
Kini mereka bertiga sudah berada di depan rumah Park bo geum. Lebih tepatnya gubuk kecil karena tempat itu benar - benar hanya sebuah gubug beratapan jerami. Hati Rani berdesir tatkala melihat rumah Park bo geum yang tak layak di sebut rumah.
Apalagi waktu Rani mulai masuk kedalam rumah Park bo geum, hati Rani mulai merasa sakit. Dilihatnya isi rumah itu, yang hanya berbentuk kotak berukuran kecil. Yang hanya muat untuk tidur saja, dan tidak ada perabot yang mencolok didalamnya. Hanya ada futon untuk mereka tidur dan satu lemari kecil.
Rani dan raja duduk bersebelahan di dalam rumah, sambil menunggu Park bo geum memanggil ibunya. Karena waktu mereka sampai, ibu Park bo geum sedang tidak ada dirumah.
Terdengar suara kaki mendekat, Rani dan rajapun menoleh kearah pintu. Dilihatnya sosok wanita yang usianya masih cukup muda mungkin sekitar tigapuluh tahunan. Wanita itu tampak mengenakan hanbook yang sudah cukup usang dan sedang menggendong bayi lebih tepatnya balita yang berumur delapan bulanan. Tampak Park bo geum menyusul dari arah belakang dan berdiri di samping wanita itu.
" Ibu perkenalkan mereka tuan dan nona yang tadi menolongku saat aku ketahuan mencuri beras di kediaman perdana mentri choi." Ucap Park bo geum kepada wanita itu.
Wanita itu berjalan menghampiri Rani dan juga raja, kemudian ia memberi hormat. Dan mengucapkan terimakasih karena sudah menolong anaknya.
" Bo geum, kenapa kau mencuri ditempat perdana mentri choi? Bukankah ibu sudah melarangmu?" Tanya ibu Park bo geum kepada anaknya dengan muka yang sedikit kesal namun juga nampak khawatir.
" Maafkan aku ibu, aku sudah sangat lapar. Sudah tiga hari aku tidak makan, apa salahnya jika aku mencuri sedikit beras dari rumah orang kaya yang rakus." Jawab Bo geum sakenanya sambil mengusap perutnya yang lapar.
" Biarpun kita kelaparan, tetap saja tidak boleh seperti itu." Ujar ibu Park bo geum melirik tajam keanaknya.
" Sudahlah lebih baik sekarang ibu memasak saja, tadi sudah saya belikan beras. Kasihan Bo geum dia sudah kelaparan." Ujar Rani menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
Ibu Park bo geum langsung mengalihkan pandangannya ke Rani. Terlihat dengan jelas buih air mata yang nampak menumpuk di pelupuk mata ibu Park bo geum.
Ibu Park bo geum langsung bersujud di kaki Rani, ia benar - benar sangat berterimakasih karena Rani sudah mau menolong keluarga mereka. Rani sebenarnya sedikit terkejut dengan reaksi ibu Park bo geum yang langsung bersujud kepadanya setelah tau bahwa Rani telah memberikan mereka beras.
Pasti wanita itu begitu kesulitan, harus merawat kedua anaknya seorang diri. Karena Rani tau waktu perjalanan menuju rumah Park bo geum. Park bo geum sempat bercerita bahwa ia hanya tinggal bersama dengan ibu dan adiknya saja, karena ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Raja yang melihat itu seakan teiris, dan merasa bahwa sebagai seorang penguasa ia telah gagal. Bagaimana mungkin ada rakyatnya yang hidup menderita, bahkan untuk membeli beras saja mereka tidak mampu. Tetapi ia tidak mengetahuinya.
Selama ini raja padahal selalu melakukan kebijakan - kebijakan untuk mensejahterahkan rakyatnya. Ia bahkan bekerja dari pagi sampai malam, ia selalu menyempatkan untuk membaca petisi - petisi yang berasal dari keluhan para rakyatnya. Ia bahkan sering menyamar untuk mengecek keadaan rakyatnya secara langsung. Tetapi ternyata belum semuanya ia ketahui, masih banyak rakyat biasa yang hidup menderita dibawah kepemimpinannya.
Dan penyebabnya adalah kerakusan para bangsawan. Mereka selalu punya cara untuk hidup lebih nyaman dengan menindas rakyat biasa. Dan menutupi kebusukan mereka dari sang penguasa yaitu raja.
