
Hari ini Rani tengah menikmati pemandangan yang sungguh tak biasa banginya, pasalnya ia sekarang tengah berada di tengah - tengah kerumunan orang - orang yang sedang berlalu lalang di sepanjang jalan. Tepatnya kini Rani sedang berada disebuah dipasar.
Senyum Rani tak henti - hentinya mengembang dari bibir mungilnya, Rani melihat kesekeliling pasar, Rani merasa kagum dengan semua yang ia lihat. Rani tak menyangka bahwa pasar di jaman joseon bisa tersusun rapi dan sebersih ini.
Perjuangan Rani agar bisa sampai di pasar ini, tentu saja tidak mudah. Ia harus berdebat dengan kedua dayang setianya terlebih dahulu. Hingga Dayang utama Park memberikan izin kepada Rani, dengan syarat Rani harus membawa dayang dan juga pengawal untuk menjaganya. Namun Rani protes, dengan syarat dari dayang utama Park, karena jika membawa dayang serta pengawal, pasti akan terlihat mencolok. Dan Rani juga tidak akan merasa bebas mengeksplor kerajaan joseon ini.
Dan akhirnya Rani bisa berdiri di sini, Itupun Rani harus merengek terlebih dahulu kepada dayang utama Park. Dayang utama Parkpun akhirnya mengalah dan mengizinkan Rani pergi tanpa dayang dan para pengawal. Namun, kedua dayang setianya itu, meminta Rani agar membawa mereka, untuk menjaga Rani. Dan kesepakatanpun terjadi.
Rani tampak antusias dengan kegiatannya kali ini, ia berlari - lari kesana - kemari seperti seorang bocah. Maklum, Rani tidak diperbolehkan berlarian di dalam istana bahkan sekedar mengangkat roknya saja, ketika berjalanpun tidak diperbolehkan. Karena seorang permaisuri harus menjaga tata kerama dan sopan santun di depan semua orang.
Tidak tau saja mereka, anak, cucu, perempuan keturunan mereka dimasa depan. Bukan hanya mereka mengenakan pakaian mini dan rok diatas lutut. Bahkan mereka bebas berlarian dan berjoget ria didepan umum. Rani tidak bisa membayangkan jika para sesepuh dijaman joseon ini, yang selalu menjaga etiket - etiket istana dan kaum bangsawan melihat atau menonton konser Blackpink, SNSD, Red velvet dan juga Mamamoo. Mungkin mereka akan jatuh pingsan.
Namun saat ini Rani merasa bebas, karena ia kini tengah menyamar menjadi gadis biasa. Rani sangat menikmati waktunya kini. Dan tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini. Rani tampak memborong apa saja yang ia lihat, dari aksesoris, kain sutra, sepatu, dan aneka jajanan pun ia beli.
Hingga mata Rani tertuju kearah kerumunan orang - orang yang tampak berdesak - desakan. Dan itu, membuat Rani jadi penasaran.
" Dayang Park, kau lihat orang - orang yang tengah berkerumun itu? Kira - kira kau tau tidak, apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Rani kepada dayang utama Park.
" Sepertinya sedang ada pertunjukan yang mulia." Jawab dayang utama Park sambil mengamati kearah kerumunan.
" Mari kita lihat!" Ajak Rani penuh semangat.
Go jang mi mengangguk menyetujui ajakan junjungannya, ia juga tampak bersemangat dan terlihat ingin sekali melihat pertunjukan itu. Namun intrupsi dari dayang utama Park yang melarang mereka membuat Go jang mi tertunduk lesu.
" Sebaiknya jangan yang mulia, berbahaya. Nanti jika ada yang mengenali yang mulia sebagai permaisuri kerajaan ini, kami berdua tidak bisa melindungi yang mulia."
" Mereka pasti tidak tau kalo aku seorang permaisuri. Buktinya dari tadi, tidak ada yang mengenali kita." Jawab Rani coba meyakinkan.
Go jang mi hanya diam, ia hanya akan mengikuti keputusan mereka berdua. Meskipun ia ingin sekali melihat pertunjukan, namun yang dikatakan dayang utama Park juga ada benarnya. Jika terjadi sesuatu dengan permaisuri, mereka berdua tidak akan mampu melindunginya.
" Tidak yang mulia." Tolak dayang utama Park.
" Ayolah, sebentar saja! Setelah menonton pertunjukan kita akan pulang." Rani memohon dengan tampang memelas.
Yang akhirnya didibalas anggukan dari dayang utama Park. Melihat wajah permaisuri yang tampak memelas dan mengharapkannyapun membuat hati dayang utama Park luluh.
" Tapi janji, setelah menonton pertunjukan kita langsung pulang." Ucap dayang utama Park dengan sangat terpaksa.
