MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 30 Perselingkuhan Ardan eps. 2


__ADS_3

Di ruang Bersalin.


“Selamat untuk Nyonya Amelia, atas kelahiran putri pertama Anda.” Perawat yang ikut membantu alias asisten Bu Bidan Ratna, menyerahkan bayi mungil yang cantik kemerah-merahan, kepangkuan Amelia agar disusui.


Setelah dua jam mereka menunggu, akhirnya Amelia melahirkan dengan selamat, dan Ibu Sukma dari kampung pun datang tepat waktu.


“kita harus memberi tahu suamimu segera Amelia,” ujar Ibu Sukma.


“Iya betul itu, Bayi ini harus segera di adzankan ditelinganya,” sahut Bu Bidan Ratna.


“Tidak usah, jangan beritahu Bang Ardan!” tungkas Amelia.


“Kenapa?”


Amelia membenarkan posisi duduknya dan berkata, “Aku yakin dia tidak akan perduli, jangankan mempertanyakan berapa usia kandunganku? Bahkan dia tidak pernah sekali pun ingin mengetahui kondisi calon anaknya.”


“Astaghfirullah, keterlaluan sekali suami itu Nak,” ujar Ibu Sukma.


“Seandainya Bapak masih ada, mungkin Bapak yang akan adzankan dia,” sambung Bu Sukma, menatap haru pada cucunya.


“Iya Bu, eh bagaimana Ibu bisa tahu saya melahirkan hari ini?” tanya Amelia.


“Oh itu iya, ada para tetangga kamu yang katanya menolongmu tadi, dan ada seseorang lelaki yang datang ke rumah kita di kampung katanya di suruh jemput Ibu karena kamu melahirkan,” jawab Bu Sukma.


“Iya lupa, suruh mereka masuk Bu, Amelia ingin berterima kasih,” pintanya.


Bu Sukma pun meminta para tetangga yang masih tersisa ikut masuk ke dalam ruang persalinan.


“Terima kasih banyak, Ibu-Ibu dan Mas El sudah menolong saya,” ucap Amelia terharu.


“Yang penting Neng sehat dan bayi sehat, kami sangat senang bisa membantu, selamat ya neng sudah menjadi seorang Ibu, kamu sudah lama menunggu bayi ini,” ujar Bu Minah.


“Iya Bu, rasanya tidak percaya aku melahirkan begitu cepat, karena ini di luar prediksi, yang seharusnya menunggu seminggu lagi, ” sahut Amelia.


Bu Marwa mendekat juga dan berkata, “Untungnya kami cepat datang ketika mendengar teriakanmu Neng, sepertinya pintu terkunci dari luar.”


“Bener kamu terkunci dari dalam rumah Nak?” tanya Bu Sukma.


“Betul Bu, mungkin memang Bang Ardan sengaja mengunciku, karena dia marah beberapa bulan ini aku mengacuhkannya,” jawab Amelia terisak.

__ADS_1


“Astaghfirullah, kenapa kamu tidak cerita ke Ibu Nak? Jika tahu hubungan kalian tidak baik -baik saja, Ibu tidak akan mengizinkanmu kembali ke kota ini.” Sesal Bu Sukma.


“Maafkan Amelia Bu, aku hanya tidak mau menambah pikiran Ibu, jadi tambah sedih apalagi setelah kepergian Bapak,” imbuh Amelia.


Mereka yang mendengar itu menjadi ikut terisak, sebab mereka mengerti bagaimana Amelia bertahan dalam rumah tangganya hanya demi anak yang dikandung, berharap suaminya berubah nyatanya makin ber-ulah.


“Mas El, kemarilah?” Amelia memanggil El yang sedari tadi hanya diam di pinggir pintu.


“Ya, ada apa?” sahut El mendekat.


“Tolong azankan anakku dan kasih dia nama,” pinta Amelia.


“Apakah boleh, aku mengendongnya?” tanya El ragu.


“Tentu saja boleh, ini gendonglah!”


Hoeek... ! Hooeek...! Tangis bayi itu.


El mengambil bayi mungil yang berada dipangkuan Amelia, sorot mata El tidak bisa membohongi bahwa ia juga begitu mendambakan seorang anak, binar mata kecil yang terbuka berlahan, dan tubuh kecil terbungkus dengan kain bedung, membuat hati El sangat terenyuh.


