MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 33 Mempergoki Ardan.


__ADS_3

“Bagaimana dengan Club kemaren?” tanya El dengan Andreas.


“Pihak Club sangat menyayangkan aksi elu kemaren, mereka hanya menuntut ganti rugi atas beberapa kerusakan atas kekacauan yang elu timbulkan,” jawab Andreas.


“Apakah Ardan sering datang ke sana?”


“Kalau Ardan hanya terlihat beberapa kali, tetapi kalau cewek itu memang langganan di club malam itu, dia termasuk member VVIP,” jawab Andreas.


“Pantas saja begitu b*nal, kita gunakan club itu untuk menjebak mereka,” ucap El.


“Caranya?” tanya Andreas serius.


...****************...


Siang ini Ardan siap janji temu dengan Mira lagi, ia ingin melancarkan kembali aksinya, tempat di Cafe Uka-Uka.


“Sayaang ... nanti malam kita club lagi ya?” pinta Mira manja.


“Duh gimana ya sayang? Beberapa hari ini kayanya aku gak bisa nemenin kamu karena ada masalah di usahaku,” kilah Ardan.


“Terus kamu ngajakin aku ketemu sekarang mau apa?” tanya Mira.


“Begini sayang ... aku minta tolong pinjam uang, buat bisnisku gak banyak kok cuma seratus juta doang.”


“Emmmz gimana ya?” Mira ragu-ragu.


“Tenang sayang, nanti aku ganti biar bisnisku makin berkembang dan kita bisa secepatnya nikah,” anjur Ardan agar Mira percaya.


Mendengar hal itu tentu saja Mira menjadi klepek-klepek, “Baiklah, janji ya nanti di balikin lagi, Menjadi dua kali lipat bagaimana?”


‘Buset ... dua kali lipat, ah bodo amat yang penting gue dapat uangnya dulu,’ pikir Ardan.


“Ba-baiklah, ” ujar Ardan menyakinkan.


“Ini akan aku transfer ya via bank-ing lima puluh juta rupiah dulu setengahnya nanti gue ambil di apartemen, ingat nanti harus balik dua kali lipat!”


“Iya- Iya ah cantik, makasih ya.” Ardan senang memeriksa notifikasi bank-ing tertera jumlah uang yang masuk ke saldonya.


‘Gue harus segera kasih tahu Ibu dan Mbak Rosi nih, pasti mereka senang,’ batin Ardan.


“Gimana udah masuk uangnya?” tanya Mira sambil minum jus jeruk kesukaannya.


“Iya sudah, hehehe terima kasih ya, kamu tahu gak bedanya kamu dengan jam dua belas?” gombal Ardan.

__ADS_1


“Gak tahu, emang apa?”


“Kalau jam dua belas itu kesiangan, tapi kalau kamu kesayangan,” rayu Ardan seraya mencubit gemas pipi Mira yang duduk di sebelahnya.


Mira terkekeh centil, Ardan memang bisa membuat suasana hatinya senang, Mira sangat menikmati makan siangnya.


...****************...


“Elu yakin dengan rencana itu?” tanya Andreas memastikan.


“Ya gimana lagi, supaya Amelia melihat sendiri kelakuan suaminya, kita gak mungkin juga kasih tahu langsung tanpa bukti nanti disangka adu domba rumah tangga orang,” ujar El.


“Okelah nanti, gue konfirmasi dulu dengan pihak club,” ucap Andreas.


...****************...


Sementara menunggu Ibu Sukma pulang dari pasar, Amelia duduk di teras rumah sambil memangku bayinya, pagi ini ia akan menjemur sebentar bayinya.


Setelah sepuluh menit menjemur Mutiara , ia membawa bayinya masuk kembali ke dalam kamar, karena Mutiara sudah mulai merenggek minta disusui. Setelah puas menyusu, bayi Mutiara pun tertidur nyenyak, Amelia tersenyum melihat bayi mungil dengan pipi gembulnya membuat Amelia begitu gemas.


Drrrtt! Drrrttt!


Handphone Amelia bergetar, terletak di atas meja riasnya. Ia sedari kemarin tidak pernah mencek ponselnya itu, ia pun beranjak mencoba mengambil dan melihat isi pesan yang tertera.


Sebuah pesan yang berhasil membuat air matanya luruh tak terbendung lagi, Amelia mencekram erat handphone itu.


Tring! Pesan singkat muncul lagi dari layar handphone Amelia, tetap dengan nomor yang tak dikenal, “Jika kamu ingin mengetahui kebenaran foto-foto itu silakan datang ke Club di kota C jalan Xxxx.”


