
Ini adalah kisah sebelum permaisuri menikah dengan raja.
Waktu itu, raja masih menjadi seorang putra mahkota. karena usia putra mahkota yang sudah cukup untuk menikah, ibu suri bersama dengan paduka raja berencana untuk memilihkan calon istri untuk putra mahkota.
Karena ibu suri dari fraksi marga kim maka ibu suri mengajukan anak dari kerabatnya yang masih satu fraksi dengannya, semua itu bertujuan agar tetap terjaganya kesetabilan politik yang selama ini kokoh. Apalagi ayah dari gadis yang akan dijodohkan dengan putra mahkota itu, merupakan salah satu mentri yang memiliki pengaruh cukup besar di kerajaan ini.
Namun, putra mahkota menolak untuk di jodohkan karena beliau sudah memiliki tambatan hati. yaitu, anak dari salah satu mentri istana juga, tapi dari marga Han.
Namun ibu suri dan raja tetap memaksa putra mahkota untuk menyetujui perjodohan tersebut.
Awalnya ibu suri dan paduka raja tidak menyetujui hubungan putra mahkota dengan tambatan hatinya itu, bukan tanpa alasan mereka menolak dan tidak setuju dengan pilihan putra mahkota, melainkan ibu suri dan raja sudah mengetahui tabiat dari keluarga gadis itu yang akan menggunakan putra mahkota untuk memperkuat kedudukan keluarganya di istana.
Apalagi ayah dari gadis itu, yaitu perdana mentri Han tae kyung suka mengunjungi rumah bordir, suka menghamburkan uang untuk berfoya - foya dan selalu merendahkan orang. Dan itu membuat ibu suri dan Raja semakin tidak menyetujui dengan pilihan putra mahkota.
Namun karena aksi berontak putra mahkota akhirnya ibu suri dan raja menyetujui putra mahkota untuk menikah dengan gadis pilihannya, tapi dengan satu syarat putra mahkota hanya menjadikan gadis tersebut sebagai selir dan gelar putri mahkota akan tetap jatuh kepada calon yang sudah ibu suri dan raja pilihkan.
Dengan terpaksa putra mahkota menyetujui perjanjian itu, agar bisa menikahi pujaan hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah kali pertama putra mahkota akan bertemu dengan calon yang akan dijodohkan dengannya. Disana ia tengah duduk santai sambil menunggu rombongan dari keluarga calon yang akan dijodohkan dengannya itu datang. Ibu suri dan raja juga berada disitu, di sebuah tempat seperti gasebo ditengah taman yang indah dan terdapat danau yang di penuhi bunga teratai yang bermekaran menambah kesan sejuk di sebelah bangunan tersebut.
Aneka hidangan lezat sudah tertata apik di meja - meja kecil yang berjejeran disitu.
Akhirnya rombongan yang ditunggu itupun datang, terlihat seorang pria dan wanita paruh baya yang berjalan menuju tempat pertemuan, disusul dangan gadis cantik nan anggun dengan menggunakan hanbook berwarna baby pink yang di padukan dengan warna putih dan terdapat sulaman bunga mawar yang indah melekat di tubuh sang gadis.
Mereka bertigapun membiri salam kepada raja, ibu suri dan juga putra mahkota. Namun hanya si gadis itu yang memberi salam berbeda dengan kedua orang tuanya yaitu dengan menaruh kedua tangan di dahi kemudian memberi sujud seperti yang ada di drama - drama korea. Kalian bisa bayangin aja sendiri gimana kalo putri - putri bangsawan memberi hormat.
Selesai gadis itu memberi hormat, Rajapun memberi perintah dengan menggerakan tangannya sebagai isyarat menyuruh mereka untuk duduk.
Lalu mereka pun duduk berhadapan dengan raja, ibu suri serta putra mahkota. Kemudian raja mulai menuangkan minuman ke dalam gelas berukuran kecil lalu menyuruh lelaki paruh baya yang akan jadi besannya itu untuk meminumnya.
" Terimakasih baginda, suatu kehormatan buat hamba bisa menerima minuman yang dituangkan langsung oleh baginda." Kemudian lelaki itu langsung mengambil gelas itu dan meminumnya.
" Siapa namamu gadis manis?" Tanya raja pada gadis yang sedang duduk di disebelah lelaki paruh baya yang menerima minuman darinya tadi.
" Nama hamba Kim so hee yang mulia, putri satu - satunya dari perdana mentri Kim tae hoon." Jawab gadis itu penuh lemah lembut dan anggun.
Kemudian raja pun tertawa mendengar jawaban dari gadis itu, dan menoleh ke arah ibu suri dan putra mahkota.
" Namamu indah sekali, kau juga cantik dan mempunyai tata krama yang baik. Betapa beruntungnya engkau tuan Kim memiliki putri sepertinya." Puji raja terhadap calon besannya itu.
