
Berita mengenai permaisuri yang bermalam dikediaman raja sudah sampai ditelinga ibu suri, ibu suri tampak gembira mendengar berita tersebut.
" Dayang Jung, aku memang meminta permaisuri untuk mengantar pesanku kepada raja agar hubungan mereka bisa lebih dekat. Namun aku tidak menyangka jika secepat ini raja akan meminta permaisuri untuk bermalam dikediamannya." Ujar ibu suri kepada dayang setianya.
" Benar yang mulia, hamba juga tidak menyangka dan mempercayai berita ini sebelumnya. Tapi bukankah bagus yang mulia, jika hubungan raja dan permaisuri menjadi baik?"
" Tentu saja, jika hubungan raja dan permaisuri terus membaik seperti ini, sepertinya tidak lama lagi istana ini akan memiliki putra mahkota." Cicit ibu suri yang diiringi senyum yang terus mengembang dibibirnya.
Dayang Jung yang mendengar cicitan ibu suri, ikut tersenyum senang.
Hari kini sudah mulai gelap, matahari sudah tergantikan dengan bulan. Suasana ramai dan riuh terlihat disebuah rumah bordir. Banyak orang yang datang untuk sekedar mencari hiburan, dan ada juga yang menjadikan rumah bordir tersebut sebagai tempat untuk pertemuan politik.
Rumah bordir tersebut menyediakan ruangan khusus untuk para bangsawan yang menginginkan layanan yang privasi, yang tidak bisa diganggu oleh pengunjung lain. Kalo dijaman moderen disebutnya ruang VIP.
Disalah satu ruangan khusus yang ada di rumah bordir tersebut, terlihat menteri Han tae kyung tengah duduk dengan santai dan diapit oleh dua gisaeng, dan disana juga ada para sekutunya yang menemaninya yang tak lain adalah menteri Choi, menteri Hwang min hyung dan juga menteri Song ji hyo.
Diatas meja sudah tersedia berbagai macam makanan yang enak dan juga minuman, mereka tampak tengah menikmati suguhan yang berada dihadapan mereka.
Namun entah mengapa trio kwek - kwek syuuut salah, trio kacung atau sekutu dari menteri Han tae kyung, merasa aneh dengan gelagat Rekannya sekaligus pemimpin mereka, yaitu menteri Han tae kyung alias menteri pertahanan yang memiliki wajah tak bersemangat dan seakan ada yang sedang dipikirkan olehnya.
Padahal biasanya menteri Han yang paling bersemangat jika sedang berada di rumah bordir, apalagi saat ini ada dua gisaeng yang tengah bergelayut manja di sebelahnya. Nyatanya menteri Han tae kyung malah cuek. Pasti ada apa - apanya nih? Pikir tiga kacung itu. Mereka bertiga saling melirik memberi kode supaya diantara mereka ada yang mau menegur dan bertanya kepada perdana menteri Han.
Hingga akhirnya perdana menteri Hwang min young memberanikan diri untuk bertanya kepada perdana menteri Han.
" Perdana menteri Han, Kenapa kau tak bersemangat seperti biasanya? Apakah ada masalah? Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan?" Tanya menteri Hwang min young yang merasa khawatir.
" Raja pergi mendatangi putriku dan mengatakan bahwa kalo dia sudah jatuh cinta terhadap permaisuri, dan sekarang Sora tengah bersedih dan merasa terpukul." Ucap perdana menteri Han lalu menenggak minuman yang sudah dituangkan oleh salah satu gisaeng yang duduk disebelahnya.
Mendengar penjelasan dari perdana menteri Han, ketiga menteri itu manggut - manggut pertanda mengerti pokok permasalahannya.
" Sekarang kita harus memikirkan rencana agar raja bisa kembali mencintai Han sora lagi! Bukan apa - apa, jika raja jatuh cinta terhadap permaisuri, yang ada dukungan raja terhadap kita menjadi berkurang. Dan kedudukan kita akan terancam, apalagi jika kasus penimbunan beras yang kita lakukan terbongkar, jelas raja tidak akan memberikan kesempatan lagi untuk kita." Jelas perdana menteri Han dengan sorot mata yang tajam.
