MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 21. Hati Yang Kembali Teriris Part. 2


__ADS_3

“Biarkan saja sesekali, mereka aku kerjai,’ pikir Amelia. ia segera pulang, meninggalkan rumah mertuanya.


Amelia tak hanya menahan kesal dan marah tetapi, ia juga capek dengan keadaannya yang sedang mengandung.


Ardan yang selesai acara langsung mencari Amelia ke rumah dan berseru, “Amelia ... Wooi Amelia! Kenapa elu pulang cepat?”


“Mengapa memangnya Bang? Ya terserah aku lah, lagian kehadiranku juga tidak diharapkan di sana!”


“Kamu ya sudah berani membantah suami? Itu cucian piring kotor masih banyak di rumah Ibu.”


“Biarin, kenapa aku yang harus mengerjakannya? Aku kan bukan istrimu!” Amelia tak kuasa menahan emosinya.


“Mel, jangan gitu dong, Abang tahu abang salah tadi dan abang minta maaf sekarang kita balik ya, kasihan Ibu dan Mbak Ute ,” lirih Ardan.


“Kamu sudah tidak mengakui aku sebagai istrimu Bang, dan satu lagi kamu tidak kasihan dengan aku yang sedang hamil harus melakukan pekerjaan berat seperti itu, keterlaluan kamu Bang!”


Brak! Ardan memukul pintu.


“Bagus sekarang elu berani melawan aku ya? Pasti karena bujuk rayu tetangga sebalah itu kan? Dasar j*lang!” bentak Ardan.


“Ini tidak ada hubungannya dengan dia Bang! Seharusnya kamu intropeksi diri! Bukankah kamu sudah berjanji ingin berubah?” pekau Amelia tak mau kalah.


Ia masuk kamar dan mengunci pintunya dari dalam, dia menagis sejadi-jadinya.


Dua hari lamanya mereka tak saling sapa, Amelia lebih memilih cuek dan lebih banyak diam, hatinya sudah terlalu sering disakiti.


Ardan semakin hari semakin gencar mendekati Mira dengan rayuan-rayuan mautnya. Berharap Mira akan jatuh cinta dengannya dan ia bisa menikahi janda kaya itu.


...****************...


“Bang mana gajimu bulan ini?” tanya Amelia.


“Hmmz ....” Hanya itu jawaban dari mulut Ardan.

__ADS_1


“Mana Bang gajimu bulan ini?” tanya Amelia lagi.


“Sudah habis, gue beli handphone baru,” ucap Ardan santai.


“Apa? Bagaimana kita akan membayar pinjaman itu lagi?”


“Ya pakai saja dulu uangmu.”


“Bukannya kemarin sudah pakai uangku Bang, masa bulan ini aku lagi? Bagaimana kalau Mas El menjadikanku sebagai tawanannya?”


“Ya itu masalah elu!”


“Abang! Aku ini istrimu, lagi mengandung anakmu, kenapa kamu tega banget sih?”


Ardan tak memperdulikan Amelia, ia asyik bermain dan berbalas chatt dengan Mira memakai handphone barunya, tentu saja hal itu membuat Amelia murka.


Dia mengambil Handphone itu dari tangan Ardan, kemudian menghempaskan ke lantai.


Braak!! Layar handphonenya retak.


Plak! Ardan menampar istrinya.


Amelia merasakan perih dan panas menjalar di pipinya, seketika ambruk tak sadarkan diri.


...****************...


“Bagaimana Dok, keadaan istri saya?” tanya Ardan.


“Keadaannya sangat lemah, ia sepertinya kurang istirahat dan juga banyak pikiran, ini berdampak buruk pada kandungnya, mohon Anda selalu mendampingi dan juga menjaga kondisi istri Anda, ini saya berikan obat penambahan darah dan lainnya,” tutur Dokter itu.


“Baik, terima kasih banyak dok,” ucap Ardan segera membawa pulang Amelia yang sudah sadar.


“Huh ... merepotkan saja, Awas kalau kamu cerita hal ini ke siapa-siapa!” ancam Ardan.

__ADS_1


‘Astaghfirullah Ya Allah, baru beberapa bulan kemarin dia bersikap baik dan lembut padaku, kenapa sekarang ia berubah kasar lagi?’ batin Amelia.


Ardan dan Amelia sampai ke kontrakan, mereka turun dari dalam taksi, kebetulan para ibu-ibu tetangga berkumpul seperti biasanya di bawah pohon jambu Pak Haji.


“Eh Amelia kenapa lemas begitu? Datang dari mana? Kok pakai taksi, ” sapa Bu Rahmah.


“Ini baru datang dari cek-up kandungan Bu seperti biasa setiap bulannya,” jawab Ardan memapah Amelia masuk rumah.


“Oh bagus itu Ardan, kamu suami siaga,” sahut Bu Minah.


Amelia hanya tersenyum kecut mendengar itu.


...****************...


“Maaf bulan ini, gue belum bisa bayar pinjaman itu Mas,” ucap Amelia.


“Kenapa mesti elu yang membayarnya? Suami elu yang pecund*ng itu saja tidak merasa tangung jawab, artinya dia menyerahkan elu pada gue, dan tinggalkan lelaki pengecut itu! Semuanya gue anggap impas.”


“Mas ini bukan hanya perkara uang, tetapi juga perkara harga diri, aku merasa harga diriku terinjak-injak dengan permainanmu ini Mas.”


“Maafkan aku Amelia, maksudku tidak ada niat menyinggung perasaanmu, aku sangat menghormati dan menghargaimu,” sambung El mulai kebingungan.


“Sudahlah Mas, berhenti untuk mencampuri urusan rumah tanggaku!”


“Kamu layak bahagia Amelia.”


“Bahagia atau tidaknya aku, bukan kamu yang menetukannya, biarkan itu menjadi problematika hidupku Mas, kamu tidak ada hak ikut campur!” Tangis Amelia pecah, entah beberapa kali hari ini ia menangisi nasibnya.


‘Dasar keras kepala! Aku tahu aku tidak punya hak, tetapi hatiku yang sakit melihat tangismu,’ gumam El dalam hatinya.


“Kamu perlu teman berbagi Mel, jangan dipendam nanti kamu depresi,” ucap El menangkan Amelia. Ingin sekali El membawa Amelia menagis dalam dekapannya tetapi, ia masih sadar akan batasan moral.


Bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2