" Terimakasih atas pujiannya baginda. Tapi putri hamba masih banyak kekurangan baginda, mohon baginda berbelas kasih untuk mendidik dan menjaga anak hamba kelak."
" Kau selalu rendah hati perdana mentri Kim." Saut ibu suri.
" Akan aku pastikan putrimu selalu merasa bahagia dan nyaman di istana ini, perdana mentri. Aku akan menganggapnya seperti cucuku sendiri."
" Ibu suri benar, aku juga akan menganggap So hee seperti putriku sendiri." Timpal raja sambil tersenyum bahagia.
" Putra mahkota kenapa kau diam saja? Ayo sapa calon mertua serta istrimu!." Ucap raja sambil menepuk pundak anaknya.
" Perkenalkan saya putra mahkota Lee kang joon." Ucap putra mahkota sambil tersenyum yang di paksakan.
Mendengar ucapan anaknya itu, raja tertawa dan menepuk - nepuk pundak anaknya itu. Bagaimana mungkin anaknya malah melontarkan kata - kata koyol macam itu, karena di kerajaan ini tidak mungkin tidak ada yang mengenal siapa itu putra mahkota? Dan ia malah memperkenalkan dirinya sendiri seperti itu, seperti orang bodoh saja.
" Oh iya paduka maaf atas kelalaian hamba, perkenalkan ini istri hamba Kim mi so." Sela perdana mentri kim.
" Apa kabar nyonya Kim? Ternyata anda sangat cantik, pantas saja putrimu begitu luar biasa." Puji ibu suri.
" Hamba baik - baik saja yang mulia, anda terlalu memuji."
__ADS_1
" Kalo begitu, mari kita bicarakan tentang pernikahan putra mahkota dan putrimu." Ujar ibu suri yang akan memulai ke inti pertemuan itu diadakan.
Putra mahkota hanya diam saja sepanjang acara perjamuan, matanya yang tajam selalu menatap kearah danau yang di penuhi bunga teratai dan sesekali menatap So hee dengan dingin.
Kim so hee yang di tatap seperti itupun hanya menundukan kepalanya. Tidak berani menatap atau memandang langsung putra mahkota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari yang dinanti - nanti oleh seluruh masyarakat kerajaan joseon pun telah tiba, yaitu hari pernikahan putra mahkota dan putri perdana mentri Kim so hee.
Pesta pernikahan di gelar sangat meriah, didalam istana sangat ramai. Banyak tamu yang datang dari pejabat penting hingga raja - raja beserta keluarganya dari kerajaan lain yang memiliki hubungan diplomat yang baik dengan kerajaan joseon ini.
Diluar istana juga tak kalah ramainya, karena banyak sekali barang - barang berkualitas bagus dan makanan serta minuman yang raja berikan secara gratis untuk para rakyat.
Mengetahui hal itu tentu saja di sambut penuh suka cita oleh rakyat. Banyak orang yang berkumpul untuk sekedar makan dan minum secara gratis atau jika beruntung bisa membawa pulang barang yang berharga. Ditambah raja menyediakan hiburan untuk para rakyatnya juga.
Benar - benar hari yang membuat orang bahagia. Namun, tidak semua orang bahagia di hari itu, karena sepanjang acara putra mahkota tampak murung dan hanya memasang wajah datar dan tatapan sedingin es.
Malam pertama bagi pengantin baru pada umumnya adalah malam yang paling membahagiakan untuk mereka berdua, namun tidak dengan Kim so hee yang kini sudah mendapat gelar sebagai putri mahkota. Malam pertama ia harus merasakan sakit hati yang mendalam, hingga membuatnya menangis semalaman.
Bagaimana tidak, di malam pertama yang seharusnya ia gunakan untuk bisa menghabiskan malam berdua dengan suaminya dan mendekatkan diri agar bisa lebih mengenal dan akrab malah berahir dengan Kim so hee yang di tinggal sendiri oleh putra mahkota di kamar pengantin mereka.
Putra mahkota lebih memilih menghabiskan malam bersama selir kesayangannya. Dan yang membuat So hee sakit hati dan merasa jatuh ke jurang yang dalam adalah perkataan putra mahkota yang sangat dingin dan tidak berperasaan.
" Lebih baik kau buang jauh - jauh pikiran bahwa aku akan menjadi suami yang baik untukmu, karena aku sudah memiliki wanita lain di hatiku."
" Jangan pernah mengharap aku akan mencintaimu, hiduplah dengan tenang di sini sebagai putri mahkota. Jangan pernah mengganggu kehidupanku dan juga selirku!"
Setelah mengatakan itu semua, putra mahkota meninggalkan Kim so hee sendirian di kamar pengantin mereka.
