MENDADAK PERMAISURI

MENDADAK PERMAISURI
Park Bo Geum


__ADS_3

Rani begitu menikmati ppopgi miliknya, yang menurut Rani, lumayan enak. Hingga Rani terus menyesap dan mengemuti ppopgi yang tengah ia pegang.


Sedangkan raja hanya geleng - geleng kepala, melihat kelakuan permaisuri yang menurutnya seperti anak kecil. Pasalnya ppopgi milik raja sudah langsung ia kunyah dan habiskan.


Mereka berdua terus berjalan menyusuri rumah - rumah warga, hingga tidak terasa ternyata mereka sudah memasuki daerah rumah - rumah para bangsawan.


Rani tampak mengagumi rumah yang tengah ia lewati saat ini, karena sangat mewah dan megah. Walapun rumah itu hanya rumah tradisional, namun nampak sangat berkelas. Pekarangan rumah itupun sangat luas dan dibetengi oleh tembok yang menjulang tinggi. Berbeda dari rumah - rumah warga yang tadi ia lewati.


Hingga netra Rani menangkap sesuatu didepannya, yang membuat Rani tak bisa mengalihkan pandangannya dari hal tersebut. Rani nampak menghentikan langkah kakinya. Dan di ikuti oleh raja yang turut menghentikan langkah kakinya karena mengikuti pergerakan langkah Rani yang terhenti. Wajah Rani yang tadinya berseri - seri seketika menjadi garang. Dan itu tak luput dari pandangan raja.


Sadar dengan perubahan ekspresi yang ditunjukan oleh permaisurinya, rajapun mengikuti kearah yang kini tengah Rani pandangi. Ada satu anak kecil mengenakan baju yang cukup kusam, sedang dipukuli oleh dua orang dewasa yang berbadan lumayan besar. Dan juga satu pria mengenakan pakaian dengan kain sutra yang raja yakini bahwa ia seorang bangsawan, tengah berdiri di samping mereka, dan diam saja melihat anak kecil itu dipukuli.


Rani yang cukup geram dengan pemandangan didepan matanya itu, kemudian memutuskan untuk menghampiri mereka. Dan lagi - lagi raja tak habis fikir dengan kelakuan permaisurinya yang mau ikut campur dengan urusan orang lain. Raja yang merasa cemaspun terpaksa mengikuti permaisurinya.


" Hey apa yang kalian lakukan?" Teriak Rani dengan muka garang.


Seketika kedua orang bertubuh besar itu menghentikan aktifitasnya, karena mendengar teriakan dari Rani. Sedangkan pria yang diyakini oleh raja sebagai seorang bangsawan berdecih merasa tidak suka dengan kedatangan mereka berdua.


" Kenapa kalian memukuli anak kecil seperti itu?" Teriak Rani kembali.


" Anak ini telah mencuri beras tuan kami." Jawab salah satu pria bertubuh besar.


Rani melirik ke sebuah kantong berukuran kecil, yang tergeletak di tanah dengan beras yang sedikit keluar dari kantong tersebut.


Rani menggelengkan kepalanya, " Hanya karena anak kecil ini mencuri sedikit beras, kalian tega memukulinya sampai babak belur seperti ini? Apa kalian tidak malu?" Bentak Rani.


" Tapi tetap saja yang namanya pencuri harus di beri hukuman agar jera." Ucap tuan bangsawan itu dengan santai.


" Cih." Rani meludah dan membuangnya kesamping.


Raja sedikit kaget dengan tindakan permaisurinya yang mampu mematahkan sikap anggun seorang permaisuri, karena berani meludah di depan umum.


" Hukuman yang anda berikan tidak setimpal dengan yang anak kecil ini curi tuan." Ucap Rani sewot.


" Itu bukan urusanmu nona, memangnya siapa kau berani - berani ikut campur dengan urusan kami?" Tanya tuan bangsawan dengan nada sombong.


" A..." Sebelum permaisuri menyelesaikan kalimatnya raja langsung memotong ucapan permaisuri, " Kami memang bukan siapa - siapa tuan, kami hanya orang yang numpang lewat lalu melihat kejadian ini. Dan membuat kami tidak tega dengan anak kecil ini." Ucap raja dengan sopan.


Raja sengaja langsung memotong ucapan permaisuri karena takut identitas mereka akan terbongkar karena kecerobohan permaisuri yang sedang emosi seperti kejadian tadi yang dialami permaisuri dengan para dayangnya, kan bisa berabeh.


