalah bulan ketujuh massa kehamilannya, tak terasa ia mengandung begitu cepat.


“Nanti kalau Bapak sudah sehat, kita adakan acara syukuran sekaligus tujuh bulanan anak Amelia ya Bu,” ujar Amelia.


“Iya Kak, tetapi wajahmu kenapa pucat? Kamu yakin baik-baik saja?”


“Iya Bu, tenang saja nanti kita gantian jaga Bapak.”


...****************...


Bapak Arman telah siuman, ia memakai selang oksigen diantara dua hidungnya, “A-amelia ...,” ucap Pak Arman terbata.


“Bapak, Allhamdulilah kalau Bapak udah sadar,” ujar Amelia mengenggam tangan Bapaknya.


“Bapak jangan ngomong seperti itu, Amelia sudah bahagia sekali ada Bapak dan Ibu yang selalu menjaga dan menyayangi Amelia selama ini.”


“Tetapi Nak, kamu harus tahu sesuatu ... uhuuuk ... uhuk!”


“Ya Allah Pak, pelan-pelan saja bicaranya.”


“Bu sepertinya udah saatnya kalau Amelia harus tahu tentang siapa dia sesungguhnya?” sambung Bapak Arman melirik ke arah istrinya.


“Maksudnya apa? Ada apa ini Bu?” Amelia bertanya-tanya.


“Begini Amelia, sebenernya Ibu dan Bapak sangatlah menyayangimu, tetapi kamu harus tahu tentang orang tua kandungmu,” jawab Ibunya.


“Maksud Ibu apa bicara begitu? Jangan bercanda ah Bu! Aku ini Anak Ibu dan Bapak kan?”

__ADS_1


“Amelia dengarkan Ibumu, biar Bapak bisa tenang.”


“Sebenarnya kami ini bukan orang tua kandungmu Amelia.” Suara Ibu terdengar lirih dan terisak.


“Ti-tidak ... mungkin, kalian pasti sedang menghibur Amelia agar tidak sedih.” Amelia seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Ibunya.


“Benar itu Amelia, kamu anak dari adik Bapak yang sengaja ditinggalkan pergi merantau ke negeri luar. Dia namanya Saraswati, dia menitipkan kamu selagi bayi kepada kami yang saat itu, sangat ingin memiliki seorang anak,” sambung Bapak Arman.


“Lalu kenapa kalian baru sekarang memberitahuku? Kenapa kalian begitu lama merahasiakannya dariku?” tanya Amelia sedikit kecewa.


“Kami sudah sangat begitu menyayangimu, Nak bagi kami tetaplah Anak kami, awalnya kami tidak ingin memberitahu identitas ini, tetapi aku tidak tenang sebelum mengungkapkan semuanya, uhuuk ... uhuuk, ” sahut Bapak Arman.


“Lalu ke mana Pak, Bu orang tua kandung saya? Apakah mereka tidak mau menginginkan saya sebagai anaknya?” tanya Amelia mulai mengintrograsi.


“Ibumu dulu menikah dengan Ayahmu yang seorang pengusaha textile terkenal, rupanya Ibumu tidak tahu jika sebelumnya Ayahmu itu sudah memiliki istri dan anak di kota, semenjak mengetahui bahwa dia hanyalah istri kedua, Ibumu benar-benar depresi, sampai ia tidak menyadari bahwa ia sedang mengandungmu, kemudian setelah melahirkanmu ia bertolakke negeri jiran dengan alasan untuk melupakan Ayahmu dan juga bisa bekerja membiayai hidupnya dan kamu karena Ayahmu tidak pernah lagi memberi nafkah,” tutur Ibunya.


“Betul itu Amelia, kamu jangan membenci Ibumu, selama ini dia juga selalu membantu kita mengirimi uang untuk kebutuhan dan keperluan sekolahmu dulu, maafkan kami Nak, kami belum bisa menjadi orang tua yang terbaik untukmu, uhuuuk ... uhuk!” Bapak Arman mengalami muntah darah yang sangat banyak.


“Astaghfirullah Bapaak ...,” pekik Ibunya.


“Dok, tolong dok!” Amelia teriak memanggil dokter.


“Innalillahi wainnailaihi rajiziun, Bapak Arman telah meninggal dunia, Anda sekeluarga harus tabah,” ucap Dokternya itu.


“Bapaak ... jangan tinggalkan Amelia!” Jeritan Amelia terdengar pilu.


Bagaimanapun juga Bapak Arman adalah Bapak yang sangat begitu tulus menyayangi dan menjaga Amelia sebagaimana ia menginginkan seorang putri. Hadirnya Amelia dalam kehidupannya memberikan makna terdalam untuk semangat menjalani kehidupan.


Bersambung ....


__ADS_1


__ADS_2