Setelah hari itu, putri mahkota selalu mengurung diri di kediamannya, putri mahkota akan keluar jika ada acara yang mengharuskannya ikut hadir.
Hingga ia menjadi putri mahkota yang terabaikan, tak jarang selir raja beserta dayangnya akan mengganggu permaisuri dikala ada kesempatan dan jika bertemu dengan permaisuri secara tak sengaja.
Hal itu terus berlangsung hingga putra mahkota naik tahta menjadi raja. Putra mahkota naik tahta terbilang di umur yang masih muda di karenakan raja sebelumnya meninggal karena serangan jantung.
Mengingat kepribadian Kim so hee yang pendiam dan lebih suka menyendiri itu membuat selir kesayangan raja itu bebas berkuasa dan menindasnya.
Wanita itu sungguh cerdas dan licik dalam menyusun siasat, hingga So hee selalu di buat salah dimata raja. Ia akan memanfaatkan kasih sayang raja untuk membuat So hee sengsara dan sakit hati. Hingga kejadian yang membuat So hee kehilangan nyawanya itu pun terjadi.
Dalam ingatan So hee, ia sedang berada di taman kerajaan di temani para dayang yang mengekor di belakangnya begitu pula dengan Go jang mi yang selalu setia dengan permaisuri.
Hari itu hari sangat cerah, permaisuri menghentikan langkahnya di bawah pohon yang rindang di dekat danau. Kemudian permaisuri meminta Go jang mi untuk memberikan saputangan yang belum selesai ia sulam karena permaisuri ingin menyelesaikan sulamanya disini.
Jang mi pun memberikan saputangan itu ke permaisuri, setelah menerima saputangan tersebut permaisuripun mendudukan tubuhnya di bawah pohon, dan mulai menyulam. Bunga teratei yang cantik dan kupu - kupu di atasnya ialah sulaman yang sedang di buat oleh permaisuri. Nampak cantik dan membuat saputangan dari kain sutra itu benar - benar indah.
Hingga datanglah selir raja yang kini mendapat gelar selir agungpun datang bersama para dayang - dayangnya. Selir itu menghampiri permaisuri dan tersenyum sinis.
" Kasihan sekali permaisuriku ini hari - harinya sangat membosankan."
Permaisuri yang tadinya fokus dengan sulamannyapun kemudian mengalihkan pandangannya kearah selir agung.
" Ada apa selir agung?"
" Tidak ada apa - apa aku hanya merasa kasihan dengan permaisuri yang hidupnya membosankan." Ucap selir agung yang sedikit mengejek.
" Jaga bicara anda yang mulia selir agung!" Sela Go jang mi yang merasa kesal dengan ucapan selir agung.
" Berani sekali pelayan rendahan sepertimu membentakku. Ji woon berikan pelajaran untuk dayang rendahan itu agar mulutnya tidak berani lagi bicara kepadaku!" Selir agung memberi perintah kepada dayang setianya.
Kemudian Choi ji woon dayang kepercayaan selir agung pun memberi perintah kepada beberapa dayang lainnya untuk memegang kedua tangan Go jang mi dan membawanya untuk di beri hukuman.
__ADS_1
Go jang mi terus meronta - ronta berusaha melawan agar bisa lepas dari cengkaman para dayang yang memegangi tangannya.
" Lepaskan Go jang mi, apa yang akan kau lakukan dengannya?" Tanya permaisuri kepada selir agung.
" Tenang saja permaisuri, Hamba tidak akan melakukan apa - apa terhadap dayangmu itu, hamba tidak perlu mengotori tangan hamba untuk seorang dayang rendahan. Cukup dayang hamba saja yang akan memberikan pelajaran kepada dayang rendahan itu, supaya mulutnya tidak berani kurang ajar lagi kepada hamba. Bagaimanapun hamba adalah wanita kesayangan raja, raja tidak akan tinggal diam kepada siapa saja yang berani bertindak kurang ajar terhadap hamba."
" Hamba hanya membantu yang mulia raja mengurus hal - hal yang akan merepotkannya, lebih baik dayang hamba yang memberikan pelajaran kepada pelayan rendahan itu dari pada yang mulia raja langsung yang akan turun tangan, memberikannya pelajaran." Setelah mengatakan itu selir agung tersenyum puas memberi seringaian licik di bibirnya.
Mendengar hal itu hati permaisuri bagai diiris, sakit tapi tak berdarah permaisuri hanya mematung khawatir, apa yang akan terjadi dengan nasib dayang sekaligus teman masa kecilnya itu.
Selir agung melirik ke tangan permaisuri yang memengang saputangan yang belum selesai disulam, kemudian merebutnya dan melemparkan saputangan itu ke danau.
