
Berkat uang hasil menjual cincin emas Ibu, dan juga uang tambahan dari Mbak Rossi, dia bisa ngajak Mira jalan-jalan.
“Boleh dong nanti kapan-kapan kita jalan-jalan berdua gimana?” ajak Ardan.
Mira mengernyitkan keningnya seakan berpikir dan kemudian berkata,“Oke nanti waktu aku cuti gimana? Kebetulan pas banget aku dah lama gak liburan ke luar kota terus shoping.”
Tanpa pikir panjang Ardan menyetujui hal itu, “Ayo bagaimana kalau kita jalan-jalan seperti kemauanmu, dan kita bisa nginap di sana.”
“Wah, ide bagus senang sekali bisa bertemu dan jalan bareng kamu,” ucap Mira genit.
Tentunya Ardan sangat menantikan moment jalan bersama Mira itu, kali ini ia yakin targetnya harus bisa didapatkan dan memacari Mira.
Hari yang dinanti oleh Ardan dan Mira telah tiba, Ardan bersiap ingin pergi dan menjemput Mira. Namun ia dia kesal dengan istrinya yang begitu bikin malu dia saat mencarinya sampai ke bengkel bahkan pagi ini begitu cerewet.
“Mau ke mana Bang? Kok sudah rapi bawa koper segala?” tanya Amelia.
“Ah cerewet kau, aku mau keluar kota selama tiga hari, jadi jangan banyak tanya,” ujar Ardan.
“Kemarin aja gak pulang-pulang, sekali pulang malah ingin pergi lagi, sok sibuk banget,” gerutu Amelia.
Mata Ardan melotot, ia menatap tajam pada Amelia, sehingga Amelia langsung diam, ‘Pagi-pagi sudah bawel, gue mau kemana ya terserah gue lah.’
Kemudian Ardan menyeret kopernya pergi dan segera menghubungi Mira, “Tunggu ya ... sebentar lagi Abang akan menjemputmu,” ucap Ardan di telpon.
Mira yang nyatanya adalah seorang janda yang lumayan berumur, tentu sangat menyukai lelaki yang bermulut serigala seperti Ardan ini.
Mereka tiba di kota A sesuai janji, ingin menikmati pantai dan juga club malam yang ada di sana, Mira yang memang terbiasa dengan kehidupan bebasnya, tak canggung untuk mengumbar mesra dengan Ardan.
“Hemmm, Bang gimana kalau kita berjemur di pantai? Sepertinya sangat seru,” bujuk Mira.
“Iya ayo, apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah!” Ardan mencowel hidung Mira gemas.
Mira bergegas ke ruang ganti, dia segera memakai bikin*i pantai yang sexy, meski Mira sudah lumayan berumur, tetapi bodynya sangatlah sexy dan menggoda, apalagi dengan pakaian bikin*i pantai yang sengaja membuat dua buah dad*nya menonjol.
Ardan yang melihat itu, ternganga dan seketika meneguk cepat air liur karena merasa tenggorokannya kering. Mira mendekati Ardan sambil mengoyangkan pant*tnya dengan centil.
“Bang Ardan ayo kita berenang bersama,”ajak Mira mengedipkan mata sebelah.
Tanpa babibu Ardan segera melepas kaos dan menyisakan celana boxernya, ia segera ikut berlari menuju pantai.
Malam harinya Mira mengajak Ardan untuk ke club D yang berada tak jauh dari pantai, rupanya Mira telah sering datang ke sini, terbukti dari beberapa orang mengenal dia, “Kucing garong mana lagi nih yang kamu bawa?” tanya teman wanita Mira.
Mira mengerti apa yang di maksud oleh temannya ini, ia melirik ke arah Ardan yang hanya diam sambil memperhatikan orang-orang berjoget mengikuti irama musik club, “Hehehe, biasalah, tetapi kali ini kayanya terlalu polos,” jawab Mira.
“Oh ya, benar jantan gak tuh? Jangan-jangan nanti melambai kayak aike, mending you ama bos Juan dulu, biar tua tetapi dompet tebal, ” celetuk Farah aslinya Farhan.
__ADS_1
Mira terkekeh, “Hehehe, iya yang ini juga harus disikat nanti aku kenalin ama kalian deh, pengen merasakan sensasi yang berbeda aja gitu apa salahnya,” sambung Mira.
Dia memanggil Ardan untuk bergabung bersama dia dan teman-temannya, Mira memperkenalkan Ardan pada teman-temannya yang lain, “Oh ya Bang, traktir kita-kita dong di sini, kan teman-temanku akan jadi temannya Abang juga,” rayu Mira.
“Okelah, nanti Abang traktir,” ucap Ardan.
Mira memberikan minuman beralkohol pada Ardan, segera Ardan teguk itu sampai habis, jelas terasa panas di tenggorokannya. Hanya dengan tiga kali minum Ardan sudah tepar m*buk tak sadarkan diri.
“Huh, menyebalkan masa gitu aja dah tepar,” gerutu Mira sedangkan teman-temannya tertawa.
...****************...
Keesokan harinya Ardan terbangun di penginapan yang mereka sewa, karena ia tak sadarkan diri terpaksa Mira membopong Ardan masuk ke kamarnya, “Huh, sial malah gagal mendapatkannya!” umpat Ardan merutuki dirinya sendiri, ia hanya teringat bahwa kartu ATMnya diambil dan dibawa Mira.
Ardan mencari Mira dan menghubunginya, Ardan menemukannya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota A ini, Ardan menemui Mira yang asyik shoping, “Bagaimana berbelanjanya?” tanya Ardan.
