
“Ini Namanya Ibu Sulastri, Dia yang ingin mengontrak rumah ini pertahun katanya menjadi sepuluh juta bagaimana kak?” tanya Saraswati, ia memperkenalkan seseorang wanita kepada kakak iparnya.
“Kalau ada yang merawat dan menjaga rumah ini pun aku sudah senang, aku sih sesuai dengan kesepakatannya,”
“Allhamdulilah, kalau begitu besok kita sudah bisa berkemas dan rumah ini mau ditempati oleh Ibu Sulastri dan keluarganya secepatnya,” ucap Saraswati.
“Ini uangnya saparo dulu saya bayarnya Bu, nanti setengah tahun yang akan datang akan saya tambahin lagi sesuai perjanjian,” kata wanita yang bernama Sulastri itu.
“Ngeh jeng terima kasih nanti kabari saja biar kita ke sini untuk ngambil uangnya, besok kami akan pindah dan ini kunci rumahnya.” Saraswati mengambil uang lima juta itu dan menyerahkannya pada Kakaknya.
“Uang ini kamu pakai saja dek buat pindahan ke rumah baru,” ujar Sukma.
“Tidak kak, rumah baru itu sudah saya beli dan ini uang hasil dari rumah kakak, ya kakak simpan saja anggap buat jaminan hari tua nanti, kakak gak perlu susah-susah kerja, biar tinggal sama kami saja, semua parabotan di sini tidak usah dibawa karena semua di rumah baru sudah lengkap, tinggal kita tempati saja,” sambung Saraswati.
“Terima kasih ya Dek.”
“Justru aku yang berterima kasih kak, sudah mau menjaga dan merawat anak dan cucuku selama ini, aku belum bisa membalas kebaikan kak Sukma dan Bang Arman,” isak Saraswati.
“Udah jangan mewek, anakmu ya anakku juga, dan cucumu berarti cucuku juga Dek.”
Hubungan antar saudara ipar ini memang sangat dekat dari dulu, tetapi karena keadaan yang membuat Saraswati harus pergi merantau ke negeri orang untuk mencari rezeki.
...****************...
“Sebenarnya kita mau pindah ke mana sih, Bu?” tanya Amelia sambil mengendong Mutiara.
Mereka hari ini pindah, sudah berada di dalam taksi untuk menuju rumah baru, bersama dengan Bu Sukma dan Bu Saraswati.
“Bentar lagi kita sampai kok, sabar ya,” jawab Bu Saraswati berada duduk di samping sopir.
“Tetapi Bu, benar kah ini kita akan pindah ke daerah ini?” tanya Amelia bingung.
“Tentu saja, nanti kamu akan tahu sendiri,” sahut Bu Saraswati.
__ADS_1
Mobil taksi itu membawa mereka masuk ke salah satu komplek perumahan elit, yang mana nampak rumah-rumah mewah dan megah berdiri tegak.
Mobil taksi yang mereka tumpangi berhenti disalah satu unit rumah mewah itu, dengan dinding pagar yang menjulang tinggi.
Amelia dan Bu Sukma saling pandang, mereka bingung mau turun dari mobil, “Gak salah alamatkah kita, Dek?” tanya Bu Sukma pada Adik iparnya.
Saraswati tersenyum seraya berkata, “Tidak kok, ayo turun!”
Amelia turun seraya mengendong Mutiara dan Bu Sukma mengikutinya, mereka tak berhenti berdecak kagum melihat dan mengagumi bangunan rumah yang menjulang tinggi di depan mereka.
Saraswati menekan Bel dan seseorang lelaki keluar dari pos jaga rumah itu, langsung bergegas menghampiri dan membukakan pagar, “Ayo masuk!” ajak Saraswati.
Namun Bu Sukma dan Amelia, mereka masih diam ditempat, “Kok malah melamun sih, ayo kita masuk!” ajak Saraswati lagi mengandeng tangan Amelia dan Sukma untuk masuk ke dalam halaman rumah yang begitu luas dan terdapat taman mini di sebelahnya.
“Selamat datang Nyonya!” sapa Lelaki itu membungkukkan badannya memberi salam hormat pada Saraswati.
“Ini namanya Pak Samsul, dia yang mengurus keamanan rumah,” ujar Saraswati memperkenalkannya pada Amelia dan Sukma.
“Oooh,” ucap Amelia dan Bu Sukma serempak.
“Oh ya, Pak tolong bawain koper-koper dan tas itu ya!” pinta Saraswati pada Samsul.
“Siap Bu.”
Mereka mendekati pintu rumah, seseorang perempuan muda telah menunggu di sana, “Halo Nyonya, selamat datang,” sapanya.
“Halo juga, namanya Fitri dia menjadi asisten rumah tangga di sini,” ujar Saraswati.
“Nah fitri ini adalah Kakak, Anak, dan cucu saya, ke depannya kamu harus mematuhi perintah dan melayani mereka,” perintah Saraswati.
“Siap Bu.”
Saraswati mengajak Amelia dan Kakaknya Sukma melihat-lihat isi rumah, “Bagaimana kalian suka rumah ini?” tanya Saraswati.
__ADS_1
“Suka sekali Bu, sangat besar dan megah,” jawab Amelia.
“Allhamdulilah kalau suka, kalau kakak bagaimana?” tanya Saraswati pada kakak iparnya.
“Aku juga suka, siapa sih yang gak mau tinggal di rumah bagus seperti ini,” ungkap Sukma.
“Allhamdulilah jika semua suka,” ujar Saraswati.
“Tapi Bu, ini rumah siapa? Tidak mungkin Ibu bisa membeli rumah semewah ini Bu,” timpal Amelia masih tak percaya.
“Iya, kamu bilang gajimu cuma mentok sekitar tujuh juta perbulan, tidak mungkin juga bisa miliki punya rumah besar gini,” sahut Sukma.
“Hehehe, Iya ini memang bukan milik Ibu, tetapi milik kamu Amelia,” tutur Saraswati.
“Hahaha ... idih Ibu bercanda kok gini amat sih, mana mungkin Amelia bisa miliki rumah seperti ini, mimpi aja belum pernah.”
“Lho siapa yang bercanda? Ini beneran semua ini akan menjadi hak milikmu Amelia.”
“Maksud Ibu gimana?”
...****************...
Sedangkan itu di apartemen milik Andreas, El tidur dengan gelisah, ia tiba-tiba tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak.
“Ada apa ini kenapa aku tiba-tiba kangen dengan Mutiara?” gumamnya.
El melirik jam dinding telah menunjukkan angka dua belas dini hari, ‘Tidak mungkin aku ke sana jam segini kan?’ pikir El.
Ia pun keluar dari kamar tidurnya, sepertinya Andreas juga belum balik dari perusahaan, ‘Besok aku akan meminta Andreas mengantarku ke kampung Amelia,’ batin El.
Entah kenapa El tiba-tiba begitu merindukan sosok mungil yang pernah ia beri nama Mutiara itu.
Bersambung ....
__ADS_1