Rani dan juga Go jang mi pun tersenyum senang. Dan segera membaur ke tengah - tengah kerumunan. Mereka bertiga ikut berdesak - desakan agar mendapat tempat terbaik saat menonton pertunjukan. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang terus menatap kearah mereka.
Beruntung sekali Rani dan kedua dayang setianya itu sudah lolos dari kerumunan yang berdesak - desakan itu, padahal kalau mereka menganteri, mungkin meraka akan lebih cepat masuk dan mendapat tempat untuk mereka menonton pertunjukan. Dari pada saling desak seperti itu, malah membuat badan jadi sakit dan belum tentu bisa kebagian tempat untuk duduk.
Rani dan kedua dayangnyapun duduk di barisan nomer dua dari depan. Rani dan kedua dayangnya duduk hanya menggunakan tikar. Dayang utama Park dan juga Go jang mi melirik kearah permaisuri, mereka merasa khawatir dengan permaisuri, karena seumur - umur junjungannya itu, belum pernah duduk beralaskan tikar.
" Apakah permaisuri merasa tidak nyaman?" Tanya Dayang utama Park.
Rani langsung menggeleng, seakan cuek. " Tidak sama sekali."
" Kalau yang mulia merasa tidak nyaman, kita sebaiknya kembali saja!" Seru Go jang mi.
" Sudahlah, aku tidak apa - apa. Mari kita nikmati pertunjukannya." Jawab Rani dengan senyum cerahnya yang secerah cuaca hari ini.
Pertunjukanpun akan segera dimulai, terlihat seorang pria paruh baya menyapa para penonton yang sudah hadir. Ia menjelaskan tentang pertunjukan yang akan ia mainkan, yaitu pertunjukan boneka. Mungkin kalo di indonesia wayang golek.
Pria itu menjelaskan tentang cerita yang akan ia bawakan, adalah tentang isu - isu yang sedang populer di istana saat ini. Yaitu mengenai permaisuri yang terabaikan. Sorak soray penontonpun riuh, mereka sangat bersemangat ingin mengetahui tentang kisah permaisuri terabaikan.
__ADS_1
Namun sebelum pertunjukan dimulai, pria paruh baya itu, meminta agar para penonton membayar terlebih dulu. Terlihat seorang pria paruh baya yang umurnya mungkin sama dengan pria tadi, yang menerangkan alur cerita yang akan di jadikan pertunjukan kali ini. Pria itu berkeliling ke para penonton sambil membawa wadah, agar para penonton membayar terlebih dahulu.
Akhirnya pertunjukan di mulai, di awali dengan menampilkan sebuah boneka dengan memakai baju kerajaan memberi hormat kepada para penonton. Kemudian pria paruh baya itu mulai bercerita tentang Permaisuri yang terabaikan.
Dikisahkan bahwa raja di negeri ini ingin menjodohkan putra mahkota dengan seorang gadis pilihannya, namun putra mahkota menolaknya karena sudah memiliki kekasih. Namun raja tetap memaksa putra mahkota. Hingga akhirnya putra mahkotapun menyetujuinya, kemudian putra mahkota menjadikan kekasihnya seoarang selir. Kasih sayang raja tentu mengalir kepada selirnya yang notabennya adalah kekasih raja. Sedangkan permaisuri menjadi terabaikan.
Suatu hari permaisuri jatuh ke dalam danau dan tidak sadarkan diri beberapa hari, hingga tabibpun menyerah tidak tau kapan permaisuri akan sadar. Beruntung seperti sebuah keajaiban, tiba - tiba permaisuri tersadar dan memancarkan aura yang berbeda dari biasanya.
Hingga rajapun bingung dengan perubahan permaisuri yang tampak semakin cantik bagai bidadari, permaisuri yang sekarang bukan hanya cantik juga pintar, dan berhati lembut kepada semua orang. Permaisuri tidak membeda - bedakan seseorang dari kastanya, ia berbuat baik kepada semua orang termasuk para dayang - dayangnya.
Dan itu membuat raja tertarik dengan permaisuri. Hingga akhirnya raja menyadari bahwa selirnya tidak sebaik yang ia kira, dan memilih untuk meminta maaf terhadap permaisuri. Akhirnya raja dan permaisuri bersatu selesai.
Suara tepuk tangan para penonton bergema tatkala cerita yang dimainkan selesai. Mereka tampak puas dengan pertunjukan yang mereka tonton. Hingga terdengar suara dari arah penonton yang memberikan pertanyaan kepada pria paruh baya yang baru saja selesai bercerita. Sebut saja dalang, biar gampang.
Seorang pria dari bangku penonton memberikan pertanyaan kepada dalang, dan membuat para penonton yang lainnya juga penasaran dengan jawaban dari dalang.
