
Selesai dengan mini konser V bts ala pangeran Lee, kini giliran Rani untuk menepati janjinya kepada pangeran Lee untuk membuatkannya makanan yang enak.
Sudah tersaji ayam goreng di atas meja, komplit dengan lalapan serta sambal tentunya. Tersedia juga mangkok berisi air kobokan. Rani juga mengajak dayang utama Park dan Go jang mi untuk ikut bergabung dan makan bersama dengan mereka.
Awalnya dayang utama Park dan juga Go jang mi menolak ajakan Rani, karena merasa tidak enak dengan pangeran Lee. Namun diluar dugaan, ternyata pangeran Lee malah justru menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Pangeran Lee justru merasa senang, bisa makan dengan suasana yang cair seperti ini, sungguh sangat nyaman. Pangeran Lee tidak pernah menyangka bahwa permaisuri memperlakukan dayangnya dengan sangat baik, bukan seperti dayang pada umumnya, namun justru seperti keluarga. Dan itu semua dapat pangeran Lee rasakan dari interaksi mereka yang sangat hangat.
Pangeran Lee yang kelelahan karena habis melakukan konser dadakan, sehingga sangat merasa haus, kemudian dilihatnya mangkok berisi air di meja makan miliknya. Tanpa pikir panjang pangeran Lee segera mengambil mangkok itu, dan meminum airnya sampai habis.
" Aaah, lega." Desah pangeran Lee yang merasa plong karena berhasil menyingkirkan rasa haus yang melanda tenggorokannya.
Pangeran Lee pun kini kembali menatap meja makan miliknya, pangeran Lee sedang tampak kebingungan. Seperti sedang mencari sesuatu, namun sepertinya benda yang sedang pangeran cari tidak ada.
Permaisuri yang melihat pangeran Lee tampak kebingunganpun, mencoba mencari tau apa yang sedang pangeran Lee cari.
" Pangeran, kau tampak sedang kebingungan. Apa yang sedang kau cari?"
" Aku hanya sedang mencari sumpit, sepertinya kaka lupa menaruh sumpit di mejaku." Jawab pangeran Lee polos.
Rani yang mendengar jawaban pangeran Lee pun tersenyum. " Aku memang sengaja tidak memberimu sumpit pangeran Lee, karena cara memakan makanan ini memang tidak menggunakan sumpit, tapi ini." Ujar Rani sambil mengangkat tangannya.
Pangeran Lee jelas semakin bingung dengan penuturan permaisuri. " Apakah yang kaka maksud menggunakan ini itu, menggunakan tangan?" Tanya pangeran Lee ragu - ragu, sambil menirukan yang permaisuri lakukan, dan melirik kearah tangannya.
" Yup, benar sekali."
Pangeran Lee merasa terkejut dengan jawaban permaisuri, pasalnya ia tak pernah makan menggunakan tangan langsung.
" Bukankah itu kotor permaisuri?"
" Memang iya kotor, kalo kita tidak mencuci tangan terlebih dahulu. Makanya aku sudah menyediakan air kobokan untuk kita mencuci tangan kita dahulu, sebelum kita makan." Jelas Rani sambil menunjuk ke arah mangkok yang berisi air dengan dagunya.
Seketika pangeran Lee langsung mengalihkan pandangannya kearah mangkok yang ada di meja miliknya, yang kini mangkok itu telah kosong. Karena airnya sudah pangeran Lee minum.
" Andwae, bagamana ini ka? Aku sudah meminum air dalam mangkok itu." Ucap pangeran Lee yang tampak Syok.
Mendengar ucapan pangeran Lee, membuat Rani tertawa terpingkal - pingkal sampai perutnya sakit dan matanya sedikit mengeluarkan air mata. Sedangkan dayang utama Park dan Go jang mi hanya keheranan saja melihat dua orang yang sedang menunjukan ekspresi yang berbeda.
" Apakah itu akan membuat ku sakit perut? Karena aku sudah meminum air untuk cuci tangan?" Tanya pangeran Lee yang kini sudah mulai merasa panik.
