
“Menyia-nyiakan orang yang tulus bersamamu, adalah kesalahan fatalmu, bagaimana pahitnya kehilangan seseorang yang sangat berharga? Sudah terlambat! Karena yang tersisa hanyalah sebuah PENYESALAN. ” ~ El Farizi.
...****************...
Setelah mengantar Bu Minah pulang, Amelia mengajak Fia untuk mampir ke peternakan milik El, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
“Assalamu’alaikum Pak, apakah Mas El ada? Bisa minta tolong panggilin gak?” tanya Amelia pada salah seorang pekerja di peternakan.
“Oh Bos El, ada tunggu bentar ya Neng,” jawab orang itu.
Dia pergi ke arah tambak ikan dan berseru, “Mas El, ada yang cariin tuh!”
“Siapa Mang Arul? Cewek apa cowok?” tanya El.
“Enggak tahu Mas, cewek cantik dua orang lagi nunggu di depan,” ujar yang di Mang Arul.
“Cie ... tumben nih dicariin cewek-cewek,” ledek Bang Abidin ke El.
“Entahlah Bang, gue ke sana dulu ya.”
“Iya, jangan lupa balik, entar lupa arah pulang,” goda Bang Abidin.
“Astaga emang kunti mau culik gue.”
...****************...
Tak lama muncul lah sesosok yang dicari, menggunakan kaos warna putih dan celana jogger berwarna coklat, menambah kesan stayle cassual yang menarik pada diri El.
Deg!
‘Kenapa gue jadi deg-degan gini sih?’ batin Fia.
“Gil* cakep banget Mas El ini, duda yang meresahkan,” bisik Fia.
“Aaakhemm ... ternyata kalian, mari sini duduk!” ajak El mempersilakan Amelia dan Fia ke saung dekat peternakan.
“Ada apa?” tanya El.
“Begi-ni gue, maksudnya kedatanganku ke sini mau melunasi uang yang udah pernah kamu pinjami ke Ardan dulu,” ucap Amelia gugup.
El merasa canggung, Amelia tiba-tiba bicara aku-kamu, ia memperbaiki posisi duduknya untuk bicara serius.
“Kenapa kamu yang melunasinya? Emang kamu sudah ada uang?” tanya El ngikutin cara bicara Amelia.
“Aku cuma gak mau jadi bahan taruhanmu, apalagi sampai dikira orang aku cewek gampangan yang mudah jadi jaminan suaminya dan ini adalah uang cash seratus juta, artinya kita sudah tidak saling terhubung lagi serta berhentilah mengurusi kehidupan rumah tanggaku,” tukas Amelia.
“Terima kasih, kamu beberapa kali telah membantu aku, aku hanya bisa membalas dengan do'a atas kebaikanmu itu,” sambungnya lagi.
“Satu hal yang harus kamu tahu aku tidak pernah menganggap taruhan, aku hanya ingin tahu seberapa dalam cinta seorang Ardan untuk Amelia, ternyata tidak lebih dari sebatas uang seratus juta.”
“Sekali lagi terima kasih atas kepedulian kamu, tetapi aku kira kita tidak seakrab itu Bos El!” sindir Amelia.
El menatap tajam ke mata Amelia, ia merasa kecewa karena tidak bisa lagi mencari-cari celah untuk mendekati Amelia.
__ADS_1
“Oke, tetap akan kutunggu jandamu,” ujar El pelan.
“Apa?” Amelia pura-pura tidak mendengar.
“Gak apa-apa, baiklah jika memang ini maumu, aku terima uang ini,” kilah El.
“Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu,” sahut Amelia.
“Kenapa buru-buru? Aku belum tawarin minum,” timpal El.
“Terima kasih Mas El, tidak apa kami langsung pulang saja, karena anakku pasti sudah menunggu, assalamu’alaikum,” pamit Amelia.
“Waalaikumsalam.”
...****************...
Amelia dan Fia pulang ke kampung taksi online, agar lebih cepat sampainya. Sepanjang perjalanan pulang Fia tak berhenti ngoceh.
“Mel, bener elu gak punya hubungan apa-apa sama Mas El itu?” tanya Fia.
“Iyalah, emang kenapa sih, Kenapa elu jadi bahas dia terus?” Amelia mulai jenggah.
“Ya kali siapa tahu ‘kan kalian itu punya hubungan khusus,” timpal Fia sekenanya.
“Kenapa elu bisa berasumsi gitu?”
“Iyalah, dari cara dia menatap elu itu beda dan memberikan perhatian ke elu kayanya dalam banget deh.”
“Beda apanya? Gak ah, biasa aja.” Amelia menyembunyikan rasa gugupnya.
“Iya benar ah, dia cuma tetangga yang nolongin gue,” jawab Amelia.
