MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 25. Kala Istri Tetangga Lebih Menggoda.


__ADS_3

Suatu ketika Andreas bertanya, “Apa yang membuat lu, begitu tertarik dengan Amelia dibanding perempuan lain?”


El hanya mengeleng lemah dan berkata, “Tidak ada, dia seperti seorang istri pada umumnya hanya saja gue kagum dengan kesabaran dan juga ketegarannya dalam menghadapi masalah rumah tangga, dia bisa bertahan sejauh ini dari tingkahlaku suaminya yang kadang suka bersikap kasar, dan gue sangat harapan kelak bisa mempunyai seorang istri yang bisa setabah dan sesabar Amelia.”


“Sungguh hanya itu? Tak ada perhatian khusus.”


“Ada sih, gue suka lihat dia lagi pakai daster, rambutnya dicepol keatas, sedang jemur pakaian atau lagi pegang sapu,” jawab El senyum tersungging dari bibirnya.


“Jadi elu bosan nih, lihat cewek yang berdandan pakaian rapi, wanita berkarir, sekarang tipe elu cewek rumahan gitu?” tanya Andreas lagi.


“Hemmz ... sebenarnya perempuan idel gue ya, yang bisa mengurus suami dan anak-anak. Seandainya ia ingin berkarir, dia harus bisa mengatur antara keluarga dan pekerjaan, istri yang gak banyak mengeluh dan juga penurut,” ujar El.


“Apakah itu semua karena Nia dulu yang gak pernah tulus dan sungguh-sungguh menjadi istri elu?”


“Tanpa gue jawab, elu pun sudah bisa menilai bagaimana Nia yang notabenenya wanita karir, mencuci piring bekas makannya pun ia tidak pernah, apalagi untuk memasak dan mengurus rumah,” jawab El serius.


Andreas mengangguk setuju, “Setujukah menurutmu, wanita itu hanya sebatas sumur, dapur, dan kasur?”


“Ya enggak lah, kita ini sudah berada di tahun dia ribu dua puluh tiga, ini kesadaran akan tugas dan kewajiban masing-masing pasangan suami istri dan kesiapan mental agar lebih dewasa dalam menghadapi problem rumah tangga,” sambung El.


“Cinta itu tidak harus memiliki El.” sahut Andreas lagi.


“Cinta kadang memang tak bisa memiliki, tetapi jika tak bisa memiliki, mesti lebih berjuang untuk bisa memiliki, begitulah prinsipnya,” tutur El.


“Makanya jangan kelamaan jomblo, emang elu kagak mau kawin?”ejek Andreas.


“Sok, kayak situ gak jomblo akut, setidaknya gue udah pernah kawin, nah elu gebetan aja gak nampak,” balas El.


“Ye, tapi gue kagak kayak elu istri tetangga juga di embat,” cemoh Andreas.


“Ya mana gue tahu, jika Amelia itu istri tetangga, dan gue juga gak bisa bohongi perasaan gue jika bertemu dengan dia. Itu namanya kala istri tetangga lebih menggoda,” kata El.


“Lebih Menggoda apa lebih menantang?” tanya Andreas terkekeh.


“Dua-duanya kali,” jawab El ikut cenggesan.


“Kayak gak rela deh elu, nerima kenyataan kalau dia udah jadi bini orang,” terka Andreas.


“Iya gue gak ikhlas jika lakiknya si Ardan brengs*k itu.”


“Hahahaha ... tampak sekali elu cemburu.” Andreas tertawa terbahak-bahak.


...****************...

__ADS_1


‘Tumben tetangga sebelah sepi, biasanya jam segini Amelia sudah pulang kerja,’ batin El.


El celingak-celinguk di depan halaman kontrakan, “Eh Mas El, cari siapa?” tanya Bu Minah kebetulan ada di terasnya.


“Oh gak ada, Bu cuma bingung kok tomben disebelah sepi,” kilah El.


“Oh itu karena Neng Amelia katanya pergi ke kampung karena Ayahnya sakit,” ujar Bu Minah.


“Ayahnya sakit?” tanya El.


“Iya katanya sih begitu, kalau si Ardan gak tahu ke mana sudah dua hari ini gak terlihat,” jelas Ibu Minah.


“Oh begitu,” ucap El sambil memonyongkan bibirnya membentuk huruf O.