Rani yang mendengar kekhawatiran pangeran Lee pun, mulai mengurangi tawanya walaupun bibirnya masih belum bisa berhenti untuk tidak tersenyum. Rani berusaha keras untuk menahan tawanya agar tidak kembali meledak. Dan mencoba menatralkan suaranya.
" Hmmmm." Rani berdehem.
" Kau tenang saja, perutmu aman pangeran Lee. Bukankah air yang kau minum masih bersih? Belum digunakan untuk mencuci tangan." Ucap Rani yang masih dengan menahan senyum.
" Huuuuh." Pangeran Lee bernafas lega mendengar penjelasan dari permaisuri sambil mengusap dadanya.
Mukanya yang tadinya tampak tegang, kini perlahan mulai normal kembali. " Syukurlah tadinya aku merasa takut sekali, kan nggak lucu kalo pangeran Lee jong hoon yang terkenal tampan dan juga berkarismatik ini, sakit perut gara - gara salah minum air kobokan."
" Ck." Rani berdecit mulai merasa jengah dengan kenarsisan pangeran Lee.
" Sepertinya kau memang baik - baik saja pangeran, karena sifat narsismu sudah kembali."
" Lalu bagaimana cara kita memakannya yang mulia?" Tanya Go jang mi penasaran.
" Pertama - tama kita mencuci tangan kita terlebih dahulu ke air yang ada di mangkok. Kemudian kita ambil ayam gorengnya sedikit kita kasih di atas nasi dan juga sayur kita ambil sedikit, lalu kita cocol dengan sambal dan masukan kemulut kita." Ujar Rani yang menjelaskan cara memakan ayam goreng sambil mempraktekannya.
Dayang utama Park dan juga Go jang mi sudah mulai mempraktekan penjelasan dari permaisuri. Mereka sangat terkejut saat mereka mengunyah makanan itu, benar - benar rasa yang tidak pernah mereka makan sebelumnya.
" Bagaimana enak?" Tanya permaisuri kekedua dayang setianya.
Go jang mi mengangguk pelan, karena masih mengunyah makanan di mulutnya. Kemudian buru - buru ia telan untuk menjawab pertanyaan permaisuri.
" Permaisuri, makanan buatan permaisuri memang selalu juara. Ini beneran enak sekali yang mulia."
__ADS_1
" Benar yang mulia, masakan yang mulia pasti selalu enak dan tidak pernah mengecewakan." Saut dayang utama Park.
" Hey, kalian tidak usah pamer dihadapanku. Sekarang ini bagaimana caranya agar aku bisa makan, perutku sudah keroncongan minta diisi. Sementara sudah tidak ada air untukku mencuci tangan." Teriak pangeran Lee yang merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.
Permaisuri dan kedua dayangnyapun, cekikikan melihat wajah pangeran Lee yang sedang kesal, karena menurut mereka benar - benar menggemaskan.
Ranipun segera meminta dayang yang berjaga didepan pintu ruangannya untuk mengambilkan air dengan mangkok untuk pangeran Lee. Setelah air kobokan pangeran Lee tiba, dengan antusias pangeran Lee langsung mencuci tangannya dan mulai memakan makanannya dengan cara yang sudah permaisuri ajarkan. Mereka berempatpun akhirnya makan bersama dengan lahap. Dan tawa gembira saat menikmati makanan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini permaisuri berniat berkunjung ke kediaman ibu suri, karena sudah cukup lama permaisuri tidak datang berkunjung, permaisuri berniat datang untuk sekedar menanyakan kabar ibu suri.
Kedatangan permaisuri disambut gembira oleh ibu suri. Karena biasanya permaisuri tidak akan berkunjung jika tidak beliau suruh untuk datang menemuinya.
Kepribadian Kim so hee yang tertutup, sebenarnya yang membuat Kim so hee dulu jarang menemui ibusuri. Karena Kim so hee yang tidak terlalu pandai berbicara dan berbohong, merasa takut jika kalo dia menemui ibu suri, malah akan membongkar perlakuan selir agung yang kerap menindasnya. Kim so hee tidak mau jika orang - orang terdekatnya menghawatirkan dirinya, jika mereka mengetahuinya.