Rani mengelus pundak ibu Park bo geum, dan memintanya untuk berdiri. Rani mengatakan ibu Park bo geum tidak perlu bersujud kepadanya hanya karena ia membelikan sekarung beras.
" Berdirilah nyonya! anda tidak perlu bersujud kepadaku seperti ini, hanya karena aku membelikan sekarung beras untuk keluargamu. Ini sudah menjadi kewajiban kami sebagai sesama manusia bukankah kita harus tolong menolong."
" Terimakasih nona, anda baik sekali. Saya benar - benar bersyukur bisa bertemu dengan kalian." Ucap Ibu Park bo geum yang sudah duduk didepan Rani, sambil mengusap air matanya.
" Kalo boleh tau, nama nyonya siapa ya? Agar aku lebih mudah untuk memanggil nyonya." Tanya Rani.
" Nama saya Shin min ah nona, dan ini anak hamba yang kedua bernama Park jimin." Ibu Park bo geum memperkenalkan diri dan juga anaknya.
Rani nampak terkejut, sewaktu Ibu Park bo geum memperkenalkan anak keduanya kepada dirinya. Pasalnya balita itu tampak kurus dan perutnya membuncit seperti kekurangan gizi. Tanpa terasa Rani meneteskan airmata saat melihat keadaan Park jimin. Sungguh memprihatinkan.
Raja yang melihat Rani meneteskan airmatanyapun merasa terenyuh. Ternyata permaisurinya memiliki hati yang lembut, satu fakta yang raja baru ketahui tentang permaisurinya. Raja sedikit menyunggingkan bibirnya sambil memperhatikan Rani.
" Nyonya kenapa Park jimin keadaanya bisa seperti ini?" Tanya Rani penasaran.
" Ini semua karena perekonomian keluarga kami yang buruk nona. Semenjak suami saya meninggal, Saya hanya bekerja serabutan dipasar, menawarkan jasa untuk membawakan barang belanjaan para bangsawan. Namun kebanyakan bangsawan yang datang kepasar, pasti mereka telah membawa pelayan mereka. Dan itu membuat saya hanya memiliki penghasilan yang sedikit, sementara harga sembako semakin mahal. Akhirnya saya tidak mampu untuk membeli kebutuhan pokok, dan membuat kami harus menahan lapar berhari - hari."
" Ayah mereka meninggal saat saya sedang hamil muda, karena terbiasa menahan lapar itu berdampak pada kondisi perkembangan Jimin. Saat ia lahir bobotnya tidak seperti bayi pada umumnya, tubuhnya kecil. Dan asi saya juga tidak keluar, karena saya jarang makan. Hingga akhirnya tubuh Jimin jadi seperti ini." Jelas nyonya Shin min ah.
__ADS_1
Airmata Rani takhenti - hentinya bercucuran dan itu cukup deras, tatkala nyonya Sin min ah menceritakan perihal kisah hidupnya bersama anak - anaknya dan juga kondisi Park jimin. Sementara raja hanya terdiam dan tak tau arti dari ekspesinya, yang jelas dari sorot matanya seakan sendu.
" Mohon maaf nona, jika cerita hamba membuat nona kurang nyaman."
" Tidak, tidak sama sekali." Rani buru - buru menghapus airmatanya lagi. " Aku tidak menyangka ternyata nyonya sudah mengalami hal yang begitu sulit, semoga nyonya selalu bersabar dan terus berjuang demi anak - anak nyonya. Aku yakin suatu hari nanti nyonya bisa hidup lebih layak dan berkecukupan bersama dengan anak - anak nyonya."
" Untuk kebutuhan gizi Jimin, sepertinya aku memiliki solusinya nyonya, apa nyonya ingin mengetahuinya?" Tanya Rani yang ingin memberikan solusi.
" Apa itu nona?"
" Berhubung asi nyonya tidak keluar, nyonya bisa menggantinya dengan susu sapi, namun jika nyonya tidak mampu untuk membeli susu sapi, nyonya bisa juga menggantinya dengan susu kedelai."
" Susu kedelai?" Ucap nyonya Sin min ah nampak bingung, pasalnya baru kali ini ia mendengar ada susu kedelai.
Raja juga tampak bingung dengan ucapan permaisurinya, karena raja juga baru mendengar tentang susu kedelai. Raja menaikan satu alisnya dan menunggu ucapan permaisuri selanjutnya.
