
Rasa cinta yang pernah hinggap, di sela-sela sanubariku kini mulai terkikis, akhirnya harus hancur oleh pengkhianatan yang kau torehkan, terus mengiris luka mengangga di rongga kalbu, biarkanlah aku pergi menanggung luka deritaku. ~ Amelia
...****************...
“Yakin dengan keputusanmu kali ini?” tanya Bu Sukma perihal Amelia ingin menuntut cerai.
“Tentu Bu, kali ini aku sudah mantap ingin berpisah dengan Bang Ardan,” jawab Amelia.
“Baiklah Ibu hanya mendoakan yang terbaik untukmu, Nak.”
“Ya Bu, do'akan semoga prosesnya lancar dan segera keputusan sidang sah, walaupun Bang Ardan ngotot tidak mau menceraikan aku, tetapi sudah banyak bukti untuk mengugatnya,” jelas Amelia.
“Ibu ada sedikit tabungan pakailah ini untuk biaya membuka sidang itu.” Bu Sukma menyerahkan amplop berisi uang didalamnya kepada Amelia.
“Astaghfirullah Bu, janganlah cukup do'akan saja dan dukung aku dan Mutiara,” Amelia terharu dengan ketulusan Ibu Sukma yang selalu baik hati.
“Demi kebahagiaanmu Nak, maafin Bapak dan Ibu belum bisa jadi orang tua yang baik untukmu, Ibu akan selalu dukung, sudah cukup kamu menderita selama ini menikah dengan dia, sekarang kamu fokus saja membesarkan dan merawat putrimu,” ujar Bu Sukma juga terisak.
“Justru Amelia yang meminta maaf pada Bapak dan Ibu belum bisa jadi anak yang berbakti untuk kalian, dan Amelia sangat berterima kasih Ibu dan Bapak adalah orangtua terbaik yang Amelia miliki, telah sudi merawat dan menyayangi Amelia meski Amelia bukan anak kandung Ibu dan Bapak,” sahut Amelia memeluk erat Bu Sukma.
...****************...
“Biarkan saja dia sok-sok'an ingin mengugatmu, syukur dia yang jadi pengugat, kamu gak perlu keluar biaya, lebih baik kamu ceraikan saja istri gak gunamu itu, dan lihat bisa apa dia tanpamu,” ujar Mbak Ute.
Ketika Ardan bercerita bahwa Amelia sudah mengetahui hubungannya dengan Mira dan meminta cerai.
“Betul itu, apa yang bisa kamu harapkan dari perempuan kampung itu hah, lebih baik kamu ceraikan saja dan fokus berhubungan dengan Mira agar kalian bisa secepatnya menikah,” anjur Ibu Ardan pula.
“Tapi Bu, aku masih cinta sana Amelia dan anak Ardan ada bersamanya,” lirih Ardan.
__ADS_1
“Cinta itu tidak bikin kamu kaya raya Ardan, apakah selama ini kamu betah bertahan hidup serba kekurangan terus?”
“Ya gak juga sih Bu.”
“Nah kalau kamu nikah sama si Mira, kamu gak perlu susah-susah kerja lagi dibengkel, cukup minta uang dan rayu si Mira,” usul Mbak Ute.
“Ibu setuju dengan Ute, makanya kamu kabulkan saja permintaan si Amelia untuk cerai, tuh kamu yang di untungkan gak susah lagi buat nanggung beban tu perempuan,” sambung Ibunya.
Ardan masih galau, bahkan sampai saat ini ia belum juga bertemu dengan anaknya, bagaimana dengan Mira? Setelah dipergoki Amelia di Club, Ardan langsung pulang ke rumah orang tuanya, lupa kalau Mira masih tertinggal di Club.
“Huh sial, aku malah di tinggalin, awas aja entar ya Ardan! Aku bakal kasih perhitungan sama kamu, aku gak mau dipermalukan seperti ini, ternyata kamu malah sudah punya istri,” gumam Mira.