El mulai menglafalkan adzan di telinga kanannya dengan lirih, “Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....”


“Nama putri yang cantik ini adalah Mutiara Khanza Putri Amelia,” ucap El.


“Masya Allah, nama yang bagus sekali sesuai dengan bayi yang cantik ini,” sambung Bu Sukma gembira.


Ting! Ting! Bunyi sebuah pesan masuk di dalam ponsel milik El. Sehingga l menyerahkan kembali bayi yang dalam gendongnya kepada Amelia.


El membuka pesan itu, ternyata dari Andreas mengirim pesan vedio di aplikasi berwarna hijau, ia mengklik dan melihat vedio itu, mendadak wajah El yang awalnya sumringah melihat bayi Amelia kini berubah menjadi puas dan tegang, melihat isi pesan vedio itu.


‘Aku tidak mungkin memperlihatkan vedio ini pada kondisi Amelia seperti sekarang, yang ada malah mengacaukan suasana hatinya,’ pikir El.


“Begini, mendadak saya punya urusan yang penting, saya harus permisi lebih dulu, Ibu Sukma dan Amelia bisa beristirahat dengan tenang di rumah kontrakan saya, ini kuncinya dan nanti Pak Susanto yang akan mengantarkan kalian pulang,” ujar El memecah kesunyian.


“Oh, Terima kasih banyak maaf telah merepotkan Nak El, kamu sudah banyak membantu kami,” sambung Ibu Sukma sungkan.


“Tidak apa-apa Bu, saya permisi dulu ya, Assalamu’alaikum, ” ucap El berpamitan.


“Waalaikumsalam,” jawab mereka serentak.

__ADS_1


“Kalau gitu kami juga ikutan pamit ya Bu, dan Neng Amelia,” sahut Bu Minah dan Bu Marwa.


“Oh iya Terima kasih juga ya Ibu-Ibu.”


“Sama-sama Bu, Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam”.


...****************...


“Cepat kamu share lokasimu sekarang Andreas! Aku akan ke sana sekarang juga.” El pergi mencari taksi dan menelpon Andreas.


Entah vedio apa yang di kirim oleh Andreas kepada El, nampak ia erat handphone dalam genggamannya dan rahang mengeras seperti menahan emosi.


El sampai di sebuah club malam di kota C, rupanya lokasi yang dikirim oleh Andreas bertujuan ke club ini, El masuk ke dalam club, suasana tampak ramai sebagaimana mestinya club malam d selalu didatangi dan digandrungi anak muda, juga berbagai macam jenis manusia yang menyukai hiburan malam.


El mencari sosok Andreas di tengah gemerlap club, Andreas yang melihat El langsung menghampirinya, “Sini lu, lihatlah!” Andreas menarik tangan El ke tengah-tengah orang yang berjoget ria, ternyata ada Ardan yang sedang asyik berjoget dengan memeluk seorang wanita yang begitu erat.


El tidak bisa menahan amarahnya ia, menerobos segerombolan orang yang bejoget-joget itu dan mendekati Ardan, tanpa ba-bi-bu El melayangkan tinju pada Ardan.


Buk!


Buk!


Buk!


Sedangkan Ardan masih dalam kondisi m*buk tak menyadari jika El, menghantamkan tinjunya dari jarak dekat. Dia langsung terkapar, bibir dan hidungnya mengeluarkan darah, suasana di club yang tadinya berisik menjadi mencekam karena pekikan beberapa orang yang melihat El memukuli Ardan habis-habisan.


Keributan terjadi, para petugas keamanan club segera datang, Andreas cepat mencoba melerai El dan ia akan menjelaskan pada petugas itu siapa sesungguhnya El.


“Dasar lelaki brengs*k, tidak punya perasaan istri lagi berjuang melahirkan malah asyik selingkuh di sini,” caci El, ia ditarik oleh beberapa orang agar menjauh dari Ardan.


“Lelaki kurang aj*r begitu memang tidak bisa dibuat sadar kecuali dibikin jera,” sambung El terus mengumpat marah.


“Tenanglah Bos, apakah Amelia mengetahui hal ini?” tanya Andreas.


El langsung terdiam dan berhenti melakukan aksi brontaknya.


Bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2