
Amelia duduk di teras, El baru turun dari taksi setelah menemui Andreas.
Saat El jalan melewati halaman rumah Amelia, “Tunggu Mas El!” seru Amelia.
“Ya, ada apa?”
“Begini, mengenai uang yang Mas berikan pada Bang Ardan, bolehkah aku mencicilnya?” ucap Amelia hati-hati, memberanikan diri untuk berkomunikasi akrab.
“Kenapa, Kamu berniat ingin rujuk lagi dengan dia?” terka El.
“Aku rujuk ataupun tidak itu bukan urusan Mas, aku hanya tidak ingin rumah tanggaku menjadi bahan permainan orang seperti Anda,” ketus Amelia.
“Lebih baik kamu ikut dalam permainanku, jadilah tawanan cintaku, dari pada kamu harus menjadi wanita bod*h, tersakiti hanya karena lelaki brengs*k seperti dia,” timpal El.
“Seberengs*k-berengseknya dia tetap masih status sebagai suamiku dan ayah dari anakku,” sahut Amelia keras kepala.
“Terserah, susah ngomong ama orang bucin kaya elu,” cetus El sebal, ia langsung masuk ke kontrakannya.
Betul kata pepatah kalau sudah cinta t*i kucing pun rasa coklat, kadang yang waras pun bisa jadi Majnun hanya karena lima huruf yaitu CINTA.
...****************...
Dua hari setelah pembicaraan itu antara El dan Amelia tidak lagi saling bertegur sapa, bukankah biasanya El memang selalu cuek, sedangkan Amelia ia tetap beraktivitas seperti biasanya.
Tekad Amelia ia harus tetap kembali bekerja untuk melunasi uang dari El, selain itu juga untuk tabungan saat ia melahirkan nanti.
__ADS_1
“Jika kamu mau menjadi tawananku maka, kamu tidak perlu bersusah payah bekerja keras dan memikirkan soal utang itu, aku akan menjamin kamu dan anakmu akan hidup layak,” tawar El saat itu.
“Maaf Mas El, tetapi, kamu harus tahu diri, jangan seenaknya mempermainkan perasaan orang, ingat aku ini masih isteri orang dan sampai kapanpun aku tidak sudi jadi tawananmu,” tolak Amelia mentah-mentah.
Amelia tidak habis pikir dengan kelakuan El, malah seakan nambah beban dikehidupannya.
Amelia pulang dari bekerja, tiba-tiba diperjalanan bertemu dengan sosok mertua dan juga iparnya, sepertinya mereka telah habis berbelanja. Amelia berpura-pura tidak tahu terus berjalan melewati mereka.
“Eh, kamu tahu ada yang hamil heboh banget sih?” sindir Mertuanya.
“Hemmz, dasar emang si upik b*bu,” cela Mbak Ute kakak tertua oleh Ardan.
“Eh Amelia, bener kamu hamil?” tanya Ibu Mertuanya.
Amelia menghentikan langkahnya dan menoleh, “Iya memang kenapa?”
“Yakinlah, karena saya memang masih isterinya Ardan dan tolong ya jaga mulut cumberan Mbak itu, jangan asal fitnah sembarangan,” jawab Amelia kesal.
“Ya kali mana kita tahu kan? kamu godain tetangga sebelah, Ardan bisa dapatkan duit sebanyak itu dan tuh orang mau aja kasih duit secara cuma-cuma, apa namanya kalau bukan kamu merayu dia menjadi j*lang seperti kamu merayu anak saya,” ucap Ibu Mertua.
Isu tentang El mantan Amelia beredar, bahkan diyakini dengan adanya pembelaan El kepada Amelia sampai mengeluarkan uang ratusan juta untuk menolongnya, menambah asumsi dari pihak Ibu Mertua Amelia.
“Astaghfirullah, tega Ibu tuduh hal keji itu kepada saya dan ini adalah benar darah daging Bang Ardan cucu Ibu sendiri,” pekau Amelia mulai tidak tahan dengan fitnah yang mereka lontarkan.
Amelia pengaruh hormon ia hamil akan jauh lebih sensitif dan mudah marah. Kini ia sudah tidak bisa mengontrol dirinya, air matanya mengalir deras di ujung mata, kemudian pergi meninggalkan dua orang tercengang karena kaget atas respon Amelia.
__ADS_1
“Rupanya dia sudah berani membentak Ibu,” ucap Mbak Ute mengompori ibunya.
“Betul, kita harus pulang aduin ini sama si Ardan biar ia bisa kasih pelajaran sama isterinya yang kurang ajar itu,” sambung Ibunya.
...****************...
Amelia berlari kecil masuk ke dalam rumah kontrakannya sambil menagis, lalu ia mengunci pintu kamarnya dan menagis sejadi-jadinya meluapkan emosi.
Kumandang azan magrib membangunkan Amelia dari tidurnya setelah menagis berjam-jam rupanya ia tertidur, kepalanya menjadi pusing dan berat sekali. Cepat ia membersihkan diri dan menunaikan kewajiban sebagai hamba-NYA, “Ya Allah, Ya Tuhanku berikan aku kesabaran seluas samudera dan kekuatan seperti gunung kokoh dalam menghadapi segala permasalahan yang engkau berikan, untuk menganguringi biduk rumah tangga hamba, mohon berikan petunjuk pada suamiku, semoga ia bisa menjadi imam yang baik dan bertanggungjawab untukku dan anakku amiin....” Untaian do'a demi do'a terpanjat dari mulutnya.
Bagi Amelia menikah cukuplah sekali seumur hidupnya, jika memang Tuhan masih berkehendak jodohnya bersama Ardan maka, ia akan tetap mempertahankan rumah tangganya. Apalagi sekarang anak yang dinanti-nantikan olehnya dari dulu berada dalam rahimnya, merupakan kekuatan terbesar yang mampu membuat Amelia bertahan sampai saat ini.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan dan gedoran dari balik pintu bersahutan, memaksa Amelia segera membuka pintu.
Clek!
Nampak tiga orang yang sedang berdiri, bercangkak pinggang.
Bersambung ....
__ADS_1