
Jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam, Amelia merasa gelisah, “Kenapa Bang Ardan belum pulang?” gumamnya.
Sedangkan hujan deras mengguyur kota ini sejak sore tadi, tidak seperti biasanya dia begitu mengkhawatirkan suaminya itu. ‘Meskipun kadang Ardan menyebalkan dan kami selalu bertengkar, jika ia pulang ke rumah orang tuanya, minimal Ardan selalu memberitahunya melalui pesan WA kalau ia sedang di sana dan tidak pulang, tetapi ini tidak ada kabar sama sekali sejak tadi pagi,’ pikir Amelia.
Suara Hujan terdengar gemuruh, ia menjadi semakin panik, entah kenapa perasaannya tidak enak. ‘Apakah aku menyusul ke tempat kerjanya saja? Semoga saja dia masih di sana,’ batin Amelia.
Dia bergegas mencari payung dan mengunci pintu rumah, untuk mencari Ardan. Di suasana hujan dan dinginnya malam Amelia, berjalan dengan hati-hati mencari ojek pengkolan yang biasanya ada di pojok gang. Untungnya masih ada dua orang ojek yang mangkal di sana, “Mang Wahyu, bisa antar saya?” ujar Amelia.
“Eh, Neng Amelia mau ke mana hujan-hujan begini?” tanya Mang Wahyu.
“Saya mau cari suami saya Mang, dia belum pulang, bisa antar saya ke bengkel Jaya Bakti di perempat jalan?” jawab Amelia, suaranya tak begitu jelas terdengar tertelan hujan deras.
“Oh bisa, ayo pakai jas hujan dulu!" ucap Mang Wahyu.
Mang Wahyu membonceng Amelia, langsung menuju bengkel yang di maksud, tetapi sampainya ditempat tujuan bengkel tersebut telah tutup.
“Sepertinya sudah tutup Neng,” ujar Mang Wahyu.
“Iya Mang, lalu ke mana suami saya, dari tadi nomor teleponnya tidak bisa dihubungi.”
“Coba saja kita tanya pemilik bengkel saja Neng,” usul Mang Wahyu.
“I-iya Mang.”
Rumah si pemilik bengkel berada dibelakang dari usaha bengkelnya.
Tok! Tok!
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” suara sahutan dari dalam rumah.
“Maaf Pak, menganggu waktunya saya ingin bertanya apakah tadi suami saya sudah pulang kerja?” tanya Amelia.
“Suami Ibu siapa?”
“Ardan.”
“Oh, Ardan hari ini katanya izin tidak masuk kerja karena istrinya sakit,” jelas si Pemilik bengkel.
“Apa izin?”
__ADS_1
“Iya, izin dan tidak masuk kerja.”
“Oh begitu terima kasih Pak, informasinya saya permisi, maaf menganggu,” pamit Amelia.
“Gimana Neng?” tanya Mang Wahyu.
“Tidak ada Pak, antar saya ke rumah mertua saja,” ucap Amelia.
“Baiklah.”
Mereka pun kembali menerobos hujan deras, meski memakai jaket dan jas hujan tetap saja tubuh Amelia mengigil kedinginan.
Sampai di rumah orang tua Ardan, berkali-kali Amelia mengetuk pintu rumah tidak ada yang membukakan dia pintu.
“Sudahlah Neng lebih baik, pulang saja kasihan Neng begitu kedinginan nanti malah sakit, apalagi sedang hamil seperti itu,” anjur Mang Wahyu merasa kasihan.
“I-iya Mang, kita pulang antarkan saya ke kontrakan,” sahut Amelia dengan wajah pucat.
‘Ke mana lu Bang, bukannya tadi pagi pamit kerja? Dasar pembohong!’ batin Amelia memendam emosinya.
Mang Wahyu mengantar pulang Amelia kembali ke kontrakannya, tetapi saat ingin turun dari motor, Amelia tersungkur tak sadarkan diri.
“ Astagfirullah Neng, Tolong! Toloong!” jerit Mang Wahyu.
“Astaghfirullah, ada apa ini Mang?” tanya El ikut mengangkat Amelia masuk ke teras. Tak ia perdulikan badan yang basah kuyup karena terpaan hujan.
