
“Gimana Nak, kamu sudah menentukan mau kuliah di kampus mana?” tanya Saraswati pada anaknya, ia sangat memperhatikan Amelia.
“Sudah Bu, aku memutuskan untuk belajar di kampus Bina Nusantara saja di sana juga ada fakultas tata busana, selain itu juga dekat dengan rumah kita hanya beberapa menit saja, jika Mutiara memerlukan aku, jadi aku bisa cepat pulang,” jawab Amelia.
“Baguslah Allhamdulilah, kalau kursusnya bagaimana hari apa?”
“Kursus bisa seminggu sekali dan juga guru lesnya bisa datang ke rumah, aku bakal beli mesin jahit juga nantinya biar gak repot keluar rumah,” jelas Amelia.
“Syukurlah jika kamu bisa membagi waktumu dengan Mutiara.”
“Iya Ma, eeh maksudnya Bu,” ujar Amelia masih sungkan.
“Tidak apa-apa, panggil saja aku mama supaya lebih akrab, aku tahu kamu perlu waktu Amelia, agar bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah Ibu kandungmu, maafin aku yang dulu meninggalkanmu saat bayi, seharusnya akulah orang yang selalu mendekapmu dan disisimu saat itu,” ucap Saraswati mulai bederai airmata.
Amelia juga ikut terisak, awalnya ia masih canggung dengan Saraswati karena tidak pernah bertemu dengannya, tetapi seseorang tiba-tiba datang dan mengakui Amelia adalah anak kandungnya, bagaimana perasaanmu?
Namun keterikatan batin yang kuat diantara keduanya, Saraswati menahan rindu dengan anaknya di negeri orang terpisah dengan yang tersayang sangat menyakitkan untuknya.
“Sudahlah Ma, yang penting sekarang kita akan terus bersama-sama selamanya.” Peluk Amelia pada Saraswati.
Tidak ada kemarahan di hati Amelia, karena ditinggal pergi Ibu kandungnya selama dua puluh tahun, malah ia bersyukur masih mempunyai orang-orang yang ia sayangi dan perhatian dengannya, maka dari itu Saraswati sangat berterima kasih atas didikan Abangnya juga kakak iparnya itu karena berhasil membesarkan putrinya dengan cinta-kasih.
“Duh, ada yang pada mewek ini,” celetuk Ibu Sukma.
“Ah Ibu, di mana Mutiara?” tanya Amelia.
“Dia sudah tertidur, makin hari makin gembul aja cucuku itu bikin gemes,” ujar Sukma yang sedari tadi terus berada di sisi Mutiara.
“Maaf ya Bu, merepotkan kalau Ibu capek, Ibu istirahat saja,” ucap Amelia.
__ADS_1
“Iya kak, nanti kecapean biar aku gantian jagain dia kakak istirahat saja tidur duluan,” timpal Saraswati.
“Ah gak capek, justru Ibu sangat suka momong cucu, dari pada Ibu gak ada kegiatan di rumah ini.”
“Terima kasih Ibu dan Mama telah menjaga dan menyayangi Amelia dan Mutiara, kalau ada Bapak pasti akan tambah bahagia.”
“Do'akan saja semoga beliau berada di tempat yang terbaik di sisi-Nya, Bapak pasti akan senang melihat kita sudah berkumpul,” imbuh Ibu Sukma.
“Aamiin.” Diangguki Amelia tersenyum dan merangkul kedua orang tuanya.
...****************...
Kantor Ceo PT Eka Raksa.
“Bagaimana apakah sudah ada informasi terkait?” tanya El di telepon. Wajah yang datar tanpa expresi membuatnya semakin cool.
“Oh ya? Aneh, apakah selama ini Amelia tidak pernah mempunyai sosmed?” cecar El.
“Tidak tahu Bos, hanya ada satu kemungkinan yang terjadi,” ucap orang itu.
“Apa itu?”
“Dia pindah ke luar kota atau ke luar negeri.”
“Kalau begitu, silakan Bapak cek seluruh jadwal penerbangan, juga jalur kereta api dan sebagainya apakah ada orang melakukan perjalanan keluar daerah maupun luar negeri atas nama Amelia Putri Saraswati?” perintah El.
“Baik, segera laksanakan Bos.”
“Oke, saya tunggu informasi selanjutnya.” El menutup telepon genggamnya seraya menghembuskan nafas kasar, ia begitu kecewa pencaharian kesekian kalinya masih belum menemukan titik terang.
__ADS_1
Dari belakang muncul Andreas mengkerutkan keningnya, sambil antusias mendengar percakapan El.
“Akheeemmz ... menghubungi Pak Susanto lagi?” tebak Andreas.
“Ah elu kayak gak paham aja!”
“Gue paham Bos, tetapi kerjaan kita sudah menumpuk ini, stop dulu galaunya ayo fokus!” omel Andreas.
“Iya bawel lu ah, kayak emak-emak.”
El keluar dari ruang kantornya menuju lift khusus presdir, turun dengan lift menuju lantai lobi dan juga Andreas selalu berada disampingnya, El malah berpapasan dengan Amanda yang juga ditemani oleh sekretaris wanitanya.
“Kamu lihatlah, aku akan beruntung kali ini," bisiknya pada sekretaris.
“Hai, Mas El," sapa Amanda lebih dulu.
“Oh Hai juga, apa yang membuat Anda kemari Nona Amanda?" tanya El.
“Tidak ada, saya hanya ingin mengantarkan makan siang yang aku bikin sendiri untuk Anda," ucap Amanda, sambil menenteng rentang bekal makanan.
“Oh, apakah sekarang kamu membuka open jastip makanan Nona Amanda?" cibir El.
“Ti-tidak saya pikir Anda ...."
“Sorry, saya ada janji ketemu klain siang ini." El berlalu pergi tanpa mau mendengar lagi perkataan Amanda.
“Huh menyebalkan! Aku tidak terima penolakan darimu Mas El, awas saja!" gerutu Amanda.
Bersambung ....
__ADS_1