“Belum puas, aku belum menemukan sepatu yang aku cari,” ujar Mira cemberut.
“Carilah, nanti akan aku bayar,” ucap Ardan sombongnya.
“Bener nih? Kamu yang bayarin lagi?”
“Iya kamu pilih saja yang kamu suka, tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?”
Mira berpura-pura berpikir, “Oke mau lah.”
“Ya sudah, sekarang panggil aku sayang dong,” pinta Ardan.
“Iya sayang, bener ya beliin aku sepatu itu,” ucap Mira dengan gaya sok manjanya.
“Iya dong sayang, apa sih yang enggak buat kamu.” Ardan mencowel dagu Mira dengan gemas, Mira pun menggandeng tangannya mengajak Ardan.
Sesampainya di toko sepatu yang dimaksud oleh Mira, Ardan tekejut dengan harga sepatu yang diinginkan Mira senilai delapan puluh juta, sedangkan ia tidak yakin sisa uang dari ATMnya cukup.
Ketika hendak membayar ternyata benar saja kartu yang dipakai tidak bisa digunakan karena batas uang tidak cukup, Mira mendengus kesal, Ardan menghela nafas kasar menahan malu.
Karena sudah terlanjur, Mira terpaksa melunasi setengahnya, “Huh, kenapa malah tidak cukup?” Mira membuang ATM itu ke muka Ardan.
“Ya mungkin karena telah digunakan banyak, malam tadi di club habis berapa?” tanya Ardan.
“Cuma dua puluh juta,” ungkap Mira.
‘Astaga cuma minum begitu saja, dua puluh juta,’ ujar Ardan dalam hati.
__ADS_1
“Kamu bilang itu cuma? Itu banyak sekali sayang, coba kalau tidak traktir malam tadi mungkin uang di ATM cukup untuk membeli sepatu itu,” kilah Ardan.
“Jadi kamu gak ikhlas gitu traktir teman-teman aku?” suara Mira mulai meninggi.
“Bu-bukan begitu sayang, nanti ya kita beli lain yang lagi, akan kupastikan nanti uangnya cukup, oke? Jangan ngambek lagi dong,” rayu Ardan.
“Benar janji ya? Nanti kamu beliin aku yang lain lagi? Masa seorang Bos dari bengkel yang sedang berkembang pesat, gak bisa belanjain pacarnya,” ejek Mira.
“Iya sayang janji, cup ... cup ... cup, jangan ngambek lagi ya, nanti cantiknya hilang deh.”
Senyum mengembang dari bibir Mira, aksi ngambeknya bisa membuat Ardan setengah mati ketakutan.
...****************...
Pulang berlibur bersama dengan Mira, Ardan bingung kenapa rumah kontrakan tersebut terkunci rapat, biasanya Amelia sudah berada di rumah. Ia menunggu seharian, tetapi Amelia tidak pulang, ‘Berani sekali dia keluyuran tanpa aku,’ ucap Ardan geram. Ia pun pergi ke tongkrongan biasanya dengan teman-temannya.
“Eh kemana aja sih elu?” tanya salah satu teman tongkrongannya.
“Ada deh, emang ada berita apa? Gue nunggu bini gue gak pulang-pulang nih,” ujar Ardan.
“Gue dengar-dengar kemarin bini elu cariin elu ke bengkel, eh malah dia pingsan terus di urus sama tetangga elu yang disebalah rumah itu.”
“Hah pingsan? Tetangga sebelah rumah? Ibu Minah?”
“Bukan itu, tetangga sebelah rumah yang cowok duda, Hati-hati entar bini elu di embat sama dia mampus elu,” ucap temannya lagi.
Mendengar hal ini Ardan menjadi marah, ia segera kembali ke rumah berharap Amelia pulang. Namun Amelia tak kunjung datang, barulah setelah tertidur di kursi tamu dan siang menjelang, ia terbangun dan melihat Amelia datang.
“Dari mana saja kamu hah? Bukannya diam di rumah malah keluyuran,” bentak Ardan.
“Hah apa aku gak salah dengar? Seharusnya aku yang tanya begitu, Abang dari mana saja? Kenapa aku hubungi tidak bisa, Bapak meninggal pun kamu tidak tahu Bang, aku bukan keluyuran tetapi pulang kampung karena Bapak meninggal Bang,” sahut Amelia dengan suara yang ikut meninggi.
“Apa Bapak meninggal?” tanya Ardan.
“Iya, kamu yang kemana saja hah? Istri lagi berduka bukannya menemani malah pergi gak jelas kemana,” omel Amelia.
Ardan terkejut mendengar kabar bahwa Bapak mertuanya itu meninggal, tetapi tidak ada perasaan perduli pun yang dia tampakkan.
...****************...
Hampir dua bulan ini Amelia mengacuhkan Ardan, Amelia asyik dengan dirinya sendiri begitu pula dengan Ardan merasa senang karena Amelia tak mengusiknya sebab ia bisa bebas berpacaran dengan Mira.
Hari ini Ardan kembali ingin janji temu dengan Mira, pagi-pagi sekali Ardan ingin pergi sebab tak sabar ingin bertemu Mira, sebelum pergi tiba-tiba aksi jahilnya muncul, ia tidak mau Amelia pergi mencarinya bahkan mengingat bahwa Amelia pernah tidur ditempat El, membuat ia kembali terbakar api cemburu.
‘Mampus elu! Gue kurung elu hari ini, biarin aja dah elu di rumah sendiri, biar gak keluyuran, keganjenan sih, mentang-mentang suami gak ada di rumah,’ gumam Ardan sambil mengunci pintu belakang dan juga pintu depan.
__ADS_1
Bersambung ....