MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 40 Bayi Mutiara Sakit.


__ADS_3

“Lho siapa yang bercanda? Ini beneran semua ini akan menjadi hak milikmu Amelia.”


“Maksud Ibu gimana?”


“Duduk dulu deh Ibu jelasin, ini semua adalah hakmu Amelia, ini diberikan oleh Ayah kandungmu,” tutur Saraswati.


“ Hah ... Ayah kandungku?”


“Iya betul dua bulan yang lalu seorang notarismenghubungi Ibu katanya Ayahmu menyesal telah meninggalkan ibu dan juga kamu, ini semua harta ini adalah hak kamu sebagai anaknya jadi sebelum dia meninggal Dia meminta maaf kepada ibu dan menyampaikan pesan wasiat agar kamu juga mendapatkan hak sebagai anak. Dia tidak memiliki anak dari istrinya terdahulu Jadi seluruh asetnya dia ingin membagikan juga denganmu termasuk beberapa saham perusahaan dan juga rumah ini,” jelas Saraswati.


“Hehehe ini pasti mimpi ‘kan Bu? Mana mungkin aku tiba-tiba langsung mendadak jadi anak konglomerat seperti di film-film saja, ngaco ah,” ujar Amelia.


“Tidak, ini beneran Amelia, lihatlah ini Ibu serahkan semua sertifikat dan juga saham telah berbalik nama atas namamu, kini sudah saatnya kamu bahagia sudah cukup kamu menderita, kamu layak mendapatkannya sebagai anak,” ungkap Saraswati, menyerah beberapa lembar sertifikat dan juga bukti notaris akan saham atas nama Amelia Cantika Saraswati.


“Alhamdulillah aku hanya tidak menyangka Bu.”


“Itulah rezeki dari Allah untukmu, Nak,” sahut Sukma seraya mengendong Mutiara.


“Ibu juga memiliki tabungan dari hasil jerih payah Ibu selama ini bekerja di negeri orang ini ada ATM totalnya lima ratus juta rencana Ibu mau Ibu belikan toko buat buka usaha bagaimana menurutmu?” ungkap Saraswati.


“Aku terserah Ibu saja yang mana jika menurut Ibu yang terbaik.”


“Apakah kamu tidak ingin lanjutkan kuliah seperti keinginanmu, Nak?” tanya Saraswati pada anaknya.


“Aku sih pengennya ikut kelas tata busana Bu dan juga belajar keterampilan menjahit tetapi bagaimana biayanya, Bu?”


“Hehehe Amelia kamu lupa kalau sudah jadi milyader? Uang saham ini akan masuk ke rekening atas namamu, tentu saja kamu boleh menggunakannya untuk apa saja, keperluanmu dan kebutuhan Mutiara akan terjamin, sekarang saatnya kamu mengejar impianmu, ada ibu dan Kak Sukma akan merawat dan menjaga mutiara, tidak perlu pakai baby sister, kamu bisa kuliah jurusan tata busana sekaligus kursus belajar menjahit seperti keinginanmu itu, bagaimana?”


“Insya Allah, Bu.”


“Ayo kita cari kamar tidur dilantai atas, lalu makan malam!” ajak Saraswati pada Ipar dan anaknya.


...****************...


Seminggu sudah kepindahan mereka di rumah besar ini, Amelia menyesuaikan dirinya dengan cepat, ia dan Ibunya Saraswati mencari toko untuk disewa, rencana mereka ingin membuka usaha rumah makan, karena Ibu Saraswati sangat pandai memasak.


Pulang setelah mencari toko menentukan tempat yang strategis membuka usahanya, mereka pulang, kini Amelia juga telah membeli mobil baru untuk sarana transportasi mereka, sementara disopirkan oleh Pak Samsul.


Huweeek! Huweeek!


Tangis Mutiara terdengar nyaring, Ibu Sukma terus menenangkannya, tetapi ia terus menagis, untungnya Amelia dan Saraswati telah datang dengan cepat, segera menuju kamar.


“Kenapa dengan Mutiara Bu?” tanya Amelia.


“Tidak tahu, tadi pagi kamu tinggal masih enteng saja, tiba-tiba rewel tidak mau minum susu,” ujar Sukma.


“Apakah karena ia berada di tempat asing ya? Atau karena ACnya terlalu dingin?” tanya Saraswati.

__ADS_1


“Dia gak mau nen*n Bu, astaghfirullah badannya Mutiara panas,” ucap Amelia menyentuh tangan dan dahi Mutiara yang mulai demam.