...****************...
Hari ini, Amelia mempersiapkan berkas-berkas perceraiannya untuk pengajuan ke pengadilan agama, tak lupa juga ia mengumpulkan bukti perselingkuhan Ardan dan akan meminta tolong kepada Bu Minah selalu tetangga dan menjadi saksi atas kasus kekerasan dalam rumah tangga yang akan ia hadapi di persidangan perceraiannya nanti.
Amelia sudah yakin untuk melaporkan dan menuntut cerai Ardan, ia akan menjadi janda, tetapi ia optimis bisa membahagiakan Mutiara meski seorang diri, “Benar apa yang dikatakan Ibu dan Mas El, aku harus bisa jadi wanita kuat, bekerja dan fokus membesarkan Mutiara, aku tahu ini engkau tidak suka perceraian ya Allah, tetapi aku tidak bisa jika hati dan fisikku terus tersakiti. Semoga dipermudahkan Ya Allah,” ucap Amelia dalam hatinya.
“Iya hati-hati ya, tenang saja Ibu tidak merasa direpotkan justru Ibu senang sekali momong cucu Ibu yang cantik ini, dia sangat enteng,” sahut Ibu Sukma.
“Allhamdulilah, kalau gitu kami berangkat dulu ya Bu, Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Amelia kembali ke kota ditemani oleh Fia kemudian menjemput Ibu Minah, untuk pergi ke pengadilan agama.
“Semua berkas administrasi lengkap Bu, apakah Ibu tidak ingin diadakannya mediasi lagi dengan suami Ibu?” tanya Petugas Pengadilan Agama kepada Amelia.
“Tidak Pak, saya tidak mau lagi bertemu dengan dia, semua bukti dan keterangan saksi sudah saya serahkan, saya menunggu proses keputusan,” jawab Amelia.
__ADS_1
“Baiklah Bu, kami akan segera memproses dan selanjutnya Ibu tinggal tunggu saja surat pamanggilan sidang,” tutur Petugas Pengadilan itu.
“Terima kasih banyak kalau begitu Pak, kami pamit dulu, Assalamu’alaikum, ” ucap Amelia.
“Silakan, Waalaikumsalam,” balas Petugas Pengadilan Agama.
...****************...
“Apakah kamu tidak ingin melaporkan Ardan ke polisi Mel?” tanya Fia saat mereka keluar dari Kantor Pengadilan Agama.
“Tidak, biarkan saja dia nanti akan merasakan karmanya, yang penting aku bebas dulu lelaki seperti dia,” tukas Amelia.
“Kamu terlalu baik hati Mel, kalau Ibu jadi kami, sudah Ibu laporkan dia itu, dia sering melakukan kekerasan padamu tak hanya menyakiti fisik tapi juga batinmu Mel sebagai seorang wanita,” timpak Bu Minah.
“Ya benar sekali lumayan hukumannya bisa lima tahun penjara biar dia jera,” sambung Fia.
“Aku tidak ingin memperpanjang urusan, terima kasih Bu Minah sudah bersedia jadi saksi atas persidangan dan perceraian saya ini Bu,” ujar Amelia tersenyum getir.
“Oh tidak apa-apa Ibu senang membantu kamu, semoga kamu bisa menata masa depan dan mendapatkan kebahagiaan ya,” ucap Bu Minah.
“Amiiiin ....”
...****************...
Satu bulan setelah pelaporan Amelia sebagai penggugat perceraian, proses sidang berjalan dan pemanggilan kepada tergugat untuk hadir ke persidangan.
“Sampai kapanpun aku tidak akan mau menandatangani surat perceraian itu, dan aku tidak akan menjatuhkan talak kepadanya,” cetus Ardan sambil merobek kertas yang disampaikan dari pihak pengadilan.
Bersambung ....
__ADS_1
visual Ardan