MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 37 Perceraian Amelia.


__ADS_3

Setelah menunggu dua bulan lamanya, proses sidang akhirnya keputusan pengadilan mengabulkan permohonan Amelia sebagai pengugat, karena keuda belah pihak tidak pernah hadir ke persidangan dan menolak mediasi maka, makin mempermudah keputusan sah perceraian, kini Amelia berstatus seorang janda muda dan hak asuh anak jatuh kepadanya.


Namun keputusan pihak pengadilan masih tidak bisa diterima oleh Ardan, ia masih tidak ingin melepaskan Amelia, dia mendatangi kembali rumah Ibu Sukma di kampung.


Ternyata pagi ini Ardan sudah mengintai dan menunggu Ibu Sukma pergi ke pasar, lalu menghampiri Amelia yang sendirian di dalam rumah.


“Amelia di mana kamu hah?” teriak Ardan mencari Amelia ke rumah Ibu Sukma.


“Ada apa ini, kenapa kamu teriak-teriak di rumah orang heh?” ucap Amelia.


“Aku ingin bertemu anakku Mel, aku mohon pertemuankan aku dengan dia,” mohon Ardan.


“Gak, aku tidak akan pernah sudi mempertemukan kamu dengan putriku,” tolak Amelia.


“Tapi Mel, dia juga anakku!” hardiknya.


“Ckck, sekarang aja kamu ngaku-ngaku dia anakmu, saat dia dilahirkan di mana kamu berada hah?” cetus Amelia kesal dengan mantan suaminya yang tidak pernah sadar diri.


“Sampai kapanpun ia tetap darah dagingku Mel!”


“Iya dia memang darah dagingmu tetapi ia tidak akan pernah mempunyai seorang Ayah sepertimu, pergi kamu dari sini!” usir Amelia mendorong Ardan keluar rumah.


“Cuih, gue gak akan membiarkan elu hidup tenang Amelia!” ancam Ardan.


“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya seorang wanita tiba-tiba turun dari mobil taksi.


‘Siapa orang ini? Pakaiannya sangat modis sekali, apakah dia ingin datang ke sini? ’ tanya Amelia dalam hatinya, ia tidak pernah mengenal perempuan paruh baya ini.


“Anda siapa hah? Tidak perlu ikut campur!” bentak Ardan menatap tajam ke arah ibu itu.


“Cukup Ardan, lebih baik kamu pergi dari sini!”


“Tidak Amelia, aku tidak pernah pergi sebelum kamu pertemuankan aku dengan Anakku!”


Amelia merasa resah, takut jika Ardan nekat akan membawa kabur anaknya nanti, jika ia mempertemukan mereka.


“ Saya adalah Ibu kandungnya Amelia. Cepat kamu pergi dari sini, atau saya akan telpon polisi karena kamu menganggu ketenangan anak saya,” bela perempuan yang mengaku sebagai Ibunya Amelia.


“Apa Ibu kandung?” tanya Ardan dan Amelia kaget secara bersamaan.


“Iya, silakan kamu pergi sebelum saya benar-benar melaporkan kamu ke polisi! gertak Ibu Saraswati.

__ADS_1


“Ck sialan, awas kamu Amelia!” Ardan mendengus kesal dan pergi.


...****************...


“I-Ibu ...?” tanya Amelia sungkan.


Ibu Saraswati tersenyum lalu mengangguk, “Iya, ini saya Ibu Saraswati Ibu kandungmu.”


“Astaga Ibu kenapa pulang tidak memberitahu?” tanya Amelia sungkan.


Wajar saja Amelia tidak mengenali Ibu kandungnya sendiri, sebab hampir diusia dia puluh delapan tahun ini, ia tidak pernah bertemu beliau.


“Sengaja, surprise untukmu, mana Bu Sukma?” tanya Saraswati.


“Ibu Sukma, sekarang masih di pasar jual hasil kebun, mungkin nanti pukul sepuluh baru pulang,” ungkap Amelia.


“Ya ampun, jadi beliau masih kerja? Padahal sudah aku larang, biar aku saja yang membiayai kalian,” ujar Bu Saraswati.


