
Setelah mereka keluar dari kediaman perdana menteri Kim, tak sengaja permaisuri menabrak seseorang saat berjalan.
Permaisuri yang jatuh terduduk pun merintih kesakitan, lalu menatap keseseorang yang telah menabrak dirinya. Seorang bertubuh besar, tinggi, berpakaian serba hitam dan memakai penutup wajah. Orang itu menunduk meminta maaf, lalu pergi dan berjalan dengan tergesa - gesa.
Raja dan So joon membantu permaisuri untuk berdiri, namun anehnya permaisuri malah diam mematung seperti orang linglung, permaisuri seakan sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuat raja dan So joon tampak bingung.
" Kau tidak apa - apa permaisuri?" Tanya raja sambil menepuk pundak permaisuri.
" Itu yang mulia, orang itu." Ucap permaisuri terbata, dengan tangan yang gemetar, permaisuri menunjuk kearah orang yang barusan menabrak dirinya.
Raja menaikan satu alisnya, tak mengerti dengan maksud dari kata - kata permaisuri. " Orang itu yang barusan menabrak hamba, dia memiliki luka dipelipisnya." Lanjut kata permaisuri.
Lalu raja dan So joon kompak melihat kearah yang permaisuri tunjuk, namun sayangnya banyak orang yang sedang berlalu lalang. Dan itu membuat raja dan So joon tidak tau orang yang mana, yang dimaksud permaisuri.
" Yang mana permaisuri?" Tanya raja memastikan.
" Itu yang memakai baju serba hitam." Jawab permaisuri yang sudah mulai tersadar.
Raja dan So joon langsung melihat kearah orang yang disebutkan oleh permaisuri, So joon langsung bergegas mengikuti orang itu, agar tidak ketinggalan jejaknya.
Begitu pula dengan raja, ia langsung memegang pergelangan tangan permaisuri, dan menariknya untuk mengikuti orang itu.
Orang itu berjalan dengan sangat cepat, So joon dan raja juga tak kalah cepatnya, agar tidak kehilalangan jejak dari orang itu, sementara permaisuri tampak ngos - ngosan mengikuti langkah mereka. Walaupun tangannya masih digandeng oleh raja.
Mereka bertiga terus mengikuti pria berpakaian hitam itu, hingga tak terasa ternyata mereka sudah berada didalam hutan. Raja dan So joon mengenali dimana mereka berada saat ini, yaitu hutan yang kemarin mereka datangi hingga membuat raja mendapatkan luka panah di lengannya.
Raja mengusap wajahnya frustasi, karena mereka kehilangan jejak si pria berbaju hitam. Namun raja sadar, bahwa lokasi mereka saat ini tidak jauh dari gubuk yang mereka datangi kemarin. Raja melepaskan pegangan tangannya dari permaisuri, lalu meminta permaisuri untuk duduk dibawah pohon untuk beristirahat sejenak.
" So joon, sepertinya kita berada tidak jauh dari lokasi gubuk yang kemarin kita datangi?" Kata raja penuh keyakinan.
" Benar yang mulia, sepertinya ada di sekitar sini." Jawab So joon sambil memperhatikan kesekeliling hutan.
" Hamba yakin pasti ada sesuatu digubuk itu, dan pria itu adalah salah satu komplotan dari penimbun beras." Kata So joon sambil mengemukakan kecurigaannya.
" Kalo begitu, kita coba kesana saja! Kelokasi gubuk itu, siapa tau kita akan menemukan petunjuk disana." Usul raja.
" Baik yang mulia, mari kita kesana."
Raja kembali menggenggam tangan permaisuri, lalu menuntunnya agar kembali mengikuti kemana raja dan So joon pergi.
Kini mereka sudah sampai di depan gubuk yang mereka tuju. Raja mengintrupsi So joon untuk segera masuk kedalam gudang, untuk mengecek isi dalam gudang. So joon pun mengangguk patuh, dan langsung memegang gagang pintu, namun saat So joon akan membuka pintu gubuk, tiba - tiba ada anak panah yang melayang dan mendarat menancap tepat di samping gagang pintu.