" Iya susu kedelai, nyonya bisa membuatnya sendiri. Dan nilai gizinya juga tidak kalah dengan susu sapi." Jelas Rani.
Raja tidak menyangka, kalo permaisurinya memiliki pengetahuan yang cukup luas soal gizi.
" Tapi saya tidak bisa membuatnya nona."
" Tidak masalah, nanti saya ajari. Ini ada beberapa koin, sekarang nyonya lebih baik beli satu karung kedelai untuk persediaan dan beberapa bahan makanan. Park jimin biar aku yang menjaganya." Usul Rani sambil menyodorkan kantong kecil berisikan koin yeopjeon.
" Nona saya harus apa, untuk membalas kebaikan nona?" Tanya nyonya Sin min ah yang merasa terharu dengan kebaikan Rani dan menerima kantong kecil yang Rani berikan.
Namun Rani hanya tersenyum mendengar ucapan nona Shin min ah.
Sedangkan Rani keluar rumah dan menuju halaman untuk memasak nasi, Karena dapur milik Park bo geum ada di luar rumah dan itupun hanya menggunakan batu yang disusun untuk di jadikan perapian.
Raja tersenyum bahagia tatkala ia sedang menggendong Park jimin, dan sesekali melihat permaisuri yang tengah sibuk memasak nasi. " Sudah seperti keluarga sungguhan." batin raja.
Satu jam kemudian nyonya Sin min ah pulang dengan membawa satu karung berukuran sedang kedelai, sayur mayur, bumbu dapur, dan berbagai jenis bahan makanan lainya, ada telur, daging dan juga ikan. Karena selama ini mereka tidak pernah memakan daging serta ikan, makanya kali ini nyonya Sin min ah membelinya.
Rani mengajarkan cara membuat susu kedelai kepada nyonya Sin min ah, dan berbagai menu masakan lainya yang menggunakan bahan dasar yang murah namun tetap enak rasanya, dan bergizi tentunya seperti nasi goreng, tumis sayur, lodeh, sop, balado telor dan masih banyak menu lainya.
Setelah selesai memasak merekapun akhirnya makan bersama, Park bo geum tampak lahap sekali makannya. Sudah lama ia tidak makan seenak ini. Nyonya Sin min ah juga memuji masakan Rani yang begitu enak. Hingga tak terasa makanan dihadapan mereka sudah habis tak tersisa.
" Nyonya apa disini ada kuas dan kertas?" Tanya Rani.
" Mohon maaf, untuk apa nona?" Jawab nyonya Sin min ah tampak bingung.
" Itu aku akan menuliskan berbagai resep makanan, yang bisa nyonya coba untuk memasaknya."
" Maaf nona disini tidak ada kuas dan kertas, dan kami juga tidak bisa membaca." Jelas nyonya Shin min ah.
Mendengar penuturan nyonya Shin min ah, Rani tersadar bahwa di jaman ini pendidikan hanya bisa di pelajari oleh para bangsawan. Disini sistem kasta masih sangat kental. Rani jadi merasa sedih.
Akhirnya Rani dan raja memutuskan untuk pamit, karena hari sudah sore, takut jika nanti mereka pulang kemalaman. Namun nyonya Sin min ah mencegah mereka berdua, karena ada yang ingin ia tanyakan.
" Nona boleh saya mengetahui siapa nama nona dan tuan, dan berasal dari keluarga manakah? Agar suatu saat saya bisa membalas kebaikan kalian berdua."
__ADS_1
" Namaku Kim so hee, dan ini Lee kang joon dia?" Rani menjeda ucapannya karena bingung harus memperkenalkan raja sebagai siapa, masa iya? Rani memperkenalkan raja sebagai suaminya bisa besar kepala nanti.
Karena hubungan mereka yang membingungkan, membuat Rani tak tau harus memperkenalkan raja sebagai apa. Dibilang suami, tapi hubungan mereka tidak seperti suami dan istri. Jika dibilang bukan tapi kenyataanya memang raja adalah suaminya yang sah. Tau ah pusing.
" Aku Lee kang joon, aku suaminya. Kami dari keluarga Lee." Sela raja.
Nyonya Sin min ah mengangguk paham, " Saya pasti akan mengingat kebaikan tuan dan nona." Ucap nyonya Sin min ah.