" Benarkah itu kisah yang sedang beredar diistana?" Tanya pria dari bangku penonton.
" Tentu saja benar, berita itu sudah tersebar, namun tentunya tidak semua cerita yang tadi diceritakan benar semua. Tentu saja sudah dibumbui agar lebih menarik." Jawab si dalang.
" Kalo begitu, berita apa yang kini tengah beredar diistana?" Tanya pria lainnya dari bangku penonton.
" Yang aku dengar sih, semenjak permaisuri jatuh kedalam danau, kini penampilan permaisuri berubah menjadi jauh lebih cantik. Permaisuri juga memperlakukan para dayangnya dengan sangat baik, beredar berita bahwa permaisuri membantu para dayang melakukan pekerjaan mereka dan juga permaisuri bahkan memasak makanan dan bembaginya dengan para dayang di istana." Jelas si dalang.
" Itu sih tidak mungkin, masa seorang permaisuri melakukan pekerjaan para dayang dan memasak." Bantah seorang penonton lainnya, dan di benarkan oleh para penonton yang masih berada di sana.
" Iya itu mustahil, dan tidak masuk akal."
" Kenapa tidak masuk akal?" Teriak Go jang mi yang merasa kesal dengan perkataan para penonton yang tidak mempercayai permaisuri melakukan semua itu.
" Iya benar, pasti berita itu dilebih - lebihkan. Cuma pencitraan untuk rakyat." Ucap seorang penonton lagi.
Dayang utama Park dan Go jang mi sudah memerah mukanya menahan amarah. Mungkin jika disamakan dengan gunung berapi yang sedang aktif, kini mereka harus bersiap, karena level siaga satu. Jika bisa dilihat, kepulan asap wedus gembel mungkin sudah keluar dari kepala kedua dayang itu, dan siap untuk meletus memuncratkan lava. Mereka berdua sudah berkacak pinggang. Bersiap memberikan umpatan ke penonton yang berbicara buruk mengenai junjungan mereka.
" Atas dasar apa kalian mengatakan itu, kalian bahkan tidak pernah bertemu dengan permaisuri." Bentak dayang utama Park.
" Benar, kalian tidak pernah bertemu dengan permaisuri. Kalian tidak berhak bicara seperti itu." Tambah Go jang mi.
" Memang kenyataannya seperti itu, kebanyakan nona bangsawan hanya bisa mengandalkan para pelayan mereka."
" Itukan kebanyakan nona bangsawan yang lain, permaisuri jelas berbeda. Ia adalah malaikat yang selalu memperlakukan para dayangnya dengan baik. Bukan hanya suka membantu tugas para dayang, permaisuri juga tak canggung untuk makan bersama, dan bermain dengan para dayang. Bahkan permaisuri mau memeluk memberi perhatian kepada para dayangnya." Celoteh Go jang mi yang naik pitam.
" Asal kalian tahu ya, masakan permaisuri itu rasanya tidak ada duanya di joseon ini. Bahkan raja dari kerajaan timur saja memberikan hadiah istimewa kepada permaisuri, karena beliau sangat menyukai hidangan yang dimasak oleh permaisuri." Sungut Dayang utama Park yang sudah tak bisa menahan emosi.
" Memang kalian siapa? kenapa kalian begitu sok tau tentang permaisuri?" Tanya salah satu penonton yang merasa heran dengan kedua wanita yang seakan mati - matian membela permaisuri.
" Benar, kalian ini siapa?" Tanya beberapa penonton.
Seketika dayang utama Park dan juga Go jang mi kicep, mereka diam seribu bahasa. Bingung harus menjawab apa, kemudian mereka berdua melirik ke arah junjungan mereka, berharap mendapat pertolongan. Sementara yang dilirik malah membuang muka.
" Kami kenal dengan para dayang yang melayani permaisuri." Jawab dayang utama Park dengan terbata - bata.
" Alaah, kalian hanya mendengar cerita dari orang lain saja, begitu mati - matian membela permaisuri. Kami hampir berfikir kalau kalian adalah dayang yang selama ini melayani permaisuri."
" Kalian berdua jangan mau di bodohi, para bangsawan itu licik. Mereka suka menebar rumor dan menggiring asumsi rakyat agar mendukung mereka. Bisa sajakan untuk menarik simpati rakyat, mereka menyebar rumor tentang permaisuri."
__ADS_1
Mendengar hal itu, emosi dayang utama Park dan Go jang mi, sudah tidak tertahan lagi. Mereka sudah menggulung kedua lengan baju mereka, seakan bersiap untuk berperang. Melihat gelagat aneh dayang utama Park, dan juga Go jang mi, Rani langsung menarik kedua dayangnya itu kearahnya.
" Sudahlah tidak perlu diperdulikan, ayo kita pergi saja." Rani mengintrupsi kedua dayangnya.
