
“Astaghfirullah, Amelia...,” teriak Bu Rahmah melihat Amelia pingsan.
Mendengar ada suara teriakan ibu-ibu El yang sedari tadi masih belum terbangun dari tidurnya, langsung kaget dan keluar rumah, ia melihat Amelia tergeletak di teras. El dan ibu-ibu langsung mendekati dan membopong Amelia masuk ke dalam rumahnya.
El menelpon Mbak Ratna agar Amelia dapat diperiksa, “Halo, Ya El?” tanya Mbak Ratna dari dalam telpon.
“Halo Mbak, tolong ke kontrakan El sekarang!” pinta El.
“Memangnya ada apa?”
“Ada yang pingsan Mbak cepatlah!”
“Oke, Mbak ke sana,” tukas Mbak Ratna, langsung mematikan sambungan telepon selulernya.
Tak berapa lama Ratna sebagai bidan desa dan satu orang perawat datang dan memeriksa Amelia. El keluar dari kontrak Amelia menunggu di terasnya saja, tetapi ia masih bisa mendengar percakapan mereka.
Para ibu-ibu ikut menyaksikan dan membantu, setelah beberapa menit Amelia bangun dari pingsannya, Bu Minah segera membantu juga memberikan air minum teh hangat kepada Amelia, “Terima kasih Bu Minah,” ucap Amelia. “Sama-sama kamu berbaring saja lagi istirahat,” ujar Bu Minah.
“Dia kenapa Bu Bidan?” tanya Bu Rahmah ikut prihatin.
“Sepertinya Bu Amelia ini kelelahan saja dan kurang stamina, tetapi...,” kata Ratna terjeda.
“Tetapi apa Bu Bidan?” tanya Amelia.
“Sebaiknya Bu Amelia cek saja untuk memastikan,” sambung Mbak Ratna sambil menyerahkan sebuah alat tes kehamilan pada Amelia.
Amelia menuju kamar mandi di tuntun oleh Ibu Minah yang menemaninya. Tak berselang lama Amelia kembali ke ruang tamunya ia menyerahkan Tespack pada Bu Bidan dan memang hasilnya adalah positif.
“Seperti dugaan saya, kamu memang hamil, dilihat dari tanda-tandanya mungkin ini sudah tiga minggu,” jelas Mbak Ratna.
Mendengar itu Amelia menjadi bingung dengan keadaannya kini, antara senang karena kehamilannya atau sedih sebab suaminya yang tidak pernah memperdulikannya. Air hangat leleh dari pelupuk mata membasahi pipinya perasaan campur aduk menyerangnya.
__ADS_1
“Saya harap kamu menjaga kandunganmu ini, jangan banyak pikiran, perbanyak istirahat dan juga makan-makanan bergizi, apalagi dulu pernah ada riwayat keguguran, ini saya kasih obat vitamin dan pereda mual untuk Bu Amelia,” tutur Mbak Ratna.
“Terima kasih banyak Bu Bidan,” sahut Amelia.
“Sama-sama saya permisi dulu, mari ibu-ibu, Assalamu’alaikum,” pamit Mbak Ratna.
“Waalaikumsalam,” balas ibu-ibu.
“Kamu harus sabar neng, harus kuat, semoga nanti suamimu mau berubah jika mendengar kamu mengandung anaknya,” harap Bu Rahmah memberikan semangat pada Amelia.
“Iya, neng Amelia, jangan terlalu banyak kerja dan banyak pikiran kasihan nanti dedek bayinya, apalagi sampai pingsan begini,” timpal Bu Minah.
“Terima kasih banyak ya Bu-ibu atas bantuan dan perhatiannya, saya benar-benar tidak enak sudah merepotkan,” ucap Amelia sungkan.
“Tidak apa-apa neng, kita tetangga sudah seharusnya tolong-menolong, sebaiknya kamu istirahat, nanti Ibu antarin bubur untukmu,” pungkas Bu Minah.
Tak henti-hentinya Amelia berterima kasih dan bersyukur mempunyai tetangga yang baik.
El yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan mereka, ia mulai bangkit berdiri dan hendak melangkah pergi, “Mas El...?” panggil Amelia.
...****************...
“Kasihan ya neng Amelia, pengen pisah sama suaminya gak bisa karena sedang hamil, tetapi, bertahan dengan suami yang brengs*k begitu makin sakit hati,” cakap Bu Minah.
Setelah mereka keluar dari rumah kontrakan Amelia, mereka kembali ke rumah masing-masing.
“Iya jeng, kita do'akan saja semoga neng Amelia nya sabar dan kuat menjalaninya, sepertinya ia sudah lama juga menunggu mempunyai anak,” sahut Bu Rahmah.
“Amiin... ngomong-ngomong si Ardan sudah tahu belum ya jika isterinya hamil,” sambung Bu Minah.
“Mana dia tahu wong, dari semalam dia gak terlihat pulang,” sela Bu Ratni yang sedari tadi ikut diam menyaksikan.
__ADS_1
...****************...
El menemui Mbak Ratna, “Apakah benar dia hamil Mbak?” tanya El memastikan.
“Iya dia hamil memang kenapa kok tomben elu begitu perhatian?” tanya balik Mbak Ratna seakan menginterogasi El.
“Ya ampun Mbak, gue cuma kasihan sama dia karena tetangga, tiap hari dia berantem terus sama suaminya dan suaminya gak pernah perduliin dia,”
“Serius? Wah kasihan sekali dia ya, kirain kamu tertarik dengan bini orang El, ” tuduh Mbak Ratna.
“Kayak gak ada cewek lain aja Mbak?” elak El.
“Siapa tahu kan elu berbakat jadi pebinor?” sindir Mbak Ratna.
El memilih pergi ke perusahaan dengan naik taksi, padahal pengen curhat ke Andreas.
“Apaa... Amelia hamil?” Andreas tak kalah terkejut, saat mendengar cerita El.
“Biasa aja kalees, expresinya!” celetuk El.
“Pupus sudah harapan elu El, dia pasti akan rujuk sama suaminya,” sambung Andreas.
“Entahlah biarkan saja Amelia nanti memilih sendiri, dia berhak menentukan kebahagiaannya,” ujar El bijaksana.
“Widiih keren sohib ane, dari dulu gak itung-itungan kalau bantuin orang pasti sampai tuntas,” puji Andreas.
“Elu muji ujung-ujungnya pasti mau bonus,” timpal El.
“Hehehe, ya gak gitu juga kalau rezeki memang gak boleh ditolak, terus elu ikhlas aja gitu kasih uang cuma-cuma untuk suaminya Amelia?”
“Urusan itu nanti selanjutnya gue pikirkan,” lirih El.
__ADS_1
Bersambung ....