MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 28 Amelia Melahirkan.


__ADS_3

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, usia kandungan Amelia sudah genap sembilan bulan, tinggal menunggu waktu kelahiran yang diprediksi seminggu lagi, Amelia masih bekerja di warung sembako milik Haji Lulung.


Demi kebutuhan harian dan tabungan untuk sewaktu-waktu ia gunakan agar keperluan lahiran sang buah hati nanti, Amelia sangat menantikan kehadiran anaknya, sekarang ia tidak terlalu memperdulikan bagaimana Ardan, ia sudah mulai bosan menegur dan juga menasehati suaminya itu.


Rencana Amelia uang dari Ibu Saraswati akan ia gunakan untuk melunasi pinjaman pada El, terlalu melukai harga dirinya sebagai perempuan, suaminya yang tega malah menjadikannya jaminan kepada lelaki lain, mengingatkan hal itu timbul kebencian dari hati Amelia, jadi ia bertekad untuk melunasi itu dan agar El tidak mencampuri lagi urusan rumah tangganya.


Pagi hari, kicauan dari si Ayam jago membangunkannya yang terlelap dari tidur, beberapa bulan ini Amelia memang sengaja tidak bertegur sapa dengan Ardan akibat Ardan yang tidak perduli dengan meninggalnya Bapak Amelia.


Amelia tak menghiraukan aktifitas apa saja yang Ardan lakukan, ia hanya fokus pada kesehatan kandungan dan juga bekerja, berinteraksi dengan para tetangga pun sekarang ia malas, setelah pulang bekerja ia langsung makan dan tidur.


Amelia terbangun dan keluar dari kamar melihat sekelilingnya sepi, ‘Mungkin Bang Ardan sudah berangkat pagi sekali atau dia gak pulang sama sekali,’ pikir Amelia tak ambil pusing.


Ia segera mandi dan bersiap diri ingin berangkat kerja, tetapi saat hendak membuka pintu depan rumah, rupanya pintu malah terkunci dari luar.


Amelia mencoba mencari kunci rumah tetapi tidak ada, ia berlari mencari kunci cadangan di atas lemari dekat TV juga tidak ada, seketika Amelia menjadi panik, bagaimana ia bisa keluar rumah?


Amelia pergi ke pintu belakang, jalan dekat dapur ia mencoba mendorong pintu itu juga tetapi pintu seakan terhalang oleh sesuatu yang menyangga dari luar.


Amelia berdelik dengan perasaan campur aduk, ia terus bertanya-tanya dalam hati, ‘Bagaimana ini, kenapa semuanya terkunci? Apakah Bang Ardan yang mengunci dan sengaja mengurungku dalam rumah?’


‘Kalau benar kamu yang memang mengunciku di dalam rumah kurang aj*r kamu Bang! Aku tidak akan pernah lagi memaafkanmu,’ batin Amelia kesal.


“Aaawww ... sakiit!” rintih Amelia memegang perut buncitnya, yang tiba-tiba merasa sakit dan kram.


”Aduuh, bagaimana ini? Aku harus segera keluar.” Lalu ia berpindah ke jendela kaca dekat kursi berharap ada tetangga yang mendengar teriakannya.


“Tolooong ... Tolong!” pekik Amelia.

__ADS_1


Amelia mencoba kembali berteriak-teriak meski nafasnya mulai tak beraturan karena menahan sakit di perutnya, “Tolooong ... tolong saya!”


Suasana pagi hari yang mana para tetangga masih disibukkan dengan beragam aktivitas, El masih menyantap sarapan belum berangkat ke peternakan, sedangkan sudah ada beberapa tetangga yang siap mengantar anaknya ke sekolah, teriakan dari Amelia di dengar oleh El dan beberapa orang warga.


Mendegar itu El segera berlari ke sebelah, yakni rumah kontrakan yang Amelia tepati, El mencoba membuka pintu tetapi terkunci.


“Ameliaa ... buka Amelia!” ujar El cemas.


Terdengar sahutan suara Amelia dari balik pintu, “Pintu terkunci dari luar Mas, aku tidak bisa keluar.”


“Astaghfirullah, sepertinya kita harus mendobraknya Mas El,” ucap salah seorang bapak-bapak yang ikut menolong.


“Ayo Pak kita dobrak bersama saya hitung dari satu sampai tiga ya,” ajak El, diangguki oleh Bapak itu.


“Amelia kami akan mendobrak pintunya, kamu minggir ke tepi sebentar,” pinta El.


Amelia pun minggir dekat dengan jendela, El dan para bapak-bapak bersiap mulai mendobraknya.


Dua sampai tiga kita kali mereka mendobrak tetapi pintu terkunci terlalu kuat.


“Ah sial, sepertinya kita harus mencari pintu alternatif lain Pak,” ucap El.


“Ada, di belakang rumahnya pintu jalan dapur,” sahut Bu Minah, langsung mereka berlari ke arah pintu belakang.


Ternyata di pintu belakang terhalang oleh sebuah kursi kayu yang lumayan besar.


Amelia menagis, perutnya semakin sakit. Untungnya para bapak-bapak berhasil menyingkirkan kursi itu dengan mudah, ibu-ibu langsung menolong Amelia yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


“Astaghfirullah neng, kenapa pintu terkunci dari luar, di mana suamimu?” cecar Bu Minah.


Amelia hanya mengeleng lemah, nafas mulai tak beraturan, “Tidak tahu Bu, saat saya hendak keluar pintu sudah terkunci, aduuh Bu ... perut saya sakit sekali, huh ... huh.”


“Mungkin Amelia sudah mulai kontraksi Bu,” ucap Bu Marwah yang ikut membantu.


“Iya kita harus segera membawanya ke klinik Bidan,” anjur Bu Minah.


“Tolong ya Bapak-bapak kita antar dia,” pinta Bu Rahmah.


...****************...


Mereka sampai membawa Amelia ke klinik bersalin sekaligus rumah dinas, Bidan Ratna.


“Dia sudah pembukaan tiga, di mana suaminya? Biar bisa menemani,” ujar Bidan Ratna.


Para Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengantar tak ada yang berani menyahut, mereka diam membisu


“Suaminya tidak ada, lakukan saja yang terbaik agar proses kelahirannya lancar Mbak, saya yang akan menjamin sebagai wali pasien,” sambung El.


“Baiklah, do'akan semoga semua proses lahirannya lancar,” ujar Mbak Ratna.


El ditemani oleh Bu Minah dan Bu Marwa ikut menunggu, tak lupa El menyuruh Pak Susanto untuk menjemput Ibu Sukma yang berada di kampung untuk memberitahu bahwa Amelia sedang melahirkan.


Bersambung ....


Maaf terlambat Up. Jangan lupa mampir ke karya teman saya ini juga, Happy Reading.

__ADS_1



__ADS_2