So joon, raja serta permaisuripun sontak kaget dengan munculnya anak panah yang tiba - tiba. Mereka langsung membalikan badan mereka, betapa terkejutnya mereka saat melihat beberapa orang berpakaian serba hitam, dengan wajah yang ditutupi oleh kain sudah mengepung mereka dan siap untuk menyerang menggunakan pedang.
Permaisuri jelas langsung ketakutan, wajahnya langsung pucat dan tubuhnya juga gemetar. Karena ini pertama kalinya Rani melihat dan mengalami hal seperti ini secara langsung.
Raja meminta permaisuri untuk berlindung di belakangnya, tak mau ambil resiko Ranipun langsung menurut. Jika ini adalah drakor, mungkin Rani akan duduk anteng dan menikmati setiap adegan action yang tersaji dihadapannya, sambil memakan cemilan kesukaannya. Namun kini yang terjadi di hadapannya adalah nyata, salah sedikit saja nyawa taruhannya.
Raja dan So joon sudah mengambil kuda - kuda siap untuk bertarung. Sementara permaisuri bersembunyi di balik punggung raja sambil menggigiti kukunya untuk menghilangkan rasa takut pada dirinya.
Raja yang menyadari bahwa tubuh permaisuri gemetar karena ketakutanpun mencoba menenangkanya. " Kau tenang saja permaisuri, percayakan semua kepadaku dan So joon. Aku berjanji kita akan baik - baik saja dan kembali keistana dengan selamat."
" Baiklah, aku percayakan semuanya kepada yang mulia." Jawab Rani terbata
Sebenarnya Rani sedikit ragu, karena jelas mereka kalah jumlah dengan para pria berbaju hitam yang tengah mengepung mereka. Namun rasa ragu itu buru - buru ditepis oleh Rani, Rani mencoba percaya dengan kemampuan berpedang raja dan juga pengawal setianya yaitu So joon.
Karena biasanya kalo di dalam drama pasti kemampuan berpedang seorang raja pasti sangat bagus dan tak terkalahkan, apalagi pengawal pribadinya, pasti kemampuannya bukan kaleng - kaleng. Ya kali pengawal raja memiliki kemampuan yang biasa saja.
Setidaknya Rani terus mensugesti pikirannya dengan pikiran yang positif, kan nggak lucu masa pemeran utama wanita, dan pemeran utama prianya mati karena dikepung antek - antek pemeran antagonis.
Kini para pria berpakaian serba hitam itu sudah mulai menyerang, So joon juga sudah mengeluarkan pedang yang ada di samping bajunya, pedang pusaka pedang yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Dan mulai bertarung, melawan beberapa orang yang langsung menyerangnya secara bersamaan.
__ADS_1
Sementara raja dengan tangan kosongnya, langsung memukul pergelangan tangan salah satu pria berbaju hitam yang datang menyerangnya. Kemudian mengambil alih pedang si pria, lalu menendang perutnya sampai jatuh tersungkur.
Rani hanya menatapnya ngeri, dan selalu waspada kalo - kalo ada yang mendekat padanya. Raja terus bertarung membantu So joon mengalahkan orang - orang berpakaian serba hitam itu, hingga ia lupa bahwa lengannya masih terluka dan belum sepenuhnya sembuh.
Dengan cekatan raja mengayunkan pedangnya menyerang setiap lawannya, namun naas luka yang tadinya mulai mengering kini malah terbuka kembali.
Raja mulai merasakan perih di lengannya, dan membuat gerakan pedangnya tidak selincah biasanya. Namun raja berusaha untuk menahan sakit dilengannya dan terus melawan orang - orang berpakaian serba hitam itu, yang seakan tidak ada habisnya.
Tiba - tiba raja mendengar jeritan permaisuri, raja memalingkan wajahnya dan melihat bahwa permaisuri tengah dibekap mulutnya oleh salah satu orang berpakaian hitam. Raja panik, ingin sekali raja langsung datang menghampiri permaisuri dan menghajar pria itu, namun sayangnya tidak bisa karena banyaknya orang yang sedang menyerangnya seakan sengaja membuat raja sibuk agar tidak dapat menyelamatkan permaisuri.
