
Setelah raja mengumumkan pemenang serta memberikan hadiah diacara perburuan, kini acarapun berlanjut kepada para tuan bangsawan yang sudah ikut berpartisipasi dalam acara, untuk memberikan hasil buruannya kepada para nona bangsawan yang dianggap mereka sepecial.
Selir agungpun buru - buru pergi menghampiri kandang hewan buruan milik raja, didampingi dayang setianya Choi ji woon. Selir agung berjalan dengan penuh percaya diri, lalu mendekat kearah kandang. Dilihatnya seekor rusa yang cantik tengah meringkuk didalam kandang.
" Jiwon, bukankah rusa ini sangat luar biasa? Selain tubuhnya yang besar, bulunya juga indah." Ucap selir agung terkagum.
" Benar yang mulia, bukankah ini pertama kalinya paduka raja tidak memberikan hewan buruan terbaiknya kepada ibu suri?" Tanya Ji woon heran.
" Iya, kau benar Jiwon. Biasanya raja akan memberikan hewan buruan terbaiknya kepada ibu suri, dan sisanya ia berikan kepadaku." Jawab selir agung.
" Mungkin kali ini, paduka raja akan memberikan hewan buruan utamanya, kepada yang mulia." Duga Choi ji woon, yang membuat senyum dibibir selir agung merekah.
" Benarkah, menurutmu begitu?" Tanya selir agung memastikan.
" Tentu yang mulia, lalu untuk siapa lagi kalo bukan untuk yang mulia." Jawab Choi ji woon yakin.
Kemudian raja dan So joon serta kasim Jang, datang menghampiri kadang hewan buruannya, di susul oleh pangeran Lee serta permaisuri.
Sebenarnya Rani malas untuk ikut kesana, karena tau kalo dirinya hanya akan dipermalukan jika dirinya ikut kesana. Namun, pangeran Lee terus memaksanya, menarik tangannya agar Rani ikut dengannya.
Akhirnya Ranipun pasrah menuruti kemauan pangeran Lee, karena walaupun Rani menolak, pangeran Lee pasti akan tetap menyeret dirinya dengan paksa.
Sesampainya disana Rani langsung melirik kearah rusa yang tengah meringkuk menahan sakit dipergelangan kakinya, akibat luka dari anak panah raja. Rani merasa kasihan dengan rusa itu, namun Rani diam saja, karena ia sadar bahwa ia tidak memiliki hak atas rusa itu.
" Yang mulia, rusa yang anda tangkap kali ini benar - benar luar biasa." Puji kasim Jang.
" Tentu, aku tau itu. Saat pertama aku melihat rusa ini, aku langsung menyukainya karena rusa ini terlihat sepecial."
" Wah mengesankan sekali, ternyata kakaku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan rusa ini." Goda pangeran Lee. yang membuat raja memutar bola matanya malas.
" Sebenarnya aku tadi sempat kehilangan rusa ini, namun sepertinya dewi fortuna sedang memihak kepadaku. Hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan rusa ini lagi dan mendapatkannya." Ujar raja yang tidak memperdulikan ucapan pangeran Lee.
" Sepertinya kalian berjodoh, kenapa tidak kaka jadikan selir saja rusa ini?" Celetuk pangeran Lee, yang kemudian langsung mendapat toyoran dari raja.
" Mulutmu itu sepertinya perlu mendapatkan kelas etika lagi pangeran." Kata raja yang sedikit kesal dengan candaan dari adiknya itu.
" Ayolah hyung, aku hanya bercanda." Rengek pangeran Lee, sambil menggoyang - goyangkan tangan raja.
Rajapun menghentakan tangannya agar tangannya bisa terlepas dari genggaman pangeran Lee.
" Kau ini bukan anak kecil lagi, kenapa kau terus merengek kepadaku? Jika kau terus seperti ini, akanku ambil kembali kelinci yang sudah ku berikan kepadamu tadi." Ancam raja.
" Hyuuung." Panggil pangeran Lee manja.
" Sudahlah hentikan itu! Kau membuatku pusing saja." Pangeran Lee tersenyum puas karena jurus andalannya berhasil.