“Ngapain sih Mas El, cari orang yang gak ada? Mending cari Putri nih, Putri akan selalu ada untuk Mas El,” sahut Putri dari jendela rumah di samping, sambil menguping pembicaraan Ibunya dengan El.


El hanya tersenyum tipis. Ia pun masuk ke dalam rumahnya. El merogoh saku celananya, kemudian terlihat ia mengutak atik telpon tersebut, lalu ia menghubungi seseorang.


“Ya Halo Bos,” ucap seseorang dari dalam telpon.


“Pak Susanto, saya mau Anda menyelidiki dan juga membantu seseorang, nanti saya kasih tahu nama dan alamat orang itu!” perintah El.


“Baik Pak, akan saya lakukan,” ujar orang yang bernama Susanto itu.


...****************...


Bagaimana tidak, muka El cemberut dan sesekali ia menghela nafas panjang. Pagi ini tidak ada aktifitas yang ingin El lakukan di peternakan, ia seakan tidak menemukan semangat hidupnya.


“Gue lagi sedang menunggu informasi seseorang,” jawab El dengan muka ditekuk.


“Penting dong?”


“Iya penting sangat.”


...****************...


El pulang dari peternakan dengan wajah lesu, ia melirik ke rumah sebelah. Namun sepertinya belum ada tanda-tanda yang punya muncul.


El berjalan masuk ke rumah dengan langkah gontai, entah kenapa hari ini ia tidak begitu semangat menjalani hari-hari seperti biasanya.


El yang ingin mandi tiba-tiba merasakan tubuhnya tidak sedang baik-baik saja, ia merasakan badannya yang mengigil dan suhu badan meningkat.


El segera mengambil handphonenya kemudian menghubungi Andreas, mendengar kalau kondisi El kurang fit Andreas segera meluncur menuju kontrakan El.

__ADS_1


Hampir satu jam Andreas diperjalanan karena jarak tempuh yang lumayan jauh dari kota, Andreas membawa langsung dokter pribadi keluarga El untuk segera memeriksa El.


“Bagaimana Dok?” tanya Andreas.


“Dia hanya kelelahan, demam karena tubuhnya kekurangan cairan imun dan daya tubuh menurun, mungkin Tuan Muda banyak pikiran, ini saya kasih obat agar tidurnya nyenyak dan jangan makan terlambat.” Dokter Marchell menyerahkan beberapa resep obat lain pada Andreas.


“Tidak biasanya kamu sakit begini, El,” ungkap Andreas.


“Tidak apa-apa, mungkin gue memang harus istirahat.”


Tiba-tiba ponsel El bergetar, Drrrtt! Drrrtt!


Menandakan adanya sebuah panggilan masuk.


“Ya Halo Pak Susanto, bagaimana?” tanya El langsung.


Entah apa yang disampaikan oleh seseorang dari balik telpon membuat El menjadi syok, Andreas mengerutkan keningnya dan penasaran, “Ada apa?” tanya Andreas.


“Ayah Amelia meninggal dunia,” jawab El.


“Innalillahi, memang Amelia di mana?” tanya Andreas lagi.


“Dia sedang balik kampung, katanya Ayahnya sakit, dan gue baru dapat kabar bahwa Ayahnya di sana meninggal,” jelas El.


“Tunggu, berarti elu menyuruh Pak Susanto untuk memata-matai Amelia di sana?”


“Gue bukan memata-matai dia, gue hanya khawatir dengan dia,” sangkal El.


El bangun dari tempat tidurnya, dan kemudian bersiap ingin pergi.


“Antar gue ke sana sekarang!” pinta El.


“Anda mau ke mana Tuan? Kondisi Anda sedang tidak sehat,” ucap Dokter Marchell yang masih berada di ruang tamu.


“Tidak apa-apa Dok, saya baik-baik saja,” ucap El.


“Tetapi ... Tuan?”


“Sudah biarkan saja, dia bukan demam biasa Dok, dia demam malarindu,” sela Andreas.


Sedangkan Dokter Marchell kebingungan dengan ucapan Andreas itu, Andreas tertawa geli.


“Sudahlah, jangan dipikirkan hayo Dok saya antar balik kembali,” imbuh Andreas.

__ADS_1


Bersambung ....



__ADS_2