
“Bang Ardan, Ibu, dan Mbak Ute,” ujar Amelia.
“Ngapain aja sih kok lama banget buka pintunya?” ketus Ardan datang marah-marah.
“Tadi lagi shalat, emangnya Abang keluyuran terus tiap hari jarang pulang,” omel Amelia.
“Suami baru pulang bukannya di siapkan makan atau apa, malah balas ngomel,” cetus Ibu Mertuanya tak mau kalah.
Amelia tak menghiraukan, dia malah masuk menuju kamar.
“Eh tadi kenapa Ibu dan Mbak Ute, mereka datang ke rumah nagis-nagis katanya ketemu elu di jalan bikin malu keluarga, berani elu ya teriak dan membentak terhadap Ibuku, ” cecar Ardan berdiri di samping pintu kamar.
‘Pasti emak lampir dan si mulut comberan itu yang ngaduin tidak-tidak ke Bang Ardan,’ pikir Amelia.
“Betul itu Ardan, isterimu ini benar-benar keterlaluan, lebih baik kamu ceraikan saja dia!” hasut Mbak Ute.
“Gue gak membentak apalagi sampai teriak kalau bukan Ibu dan Mbak Ute yang duluan cari gara-gara,” timpal Amelia.
“Apa bener elu hamil anak tetangga sebelah mantan elu itu? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Ibu kalau kamu j*lang suka godain para lelaki,” tuduh Ardan cemburu buta.
“Astaghfirullah Bang, Elu tega gak percaya dengan isteri sendiri, gue mengandung anak elu, sadarlah Bang jangan mudah terhasut omongan mereka,” jelas Amelia.
“Gue gak percaya, Gue lebih percaya sama ibu gue sendiri, gue harus bikin perhitungan nih sama mantan elu itu!”
Ardan ke kontrakan sebelah, ingin menemui El, di susul oleh Amelia, Ibu dan Iparnya juga ikut serta.
Sebisa mungkin Amelia mencegah suaminya, “Bang, jangan Bang, bikin malu saja, menganggu tetangga!”
“Ah, jangan menghalangiku!” hardik Ardan yang benar-benar emosi.
__ADS_1
...****************...
“Wooi El, keluar elu wooi...!” teriak Ardan.
El mendengar ada suara teriak-teriak memanggil namanya lalu segera membuka pintu.
“Ada apa ya?” tanya El tenang.
“Bener elu sudah menghamili isteri gue? Jangan mentang-mentang elu punya banyak duit seenaknya buntingin isteri orang,” murka Ardan sambil menarik baju kaos El.
“Heh, jangan menuduh sembarangan!” pekau El, ia pun tersulut emosi.
“Ada apa ini ribut-ribut hah?” tanya Pak RT datang dengan beberapa orang warga.
Para tetangga disekiling juga ikut ngumpul karena mendengar suara nyaring dari Ardan.
“Ini Pak RT, orang ini sudah selingkuh dengan istri saya dan menghamilinya.” Tunjuk Ardan kepada El.
“Saya tidak bisa tenang Pak RT, dia menuduh saya yang tidak-tidak,” protes El dengan suara yang meninggi.
“Bang Ardan, apa kamu punya bukti menuduh Mas El ini selingkuh bahkan sampai menghamili isterimu?” tanya Pak RT tegas.
“I-itu anu... gak ada buktinya sih Pak RT, kata ibu saya mereka berdua selingkuh,” jawab Ardan gagap.
Mata ibu Ardan melotot karena ulah anaknya yang terlalu bod*h malah menyudutkan ke arahnya.
“Kenapa kalian berani sembarangan menuduh Mas El, kalau tidak ada buktinya?” tanya RT lagi.
“Ya itu karena dia mantan isteri saya, kali saja mereka bermain api dibelakang saya,” curiga Ardan tak berdasar.
__ADS_1
“Astaghfirullah!” ucap serempak para warga yang menyaksikan.
“Saya memang mantan isteri Anda tetapi, saya tidak sekeji yang Anda tuduhkan,” bantah El.
“Betul malah Mas El yang membantu meminjamkan uang kemarin pada Ardan, untuk melunasi hutangnya, malah seenaknya main tuduh aja,” bela Ibu Minah.
“Iya betul, dasar tidak tahu terima kasih mereka ini,” sahut salah seorang warga juga.
“Pak RT, pokoknya saya tidak terima tuduhan ini, saya akan melaporkan kalian bertiga ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik,” ancam El.
Mendengar gertakan dari El bahwa ia akan melapor ke polisi, Ardan menjadi gemetar, ia langsung memohon ke El, “Mas El maafkan saya, saya mohon jangan laporin saya ke polisi, saya gak mau dipenjara, saya ngaku saya tadi emosi.”
“Iya, Mas El maafkan kami, kami hanya terkejut karena Amelia tiba-tiba hamil,” alasan Ibu Ardan.
“Huuuuuu...!” sorak para warga.
“Tadi aja berani teriak-teriak macam preman pasar, sekali mau dilaporin malah macam kerupuk kena air,“ timpal Bu Minah.
“Hahaha..., iya ya langsung mingkem,” sahut Bu Ratih.
“Pokoknya jika Ibu masih saja menuduh saya dan Amelia tidak-tidak, saya tidak akan segan melaporkan kasus KDRT yang dilakukan oleh anakmu terhadap Amelia, dan ingat harus lunasi pinjaman uang yang saya kasih kemarin atau anakmu saya laporkan ke polisi! Gertak El pada Ibunya Ardan.
“I- Iya Mas El,” ucap Ibu gugup.
“Sudah, susah lebih baik kalian damai,” anjur Pak RT.
El dan Ardan pun damai, “Sekarang semuanya bubar, sana bubar!” perintah Pak RT.
“Huuu... gak seru, gak jadi baku hantamnya,” celetuk seorang pemuda.
__ADS_1
Bersambung....