Pangeran Lee memang sering membuat candaan yang kelewat batas hingga membuat raja marah. Namun Semua itu karena faktor karakternya yang ceria dan ceplas - ceplos. Dan pangeran Lee akan merengek manja agar amarah raja reda, dan mau memaafkannya serta tidak menghukumnya.
" Yang mulia, hamba sangat menyukai rusa ini. Rusa ini sangat gemuk. Hamba rasa, daging rusa ini pasti sangat empuk dan enak."
" Hamba akan dengan senang hati, meminta koki istana untuk memasaknya dan menyajikannya untuk makan malam yang mulia, jika yang mulia mengizinkan dan memberikannya pada hamba" Ucap selir agung.
Raja mengangguk kemudian menoleh kearah permaisuri, dilihatnya permaisuri yang sedang membuang muka.
" Menurutmu bagaimana permaisuri?" Tanya raja kepada permaisuri.
Yang kemudian membuat selir agung membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Selir agung mendengus kesal dan mengepalkan tangannya kuat.
Rani mau tidak mau menoleh menghadap raja, kemudian Rani mengerutkan keningnya bingung dengan maksud dari pertanyaan raja.
__ADS_1
" Mohon maaf, maksud pertanyaan yang mulia apa ya?" Tanya Rani.
" Maksudku, bagaimana menurutmu tentang rusa itu?" Tanya raja balik.
" Aah, yang mulia ingin mengetahui tentang pendapat hamba? Apakah itu perlu yang mulia?"
" Apa yang kau lakukan permaisuri? apa kau sudah tidak waras? Kenapa kau bersikap kurang ajar kepada yang mulia seperti itu?" Hardik selir agung. Namun raja mengangkat tangannya sebagai pertanda agar selir agung tidak usah ikut campur.
" Tentu, aku ingin mengetahui tentang pendapatmu permaisuri." Jawab raja.
" Rusa itu tampak sedang kesakitan." Ucap permaisuri apa adanya.
Rajapun menoleh menatap kearah rusa yang tengah berada didalam kandang.
" Dasar bodoh, siapa juga yang peduli rusa itu kesakitan atau tidak? Kalo rusa itu tidak dipanah, bagaimana bisa yang mulia menangkapnya?" Cibir selir agung, yang langsung mendapat tatapan tajam dari raja. Dan seketika membuat selir agung langsung kicep.
" Rusa itu memang aku panah dibagian kakinya, agar lebih mudah aku menangkapnya." Jelas raja.
" Jadi, akan kau apakan rusa itu permaisuri? Jika aku memberikan rusa itu kepadamu." Selir agung melotot tajam, seakan bola matanya akan keluar. Tak terima dengan apa yang raja ucapkan. Jemarinya semakin keras meremas kain roknya.
" Yang mulia." Protes selir agung. Namun lagi - lagi raja mengangkat tangannya, raja menolak mendengar kata yang akan selir agung ucapkan.
Selir agungpun kecewa dan menghentakan kakinya ketanah. Kemudian berbalik dan pergi meninggalkan raja dan permaisuri dengan perasaan kesal.
" Yang mulia sepertinya selir agung kecewa, karena mendengar apa yang barusan yang mulia katakan. Tampaknya selir agung sangat menginginkan rusa itu."
" Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya. Aku hanya ingin memberikan rusa ini untukmu. Tidak peduli akan kau apakan rusa ini, sekarang rusa ini sudah menjadi milikmu." Ucap raja yang tak memperdulikan kepergian selir agung.
" Kasim Jang tolong kau bantu permaisuri untuk mengurus rusa ini!" Perintah raja kemudian berlalu pergi, meninggalkan permaisuri. Dan diikuti oleh So joon yang berjalan dibelakangnya.
Permaisuri menatap bingung kepergian raja, Rani terus menatap raja, hingga kini hanya terlihat punggungnya saja. Rani merasa bingung dengan jalan pikiran raja yang tidak bisa ditebak. Karena Rani tidak pernah menyangka, bahwa raja akan memberikan rusa itu kepada dirinya.