Tuan bangsawan itu kemudian melirik dengan tatapan sinis. " Dilihat dari pakaian kalian, sepertinya kalian seorang bangsawan? Tapi aku tidak pernah melihat kalian didaerah sini? Apa kalian bukan berasal dari daerah sini?"


" Benar tuan kami memang bukan dari daerah sini." Jawab raja masih dengan sopan.


" Lebih baik kalian pergi saja! tidak perlu ikut campur dengan urusan kami, asal kalian tau, daerah ini adalah daerah kekuasaan keluarga kami, keluarga perdana menteri Choi. Jadi kalian tidak usah macam - macam dan ikut campur dengan urusan kami. Kalau kalian masih mau menginjakan kaki didaerah ini." Usir tuan bangsawan dengan nada angkuhnya.


Raja mulai geram dengan ucapan yang ia dengar, namun ia harus tetap bersabar. Tangan raja terkepal dengan erat, menahan emosi yang mulai menjalar ke tubuhnya.


" Kalo dilihat - lihat nona lumayan cantik juga, cocok kalo ku dijadikan selir." Ucap tuan bangsawan sambil menatap Rani dengan intens.


Raja yang mendengar itu, jelas merasa tidak terima dan segera ingin meluapkan emosi yang sudah di tahan olehnya. Namun urung raja lakukan, karena raja justru merasa kaget dengan ucapan permaisuri.


" Aku bahkan sudah menjadi permaisuri dihati suamiku, kenapa aku harus menjadi seorang selir, tuan?"

__ADS_1


" Hahaha, kau tidak tau saja begitu berkuasanya keluarga choi nona? Bahkan seharusnya kau bersyukur karena aku mau menjadikanmu sebagai salah satu selirku."


"Berani - beraninya dia berbicara kekuasaan, bahkan kekuasaanku jauh lebih besar dari pada keluargamu itu." ejek raja dalam hati.


Ibarat kata anak jaman sekarang mah, apalah arti tuan bangsawan yang cuma remahan rengginang di bandingkan dengan raja.


" Maaf tuan aku sungguh tidak tertarik." Tolak Rani dengan sinis. " Lebih baik tuan lepaskan anak kecil itu, dan kami akan membayar ganti rugi apa yang telah anak kecil itu curi."


" Boleh saja kalau kalian ingin mengganti rugi." Ucap tuan bangsawan kemudian tersenyum licik. " Berikan aku tiga koin emas, akan aku berikan bocah kecil ini." Lanjut tuan bangsawan sambil menendang anak kecil yang sudah jatuh tersungkur ditanah.


" Bagaimana mungkin, hanya untuk satu kantong kecil beras dihargai tiga koin emas. Bahkan satu karung beras berukuran besar saja hanya di beri harga sepuluh koin yeopjeon ( koin tradisional korea yang terbuat dari kuningan )." Protes raja.


" Kalo tidak mau ya sudah, tiga koin emas itu bukan hanya untuk membayar satu kantong beras yang bocah ini curi, tetapi juga untuk menebusnya. Asal kalian tau tadinya aku akan menjadikan bocah ini sebagai budakku sebagai penebus beras yang telah dia curi, jika kalian meminta aku untuk melepasnya, berarti aku jelas rugi besar." Jelas tuan bangsawan itu dengan santai serasa dipantai.


Rani sungguh kesal dengan ucapan tuan bangsawan yang sungguh tidak berperikemanusian. Dia hanya mementingkan keuntungannya sendiri. Rasanya Rani ingin sekali menyumpal mulut kurang ajar itu, dengan pasir yang ada ditanah. Namun ia tidak mau membahayakan anak kecil itu, dan juga raja. Mengingat disini tidak ada pengawal kerajaan yang melindungi mereka.


Raja merasa bingung, ia tidak ingin mengecewakan permaisuri karena harus melepaskan anak kecil itu, namun ia saat ini benar - benar tidak membawa koin emas. Raja mengusap wajahnya frustasi. Kemudian raja melirik kearah anak kecil itu, yang masih tergeletak ditanah. Terlihat wajah anak itu babak belur karena dipukuli dan ada noda darah dari sudut bibir anak itu. Lalu raja mengalihkan pandangannya ke arah kaki anak itu, raja bernafas lega karena sepertinya kaki anak itu baik - baik saja.


Kemudian rajapun merapatkan tubuhnya ke depan permaisuri, saat ini tidak ada jalan keluar lagi, mau tidak mau raja harus turun tangan.