" Kau benar perdana menteri Han. Jika raja bersama dengan permaisuri maka posisi kita akan terancam, sedangkan posisi yang menguntungkan akan berpindah kepada perdana menteri Kim." Saut perdana menteri Hwang min young.
" Jelas, dengan menyandang gelar sebagai mertua raja, perdana menteri Kim yang notabennya menteri pertanian dan bahan pangan, pasti akan mendapatkan posisi dan pandangan yang baik dan begitu dihormati oleh semua orang termasuk anggota dewan kerajaan lainnya. Setelah mereka mengetahui cinta raja telah berlabuh kepada permaisuri. Dan kita akan semakin diremehkan." Papar dari perdana menteri Song ji hyo.
" Sepertinya sekarang kita juga harus ikut turun tangan, tidak bisa jika hanya mengandalkan rayuan Sora kepada raja saja." Usul perdana menteri Choi.
" Benar sekali, apalagi sekarang pergerakan kita sudah mulai diawasi oleh So joon." Ucap perdana menteri Song ji hyo.
" Kalian tenang saja, masalah So joon sudah teratasi. Aku sudah menempatkan seseorang agar terus mengawasi setiap pergerakan dari So joon. Dan juga memberikan informan palsu kepada So joon." Jelas perdana menteri Hwang min young.
" Kau memang selalu bisa diandalkan perdana menteri Hwang." Puji perdana menteri Han, yang menampilkan senyum liciknya.
" Sudahlah - sudah, sekarang kita nikmati saja makanan serta minuman disini. Lupakan sejenak urusan kerajaan yang memusingkan, mari kita senang - senang!" Kotak pun beraksi, sory reflek bawaannya pengen nyanyi terus. Ajak perdana menteri Choi kepada rekan - rekannya, rekan - rekan sesama seperjuangannya untuk mencari keuntungan lebih tepatnya.
" Baiklah, panggilkan tiga gisaeng lagi." Teriak perdana menteri Han dengan semangat.
__ADS_1
Ketiga rekannyapun tertawa bahagia, karena pimpinan mereka kembali bersemangat lagi, dan terlebih pimpinan mereka sudah memesankan gisaeng untuk mereka bertiga agar mereka bisa bersenang - senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari dikediaman selir agung, tampak selir agung yang masih tertidur pulas di atas futon miliknya. Ruangan miliknyapun terlihat masih berantakan, karena tidak ada dayang yang berani masuk kedalam ruangan selir agung untuk membersihkannya. Apalagi disaat keadaan selir agung yang tengah emosi dan tidak setabil. Sama saja dengan cari mati.
Kemarin setelah kunjungan dari perdana menteri Han usai, selir agung kembali mengamuk karena mendengar berita tentang permaisuri yang bermalam dikediaman raja. Dan itu membuat para dayang yang berjaga dan melayani disana ketakutan mendengar teriakan, makian serta bantingan barang - barang dari dalam ruangan selir agung. Walaupun mereka sudah terbiasa dengan itu, tetap saja mereka merasa takut.
Namun pagi ini Choi ji woon dayang setia sekaligus sahabat selir agung itu, mencoba memberanikan diri untuk masuk dan melihat keadaan selir agung. Choi ji woon masuk kedalam ruangan dengan penuh hati - hati. Namun ternyata langkah kakinya justru membangunkan selir agung.
" Bagaimana keadaan anda selir agung?" Tanya dayang Choi ji woon. Selir agung bangun dari posisi tidurnya, kemudian duduk menghadap Ji woon.
" Aku baik - baik saja." Jawab selir agung dengan lirih dan suara serak khas bangun tidur.
Choi ji woon merasa prihatin dengan keadaan junjungannya yang benar - banar kacau dan berantakan. Ditambah dengan mata panda yang kini berada diwajah cantik junjungannya itu.
Kemudian Choi ji woon mendapatkan ide agar selir agung bisa melupakan sejenak rasa kesal dan kecewanya terhadap raja. Walaupun Ji woon tidak menjamin rencananya bisa berhasil, namun setidaknya ia telah mencoba untuk menghibur serta menyemangati selir agung.
" Yang mulia selir agung, apakah yang mulia mau ikut pergi bersama dengan hamba keluar istana? Kebetulan hari ini hamba akan pergi menemui saudara hamba." Ajak Ji woon dengan hati - hati.