Namun intrupsi dari Rani tidak mampu memadamkan api yang tengah berkobar di hati kedua dayang setianya itu.
" Maaf yang mulia, hamba tidak bisa tinggal diam." Ucap dayang utama Park.
" Benar yang mulia, harga diri yang mulia tengah dilecehkan. Kami sungguh tidak terima." Sela Go jang mi.
Kedua dayang itu membalikan badan kearah para penonton yang dari tadi mengumpati permaisuri, Rani yang merasa panik terus mencoba untuk menarik kedua dayangnya itu. Namun nihil, karena tenaga Rani tidak cukup kuat untuk menyeret dua orang yang tengah dirasuki oleh hawa membunuh.
" Asal kalian tau ya, jelas kami lebih tau bagaimana perilaku permasuri, dari pada kalian yang asal jeplak menilai permaisuri. Karena kami dayang istana yang melayani permaisuri." Teriak dayang utama Park.
Namun ucapan dayang utama Park malah membuat para penonton itu tertawa terbahak - bahak.
" Apanya yang lucu?" Teriak Go jang mi.
" Jelas kalian berdua lucu, tadi kalian mengaku mengenal dayang permaisuri, sekarang kalian mengaku sebagai dayang permaisuri." Ucap salah satu penonton, lalu kembali tertawa.
" Berani sekali kalian, mengolok dan mengejek permaisuri. Dan tidak mempercayai kami. Asal kalian tau wanita cantik yang sedang berdiri di sana adalah permaisuri kerajaan ini." Ucap dayang utama Park yang penuh amarah sambil menunjuk ke arah Rani.
Semua orang yang berada di sana di buat penasaran dengan ucapan yang baru saja mereka dengar. Dan beralih memandang kearah yang ditunjuk oleh dayang utama Park. Karena rasa penasaran mereka yang menggebu - gebu, hingga akhirnya aksi dorong mendorongpun tidak terelakan lagi.
Hingga akhirnya keadaan tidak kondusif lagi. Bahan dayang utama Park dan Go jang mi sudah terpisah dengan junjungan mereka.
Rani jelas merasa takut, dengan keributan ini. Ia hanya bisa berjongkok sambil menutupi kepalanya menggunakan jubah yang ia bawa. Agar orang - orang tidak melihat wajahnya. Bisa berabeh pikirnya. Hingga akhirnya seseorang datang menyelamatkannya dan membawanya pergi menjauh dari kerumunan yang mulai menggila itu.
Rani terus berjalan mengikuti langkah seseorang yang telah menyelamatkan dirinya, Rani masih menutupi kepalanya dengan jubah. Terdengar dari telinga Rani, bahwa masih ada beberapa orang yang mengejar mereka.
Merekapun mempercepat langkah kaki mereka, orang itu melingkarkan tangannya kepundak Rani mencoba melangkul dan memapahnya menuntun ke tempat yang dirasa aman. Akhirnya orang itu, memutuskan bersembunyi di sebuah toko buku yang lumayan sepi. Mereka berhenti di sebuah rak buku paling pojok di ruangan itu. Rani menelisik kearah kaki seseoarang yang telah menyelamatkannya yang kini tengah berdiri di depannya.
" Sepatu laki - laki." Batin Rani
Rani yang merasa penasaran dengan seseorang yang telah menolongnya, dan berniat mengucapkan terimakasih. kemudian mencoba menurunkan jubah dari kepalanya.
Betapa terkejutnya Rani saat melihat seorang pria yang kini tengah berdiri didepannya, yang menatap Rani dengan tajam. Pria itu berjalan mendekat kearah Rani. Kemudian Rani yang kagetpun reflek memundurkan langkahnya. Pria itu terus memajukan langkahnya begitupun Rani yang terus memundurkan kakinya, hingga akhirnya Rani berhenti karena badannya sudah menyentuh rak buku.
Lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Rani yang menyisakan beberapa centi saja. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.
Dag - dig - dug, debaran jantung Rani memompa sangat cepat. Raut wajah Rani seakan mengeras alias kaku. Namun tulang - tulang Rani malah meleleh, seakan tak mampu menopang berat badannya lagi.
Rani hanya menundukan wajahnya tak berani menatap ke arah seseorang yang telah menyelamatkannya, dan mengatupkan bibirnya rapat - rapat tak berani bersuara. Hingga suara pria tersebut menggema di telinganya, membisikan kata yang membuat Rani diam mematung.
" Apa kau baik - baik saja permaisuriku."
Walau lagi nyamar permaisuri tetap kece badai ya kan??😍😘
Ini dayang utama Park dan Go jang mi yang kaget karena permaisuri meminta jalan - jalan keluar istana.🤣😊
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN TERIMA KASIH🙏👍🏼
__ADS_1