Namun entah mengapa seperti ada yang mengganjal dan terasa aneh menurut nyonya Sin min ah. " Keluarga Lee, kenapa sepertinya tidak asing?"
Nyonya Sin min ah, mencoba mengingat - ingat. " Omo, aigoo - aigoo." Teriak nyonya Sin min ah nampak terkejut begitu mengingat tentang marga Lee.
Nyonya Sin min ah menelan salivanya kasar, menerka - nerka apa benar atau tidak yang ada didalam pikirkan itu. Dengan sedikit gugup akhirnya nyonya Sin min ah memberanikan diri untuk bertanya.
" Tuan, keluarga Lee yang anda maksud apakah itu keluarga kerajaan?"
Raja mengangguk membenarkan ucapan nyonya Sin min ah.
Seketika nyonya Sin min ah merasa lemas seakan nyawanya telah dicabut oleh malaikat Izrail. Karena yang ia tau nama Lee kang joon adalah nama raja di kerajaan joseon ini. Berarti nona yang sedari tadi mengobrol dengannya adalah permaisuri kerajaan ini.
Nyonya Sin min ah langsung berlutut dan juga menyuruh Park bo geum yang berada di sebelahnya berlutut.
" Ampuni hamba yang mulia, yang tidak mengenali anda." Ucap nyonya Sin min ah sambil berlutut.
Rani langsung menarik nyonya Sin min ah, agar tidak berlutut lagi. " Sudah tidak apa - apa nyonya, tapi tolong rahasiakan identitas kami dari warga sekitar. Soalnya kami sedang menyamar." Jelas Rani.
" Baik - baik yang mulia." Jawab nona Shin min ah.
" Baiklah, kami pulang dulu. Takut nanti kemalaman, besok - besok aku akan mengunjungi kalian lagi." Pamit Rani.
Rani dan rajapun pergi meninggalkan rumah Park bo geum. Dan bergegas pergi menuju tempat raja meninggalkan kudanya.
Rani dan raja akhirnya sampai di tempat raja meninggalkan kudanya. Disana terlihat seekor kuda berwarna hitam dan bertubuh gagah dan lumayan besar. Raja mengambil kuda miliknya dan menuntunnya kearah permaisuri.
" Permaisuri, bisakah kau menunggang kuda?" Tanya raja kepada Rani.
Rani menggelengkan kepalanya, Jangankan menunggang kuda, naik delman saja itu terakhir waktu Rani Tk. Rani tampak sedikit takut melihat kuda raja yang terlihat sedikit galak.
Melihat wajah Rani yang tampak takut, raja mencoba menenangkan Rani, dengan menyuruhnya untuk mengelus kuda miliknya. Setelah Rani terlihat sedikit lebih tenang, rajapun naik keatas kuda dan mengajak Rani juga untuk naik.
Jelas Rani tidak mau, ia takut. Rajapun akhirnya kembali turun dan meyakinkan Rani bahwa semuanya akan baik - baik saja. Rani cukup percaya saja dengan raja.
" Ayolah permaisuri, aku jamin ini aman. Jika kau terus seperti ini, yang ada nanti kita sampai diistana sudah malam. Apa kau mau ibusuri dan para dayangmu mengkhawatirkanmu?" Raja mencoba meyakinkan permaisuri.
Mau tidak mau akhirnya Ranipun setuju dan dibantu raja untuk naik keatas kuda. Setelah Rani naik, sekarang giliran raja juga ikut naik keatas kuda. Tangan raja memegang tali kuda yang ada di depan tubuh Rani, hingga terlihat raja seakan sedang memeluk tubuh Rani dari belakang.
Posisi duduk yang sangat dekat, terlebih dengan posisi tangan raja yang melingkar di tubuhnya, membuat jantung Rani berdetak tak karuan. Rona merah kentara sekali dipipi Rani, untung saja dengan posisinya yang seperti ini, membuat raja tidak bisa melihat rona pipi Rani. Kalo sampai raja tau, bisa tambah malu Rani.
Rani terus berusaha agar ia terlihat biasa saja, Rani terus mensugesti bahwa ini sama saja dengan ia sedang naik ojek online. Seperti biasa yang ia lakukan sehabis pulang dari kampus, cuma posisinya aja yang berubah, jika naik ojek online Rani akan duduk di belakang namun sekarang ia harus duduk didepan.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA maaf jika masih banyak tipo 🙏🤗
__ADS_1