Rani jelas merasa takut dengan pria yang kini tengah membekap mulutnya, namun Rani tak mau pasrah, karena Rani juga melihat raja dan So joon tengah berjuang untuk mengalahkan mereka. Rani tidak mau jika dirinya dijadikan alasan untuk menekan raja dan juga So joon untuk menyerah. Dan menjadi kelemahan mereka.
Rani mencoba membrontak saat mulutnya dibekap dengan tangan si pria dan tangan satunya lagi memegang tangan Rani dan menguncinya kebelakang.
Rani terus meronta - ronta, namun tenaganya kalah kuat. Hingga akhirnya Ranipun memutuskan untuk menggigit tangan si pria. Pria itu mengerang kesakitan akibat gigitan dari Rani, dan melepaskan bekapannya.
Tak mau kehilangan kesempatan, kemudian Ranipun menginjak kaki pria itu lalu menghadiahi sikutan maut keperut pria itu, hingga membuat pria itu semakin mengerang kesakitan.
Ranipun langsung meloloskan diri dari dekapan pria itu. Raja melihat permaisuri yang bisa lolos dari bekapan pria berbaju hitam itupun merasa lega. Namun sepertinya raja sudah kewalahan menghadapi para orang - orang berpakaian hitam yang terus menyerangnya tanpa henti. Hingga akhirnya raja memutuskan untuk melarikan diri bersama permaisuri.
Raja langsung mendekat ke permaisuri, dan menggandeng tangannya dan berlari secepat mungkin. Melarikan diri meninggalkan So joon sendiri.
Permaisuri khawatir dengan So joon, namun raja menyakinkan permaisuri bahwa So joon akan baik - baik saja. Orang - orang berpakaian hitam itu datang mengejar mereka, namun mereka terus berlari menyusuri hutan sambil berpegangan tangan.
Mereka tak tau kearah mana yang mereka tuju, yang penting mereka terus berlari agar tidak tertangkap oleh kejaran orang - orang itu.
Raja dan permaisuri menemukan sebuah gua yang pintu masuknya dipenuhi oleh tumbuhan yang merambat, sebenarnya mereka tidak sengaja masuk kedalam gua, karena sebenarnya mereka tengah bersembunyi dibalik semak - semak untuk menghindari dari kejaran orang - orang itu.
Namun tak sengaja permaisuri terjelembab masuk kedalam gua itu, hingga akhirnya kini mereka berdua memutuskan untuk bersembunyi didalam gua. Karena sepertinya akan aman, karena pintu gua dipenuhi oleh tumbuhan yang merambat, dan dapat mengecoh orang yang melihatnya.
Ternyata benar tebakan mereka, orang - orang yang mengejar mereka tidak tau bahwa ada gua disana. Mereka terus mencari keberadaan raja dan juga permaisuri. Raja dan permaisuri duduk diam, sambil memasang telinga mereka lebar - lebar, agar mereka bisa mendengar pergerakan orang - orang itu yang berada di luar gua.
" Mereka tidak ada disini, kemana mereka pergi?" Ucap salah satu dari mereka.
" Bisa gawat nih kalau sampai mentri perang dan pertahanan tau soal ini." Oceh seorang pria yang berdiri didepan mulut gua.
" Makanya cepat cari mereka! Jangan biarkan mereka lolos." Umpat pria dari kawanan mereka dengan nada kesal.
" Ayo buruan kita kesana! mungkin mereka lari kearah sana."
Setelah memastikan aman, raja dan permaisuripun bernafas lega. Raja terlihat sedikit linglung, seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Sedangkan Rani tak terlalu terkejut, karena dia sudah bisa menebak dan menduganya, bahwa dalang dibalik semua ini adalah ayah dari selir agung, yaitu perdana menteri Han.
Tebakan Rani tentu tak meleset, semua itu berkat alur cerita drakor yang selalu ia tonton. Rani tersenyum penuh kemenangan, karena sebentar lagi pasti keluarga selir agung akan mendapat balasan atas perbuatan mereka dan Ranipun merasa lega karena bisa menepati janjinya kepada Kim so hee untuk menegakan keadilan terhadap dirinya.