Selir agung menaikan satu alisnya dan tampak berfikir mendengar ajakan dari Ji woon.
" Apa yang mulia mau ikut? Mungkin dengan keluar istana, yang mulia bisa merasa lebih baik dan melupakan sejenak kekecawaan yang mulia." Ajak Ji woon lagi.
Selir agung menggelengkan kepalanya. " Sepertinya aku tidak bisa, aku sedang dalam keadaan tidak ingin untuk pergi kemana - mana." Tolak selir agung dengan nada lemahnya seakan tak bertenaga.
" Coba deh yang mulia bercermin, ini sama sekali seperti bukan sosok yang mulia, yang seperti biasanya. Rambut kusut dan berantakan, muka pucat serta memiliki mata panda, pakaian yang lusuh dan acak - acakan. Sama sekali seperti bukan selir agung yang hamba kenal." Papar Ji woon dengan muka sedihnya.
Selir agung melirik ke arah cermin besar yang ada diruangannya, lalu menatap gambaran dirinya dicermin. Selir agung tersenyum kecut, kenapa dirinyalah yang malah berakhir mengenaskan seperti ini? Batin selir agung.
" Yang mulia melihat sendirikan, begitu kacaunya diri anda? Lebih baik sekarang sarapan terlebih dahulu lalu bersiap - siap ikut hamba keluar istana, pasti yang mulia akan merasa jauh lebih baik." Bujuk Ji woon tak menyerah.
Selir agung kembali menatap Ji woon, lalu mengangguk mengiyakan ajakan Ji woon. Ji woon tersenyum senang, karena selir agung mau menerima ajakannya.
Selir agung akhirnya keluar istana bersama Ji woon menggunakan tandu, dan ditemani beberapa pengawal serta dayang istana.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka sampai dikediaman perdana menteri Choi. Selir agung turun dari tandu, dan melihat kesekeliling kediaman yang tampak megah namun terlihat sepi. Ini pertama kalinya selir agung menginjakan kakinya dikediaman perdana menteri Choi, walaupun ayahnya berteman baik dengan perdana menteri Choi, tetapi selir agung tidak pernah datang berkunjung kekediaman perdana menteri Choi sebelumnya.
Choi Ji woon mengajak selir agung masuk kedalam rumahnya, saat Choi ji woon dan selir agung akan masuk kedalam rumah, ternyata malah ada seseorang yang membuka pintu dan hendak keluar dari dalam rumah.
Choi ji woon yang melihat orang itu keluar dari rumahnya, langsung menghampiri orang tersebut dan langsung memeluknya. Dan orang itupun menyambut pelukan dari Choi ji woon. Setelah beberapa detik mereka berpelukan, lalu merekapun melepaskan pelukan mereka.
" Hey, beginikah tatakerama yang diajarkan diistana saat datang berkunjung kerumah seseorang?" Ledek orang itu.
Choi ji woon merasa kesal dengan orang yang meledeknya lalu memukul lengan orang tersebut pelan.
" Kaka aku kan merindukanmu, tapi kenapa malah tanggapanmu seperti ini? Sungguh membuatku kecewa." Ucap Choi ji woon yang pura - pura merajuk terhadap kakanya yaitu Choi kang cool.
__ADS_1
" Kaka juga merindukanmu, kau makin tambah cantik saja adikku." Puji Choi kang cool, lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut.
" Oh ya kaka, perkenalkan ini adalah selir agung. Orang yang aku layani diistana." Ucap Choi ji woon yang memperkenalkan selir agung terhadap kakanya.
Choi kang cool kemudian melirik ke arah orang yang dimaksud oleh adiknya, lalu menunduk memberi hormat dan dibalas anggukan oleh selir agung.
" Suatu kehormatan bagi kediaman hamba, bisa kedatangan tamu yang sungguh istimewa seperti anda selir agung." Ucap Choi kang cool yang memulai dengan berbasa - basi.
Selir agung tersenyum ramah, " Aku juga senang bisa berkunjung ke tempat dayang setiaku, sekaligus sahabatku."
" Mari silahkan masuk yang mulia!" Ucap Choi kang cool mempersilahkan selir agung untuk masuk kedalam kediamannya.
