MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 41. Jodoh Dari Emak.


__ADS_3

“Gimana sudah dapat informasi?” tanya El.


“Belum ...,” sahut Andreas.


El kembali menatap lembaran map berisi berkas-berkas yang akan ia tanda tangani, sekarang ia kembali ke perusahaannya menjadi seorang CEO, El merenung sesaat ‘Bagaimana Amelia pindah tanpa jejak? Aneh sekali!’ pikir El.


‘Haruskah aku meminta bantuan Pak Susanto lagi?’ Hati El terus berkecamuk tak karuan rasa, ia memijit ringan kepalanya yang terasa pening.


Disaat itu juga Emak datang ke kantornya, telah disambut oleh Andreas, “Bos, ini ada Emak,” ujar Andreas menyadarkan lamunan El.


“Astaghfirullah,Ndre! Bikin gue kaget aja sih,” ucap El.


“Elu sih dipanggil beberapa kali gak nyahut-nyahut itu ada Emak datang,” timpal Andreas.


“Hah ... Emak?”


El segera menghampiri Ibunya itu sudah duduk di kursi tamu ruang CEO ini.


“Eh Emak, sudah lama datangnya?” tanya El.


“Elu bener gak mau balik ke rumah lagi, El?” tanya Emak Julaeha.


“Bukankah Emak sendiri yang bilang pantang bagi El untuk kembali pulang jika belum dapat calon bini?”


“Iye, tapi lebih baik elu pulang dah Emak sudah punya calon yang cocok dan pas buat Elu,” ungkap Emak.


“Itu sih Emak, belum tentu cocok dan sesuai dengan keinginan El, dulu aja usir-usir El, sekarang malah maksa-maksa kembali ke rumah gimana sih Emak?”


“Ye, Pokoknye Emak sudah punya calon untukmu, besok kita akan atur pertemuan dua keluarga,” jelas Emak.


“Emak ... selalu saja ambil keputusan tanpa memberitahu, El,” protesnya gusar.


“Nah, elu yang janji-janji dari kemarin mau bawa calon bini sendiri, tapi mana? Kelamaan nunggu Emak,” timpal Emak.


‘Gimana mau kenalin dan bawa ke emak kalau sekarang aja orangnya pergi entah ke mana?’ batin El.


“Itu sih alasan Emak doang gak sabar nunggu, tapi ‘kan Mak?” sanggah El.

__ADS_1


“Pokoknye besok elu harus ikut Emak gak ada tapi-tapian lagi.”


El hanya menghela nafas panjang percuma membantah Emak kali ini, sepertinya Emak sudah yakin ingin menjodohkannya.


...****************...


“Gimana kalau elu aja yang gantiin gue, nemenin Emak bertemu mereka?” Ide jahil El mengedipkan matanya ke Andreas.


“Gil* elu ya, kagak mau gue, bisa dicincang habis-habisan gue ama Emak,” gerutu Andreas.


“Iye kagak segitu sadisnya juga kale, Ndre elu aja yang lebay ah.”


“Lha Emak kalau dah marah ngalahin singa, El, babe gue aja takut ama Emak.”


Benar saja karena mereka berdua saudara sepupu, Ayah Andreas dan juga Ibunya El adalah saudara kandung, wajar saja mereka begitu dekat, apalagi Andreas sejak remaja memilih tinggal bersama dengan El.


“Terus gimana dong?”


“Ya Elu turutin aje kemauannya Emak, apa susahnya sih? Cuma ketemuan antar keluarga doang ribet amat, emang elu mau jadi duda berkelana terus?” Andreas tidak mau ikut terlibat dalam urusan mereka, mendengar tanggapan Andreas seperti itu, El hanya terdiam.


...****************...


Menggunakan mobil sport Buggati Chiron miliknya, El terpaksa datang ikut menemani Emak menuju ke salah satu restoran Jepang ternama di kota B.


“Nah, ini anak saya baru datang, ayo Pak Syarif dan Bu Hamidah, kenalkan ini anak lelaki saya,” ucap Emak Julaeha yang telah sampai lebih dulu, bertemu dengan keluarga temannya ini.


“Halo tante, halo Om perkenalkan saya El Farizi,” sapa El menyalami keduanya dengan sopan.


“Oh Halo juga Nak El, tidak menyangka ternyata kamu orangnya ganteng dan sopan,” ujar Bu Hamidah yang terkesima dengan El.


“Ah Bu Hamidah terlalu memuji, saya biasa saja,” sahut El.


“Ayo, kita ke meja untuk makan bersama!” anjur Pak Syarif.


Mereka pun memasuki room famerisu, Restoran ini menyajikan menu fusion Jepang.


Rupanya mereka telah ditunggu oleh seorang wanita cantik di sana, terlihat anggun dengan pakaiannya menandakan dia orang yang berkelas.

__ADS_1


“Nah, Nak El kenalkan ini adalah Putri tunggal kami namanya Amanda," ujar Bu Hamidah memperkenalkan mereka.


“Halo ... hai saya Amanda Callysta," sapa Amanda mengulurkan tangannya.


“Halo juga saya El Farizi, sapa saja El," balas El menjabat tangan Amanda.


“Ayo, mari silakan duduk!” pinta Pak Syarif.


Selesai menikmati hidangan makan siang mereka, sesekali Emak dan BU Hamidah bergurau tentang keinginan mereka dalam menjodohkan anak-anaknya.


“Kalau dilihat dari segi finansial tentu mereka sangat cocok Bu, kini tinggal kita serahkan kepada mereka berdua yang menjalaninya," ucap Pak Syarif bijak.


“Ya, mereka akan menjadi pasangan yang klop yang satu seorang CEO dan satunya lagi seorang manager, tentu kita mengharapkan hubungan mereka bisa berlanjut setelah perkenalan ini," sambung Emak.


...****************...


"Kamu mau nerima perjodohan ini?” tanya Amanda saat mereka berduaan saja ditinggal untuk mengobrol.


“Kamu sendiri gimana, kenapa mau dijodohkan dengan seorang duda sepertiku?" terka balik El.


“Kalau dudanya seperti Mas El sih, saya akan bikin pengecualian," jawab Amanda.


“Maksudnya?"


“Ya, jujur awalnya saya nolak, pas ketemu langsung dengan Mas, saya benar-benar tertarik,” akui Amanda malu-malu.


“Hemmmz benarkah apa yang membuatmu begitu tertarik dengan saya? Bukan karena saya seorang CEO dari PT. Eka Raksa?" cecar El.


“Bu-bukan, sa-saya tertarik karena mendengar cerita dari Ibu Anda, bahwa Mas seorang pekerja keras, orang yang sopan, dan juga sangat bertanggung jawab, bertemu langsung dengan Mas, memberikan keyakinan akan semua yang dikatakan oleh Ibu Mas itu adalah benar," jawab Amanda merasa gugup seakan terintimidasi oleh tatapan El yang begitu dingin.


“Sungguh Emak saya menceritakan seperti itu?”


“Ya benar, beliau sangat bangga dengan Mas."


‘Hemmz ... hebat juga Emak promosiin gue,' kata El dalam hatinya.


Bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2