Karena Rani yakin, kasus yang membelit perdana menteri Han pasti juga akan berimbas pada selir agung. Rani juga senang karena ia tidak perlu capek - capek untuk membongkar kebusukan dari keluarga Han itu.
Rani menatap raja aneh, karena kini raja tengah terduduk lemas seakan tak berdaya hingga keningnya mengeluarkan keringat yang cukup banyak.
" *Cih, sampai segitunyakah dia syok. Mendengar kenyataan bahwa ayah dari wanita yang dicintainya ma*mpu melakukan tindakan tak terpuji seperti itu."
Rani terus memperhatikan raja dengan seksama, lalu mata Rani membulat sempurna saat melihat lengan raja mengeluarkan banyak darah hingga lengan baju raja basah karena darah.
Ranipun merasa khawatir dan bingung harus berbuat apa. Rani mengusap wajahnya frustasi, lalu hendak keluar dari gua. Namun tangan Rani dicegah oleh raja.
" Kau mau kemana permaisuri?" Tanya raja dengan suara yang lemah.
" Aku mau mencari tanaman obat."
" Diluar berbahaya, sebaiknya kau tetap disini saja! Kita tunggu So joon datang kesini menjemput kita."
Rani mengerutkan keningnya, " Yang mulia, luka yang mulia harus segera diobati. Dan kalo kita hanya terus menunggu So joon disini, yang ada kita bakal mati mengenaskan didalam gua ini."
__ADS_1
" Bagaimana bisa So joon tau kalo kita berada di sini, yang benar saja. Kecuali disini ada handpone dan kita bisa sharelock." Omel Rani yang begitu gemas dan tak habis fikir dengan ucapan raja yang tak masuk akal.
Kini giliran raja yang merasa bingung dan tak mengerti dengan ucapan permaisuri, dengan muka memelas dan tenaga yang lemah, raja tetap memegang tangan permaisuri. Mau tidak mau permaisuripun pasrah dan duduk kembali disebelah raja.
Raja terus merintih kesakitan, namun berusaha ia tahan. Agar permaisuri tidak mengkhawatirkannya. Namun walaupun raja terus menahan rasa sakit dilengannya itu, permaisuri tetap tau bahwa sebenarnya raja terus merintih kesakitan.
" Udah tau sakit, tapi tetap keras kepala. Pokoknya aku harus mencari tanaman obat, kira - kira dihutan ini ada nggak ya tanaman yang bisa mengobati luka? Nggak peduli apa aja, yang penting bisa mengobati luka. Tapi yang aku tau cuma tanaman yang tumbuh diindonesia."
" Tanaman yodium, cocor bebek, lidah buaya, batang daun talas dan daun binahong. Semua itu tanaman yang tumbuh subur diindonesia, tanaman yang bisa mengobati luka. Apa mungkin tanaman itu, juga tumbuh dihutan ini? Kalaupun ada, dimana aku harus mencarinya? Hutan inikan luas, terlebih kalo aku ditangkap oleh mereka, bisa bahaya. Nggak mungkin juga aku ninggalin raja sendirian, apalagi dengan kondisi seperti ini."
Rani terus tenggelam dalam pemikirannya sendiri, hingga suara batuk raja membuyarkan Rani dari lamunannya.
" Uhuk...uhuk."
" Kau tidak apa - apa yang mulia?" Tanya Rani yang mulai panik.
" Aku tidak apa - apa, uhuk...uhuk."
" Yang mulia, tolong izinkan hamba untuk pergi mencari tanaman obat!"
" Tapi dihutan ini berbahaya permaisuri, bagaimana kalau kau tertangkap oleh mereka?"
Permaisuri termenung, bingung harus berbuat apa. Lalu Rani mengamati tumbuhan yang merambat menutupi mulut gua, Rani mengamati dengan seksama lalu berjalan mendekat kearah tanaman itu.