Selir agung dan Choi ji woon pun masuk kedalam rumah terlebih dahulu, sedangkan Choi kang cool menyusul dibelakang mereka. Choi kang cool tersenyum penuh arti saat memandang tubuh selir agung dari belakang.
Didalam rumah, mereka duduk disalah satu ruangan yang merupakan tempat untuk perjamuan minum teh. Mereka duduk mengitari sebuah meja berukuran lumayan besar dan berbentuk lingkaran. Diatas meja sudah tersaji beberapa cemilan dan juga teko berisi teh.
" Kaka, bukannya kau tadi akan pergi?" Tanya Choi ji woon kepada kakanya.
" Iya tadinya aku akan pergi, tapi melihat adiku datang membawa tamu sepesial, masa aku tinggal pergi. Bukankah tidak sopan? Apalagi aku juga merasa kangen denganmu." Jawab Choi kang cool santai.
Choi ji woon tersenyum mendengar penuturan dari kakanya.
" Oh iya selir agung, kalo hamba boleh tau, ada apa sebenarnya sehingga yang mulia bersedia datang kekediaman hamba?" Tanya Choi kang cool yang merasa penasaran.
" Selir agung sedang merasa kesal dan kecewa terhadap yang mulia raja." Potong Choi ji woon, sebelum selir agung menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.
Selir agung menatap Choi ji woon dengan tatapan tajam, karena sudah membocorkan masalahnya. Tetapi Choi ji woon tidak sadar dengan kesalahannya, malah tetap asik memakan kudapan yang berada dihadapannya.
Perkataan adiknya barusan, membuat Choi kang cool semakin bertambah penasaran dengan masalah yang tengah terjadi antara selir agung dan paduka raja.
" Memangnya apa yang membuat selir agung merasa kesal dan kecewa kepada paduka raja?" Tanya Choi kang cool lagi.
" Tidak ada, hanya masalah biasa." Jawab selir agung kikuk dan malu.
" Raja mengatakan bahwa ia mencintai permaisuri, dan semalam permaisuri bermalam dikediaman raja. Jelas hati selir agung merasa terluka, makanya aku ajak saja yang mulia selir agung datang kesini untuk menghilangkan dan melupakan rasa kecewanya." Celetuk Choi ji woon yang malah membeberkan semua masalah selir agung.
Selir agung melotot pada Ji woon, dan merasa kesal dengan mulut ember bocor milik Ji woon yang tidak bisa menjaga rahasia. Selir agung merasa menyesal telah menuruti ajakan Ji woon untuk keluar istana dan datang kerumahnya.
Sementara Choi kang cool manggut - manggut, tanda ia mengerti pokok permasalahan yang tengah dihadapi oleh selir agung.
" Baiklah sepertinya hamba mengerti inti dari masalah yang sedang selir agung hadapi, selir agung merasa kesal dan kecewa terhadap raja, karena yang mulia tidak mau membagi cinta raja bersama dengan permaisuri bukan?"
Tebakan Choi kang cool pas tepat sasaran, dan selir agung hanya tersenyum kecut tak tau harus berkata apa. Dan dalam hati selir agung kini tengah mengutuki dayang setia sekaligus sahabatnya yang bertindak bodoh dan mempermalukan dirinya. Bukannya mendapat ketenangan selir agung malah menjadi semakin merasa kesal.
" Sudahlah yang mulia tidak perlu memikirkan hal itu, setelah ini hamba akan mengajak yang mulia dan Ji woon jalan - jalan dan berkeliling, agar yang mulia bisa melupakan kekecewaan yang mulia. Yang mulia terlalu berharga jika harus meratapi dan terus bersedih seperti ini, masih banyak orang yang akan menghargai dan menyayangi yang mulia." Ujar Choi kang cool sambil memandang selir agung dengan tatapan yang intens dan sulit diartikan.
Choi ji woon tampak antusias dengan ajakan kakanya, namun selir agung tampak ragu dengan ajakan yang diberikan oleh Choi kang cool. Namun bujukan dari Choi ji woon membuat selir agung menyetujui ajakan dari Choi kang cool untuk ikut berjalan - jalan dengan mereka.
__ADS_1