“Gue juga pengen punya tetangga cakep dan perhatian begitu,” sahut Fia senyum-senyum.
“Idih, biasa aja gak ada ada istimewanya tu orang.”
“Hehehe ... hati-hati lu, entar benci jadi cinta, malah elu jadi sebucin-bucinnya,” ucap sahabatnya.
“Idih, ogah,” elak Amelia cepat.
‘Gue berharap gak akan ada lagi yang menganggu hidup gue, lega sekali rasanya sudah bisa melunasi pinjaman itu dan berharap Mas El jangan mencampuri lagi setiap urusan gue,’ sambung Amelia dalam hatinya, tentu masih merahasiakan hubungan terdahulunya bersama El, dia tidak mau dibayang-bayangin masalalu hanya karena El adalah seorang mantan kekasih yang telah banyak menolongnya.
...****************...
Karena Amelia sudah tidak tinggal di rumah kontrakan lagi, El memutuskan juga untuk pindah dari kontrakan tersebut. Entah mengapa hatinya merasa ada yang janggal dia lupa menanyakan dari mana Amelia mendapatkan uang sebanyak itu.
“Huhuhu, kenapa Mas El pindah sih, Mas El gak betah ya berada di sini?” tanya Putri terisak.
“Bukan begitu, gue sangat betah di sini, kebetulan El ada kerjaan di kota jadi tidak bisa berada di sini lagi,” jawab El, saat ia berpamitan dengan para tetangga lainnya.
“Jangan lupain Putri ya Bang El,” renggek Putri manja.
“Hehehe, iya-iya.”
__ADS_1
“Hussst ... bocah satu ini malah genit, Ibu juga jadi sedih nih Mas El, kok tiba-tiba pamitan gini, kemarin Amelia yang pergi sekarang kamu, ini kontrakan jadi sepi tanpa kalian,” ucap Bu Minah.
“Iya Bu, biasanya ada yang bertengkar dan suka nyanyi-nyanyi, setelah ini kita-kita pasti kesepian deh,” sambung Putri.
“Hehehe, bukankah itu yang kalian mau? Tenang saja nanti kalau ada waktu El akan silaturahmi ke sini, pokoknye maafin El jika selama ngontrak di sini El, punya salah maupun khilaf,” ujar El.
“Benar ya Mas El nanti ke sini, iya kita minta maaf lahir batin juga, eeh berasa lebaran ye,” ucap Bu Minah.
Setelah berpamitan dengan para tetangganya, El notabenenya orang humble dan suka menolong banyak tetangga yang merasa kehilangan, apalagi Pak Haji Udin, ia sangat keberatan El pindah karena suka, El selalu tepat bayar kontrakannya.
...****************...
Tingnong!
Tingnong!
Tingnong!
Suara Bel terus berbunyi.
“Iya ... iya bentar ah, gak sabaran amat,” ucap seseorang segera membuka pintu apartemennya.
“Hai!” sapa El.
“Ngapain elu ke sini?” tanya Andreas.
El tidak menghiraukan pertanyaan Andreas dan langsung nyelonong masuk ke apartemen.
“Mulai sekarang gue akan tinggal bersama elu,” ucap El menyeret kopernya masuk.
“Astaghfirullah, gak boleh, entar gue kena omel Emak karena nampung elu.”
“Apakah begitu kelakuan elu dengan Bos?”
“Elu bukan Bos sekarang ini dan kenapa tiba-tiba datang? Tahu aja gue lagi ada di apartemen,” omel Andreas.
“Amelia sudah lunasin uang yang dulu gue pinjamin ke Ardan.”
“Oh ya? Terus kenapa gak elu gunakan tuh uang buat beli apartemen lagi?”
“Gak ah, uangnya sudah gue kasih ke Bang Abidin buat biaya nambahin modal peternakan ayam potong, terus buat apa punya sepupu yang tinggal di apartemen elit begini sendiri, kalau gak ikut ditumpangi!” oceh El tak mau kalah.
“Hadeeh Ya Allah, punya Bos kere' begini,” ledek Andreas.
“lalu dari mana Amelia punya uang sebanyak itu?” tanya Andreas penasaran.
“Nah gue juga bingung tentang itu, gue lupa nanyain.”
“Hemmz, tenang gue akan tanya ke Fia, pasti dia tahu dari mana uang yang dimiliki oleh Amelia, gue sudah punya nomor sahabatnya Amelia, pas anterin mereka kemarin pulang hihihi,” ujar Andreas cekikikan.
“Dasar Buaya!” lirih El.
“Kalau gue buaya, elu kadal gurun!”
__ADS_1
“Hahahaha.” Mereka tertawa sambil meledek satu sama lain.
Bersambung ....