MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 27. Amelia berduka.


__ADS_3

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkuan silakan, tinggalkan pesan Anda setelah bunyi Bip.


‘Duh, ke mana sih Bang Ardan?’ Sedari tadi Amelia mencoba untuk menghubunginya, tetapi tidak dapat terhubung.


“Bagaimana Neng?” tanya Ibu Sukma.


“Sedari tadi tidak dapat dihubungi Bu,” jawab Amelia sedih.


“Ya sudah, ayo kita temui Bapakmu untuk terakhir kalinya kita antar ke tempat peristirahatannya,” bujuk Ibunya.


“Iya Bu.” Amelia kemudian menyusul ibunya.


Ustadz dan para pelayat telah selesai memandikan dan juga mengshalatkan jenazah, para tetangga yang tazkiah juga ikut mengantar ke pemakaman.


Suasana duka menyelimuti Amelia dan Ibunya, selesai Bapak Arman dikebumikan, Amelia terdiam dan menunduk, di atas pusara sang Bapak .


“Nak, jangan meratapi berlebihan kasihan Bapak, ayo kita pulang ya kasihan kandunganmu tak baik lama-lama di sini,” ucap Ibunya menguatkan Amelia.


“Iya Bu, Bapak kami pulang dulu ya,” ujar Amelia mengusap batu nisan Pak Arman.


‘Selamanya Bapak akan tetap menjadi Bapak yang terbaik bagi Amelia,’ gumam Amelia dari lubuk hatinya.


...****************...


Sedangkan El yang mengetahui akan berita meninggalnya Ayah Amelia. Ia segera meluncur menuju desa tempat tinggal Amelia, tetapi El yang ditemani oleh Andreas hanya bisa menatap dari jauh rangkaian pemakaman, saat El ingin menghampiri Amelia dicegah oleh Andreas,


“Biarkan dia menenangkan dirinya dulu El, dia perlu waktu untuk sendiri,” ucap Andreas.

__ADS_1


El menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk setuju ia berbalik langkah, tak jadi menghampiri Amelia, “Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” ujar El.


‘Segitu perhatiannya kamu dengan dia, El belum pernah aku menemui kamu yang seperti ini,’ batin Andreas.


...****************...


Setelah acara tiga hari Bapaknya, Amelia ingin pulang kembali ke kota C, padahal ia enggan untuk pergi lagi sebab Ibunya tidak ada yang menemani, “Bagaimana dengan Ibu? Amelia tidak tega jika Ibu harus sendirian dirumah?” kata Amelia terisak.


“Tidak apa-apa Nak, jangan cemaskan Ibu, nanti jika kamu lahiran Ibu akan ke sana,” ucap Bu Sukma agar Amelia tidak khawatir.


“iya Bu, jaga kesehatannya dan jangan cape-cape nanti Amelia kirimin uang untuk Ibu seperti biasanya,” ujar Amelia.


“Jangan Nak, Ibu masih kuat bekerja di sawah, gaji kamu simpan saja untuk tabungan sampai nanti melahirkan, dan ini ada titipan dari Ibu Saraswati yaitu Ibu kandungmu.” Bu Sukma memberikan sebuah dompet kecil berisi nomor ponsel dan kartu segi empat yang berlogo ATM B*I merek salah satu bank ternama di Indonesia ini.


“Lho apa ini Bu?” tanya Amelia.


“Kamu lihat saja itu adalah ATM tabungan yang ia persiapan untuk kehadiran cucunya nanti, dan dia juga ada titipin buat Ibu,” jawab Bu Sukma.


“Lalu di mana Ibu Saraswati sekarang?” tanya Amelia penasaran.


“Katanya sih sekarang berada di hongkong jadi di TKW di sana, dan dia bilang minta maaf gak bisa datang ke pemakaman kakaknya, ia hanya titip ini untukmu dia bilang ingin melihatmu itu ada nomor teleponnya yang berada di hongkong nanti kamu bisa video call dengan dia,” jelas Bu Sukma.


“Allhamdulilah, iya Bu nanti Amelia hubungi, kalau nanti Bu Saraswati menghubungi Ibu bilang saja Terima kasih dari Amelia,” sambung Amelia.


“Iya nanti Ibu sampaikan,” tukas Ibu Sukma.


...****************...

__ADS_1


Pagi-pagi ia kembali berangkat ke kota C sebelumnya ia mampir dulu ke ATM untuk mencek saldo dari kartu yang telah Ibu Saraswati berikan. Kode password yang diberikan sesuai tanggal lahirnya, Amelia masih tak percaya ternyata ia memiliki Ibu yang lain selain Bu Sukma.


Saldo kartu ATM yang berisi senilai seratus juta rupiah, membuat Amelia tak percaya ia membekap mulutnya dan matanya tak berkedip, “Benarkah uang ini?” tanya Amelia dalam hatinya sendiri, ia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu.


‘Gue harus rahasiakan ini dari Bang Ardan,’ batin Amelia.


Segera Amelia menyimpan kartu itu di sela-sela dompet terdalam, ‘Nanti akan gue pindah ke tempat yang aman.’


...****************...


Sesampainya Amelia ke rumah kontrakan, Ardan yang dari tadi menunggunya langsung membukakan pintu.


“Dari mana saja kamu hah? Bukannya diam di rumah malah keluyuran,” bentak Ardan.


“Hah apa aku gak salah dengar? Seharusnya aku yang tanya begitu, Abang dari mana saja? Kenapa aku hubungi tidak bisa, Bapak meninggal pun kamu tidak tahu Bang,” sahut Amelia dengan suara yang ikut meninggi.


“Apa Bapak meninggal?” tanya Ardan.


“Iya, kamu yang kemana saja hah? Istri lagi berduka bukannya menemani malah pergi gak jelas kemana,” omel Amelia.


“Ya sudah cepat masak, aku lapar!” pinta Ardan.


“Ogah, masak aja sendiri,” ucap Amelia berlalu cuek dan menuju kamar.


Untungnya di perjalanan tadi ia sempatkan untuk makan siang sebentar, kini Amelia mengunci pintu kamar dengan rapat.


Bersambung ....

__ADS_1


Terima kasih telah setia membaca El. terus pantau perjuangan El dalam mendapatkan Amelia ya. Silakan mampir juga ke karya teman rekomendasi banget.



__ADS_2