
El tidak menyangka dituduh seperti itu oleh keluarga Ardan, ia benar-benar sangat kecewa, awalnya ingin menyadarkan pada Ardan arti seorang Amelia, tetapi malah ia terkena fitnah.
‘Apakah gue harus menjauh dari kehidupan Amelia?’ pikir El.
...****************...
Amelia pun pulang dengan menahan rasa malunya, akibat ulah suami, Ibu Mertua dan Iparnya yang secara sengaja ingin membuat pertikaian,
“Mel... tunggu sayang, maafin Abang ya?” bujuk rayu Ardan.
“Kamu dan keluargamu itu sama saja selalu mencari-cari kesalahanku dan teganya tidak percaya dengan isteri sendiri,” ucap Amelia yang sudah terlanjur sakit hati atas semua perlakuan Ardan dan keluarganya.
“Iya-iya Abang ngaku abang salah, kali ini, Abang janji akan berubah dan kita harus tetap bersama demi anak kita,” sesal Ardan.
“Anak kita? Hahaha, tadi saja Abang seakan-akan tidak ingin mengakuinya,” cemooh Amelia.
“Abang tahu, abang sudah sangat keterlaluan, tetapi ini juga karena pengaruh Ibu dan Mbak Ute,” elak Ardan tak ingin disalahkan sendiri.
“Iya tapi kamu yang b*doh gampang dihasut, suami seharusnya menjadi pelindung dan pembela istrinya malah tega melukai hati!” cibir Amelia mulai muak dengan suaminya.
“Maafkan Abang sayang, mulai sekarang Abang akan percaya denganmu seorang, ingat ada anak kita yang dari dulu kita inginkan, kita buka lembaran kehidupan baru bersamanya,” rayu Ardan.
“Baiklah kali ini hanya demi anak, jika Abang masih ber-ulah jangan harap aku bertahan lagi dan aku akan pergi bersama dengan anakku,” ancam Amelia.
“Jangan dong sayang, kita harus terus bersama,” sahut Ardan.
Memang sejak dulu Ardan begitu menginginkan seorang anak, mendengar kalau Amelia sedang hamil ia sangat bahagia tetapi, karena celaan dan juga hasutan dari pihak keluarganya malah membuat ia kadang bingung mau memilih siapa, pada Amelia ia begitu menyayanginya apalagi sekarang dia sedang mengandung anaknya semakin takutlah Ardan kehilangan Amelia.
“Abang dari mana? Kenapa dari semalam tidak pulang?” cecar Amelia.
__ADS_1
“Abang pulang ke rumah Ibu,” jawab Ardan.
“Lalu mana sisa uang yang dipinjam dari Mas El?”
“Sudah habis,” jawab Ardan tanpa beban.
“Astaghfirullah, bagaimana bisa uang sebanyak itu habis dalam sekejap?”
“Ya itukan melunasi hutang dengan Bang Doni nah, sisanya abang pakai nongkrong dan untuk Ibu, Mbak Ute dan Mbak Rosi.”
“Lalu bagaimana caranya kita mengembalikan uang Mas El?” tanya Amelia geram.
“Nanti deh kita pikirkan, Abang akan cari pinjaman lagi pada teman, kamu tenang saja.”
“Itu namanya gali lubang tutup lubang! Pokoknya besok aku gak mau tahu, Abang harus cari kerja dan dapat uang biar bisa cicil bayar pinjaman pada Mas El, malu bang malu! Mau ditaruh di mana ini muka? Masih untung Mas El tidak memperpanjang masalah tadi, gimana jika ia tidak membantu Abang kemarin? Bisa-bisa saat ini Abang sudah dipenjara,” cecar Amelia.
“Iya, besok Abang akan cari kerja dan kamu juga bantuin bayarnya,” ucap Ardan.
“Masa gak mau bantuin suami sih?”
“Bukan gak mau bantuin, Abang belajarlah tangung-jawab, itu resiko atas kelakuan Abang sendiri,” tampik Amelia tidak memperdulikan Ardan yang gelisah.
“Udah ah, aku mau tidur,” sambung Amelia lagi.
Ardan pun hendak mengiringi, tetapi pintu kamar langsung ditutup Amelia.
Brak! Pintu dikunci dari dalam.
“Mel, buka dong Abang juga mau tidur!” ucap Ardan.
__ADS_1
“Tidur aja diluar sana!” sahut Amelia.
“Apes banget sih gue,” sungut Ardan.
...****************...
Keesokan harinya Ardan sungguh-sungguh mencari pekerjaan dan ia diterima menjadi montir motor di salah satu bengkel merek motor bebek yang cukup terkenal, karena dulunya Ardan sekolah SMK otomotif dan berpengalaman dibidangnya.
“Allhamdulilah, mungkin ini rezekinya anak bang,” ucap syukur Amelia.
“Iya sayang, kamu jangan terlalu cape kerjanya, sekarang Abang kan punya penghasilan jadi, kamu jangan terlalu lelah dan banyak pikiran,” ujar Ardan begitu perhatian.
...****************...
Satu bulan berlalu sikap dan perilaku Ardan mulai menunjukkan perubahan, ia juga perhatian pada Amelia.
Sepulang bekerja Ardan memanggil isterinya dan berkata,“Sayang, ini aku bawakan buah-buahan, dimakan ya?”
“Wah terima kasih ya Bang, pas banget pengen buah ini,” ucap Amelia girang.
“Duh, semakin romantis saja kalian ini,” tegur Bu Minah.
“Oh Bu Minah, iya Bu isteri saya lagi ngidam, lagi manja-manjanya,” tukas Ardan sambil membelai lembut pucuk rambut Amelia.
“Bagus kalau gitu, memang isteri yang lagi hamil harus memang diberi extra perhatian dan jangan sampai stress dan sedih terus, tidak baik untuk janin,” sahut Bu Rahmah yang asyik angkat jemuran.
Ardan yang sudah berubah dan memiliki pekerjaan, sampai ke telinga Ibu dan kakaknya. Mereka bingung kenapa Ardan tidak pernah lagi datang ke rumah orang tuanya.
Bersambung ....
__ADS_1