
“Amelia, wooi Amelia keluar elu!” Teriakan seseorang di luar rumah.
“Sepertinya itu suara Bang Ardan, Bu,” ucap Amelia ketakutan.
“Kamu dan Mutiara sembunyi, biar Ibu yang hadapi dia,” ujar Ibu Sukma.
Bu Sukma membukakan pintu, nampak Ardan bercakak pinggang.
“Di mana Istri dan Anakku?” tanya Ardan yang datang-datang langsung marah.
“Kamu ini tidak ada sopan santunnya ya? Datang-datang ke rumah orang tua bukannya salam?” omel Bu Sukma.
“Minggir Bu, saya mau cari Istri dan Anak saya!”
“Kenapa baru cari sekarang? Kemarin kamu ke mana saja hah?”
Ardan masuk ke rumah mertuanya tanpa permisi, “Amelia di mana kamu? Keluarlah!” Ardan menelisik setiap sudut ruangan dan kamar.
“AAmeliaa ...!” teriak Ardan lagi.
Hooeekk! Hoooeek! Tangis bayi di salah satu kamar ujung.
“Nah itu dia, keluar kalian dari sini!” teriak Ardan sambil mengedur-ngedur pintu kamar itu.
“Cukup Bang!” pekik Amelia.
Amelia menyerahkan bayi kecilnya pada Ibu Sukma untuk diasuh.
“Sini Bang!” ajak Amelia ke runah tengah agar menjauh dari putri kecilnya itu.
“Kenapa kamu gak pulang ke rumah kontrakan kita?” tanya Ardan.
“Buat apa aku pulang ke sana hah? Biar kamu bisa kurung aku dan anakku lagi begitu?” tanya balik Amelia tak kalah sinis.
__ADS_1
“Bu-bukan begitu, maksudnya aku juga ingin lihat anak kita,” sahut Ardan.
“Anak kita? Hahaha ... itu anakku, camkan itu!” Suara Amelia meninggi.
“Ta-tapi aku tetap Ayah dia, Mel!” ujar Ardan tak kalah sengit.
“Ayah apa yang tega membiarkan anak dan istrinya terkurung bahkan tidak tahu kalau anaknya lahir?” geram Amelia.
“Kalau soal itu ya mana aku tahu, lagian kamu juga gak pernah ngomong ke aku,” kilah Ardan.
“Oke kalau begitu, sini aku minta uang buat keperluan anakmu beli pampers dan susu, juga untuk biaya persalinan kemarin belum dilunasi,” ujar Amelia meminta haknya.
“Oh, itu anu ... aku mana ada uang sayang,” jawab Ardan terbata-bata.
“Nah, tadi aja elu ngaku-ngaku sebagai Ayahnya, tetapi untuk memenuhi haknya saja tidak bisa,” ujar Amelia sewot.
“Ya elah begitu doang, mentang-mentang elu bisa cari uang sendiri, terus bisa rendahkan gue gitu sebagai suami?”
“Gue gak merendahkan elu Bang, gue cuma mau minta hak gue dan anak gue dan di mana rasa tanggung jawab elu mana heh? Keluar kamu Bang!” Amelia terus berusaha mendorong Ardan agar mau keluar dari rumah.
“Cukup Bang! Elu gak pernah kasih nafkah gue selama tiga bulan terakhir ini ‘kan? Artinya sudah talak 1 diantara kita paham? Dan sudah cukup, tidak ada alasan lagi untuk gue bertahan dengan lelaki macam kau ini Bang.”
“Bagus, sekarang sudah berani melawan gue ya! Gue pastikan elu gak bakal bisa hidup tanpa gue!” bentak Ardan tak kalah nyaring.
BAAM!
Amelia menutup pintu secara kasar dan menguncinya dari dalam rumah.
“Sejauh ini gue masih bisa merendam semuanya Bang, tapi kali ini gue gak akan sanggup lagi bertahan,” gumam Amelia.
...****************...
Triing! Suara notifikasi pesan chatt muncul dari beranda layar ponsel milik El.
__ADS_1
[ Namanya AlMIRA, bekerja sebagai general manager di perusahaan PT. Bukit Permai, merupakan Anak dari seorang pejabat instansi Pemda ] ~ Andreas.
El mulai merenung dan membalas chatt, [ Lalu dari mana Ardan bisa mengenal wanita itu?]
Lama tak ada balasan dari Andreas, kemungkinan ada kesibukan yang ia tanggani. El memilih menyibukkan diri dengan mengurus kolam ikan tambak, dan memberi makan ikan.
Selang lima belas menit berlalu, ponsel El bergetar, sebuah panggilan tertera nama Andreas.
“Halo ...,” angkat El.
“Halo Boss, gue udah dapat informasi, kalau ternyata kakak ipar si Ardan itu bernama Reza, kerja menjadi staf manager disitu, entah bagaimana bisa, si Ardan dekat dengan Mira ini yang berstatus Single Parents,” jelas Andreas di telepon.
“Oh ya? Oke atas thank infonya, ya sudah bye,” ucap El hendak mematikan telponnya.
“Eh tunggu dulu Boss!” sergah Andreas.
“Ada apa lagi?”
“I-itu, Emak nyuruh elu pulang buat balik aje katanye ke rumah,” ujar Andreas menyampaikan.
“Kemarin gue di usir-usir, sekarang maksa di suruh balik lagi, maunya kaya ape sih?” gerutu El.
“Makanya buruan elu cari bininya, yang ada gue juga ikutan pusing kena omelan,” keluh Andreas lagi.
“Itu sih derita elu ye, bye ... bye!” El mematikan sambungan telepon dari ponselnya.
‘Apa perselingkuhan ini adalah campur tangan dari kakak si ipar Ardan ini menjodohkan si Mira yang single parents?’ asumsi El dalam hatinya, ia mulai membayangkan bagaimana keluarga Ardan yang sangat materalistis.
“Hemmm ... sekarang gue paham situasinya, tetapi bagaimana caranya memberitahu Amelia, agar dia bisa melihat sendiri perselingkuhan suaminya?” tanya El berbicara menatap mulut ikan-ikan di kolam tambak yang menggap-manggap minta makan.
Bersambung ...
Bantu kasih saran dong reader's bagaimana caranya El kasih tahu Amelia? nanti El kecemplung dalam kolam ikan saking mikirnya.
__ADS_1
comment ya 😄.