" Tolong kau panggil tabib istana untuk mengobati luka dipergelangan kaki rusa itu! Setelah diobati baru kau bawa rusa itu kekediamanku." Seru permaisuri.
" Baik akan hamba laksanakan yang mulia. Tapi kalo boleh hamba tau, kenapa rusa ini harus diobati dulu yang mulia?" Tanya kasim Jang penasaran.
" Karena aku akan memelihara rusa ini." Jawab permaisuri.
" Yeee." Teriak kasim Jang sepontan, karena tidak menyangka atas jawaban yang permaisuri berikan.
Pangeran Lee juga sepertinya tampak kaget dengan yang permaisuri ucapkan, karena pangeran Lee terlihat tengah membuka mulutnya lebar - lebah sampai menganga, seperti orang yang tengah syok.
" Joesong habnida yang mulia. Karena hamba telah bertindak kurang ajar serta tidak sopan kepada yang mulia." Ucap kasim Jang sambil membungkuk.
" Sudahlah kasim Jang, kau tidak perlu seperti itu. Aku mengerti, pasti kau hanya kaget mendengar ucapanku barusan."
" Terima kasih atas belas kasih yang mulia, yang mau memaafkan atas kelancangan hamba. Hamba akan melaksanakan perintah yang mulia." Ucap kasim Jang sungguh - sungguh. Kemudian undur diri untuk memanggil tabib istana.
Pangeran Lee pun mendekatkan dirinya kepada permaisuri, kemudian merangkulnya. " Sungguh diluar dugaan, kakaku memberikan rusa itu untukmu ka. Aku sungguh tak percaya, bahwa kakaku itu ternyata sangat mencintaimu kaka ipar."
" Apa yang kau katakan hah? Apa kau semalam kurang tidur pangeran? Sampai - sampai kau bicara ngawur begitu, seperti orang ngelindur." Balas permaisuri lalu menyingkirkan tangan pangeran Lee dari pundaknya.
" Aku tuh bicara fakta ka, selama ini kakaku itu selalu memberikan hewan buruan utamanya kepada ibu suri, namun kali ini ia justru memberikannya padamu ka." Jelas pangeran Lee.
" Oh ya, aku nggak percaya tuh." Ucap permaisuri lalu pergi meninggalkan pangeran Lee sendirian.
" Nggak percaya ya udah. Kenapa aku ditinggal sendirian disini."
" Kaka tunggu!" Teriak pangeran Lee, lalu mengejar permaisuri.
__ADS_1
Sementara ditempat lain, selir agung tengah mengumpat, mencaci maki, mengeluarkan sumpah serapahnya kepada permaisuri. Selir agung benar - benar merasa tidak terima dan merasa dirinya telah dipermalukan.
" Bagaimana bisa yang mulia memberikan rusa itu kepada permaisuri." Ucap selir agung dengan nada kecawa, kemudian memukul batang pohon yang ada disampingnya dengan keras, menggunakan tangan kanannya.
Hingga tangan kanannyapun mengeluarkan darah. Choi ji woon yang melihatnyapun merasa panik, bingung harus berbuat apa.
Tidak mungkin Choi ji woon berlari kearah kerumunan dan mencari tabib untuk mengobati selir agung. Karena pasti akan tersebar berita buruk tentang selir agung. Apalagi jika mereka mengetahui alasan dibalik selir agung terluka, pasti selir agung akan ditertawakan dan menjadi bahan gunjingan diantara kaum bangsawan.
" Ternyata aku benar - benar sudah meremehkanmu permaisuri, aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Aku pasti akan membalas rasa malu ini, dengan berkali - kali lipat." Ucap selir agung, yang kemudian mengepalkan tangan kanannya dengan kencang. Hingga darah yang keluar dari tangannya semakin banyak.
Choi ji woon pun semakin panik, ingin rasanya ia menasehati selir agung agar tidak melakukan hal itu, namun Choi ji woon tidak berani melakukannya. Karena Choi ji woon melihat pancaran kemurkaan dari mata selir agung.