" Permaisuri hitungan ketiga, cepat kau bawa anak kecil itu pergi menjauh. Lari sejauh mungkin. Biar aku yang akan mengurus mereka." Ucap raja pelan.


Rani sebenarnya merasa keberatan dengan ide raja, tapi mau tidak mau ia harus menurut karena tidak ada pilihan lain lagi. Kemudian Rani menganggug pertanda ia menyetujui ucapan raja.


" Satu, dua, tiga!" Raja mulai berhitung.


Begitu hitungan ketiga, Rani langsung menarik tangan anak kecil yang masih terkapar di tanah, dan menuntunnya berlari bersamanya. Rani menggenggam tangan anak kecil itu dengan erat, dan menoleh kebelakang melihat kearah raja yang sedang bertarung melawan dua antek tuan bangsawan yang tadi memukuli anak kecil yang berlari bersama dengan dirinya. Sementara tuan bangsawan itu sedang berusaha mengejar permaisuri.


Nafas Rani terdengar ngos - ngosan, juga langkah kakinya mulai gontai. Sungguh Rani sudah tidak sanggup lagi jika harus berlari. Diliriknya anak kecil yang tengah ia genggam tangannya. Sepertinya anak itu juga sudah merasa capek.


Baru saja Rani ingin bernafas lega karena terbebas dari kejaran tuan bangsawan yang menurut Rani rada sinting. Naas ternyata jugaan Rani salah besar. Ternyata tuan bangsawan itu menemukan Rani dan anak kecil itu.


Tuan bangsawan itu menyeringai kearah Rani. Seakan mengatakan tidak semudah itu ferguso, jika ingin terbebas dariku. Tuan bangsawan itu mencengkram rahang Rani.


" Ternyata jika dilihat dari dekat kau memang tetlihat sangat cantik. Aku belum pernah melihat wanita secantik dirimu."


" Beraninya kau menyentuh istriku." Teriakan dari raja membuat Rani dan tuan bangsawan itu menoleh.


Raja langsung menendang tubuh tuan bangsawan yang sudah kurang ajar menyentuh istrinya sembarangan. Tuan bangsawan itu jatuh tersungkur, belum sempat ia membangunkan tubuhnya, raja sudah menghadiahi pukulan mautnya ke wajah tuan bangsawan. Raja menghajar habis - habisan tuan bangsawan itu tanpa ampun seakan belum puas hanya dengan menghajarnya saja.


Untung Rani segera melerai, karena Rani rasa sudah cukup raja memukul tuan bangsawan itu. Karena kini tuan bangsawan itu, terlihat sudah tidak berbentuk.


" Kau tidak apa - apa So hee?" Tanya raja yang merasa khawatir.


Rani mengangguk pelan " Hamba tidak apa - apa yang mulia." Jawab Rani.


Seketika raja mencondongkan wajahnya kearah Rani. Kemudian raja berbisik ditelinga Rani. " Jangan panggil aku yang mulia, ingat kita sedang menyamar. Panggil aku suamiku!"


Rani cengo mendengar ucapan raja. Dan mengerutkan alisnya, seakan penuh tanya kenapa harus memanggil raja dengan sebutan suamiku. Itu terdengar sedikit menjijikan menurut Rani. Namun Rani hanya menurut sajalah, itung - itung tanda terimakasih karena sudah menolonya. Kemudian Rani mengangguk mengerti. Sedangkan anak kecil itu merasa bingung dengan situasi didepannya kini.


" Suamiku kenapa kau memukul tuan bangsawan itu sampe babak belur seperti itu? Bahkan wajahnya saja sudah tidak berbentuk, mungkin dia tidak bisa dikenali lagi oleh keluarganya." Tanya Rani sambil sedikit tertawa mengingat wajah dari tuan bangsawan tadi.


Raja merasa bingung harus menjawab apa? Karena ia juga tidak tau, entah mengapa raja merasa tidak puas jika hanya menghajarnya seperti itu. Bahkan jika tadi permaisuri tidak melerainya, mungkin raja akan melakukan lebih dari itu.

__ADS_1


Raja hanya merasa kesal dengan tuan bangsawan itu, saat melihat tangan lancangnya mencengkram rahang permaisuri. Entah mengapa raja seakan tidak rela jika ada pria lain yang berani menyentuh permaisuri. Disaat bahkan raja belum pernah dan sempat menyentuh permaisuri. Sungguh ironi memang lima tahun pernikahan, raja belum pernah sekalipun menyentuh tangan permaisuri.