" Maafkan hamba permaisuri, hamba tidak sengaja. Sepertinya saputangan anda jadi basah."
" Kenapa kau selalu saja mengangguku dan juga dayang - dayangku?" Tanya permaisuri sambil menahan bulir air mata yang hendak menetes ke pipinya.
Mendengarkan pertanyaan dari permaisuri, kemudian selir agung mendekatkan wajahnya ke wajah permaisuri dan membisikan kata di telinga permaisuri.
"Karena kau telah mengambil tempatku, seharusnya aku yang menjadi permaisuri bukannya kau. Kalau saja ibu suri dan raja terdahulu mau menerimaku dan tidak menjodohkan raja denganmu pasti aku yang akan menempati posisi itu dan aku tidak akan berhenti sampai posisi itu kembali kepadaku."
Mendengar jawaban dari selir agung, dunia seakan runtuh hancur remuk sudah hati permaisuri sampai tak nampak ada lagi serpihan - serpihan yang utuh, jika itu kaca mungkin sudah tidak dapat di rekatkan lagi.
Melihat permaisuri yang diam mematung, membuat selir agung menggunakan kesempatan itu, untuk mendorong permaisuri ke danau.
Semua dayang yang melihat kejadian itu merasa kaget dengan keberanian selir agung yang mendorong permaisuri ke danau. Termasuk Go jang mi yang langsung menangis meraung - raung memanggil junjungannya itu, dan melepaskan diri dari dayang yang memegangi kedua tangannya. Go jang mi langsung berlari kearah danau.
" Yang mulia...yang mulia." Tangis Go jang mi terus membanjiri pipinya.
Karena kedalaman danau yang cukup dalam, membuat permaisuri gelagapan lalu tenggelam, apalagi permaisuri tidak bisa berenang.
Kebetulan Raja bersama kasim Jang dan pengawal pribadinya yaitu So joon, berserta iring - iringannya tengah melewati taman, dan mendengar suara gaduh dari arah danau. Kemudian raja memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
" Ada apa ini?" Tanya Raja kepada semua dayang yang ada di tempat kejadian.
Seketika selir agung di buat kaget dengan suara banginda raja yang tiba - tiba datang. Namun, bukan selir agung namanya kalo tidak bisa memutar balikan fakta. Seketika, wajah selir agung di buat sesedih mungkin dan mendekat ke arah baginda raja.
" Yang mulia permaisuri, jatuh ke danau." Ujar selir agung sambil menangis.
" Bagaimana bisa permaisuri jatuh ke danau, padahal banyak dayang disini? Apa saja yang kalian lakukan hah?" Teriak raja.
" So joon cepat angkat permaisuri." Perintah raja ke pengawalnya.
So joon pun segera menceburkan diri ke danau dan menyelamatkan permaisuri. Setelah berhasil mengangkat tubuh permaisuri ke darat, So joon langsung membawa tubuh permaisuri untuk di bawa ke kediamannya dan langsung di ikuti oleh Go jang mi.
Kini baginda raja, Selir agung , So joon , Go jang mi dan kasim Jang sedang berada di kediaman permaisuri. Mereka sedang menunggu tabib yang sedang memeriksa keadaan permaisuri.
" Sebenarnya apa yang terjadi selir agung? Bagaimana bisa permaisuri bisa jatuh ke danau?" Tanya raja.
" Hamba mohon maaf yang mulia, hamba akan menceritakan yang sebenarnya kepada yang mulia, tapi yang mulia harus berjanji jika mendengar ini yang mulia tidak marah terhadap hamba." Ucap selir agung masih dengan mode sedihnya.
" Tentu saja selirku."
" Tadi sewaktu hamba sedang menyulam sapu tangan untuk yang mulia, permaisuri datang dengan para dayangnya lalu merebut saputangan itu dan membuangnya ke danau. Jelas hamba marah tapi permaisuri tidak terima dan akan mendorong hamba ke danau, namun hamba bisa menghindar dan malah jadi permaisuri yang jatuh."
" Seharusnya hamba saja yang jatuh ke danau, maafkan hamba yang mulia." Jelas selir agung sambil sesegukan.
Mendengar penjelasan selir agung, jelas langsung membuat raja marah dan makin membenci permaisuri.
Melihat selir agung yang terus menangis, raja langsung meraih tubuh selir agung dan membawa ke pelukannya mencoba untuk menenangkannya.
" Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyalahkanmu. Itu semua akibat perbuatannya sendiri."
__ADS_1
" Tapi yang mu - li - a." Ucap Jang mi yang mencoba ingin menjelaskan seketika terpotong oleh Tabib istana yang baru selesai memeriksa permaisuri.
" Maafkan hamba yang mulia, keadaan permaisuri keritis hamba tidak tau kapan petmaisuri akan sadar."