
[Jadi ... Amelia mempunyai Ibu Kandung? Berarti selama ini Bu Sukma bukan Ibu kandungnya?] ~ Andreas.
[Iyaap, seperti itulah kira-kira] ~ balas Fia.
[Wah tajir dong Ibu Kandungnya?]~ Andreas.
[Kalau soal itu gue gak gahu, elu cari tahu aja sendiri]~ Fia.
Isi pesan chatt Fia dengan Andreas, dibaca oleh El, dia tidak menyangka, ‘Entah sepahit apa kehidupan yang telah kamu lewati Mel? Memang teka-teki kehidupan tidak pernah ada yang tahu,’ gumam El.
...****************...
Ardan menunggu Mira pulang kerja di sekitar apartemen, ia berniat menemui ingin kembali menjalin hubungan dengan Mira.
“Sayang tunggu, dengerin aku dulu ...,” bujuk Ardan menarik tangan Mira yang menghindarinya.
“Apa hah? Kamu gak jujur jika sudah punya istri, aku malu dengan tteman-tenanku, mereka anggap aku pelakor,” ucap Mira.
“Bukan begitu, aku sudah bercerai dengannya baru dua hari yang lalu, jadi maafin aku ya, ” ujar Ardan.
“Masa serius?”
“Ya dong, aku tentu lebih memilihmu yang cantik dan baik hati, dari pada wanita kampung itu,” rayu Ardan.
“Awas jika kamu ketahuan berbohong denganku,” rajuk Mira.
“Gak sayang, mana mungkin aku berani, jadi gimana kamu masih mau kan meneruskan hubungan kita?”
“Gimana ya, aku pikir-pikir dulu ah.”
“Jangan dong sayang, aku ini sudah cinta mati denganmu, pesonamu.”
__ADS_1
“Baiklah, kali ini aku akan maafkanmu.”
Weekend ini Ardan dan Mira janji ingin jalan-jalan ke sebuah tempat wisata, setelah parkir mobil, mereka berjalan kaki, tetapi ditengah jalan menuju lokasi,
“Hei Ardan, ke mana saja kamu?” tegur seseorang yang berjalan dari belakang mereka.
“Siapa Bang?” tanya Mira.
“I-itu ... cuma teman abang kok, kamu ke cari tempat aja duluan ya, abang mau nyemperin dulu,” ucap Ardan.
“Ooh oke dah.”
Setelah Mira pergi barulah Ardan menemui orang yang menyapanya tadi, “Bo-Bos?” ujar Ardan gugup.
“Ke mana saja kamu hah sudah sebulan ini kamu tidak pernah lagi masuk kerja? Apa kamu ingin dipecat?” cecar orang itu rupanya adalah Bos bengkelnya.
“Ma-maaf Bos, anu ... saya masih ingin kerja, hanya kemarin lagi ada masalah dengan istri saya,” kilah Ardan.
“Kenapa dia lama sekaki?” gumam Mira.
Mira yang merasa ada yang disembunyikan oleh Ardan, ia pun mendekati dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Maaf Bos, saya belum ada uangnya,” elak Ardan lagi.
“Ibumu juga kemaren datang ke bengkel saya, dia minta uang kasbon lagi sebesar dua juta rupiah, alasannya karena kamu sakit dan menjalani sidang perceraian, makanya saya berbaik hati menolong nyatanya kamu tidak pernah masuk kerja lagi, jadi total semuanya kasbon menjadi lima juta rupiah,” jelas Bos itu.
“Ada apa ini?” tanya Mira tiba-tiba muncul diantara mereka.
“Eh sayang, tidak apa-apa kok, kita hanya saling sapa,” potong Ardan cepat menutupi pembicaraan.
“Saya tidak mau tahu, pokoknya dalam tiga ini kamu harus melunasinya,” timpal Bos lelaki itu lagi.
__ADS_1
“Maksudnya melunasi apa?” tanya Mira kepo.
“Mbak ini siapa Ardan?” tanya balik Bos lelaki itu.
“Saya pacarnya Pak, memangnya ada apa dengan Ardan?”
“Asal Mbak tahu saja ya, Ardan ini karyawan saya di bengkel, dan dia sudah sebulan ini tidak pernah lagi masuk kerja, bahkan kasbon di bengkel totalnya lima juta, saya ingin menagih itu,” ungkap Bos Ardan.
“Apa? Bukankah kamu bilang kamu ini Bos seorang pengusaha bengkel dan juga usaha cuci mobil itu?Jadi bengkel yang selama ini kamu aku-akui itu adalah milik Bapak ini Ardan? ” Mira menjadi terkejut.
“Itu-itu nanti aku jelasin ya sayang,” sergah Ardan panik karena Mira mulai marah.
“Enak saja kamu ya ngaku-ngaku sebagai pemilik bengkel saya, ingat jika kamu tidak bisa melunasi hutang mulai dalam tiga hari, kamu akan saya pecat dan saya laporkan ke polisi, ingat itu!” gertak Bos, lalu pergi meninggalkan Ardan dan Mira yang tercengang mendengar penuturan lelaki itu.
“Kurang aj*r kamu ya Bang, ternyata kamu penipu!” umpat Mira.
“Tenang dulu sayang ....” Ardan gusar mencoba kembali merayu Mira.
“Sudah cukup! Aku tidak percaya lagi denganmu, Jangan-jangan uang yang aku pinjamkan kemarin sudah kamu bagi ke Ibumu yang matre dan istri kampungmu itu, mana uangku cepat kembalikan!” tuduh Mira, suaranya meninggi.
Plak! Ardan menampar Mira, ia tidak bisa mengendalikan emosinya juga.
Namun Ardan kembali tersadar siapa yang sudah ia tampar?
“A-aku gak sengaja ....”
“Brengs*k! Berani rupanya kamu berani bermain kasar hah, aku akan menuntut mu akan kupastikan kamu membusuk dipenjara!” Amuk Mira pergi dengan wajah memerah, karena amarahnya.
“Duh mampus gue, sial! Sayaaang ... maafin aku.” Ardan mengejar Mira.
Mereka menjadi bahan tertawaan para pengunjung wisata.
__ADS_1
Bersambung ....