
Hari ini El hanya menemani kakak iparnya untuk menemui para pembeli sapi potong yang datang ke peternakan, proses pembelian ternak yang akan didagingkan itu menggunakan, sistem “patuik”, di mana pembeli ternak yang notabenenya adalah penjual/pedagang daging khusus untuk membeli ternak akan memperkirakan banyak daging dari hewan ternak tersebut dan menghitungnya ke total jumlah uang.
Dimana dengan sistim “patuik” ini memiliki risiko yang cukup tinggi terhadap kerugian, apabila si pembeli ternak patuiknya meleset maka itu berarti kerugian bagi pedagang daging.
Usaha mereka berkembang maju dengan memiliki banyak langganan, yang rata-rata adalah para pedagang daging di pasar, El memberikan usul agar daging sapi potong mereka juga bisa masuk ke ranah swalayan besar.
“Abang sih setuju saja, tetapi kamu tahu sendiri kan? Abang sudah kewalahan menanggani ini semuanya, belum lagi permintaan pasar yang semakin tinggi,” ucap Abidin pada adiknya.
“Abang tenang saja nanti akan El atur, kebetulan El punya teman, dia buka swalayan di kota C nanti kita bisa atur pertemuan dengan dia, saya yakin dia juga akan berminat karena kualitas sapi kita ini gak kalah dengan sapi import,” anjur El.
“Bagus, Abang sih percaya aja denganmu tetapi tidak berani jamin selama persediaan sapi ini masih ada it’s okey, namun elu lihat aja nih, sapi betina yang lain masih pada bunting, hanya tersisa sekitar lima puluh ekor lagi yang siap potong dan siap jual, ada juga yang jantan dua puluh ekor, ” tutur Abang Abidin.
“Lalu bagaimana harga sapi per-ekor, apakah harga masih stabil?” tanya El.
“Kenaikan harga daging masih lumayan tinggi El, imbasnya yang per-ekor juga akan naik, sapi dewasa masih berkisar antara dua puluh sampai dua puluh lima juta, tergantung kualitasnya, dan permintaan pasar dari luar kota semakin banyak, abang juga bingung anggaran perawatan dan kesehatan hewan-hewan ini juga semakin mahal,” jelas Abidin.
El mengangguk, ia sebenarnya melihat banyak peluang bisnis di desa ini, agar usaha iparnya ini semakin maju tentunya, dialah yang ikut mendorong secara finansial agar usaha ini semakin dilanjutkan, “Bagaimana dengan rencana peternakan ayam dan bebek?”
“Delapan puluh persen sudah beres, kandang semuanya sudah selesai, karena tempat peternakan ayam dan bebek ini jauh dari pemukiman warga dan berada dekat dengan sungai yang lumayan jauh, kita harus sediakan pondok kecil untuk penjagaan,” jawab Abidin.
Mereka menuju tambak ikan yang berada sekitar seratus meter dari peternakan sapi, tanah peninggalan orangtua El yang begitu luas mampu menampung berbagai jenis usaha. Hal inilah yang menjadi keuntungan besar bagi keluarga El. Tambak ikan nilai seluas hampir lima ratus persegi ini dibagi menjadi beberapa bagian, untuk budi daya ikan air tawar tersebut.
Abidin memperkerjakan para pemuda disekitar desa ini dengan membuka usaha berarti membuka lapangan pekerjaan untuk mereka. Ada sekitar lima puluh orang pekerja, Abidin sendiri adalah seorang sarjana peternakan, tak jarang ia juga di undang ke berbagai seminar wirausaha, sebagai narasumber memotivasi dan juga mendorong semangat kaula muda agar belajar usaha.
Kemudian Mereka pun masuk ke rumah pemotongan hewan, di sini ada sekitar ada lima belas orang karyawan yang bertugas untuk menyembelih dan memotong. El juga kadang ikut membantu memanen ikan maupun merawat sapi seperti memberi makan dan memandikannya untuk mengisi kekosongan waktunya.
Selesai menyapa para karyawan dan juga memberikan sedikit pengarahan, Abidin mengajak El pergi ke pasar untuk menjumpai para pedagang daging di pasar.
...****************
...
Sebuah pasar tradisional yang berada di kota C ini, mereka mendatangi para pedagang di lapaknya.
“Eh ada jurangan, sini Pak jurang mampir!” sapa seseorang penjual daging pada Abidin.
__ADS_1
“Gimana Pak Junaidi jualan hari ini?” tanya Abidin menghampiri.