Namun tiba - tiba, Choi kang cool datang menghampiri Mereka, disaat Choi ji woon tengah merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
" Ada apa ini? Kenapa tangan yang mulia bisa terluka?" Tanya Choi kang cool yang melihat tangan kanan selir agung mengeluarkan darah.
" Itu, yang mulia itu mmm." Jawab Choi ji woon dengan terbata.
" Aku tidak apa - apa, hanya aku yang kurang berhati - hati saja, dan ini juga hanya luka ringan." Saut selir agung yang kemudian menutupi tangannya yang terluka dengan tangan kirinya.
" Ngomong - ngomong bagaimana tuan Choi kang cool bisa berada di sini?" Tanya selir agung penasaran.
" Mmmm ini, hamba memang dari tadi sedang mencari Ji woon, hamba hanya ingin memberikan hewan buruan hamba kepadanya." Jawab Choi kang cool sambil menunjukan hewan buruannya kepada selir agung dan Choi ji woon.
Melihat itu, selir agung tidak dapat menyembunyikan rasa kecawanya kepada raja, dan kembali memasang wajah sendu.
" Ada apa yang mulia, kenapa yang mulia tampak bersedih?" Tanya Choi kang cool yang memang tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Choi ji woon pun berbisik, memberi tahu Choi kang cool apa yang sebenarnya tengah terjadi. Karena Choi ji woon merasa tidak enak jika harus membicarakannya secara langsung, dihadapan selir agung.
Seketika Choi kang cool pun merasa tidak percaya dengan apa yang barusan adiknya katakan. Namun Choi ji woon meyakinkan, bahwa yang dikatakannya adalah benar dan tidak berbohong.
Choi kang cool pun mendekat kearah selir agung, kemudian menunduk dan berjongkok, lalu memegang tangan selir agung dan mengusap darah yang mengalir dari tangan selir agung, menggunakan sapu tangan miliknya.
" Mohon yang mulia, jangan menyakiti diri yang mulia lagi, hanya karena paduka raja membuat yang mulia kecewa. Karena yang mulia itu, sangat berharga." Ucap Choi kang cool yang masih mengelap darah selir agung.
Selir agungpun merasa terharu dan terhibur, mendengar kata - kata dari Choi kang cool yang membuat dirinya merasa lebih baik dan yaman.
Selir agung masih diam mematung memperhatikan Choi kang cool yang dengan telaten membersihkan lukanya.
" Udah, sekarang sudah selesai." Kata Choi kang cool yang baru selesai membersihkan luka selir agung.
" Sebaiknya setelah ini, yang mulia kembali keistana saja, dan segera mengobati luka yang mulia." Saran Choi kang cool.
Selir agungpun mengangguk patuh, namun matanya masih menatap lekat wajah Choi kang cool.
" Begini saja, kebetulan hamba memiliki dua ekor kelinci. Tadinya hamba akan memberikannya untuk Choi ji woon, namun berhubung yang mulia tidak mendapatkan hewan buruan, hamba akan membaginya dan memberikannya kepada kalian berdua."
" Yang satu, untuk Choi ji woon dan satunya lagi untuk yang mulia. Bagaimana? Apa yang mulia mau menerimanya? Yah walaupun hewan buruan hamba hanya seekor kelinci." Tanya Choi kang cool kepada selir agung.
Selir agungpun merasa senang, mendengar tawaran dari Choi kang cool. Dan menganggukan kepalanya, menerima tawaran yang diberikan Choi kang cool terhadap dirinya, lalu tersenyum malu.
Kemudian Choi kang cool pun memberikan kelincinya kepada Choi ji woon dan selir agung. Lalu setelah itu, Choi kang cool pun pamit undur diri.
" Kalo begitu hamba undur diri dulu yang mulia. Hamba harus kembali, karena pasti ayah hamba sekarang sedang mencari hamba."
" Iya, terimakasih atas kelincinya. Aku sangat menyukainya." Jawab selir agung. Choi kang cool pun pergi meninggalkan selir agung dan Choi ji woon.
Jangan lupa like dan Komen ya🤗🙏😘😍
__ADS_1