“Begitulah Bu, beliau tidak ingin berpangku tangan, beliau hanya ingin makan jerih payah sendiri,” ucap Amelia.


“Kakak Arman dan istrinya memang orang baik, makanya aku menitipkanmu pada mereka, maafkan Ibu yang baru datang sekarang,” tangis Bu Saraswati.


“Sudahlah Bu, mungkin memang takdirnya kita begini,” haru Amelia juga.


“Ada Bu, sedang tidur di kamar ayo sini kita temui,” ajak Amelia.


...****************...


“Apaa ... Amelia punya Ibu kandung?” tanya Ibu Ardan.


“Iya Bu, ada seorang perempuan yang mengaku seperti itu, tetapi selama ini dia gak pernah cerita kalau dia itu hanyalah seorang anak angkat,” ujar Ardan bingung.


“Ya sudah, lagian ngapain juga kamu ke sana, lebih baik kamu kejar lagi si Mira,” ucap Ibunya.


“Aku ingin ketemu anakku Bu,” timpal Ardan.


“Kamu nikah sama sama Mira dan punya anak dari dia, lebih menguntungkan,” usul Ibunya lagi.


...****************...


“Jadi yang marah-marah itu tadi, mantan suamimu?” tanya Bu Saraswati mendengar cerita Amelia.

__ADS_1


“Iya Bu, dia ingin bertemu Mutiara, tetapi aku gak mau mempertemukannya takut dia akan mengambil secara paksa Mutiara dariku,” jelas Amelia.


“Di sini tidak aman untuk Mutiara, dia bisa menerormu lagi, kamu ingatkan dia mengancam terus,” ujar Saraswati.


“Lalu bagaimana ini Bu?”


Belum sempat Ibu Saraswati menjawab, Ibu Sukma datang dari pasar, ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Amelia dan Saraswati serempak.


“Ini siapa?” tanya Bu Sukma bingung, tidak mengenali tamunya.


“Ini aku kak, Saraswati.”


“Ya Allah dek, pangling aku tidak ada kabar, kapan datang?” tanya Bu Sukma terharu merangkul adik iparnya itu.


“Tadi pagi Kak, sengaja bikin kejutan untuk Kakak dan Amelia,” jawabnya.


“Ayo, kita makan dulu, ini aku sudah bawain lauk dan sayurnya, beli tadi di pasar,” ajak Bu Sukma.


...****************...


“Bagaimana kalau kita pindah rumah saja yang agak lebih besar dari ini? Aku juga ingin buka usaha biar nanti Amelia dan kakak yang jalankan usaha itu,” ucap Saraswati mengutarakan niatnya mengajak pindah.


“Tapi dek, berat rasanya meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini,” ujar Bu Sukma.


“Kalau kamu bagaimana Amelia?”


“Aku juga gak akan pindah jika, Ibu Sukma tidak enggan pindah.”


“Bagaimana jika mantan suamimu itu datang dan menganggumu lagi? Mulai sekarang Ibu tidak akan meninggalkan kalian lagi, kita akan tinggal bersama selamanya,” tutur Ibu Saraswati.


“Baiklah jika memang itu untuk kebahagiaan Amelia dan Mutiara, aku sudah tua dan tidak boleh egois mungkin aku juga harus meninggalkan kesedihanku di sini untuk memulai kehidupan yang bahagia bersama kalian,” kata Bu Sukma dengan bijaksana.


“Allhamdulilah, kalau gitu terima kasih kak, kita tidak perlu menjual rumah ini, cukup kita kontrakan saja nanti,” ucap Saraswati meyakinkan kakak iparnya.


“Aku ngikut apa kata kamu saja dek."


“Memang kita mau pindah ke mana Bu?” tanya Amelia.


“Ada deh, secepatnya jika mau besok kita bisa berkemas dan langsung pindah,” ujar Saraswati.

__ADS_1


Amelia dan Bu Sukma hanya saling pandang, entah kejutan apalagi yang akan diberikan oleh Saraswati pada mereka, tetapi Amelia bersyukur setidaknya ia merasa tenang jika pindah dari sini, Ardan tidak akan menemukannya.


Bersambung ....


__ADS_2