
Sore hari, ibu Mertua dan Mbak Rosi kaka kedua Ardan tiba-tiba datang ke tempat kerja Ardan.
“Kenapa kamu tidak pernah datang lagi ke rumah Ibu?” tanya Ibunya.
“Akukan sibuk kerja Bu, pulang juga sore, sedangkan malam sudah cape mau istirahat aja,” jawab Ardan jujur.
“Begini Ardan, Ibu dan Mbak Rosi mau pinjam uang,” ujar Ibu Ardan mengutarakan niatnya pada anaknya.
“Pinjam uang, untuk apa Bu? Bukankah hasil usaha Bapak masih ada?” tanya Ardan.
“Iya sih tapi tetap gak cukup, Ibu mau belanja keperluan buat acara ulang tahun anak Rosi,” jawab Ibu Ardan.
“Iya Dek, kamu mau kan bantuin juga untuk kado buat ponakanmu,” ucap Mbak Rosi.
“Memang perlu berapa?”
“Hanya satu juta saja kok, apakah kamu ada?” tanya Ibunya.
“Ada sih Bu, kebetulan hari ini Ardan gajian tetapi, uangnya ini mau Ardan kasih ke Amelia Bu, buat cicil pinjaman kemarin,”
“Halah, bulan depan aja, lagian si Amelia juga kerja pakai uangnya aja dulu gitu,”
“Betul itu Ardan, kamu harus bakti sama Ibu biarkan gaji kali ini untuk Ibu dan Mbak saja, ingat anak lelaki itu milik Ibunya! Apa kamu lupa yang bantuin biaya sekolah kamu juga dulu Mbak Rosi,”
“Tetapi Bu ini uang juga untuk tabungan kelahiran anak kami nanti,”
“Udah gak usah tapi-tapian sini uangnya! Nanti saja nabungnya, kelahiran anakmu masih lama baru bunting begitu, pokoknya kamu juga diundang kok acara ulang tahun anak Rosi, biar nanti dia bahagia dapat kado dari pamannya,”
Ardan pun terpaksa menyerahkan uang gaji pertamanya pada Ibu dan Mbaknya, sejumlah satu juta, sesuai permintaan mereka.
__ADS_1
“Nah gitu dong baru anak yang berbakti, menyenangkan hati orangtua.” Senyum sumringah terukir dari bibir Ibunya.
...****************...
Sepulang dari kerjanya. Amelia menyambut kedatangan Ardan, “Abang mau kopi atau mandi dulu?” tanya Amelia.
“Abang mau mandi dulu gerah ini.”
“Ya sudah, Amel mau siapkan kopi dulu untuk Abang.”
Selesai Ardan mandi, ia langsung duduk di kursi tamu, Amelia meletakkan kopi di atas mejanya. “Mel ini sisa gaji Abang,” lirih Ardan memberikan uang sejumlah dua ratus ribu pada Amelia.
“Kok cuma ini saja Bang? Bukannya gaji Abang itu satu juta tiga ratus?” tanya Amelia heran.
“Iya tadi dikasih ke Ibu dan Mbak Rosi satu juta, dan seratus ribu buat Abang beli bensin dan rokok,” jawab Ardan.
“Katanya mereka ingin adakan pesta ulang tahun untuk anak Mbak Rosi, jadi Abang disuruh nyumbang kado,”
“Lho yang adakan pesta kan Mbak Rosi, yang ulang tahun kan anaknya Mbak Rosi, kenapa jadi malah Abang yang harus mengeluarkan uang?”
“Ya sudahlah, anggap aja ini sebagai menyenangkan hati orangtua,”
“Iya sih Bang, tetapi kebutuhan kita juga masih banyak seharusnya kamu bisa mikir mengutamakan isteri dulu, biar nanti juga ada tabungan untuk kelahiran anak kita bagaimana kita nanti bayar pinjaman sama Mas El?”
“Kita pakai uang gajimu dulu ya, bulan depan baru deh kita nabung dan bayar pinjaman itu,”
“Tetapi uang gajiku gak akan cukup Bang, belum lagi untuk kebutuhan kita makan dan aku harus kirim uang untuk Ibuku di kampung,”
“Nah, kamukan boleh kasih uang gaji untuk orangtuamu, maka aku juga bisa semauku untuk kasih uang ke siapa saja yang aku mau,”
__ADS_1
Bulir bening mulai jatuh dari sudut mata Amelia, “Kalau begini terus kapan pinjaman itu bisa kita lunasi? Kamu mau aku jadi tawanan Mas El?”
“Bu-bukan begitu juga Mel, aku hanya tidak ingin bertengkar dengan Ibu nanti kita pikirkan lagi caranya melunasi pinjaman itu,”
“Tau ah, pikir aja sendiri!”
Baru Amelia merasakan kebahagiaan karena perubahan sikap Ardan yang mau bekerja, malah dia di hadapankan kondisi yang serba salah.
...****************...
Keesokan harinya Amelia mencari El, ingin menyerahkan uang dua ratus ribu pada El.
“Ini, gue nyicil segini dulu buat lunasi pinjaman yang elu kasih kemarin,” ujar Amelia.
“Kalau begini, aku tidak yakin kalian bisa segera melunasinya,” imbuh El.
Sebetulnya uang sebanyak itu tidaklah begitu berarti bagi El, tetapi karena sekarang ia menjalani hukuman dari Emak, ATM dan juga kartu kreditnya pun ikut di sita Emak, uang itu hasil bonus investasinya dari perusahaan, yang diserahkan Andreas waktu itu ketika di Hongkong, rencananya mau ia gunakan untuk investasi lagi ke peternakan, dan sisanya untuk biaya hidup selama tinggal di kontrakan. Na'as karena ia begitu tidak tega melihat Amelia tersakiti.
“Iya tetapi setidaknya gue masih punya harga diri,”
“Kenapa harus kamu yang repot-repot melunasinya? Kemana suamimu yang tak becus itu?” cibir El.
“Dia masih kerja, setidaknya ia masih punya rasa tangung-jawab padaku dan Anakku,” bela Amelia.
Bersambung....
Yuk mampir di sini juga karya teman saya.
__ADS_1