Tubuh Amelia lunglai lemah mendapatkan informasi yang begitu menyayat hati , terdengar suara Ibu Sukma yang datang dari pasar, “Assalamu’alaikum, Nak ini ibu bawain bubur ayam kesukaanmu, bawa sarapan dulu!”


Amelia langsung menyahut dari kamar,“Waalaikumsalam, iya Bu tunggu sebentar.”


Amelia buru-buru menghapus jejak air matanya yang mengalir dan keluar kamar dengan mata sembab, “Bu bisakah aku titip Mutiara nanti sebentar?”


“Memangnya mau ke mana?” tanya Bu Sukma.


“Amelia ingin memastikan sesuatu tentang Bang Ardan, Bu,” jawab Amelia.


“Apakah ada masalah lagi?”


“Aku hanya ingin memperjelas hubungan rumah tangga ini Bu, aku lelah, sudah capek batin ku disakiti terus,” isak Amelia.


“Baiklah kalau begitu pergilah, biar Fia temani kamu, jangan khawatir Mutiara akan aman bersama Ibu di sini, ” ucap Bu Sukma.

__ADS_1


...****************...


Sore harinya Amelia ditemani oleh Fia sahabatnya di kampung, bersiap ingin pergi ke kota C, “Bu, susu untuk Mutiara sudah saya siapkan di dalam kulkas tinggal di panaskan saja,” ujar Amelia.


“Iya Kak, tenang saja Mutiara akan Ibu jaga dengan baik, kamu hati-hati ya di sana, segera pulang jika sudah beres,” nasehat Ibu Sukma.


“Iya Bu, Mutiara sayang sama nenek dulu ya Nak, Ibu tinggal sebentar saja,” ucap Amelia mencium Mutiara yang tertidur lelap di dalam gendongannya dan menyerahkan pada Bu Sukma.


“Amelia dan Fia pamit ya Bu, Assalamu’alaikum,” salam Amelia dan Fia berpamitan undur diri.


“Waalaikumsalam,” sahut Ibu Sukma.


‘Maafin Ibu ya Nak, Ibu terpaksa meninggalkan kamu sebentar, mungkin ini akan menjadi hal tersulit bagi kita, percayalah Nak, kita akan tetap bahagia meski tanpa dia,’ gumam Amelia di sepanjang jalan menuju kota.


...****************...


Amelia tidak menuju rumah kontrakan, ia memilih untuk beristirahat di salah satu losmen sederhana, agar tidak diketahui Ardan bahwa ia kembali ke kota ini.


Fia tak banyak tanya dan bicara, ia tidak ingin terlalu menganggu pikiran Amelia, dia tahu sekarang Amelia menghadapi masalah rumah tangga yang rumit, tanpa harus ikut mencampuri, ia hanya bisa menemani sahabatnya ini dan menjaganya.


“Apakah betul ini tempatnya?” tanya Fia.


“Betul ini alamat dan Club yang disebutkan oleh nomor itu,” ujar Amelia sembari menatap gedung Club yang sedari tadi tampak ramai orang keluar masuk dari sana.


“Ini baru pukul delapan malam, apakah suami elu sudah berada di sini?” tanya Fia heran.


“Mungkin saja, dia jarang pulang ke rumah kontrakan, paling juga ke rumah orangtuanya,” jawab Amelia.


“Gil* ya suami elu, malah asyik dugem melulu,” geram Fia.


“Ya udah yuk kita masuk! Gue pengen lihat dengan mata gue sendiri gimana kelakuan dia?” anjur Amelia.


“Yakin elu? Jangan nangis bombay, bikin gue malu!” tanya Fia memastikan lagi


“Iya, gue udah nyiapin mental gue, setidaknya gue bakal punya bukti buat ajukan gugatan cerai nanti,” ucap Amelia yakin.


“Ya udah hayok!” Fia menarik tangan Amelia masuk ke dalam club.


Meski baru pukul delapan malam, suasana club sudah meriah dan ramaikan dengan kedatangan para pengunjung dari berbagai kalangan, Amelia dan Fia sibuk mencari keberadaan Ardan.


Sampai mereka naik ke lantai dua atas Club, Amelia langsung melihat Ardan yang duduk mesra merangkul seorang wanita di sisinya.


“Bang Ardan!” tegur Amelia.

__ADS_1


Bersambung ....


Maafin Author ya 😄, lama up nya karena lagi sakit gigi. Happy Reading terima kasih sudah setia baca El. 🙏


__ADS_2