“Dia tadi ingin mencari suaminya, tetapi tidak ketemu, Mas,” jawab Mang Wahyu.
“Dasar wanita bod*h, ngapain cari laki hujan deras begini?” omel El sambil mencari kunci rumah kontrakan Amelia dari dompet Amelia.
“Duh mana lagi ini kuncinya?” sambung El.
“Kalau tidak ada, bawa masuk ke dalam rumah kontrakan Mas El saja dulu,” usul Mang Wahyu.
“Astaghfirullah Mang, ini istri orang, bisa kena grebek warga, mampus gue Mang.”
“Otak elu mikir apa sih Mas? Setidaknya kita tunggu sampai dia siuman dulu, biar aman kasihan di teras begini,” geram Mang Wahyu.
“Hehehe I-iya Mang, ayo kita bawa ke kontrakan saya aja,” ucap El.
El dan Mang Wahyu membawa Amelia masuk ke dalam kamar El, cepat El menyelimuti tubuh Amelia dengan selimut miliknya, untung dia ada mempunyai air panas di dispenser, ia campur dengan air dingin menjadi air hangat kuku, El gunakan untuk mengompres dahi Amelia, wajah pucat dan badannya yang mengigil menandakan Amelia demam tinggi.
__ADS_1
“Sepertinya pakaiannya harus diganti, Mang mau minta tolong Bu Rahma dan Bu Minah untuk datang ke sini, Mas tungguin dia saja,” ujar Mang Wahyu.
“Iya Mang cepat ya! Tolong hubungi juga Bidan Ratna Mbak saya biar dia bisa di periksa.”
Kini tinggallah El dan Amelia berdua di sana, El menatap lembut ke arah Amelia, ia merasa tidak tega akan keadaan Amelia yang terlihat begitu menderita. Tak sengaja tangan El menggenggam jemari Amelia yang bergetar karena demamnya.
“Tenanglah, gue ada di sini,” bisik El.
Mendengar suara Bu Minah dan Bu Rahmah datang, El cepat-cepat melepaskan tangan Amelia dari genggamannya.
“Gimana ini bisa terjadi Mas El?” tanya Bu Rahmah.
“Entahlah Bu, gue juga gak tahu tiba-tiba Mang Wahyu teriak aja, dan ternyata Amelia pingsan.”
“Maaf, sekarang Mas El, keluar dulu ya kami mau gantikan baju dia dulu, ini sudah Ibu bawain baju Ibu, ” ucap Ibu Rahmah.
“Iye dah.”
El keluar kamar disaat bersamaan Mang Wahyu dan Mbak Ratna datang, “Gimana, sudah sadar?” tanya Mang Wahyu.
“Belum Mang, itu lagi digantikan baju oleh Bu Rahmah dan Bu Minah,” jawab El.
Selesai diperiksa Mbak Ratna, Amelia mulai sadar dari pingsannya. Namun karena pengaruh obat suntikan penuru panas dan memperkuat kandungan yang dikasih kembali ia tertidur.
“Biarkan saja dia tertidur di sini El, nanti Ibu Rahmah dan Ibu Minah yang jaga di kamar ini,” saran Mbak Ratna.
“Baiklah Mbak, El bisa tidur diluar,” imbuh El.
Mang Wahyu pamit tak lupa El memberinya ongkos karena telah membawa Amelia tadi, sekaligus mengantar Mbak Ratna pulang.
“Amelia oh Amelia tetap segitu mengkhawatirkan suaminya yang dia saja tidak memperdulikanmu tadi sangat membahayakan, bagaimana jika terpeleset di jalan?” gumam Bu Minah.
“Ya begitulah seorang istri yang shalehah Bu, Amelia memposisikan dirinya sebagai istri yang berbakti dengan suami, semoga saja dia sabar menghadapi segala cobaan yang menimpa rumah tangganya,” jawab Bu Rahmah.
“Amiin.”
El yang mendengar itu merasa cemburu, ‘Betapa beruntungnya seorang Ardan memilikimu, Amelia, tetapi ia malah menyia-menyiakan wanita sebaik kamu, dasar lelaki brengs*k!’ umpat El dalam hati.
'Perlukah gue merebut elu secara paksa dari dia?’ pikir El.
Bersambung ....
__ADS_1
Mampir juga di karya teman saya ini. Fighting!