“Ayo, lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja!” anjur Saraswati.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Mutiara masih tidak berhenti menagis, setelah di berikan obat oleh dokter anak barulah Mutiara tidur dengan tenang.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”


“Anak Ibu, Mutiara hanya demam biasa mungkin karena efek cuaca saat ini kadang berubah-ubah, tenang saja kami sudah berikan dia antibiotik dan juga vitamin sesuai usianya yang baru tiga bulan, jadi tidak perlu rawat inap,” terang Dokter itu.


“Terima kasih banyak, Dok,” ucap Amelia.


...****************...


“Maafin Ibu Ya, Amelia Ibu tidak becus menjaga Mutiara,” ujar Sukma merasa bersalah.


“Tidak apa Bu, mungkin karena berada di tempat baru, maafin Amelia yang juga agak sibuk ninggalin Mutiara terus sama Ibu.”


“Iya Kak, sudah cukup jangan menagis lagi, yang penting Mutiara sudah ditangani oleh Dokter, semoga besok dia sudah sembuh,” timpal Saraswati.


Malamnya mereka pulang ke rumah kembali, Mutiara masih terlelap dalam tidurnya.


Namun tengah malam pukul dua dinihari ia kembali menagis kencang, sehingga membangunkan Ibu dan nenek-neneknya.


Huweeek! Huweeek!


“Bagaimana ini, Bu?” tanya Amelia pada Bu Saraswati dan Bu Sukma.


“Apakah mungkin Mutiara kangen dengan Ayahnya, Nak?” ucap Saraswati.


“Ah tidak mungkin Bu, sampai kapanpun aku tidak ingin mempertemukan mereka,” ujar Amelia ikutan terisak melihat kondisi anaknya.


“Jangan egois Mel, bagaimanapun dia tetap darah daging Ardan? Bagaimana jika Mutiara benar-benar menginginkan dekapan sosok seorang Ayah?” cecar Saraswati.


Setelah hampir dua jam Mutiara menagis, akhirnya mereka meminta kepada Pak Samsul untuk mengendong Mutiara, benar saja ia langsung diam menyusu dot dan kembali tertidur pulas didalam gendongan Pak Samsul.


...****************...


Hari ini El minta Andreas untuk mengantarnya ke kampung Amelia.


“Elu itu sebenarnya mau ketemu Mutiara apa ketemu sama Ibunya, hah?” ledek Andreas.


“Entahlah yang jelas perasaan gue nggak enak dari kemarin,” jawab El.


“Sabar, sebentar lagi sampai.” Andreas fokus menyetir.


Mereka pun akhirnya sampai di tujuan, rumah Ibu Sukma. El dan Andreas langsung mengetuk pintu.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum!”


“Waalaikumsalam,” sahut seseorang perempuan dari dalam rumah.


Clek!


“Bu, maaf menganggu.”


“Ya, ada apa Mas?” tanya Ibu itu.


“Apakah Amelia dan anaknya ada di rumah, Bu?” tanya El.


“Amelia yang mana ya?”


“Iya anaknya pemilik rumah ini lho Bu, terus Ibu ini siapa?” tanya Andreas ikut bingung.


“Saya Sulastri, oh kalau pemilik rumah ini Bu Sukma, beliau sudah pindah seminggu yang lalu,”


“Apa ... pindah ke mana Bu?” tanya El terkejut.


“Kalau itu saya tidak tahu, mereka tidak memberitahu ke mana akan pindah, saya hanya mengontrak rumah ini setahun penuh,” terang Ibu Sulastri.


“Oh kalau begitu terima kasih banyak Bu, Assalamu’alaikum!”


“Iya Wa’alaikumussalam!”


El tampak sendu, ia tidak tahu harus mencari Amelia dan Mutiara ke mana, “Bos, nanti aku akan mencari Amelia untukmu, sudahlah jangan bersedih,” bujuk Andreas.


“Elu sih yang ngajakin gue malah dinas keluar kota, jadinya gak sempat dah ketemu mereka.”


“Lha ujung-ujungnya gue juga yang salah hemmm, kenapa tidak coba Bos telpon Amelia saja?”


“Oh iya tomben elu pintar, Ndre,” ejek El.


Saat El mencoba menelpon, ternyata nomor telepon Amelia tidak dapat dihubungi lagi, “Gak aktif, coba dah kamu hubungi temannya Amelia itu siapa namanya?”


“Fia?”


“Iya itu, coba tanya dia di mana Amelia?”


“Siap Bos.”


Namun raut muka Andreas berubah menjadi pias, lalu berkata, “Sama nomornya juga tidak bisa dihubungi lagi Bos.”


“Ck sial! Kemana sih elu Mel?” gumam El.


Bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2