“Allhamdulilah lumayan, tetapi ini masih sepi pembeli Pak jurangan gak sebanyak dulu karena harga semakin melambung tinggi,” jawab Junaidi.
“Semoga nanti harga kembali stabil ya Pak dan laris manis, kami pamit dulu ya, mau lihat yang di ujung,” ucap Abidin.
“Iya amiin ... terima kasih jurangan,” ujar Junaidi.
Abidin mengangguk dan pergi ke ujung lapak, El sedari tadi ikut membuntuti Abangnya. El tipekal orang yang mau belajar tak gengsian dengan usaha atau pekerjaan yang ia jalani.
“Eh, Juragan Abidin apa kabar?” sapa seorang ibu paruh baya yang juga pedagang daging dan ayam potong.
Semua para pedagang daging di sini kenal dengan Abidin yang notabenenya adalah jurangan sapi. Abidin sebulan sekali selalu meng-survei pasar-pasar tradisional sekaligus mempromosikan usahanya.
“Oh Bu Dahlia, iya Allhamdulilah kabar baik, gimana jualannya Bu?” tanya balik Abidin.
“Ya beginilah, saya gak berani ngambil stok daging banyak-banyak jurangan karena harga mahal para pelanggan gak pernah lagi beli banyak, paling mentok paling banyak cuma satu atau dua kilo, Oh ya itu siapa Jurangan?” Bu Dahlia menunjuk El yang berada di samping Abidin.
“Oh ini Adik saya Bu, dia dari kota B, kebetulan menemani saya survey,” ucap Abidin.
Tiba-tiba ada seseorang ibu muda yang hamil mendekat, “Bu Dahlia, saya mau beli daging,” ujar Ibu itu sambil melirik El.
“Oh boleh mau berapa kilo Bu?” tanya Bu Dahlia ingin melayani pelanggannya.
“Eh Bu, saya gak mau Ibu Dahlia yang melayani, saya mau Mas-Mas itu yang menyiapkannya untuk saya,” ucap Ibu Muda yang hamil tadi menunjuk El.
“Apa ... saya?” El kaget permintaan wanita itu.
“Iya Mas saya mohon, saya sedang hamil ini, tiba-tiba pengen makan daging lihat Mas seperti aktor korea favorit saya kali saja nanti anak saya secakep Mas, jadi harus Mas yang jadi penjualnya,” mohon wanita itu mengelus perut buncitnya.
“Astaga permintaan yang aneh, gimana ini Bang?” bisik El pada Abidin.
“Iya elu turuti aja, biar kita secepatnya pulang,” balas Abidin.
“Okelah, jadi gimana Bu Dahlia boleh tidak El bantuin?”
__ADS_1
“Boleh sekali Nak El, silakan!” Bu Dahlia minggir ke belakang, agar El yang melakukan penjualan.
“Ibu mau beli berapa kilo?” tanya El sudah seperti penjual daging sungguhan.
“Saya mau seper empat kilo aja Mas,” jawab wanita muda hamil itu.
“Hah ck! dikit amat, tambah jadi setengah kilo ya?” tawar El.
“Oke deh, jadi setengah kilo asal Mas ganteng yang layani,” goda wanita muda itu.
El dengan cekatan menimbang dan membungkus daging serta menyerahkannya pada wanita muda itu tadi.
Setelah wanita muda yang hamil tadi pergi, dikira El sudah cukup pura-pura menjadi penjual, nyatanya ada sudah ada banyak ibu-ibu yang antri membeli.
Terpaksa El kembali melanjutkan, “Kapan lagi kan kita dilayani penjual daging ganteng begitu?” bisik ibu-ibu yang berkerudung merah.
“Iya Bu, cakep pisan euy, katanya adik jurangan yang kaya raya itu, ” jawab Ibu yang bertas hijau.
“Eh Mas cakep udah punya pacar atau istri belum?” tanya salah seorang ibu-ibu pelanggan.
“Belum Bu, saya ini duda, ” jawab El seraya membungkus pesanan daging.
“Oh ternyata duda,” cibir Ibu-ibu yang memakai tas hijau.
“Ya, duda meski duda tapi Duren Sawit,” ucap El percaya diri tinggi.
“Hah, Duren Sawit?”
“Iya Duren Sawit, Duda Keren Sarang Duit,” jelas El narsis.
Sedangkan Abidin dan Bu Dahlia tertawa cekikikan, mendengar jawaban El yang kocak.
Bersambung....
Terima kasih para reader's setia, jangan lupa dukungan subscribe, like and votenya biar author semakin semangat. Mampir juga di karya teman saya ini.
__ADS_1