Mereka kini tengah berjalan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Dan mengobati luka raja dan anak kecil yang mereka selamatkan. Mereka duduk di sebuah gubuk yang sedikit berdebu. Mungkin gubuk itu tidak pernah dijamah oleh manusia.


Rani meminta izin untuk pergi sebentar mencari obat. Dan kini tinggalah raja dan juga anak kecil itu berdua di gubuk.


" Namamu siapa nak?" Tanya raja.


" Park bo geum tuan." Jawab anak itu.


Anak yang diselamatkan raja dan Rani itu seorang anak laki - laki.


" Kenapa kau mencuri?" Tanya raja lagi.


" Saya terpaksa tuan, sudah tiga hari saya belum makan tuan." Jawab Park bo geum jujur.


" Bukankah hasil panen tahun ini melimpah, seharusnya harga beras dipasaran juga tidak terlalu mahal?"


" Memang benar tuan hasil panen tahun ini memang melimpah, namun untuk rakyat kecil seperti kami, jika harus membeli satu kantong kecil beras, dengan harga delapan koin yeopjeon? Jujur kami tidak mampu tuan."


Raja membelalakan matanya mendengar harga beras yang begitu tinggi. Karena Sudah raja putuskan di rapat kerajaan bahwa harga satu karung beras berukuran besar, dihargai sepuluh koin yeopjeon. Karena hasil panen yang sangat melimpah dan juga bagus.


Seharusnya sekantong kecil beras, hanya dihargai dua koin yeopjeon. Tapi ini malah delapan koin yeopjeon, Sunguh ironi. Raja tak habis fikir, pokoknya setelah sampai diistana raja akan meminta penjelasan terhadap para mentrinya.


Rani kembali dengan membawa obat, kain, dan juga sekarung beras berukuran sedang. Sebenarnya Rani ingin membeli beras dengan ukuran karung yang lebih besar, namun tidak jadi karena Rani tidak kuat untuk membawanya.


Kini Rani mencoba untuk mengobati luka raja, setelah tadi mengobati luka Park bo geum. Raja meringis kesakitan karena lukanya terasa perih karena sedang dibersihkan oleh Rani. Raja memandang wajah Rani lekat sampai tak berkedip. Rani tampak telaten menggobati luka raja.


" Cantik." Batin raja.


Raja terus menatap Rani lekat, entah mengapa ia merasa nyaman dengan sentuhan - sentuhan tangan Rani yang tengah mengobati lukanya. Jantung raja berdegup cepat tak seirama kala tangan Rani mengusap luka disudut bibirnya.


Rani yang tengah fokus membersihkan luka raja, tiba - tiba merasa aneh seakan ada yang sedang mengawasi gerak - geriknya. Kemudian Rani menghentikan aktifitasnya dan mengangkat tangannya dari sudut bibir raja. Namun Rani sangat terkejut saat tiba - tiba tangannya langsung disaut oleh raja hingga badannya terjelembab kedepan dada bidang milik raja.


Rani dan raja saling berpandangan, manik mata mereka saling bertabrakan. Seperkian detik merekapun tersadar hingga Rani beranjak dari posisinya yang begitu dekat dengan raja.


" Lukanya sudah selesai saya obati." Ucap Rani tergagap selah tingkah.


" Hmmm." Jawab raja yang tak kalah salah tingkahnya.


" Omong - omong rumah kamu dimana Bo geum?" Tanya Rani mecairkan suasana yang sedikit canggung.


" Disebelah sana nona." Jawab Park bo geum sambil menunjuk arah rumahnya.


" Kalo begitu biar kami antar sampai kerumah." Ucap Rani yang belum merasa lega, jika belum melihat Bo geum sampai dirumahnya dengan aman.


Raja mengangguk tanda setuju dengan ucapan permaisuri.


" Tetimakasih tuan dan nona sudah mau menolong saya, mengobati luka saya, membelikan sekarung beras yang cukup besar dan juga bersedia mengantar saya kerumah." Ucap Bo geum tulus.


Merekapun akhirnya pergi mengantarkan Park bo geum kerumahnya.


***Mohon maaf ya updatenya lama, harap dimaklumi karena keluarga aku keluarga besar jadi silaturahminya lama selesainya. Semoga kalian suka dengan part ini. Terimakasih yang masih setia menunggu updatetan cerita dari aku.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN😘🤗🙏***


__ADS_2