" Apa yang sedang kau lakukan permaisuri? Apa kau akan tetap pergi, dan meninggalkanku disini?" Tanya raja dengan suara lemahnya.
Namun permaisuri tak menghiraukan pertanyaan raja, dan terus mengamati tanaman itu. Kemudian Rani memetik beberapa lembar daun dari tanaman itu, kemudian menumbuknya.
" Yang mulia, coba hamba lihat luka yang mulia." Ucap Rani yang sudah berjongkok di depan raja.
Namun raja tak merespon ucapan Rani, tampaknya raja sudah mulai kehilangan kesadarannya. Tanpa aba - aba Rani langsung merobek lengan baju raja dan menaruh daun yang tadi sudah ia tumbuk diluka raja dan membalutnya dengan kain yang tadi Rani robek.
Rani mengelap keringat yang terus bercucuran diwajah raja. Entah mengapa Rani merasa sedih dan kasihan, saat melihat keadaan raja yang terluka seperti ini.
Rani duduk disebelah raja, lalu menyenderkan kepala raja dipundaknya. Tak terasa Rani ikut terlelap karena kecapean. Namun tiba - tiba Rani terbangun karena mendengar langkah kaki mendekat kearah gua.
Jantung Rani berdetak tak menentu. " Apa mungkin mereka masih mencariku dan juga raja? Apa kini mereka sudah tau keberadaan kita?"
Rani mencoba membangunkan raja, namun nihil raja masih tak sadarkan diri, dan itu membuat Rani makin panik dan bingung. Rani benar - benar merasa takut, karena suara langkah kaki itu makin mendekat. Rani terus melihat kearah mulut gua, hingga tiba - tiba tanaman yang berada dimulut gua berhasil disingkirkan oleh sebuah pedang.
Mata Rani terbelalak tak percaya, bahwa tempat persembunyian dirinya dan juga raja dapat diketahui oleh orang itu.
Wajah Rani yang tadinya tegang akhirnya berubah menjadi wajah yang melunak dan diiringi senyuman penuh kelegaan, jantung Rani yang tadinya memompa maraton akhirnya mulai berdetak dengan normal kembali saat Rani melihat sosok yang melangkah mendekat kearahnya dan juga Raja.
Karena orang itu adalah So joon, Rani sampai terbengong tak percaya bahwa So joon bisa menemukan mereka. Walaupun Rani tak tau bagaimana So joon bisa menemukan mereka, yang penting sekarang dirinya dan juga raja bisa selamat.
" Yang mulia, maaf hamba terlambat menemukan yang mulia." Ucap So joon sambil menunduk memberi hormat.
" Tidak apa - apa, aku senang bahwa kau juga selamat."
" Bagaimana keadaan yang mulia raja?" Tanya So joon saat melihat raja tak sadarkan diri.
" Sepertinya sudah lebih baik, karena tadi lukanya terbuka kembali dan mengeluarkan banyak darah.Tapi sudah aku obati."
" Baiklah, sebaiknya kita kembali keistana yang mulia. Apa yang mulia masih sanggup berjalan?"
" Iya aku masih sanggup, kau tak perlu mengkhawatirkanku So joon. Lebih baik kau bantu aku memapah raja saja!"
" Sebaiknya baginda raja biar hamba yang menggendongnya, dan yang mulia permaisuri bisa berjalan mengikuti hamba, itu akan jauh lebih mudah dan cepat untuk kita kembali ke istana." Usul So joon.
Permaisuripun menyetujui usulan dari So joon, dan mereka segera bergegas kembali keistana sebelum hari mulai gelap. Karena jika matahari sudah terbenam, akan berbahaya berjalan didalam hutan dalam keadaan gelap.
__ADS_1
***Bagaimana masih ada nggak yang nungguin cerita aku, maaf ya baru bisa up. Soalnya aku terlalu sibuk didunia nyata. Terimakasih yang sudah bersedia menggerakan jempolnya untuk memencet tombol like serta favorit dan memberikan komen kepada karyaku ini. Dukungan kalian sungguh membuatku merasa senang.
Jangan Lupa like dan komen ya🤗😘🙏***