Permaisuri memberi hormat kepada ibu suri, kemudian duduk. " Yang mulia hamba datang berkunjung, ingin mengetahui kabar ibu suri, Apakah ibu suri baik - baik saja?"
" Aku baik - baik saja permaisuri, terimakasih karena kau sudah mengkhawatirkanku."
" Ini hamba membawakan makanan ringan untuk ibu suri, semoga ibu suri menyukainya." Rani menyodorkan bingkisan berbentuk kotak yang dibalut dengan kain.
" Apa ini permaisuri?"
" Ini adalah kue bronis, yang mulia." Ucap permaisuri sambil menunjuk kearah kotak yang tengah dibuka oleh dayang ibusuri.
Mata ibu suri tampak berbinar saat melihat, kue berwarna coklat dan berbentuk kotak dihadapannya itu. Dan langsung meminta dayang Jung, dayang setia ibu suri untuk segera memotongnya dan memberikan padanya. Karena ibu suri sudah tidak sabar untuk mencicipinya.
Ibu suri menyendokan kue bronis itu kemulutnya. " Hmmm, ini benar - benar enak sekali permaisuri. Begitu lembut dan juga manisnya sangat pas." Puji ibu suri.
" Bagaimana bisa kau begitu pandai memasak permaisuri? bukan hanya menu utama tapi juga pandai dalam membuat cemilan seperti ini?"
" Hamba tidak pandai yang mulia, hanya bisa saja. Masih banyak orang yang lebih pintar memasak dibanding hamba."
" Dan hamba memasak karena iseng saja, untuk membuang waktu hamba yang sedikit membosankan."
" Ku dengar permaisuri, habis keluar istana bersama baginda raja. Dan pulang dengan menaiki kuda bersama baginda. Apakah itu benar permaisuri?" Tanya ibu suri penasaran.
" Benar yang mulia, tapi hamba hanya tidak sengaja bertemu baginda diluar istana, dan akhirnya hamba pulang diantar beliau."
Mendengar jawaban permaisuri, ibusuri merasa senang. Mungkin ada harapan untuk mendekatkan permaisuri dengan raja. Selama ini ibu suri tau perlakuan raja terhadap permaisuri, yang tidak pernah menganggapnya ada.
Ibu suri juga tau tentang selir agung yang selalu menindas permaisuri, namun ibu suri diam saja seolah tidak mengetahuinya. Dikarenakan ibu suri tahu bahwa Kim so hee selalu berusaha untuk menutupinya dari dirinya.
Ibu suri bukan orang yang bodoh, jelas sekali banyak orang - orangnya yang selalu mengawasi pergerakan raja, permaisuri bahkan juga selir agung. Yang selalu akan melaporkan apa saja yang mereka lakukan kepada ibu suri.
Namun selama tidak ada hal yang membuat ibu suri harus turun tangan, ibu suri akan diam dan pura - pura tidak mengetahuinya. Bahkan ibu suri juga mengetahui bahwa raja sama sekali belum menyentuh selir agung, walaupun raja sering datang berkunjung dan bermalam dikediaman selir agung.
Ibu suri sangat marah ketika mengetahui permaisuri jatuh kedanau, bahkan sampai tidak sadarkan diri selama tiga hari. Ibu suri sudah bersiap akan mengusir selir agung dari istana jika sampai terjadi apa - apa dengan permaisuri. Namun ibu suri urungkan akibat saran dari dayang Jung untuk tidak gegabah dan menunggu waktu yang tepat, sampai kebusukan selir agung terbongkar.
Ibu suri menyodorkan sebuah gulungan dan meminta permaisuri untuk mengantarnya kekediaman raja. Ibu suri sengaja melakukan itu untuk mendekatkan raja dan juga permaisuri. Dengan terpaksa permaisuri menerima gulungan itu. Dan pamit undur diri.
Setelah kepergian permaisuri, ibu suri melanjutkan kembali aksinya dalam menyantap kue bronis yang dibuat oleh permaisuri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya dikediaman raja, permaisuri tampak ragu untuk masuk kedalam kediaman raja.
" Kenapa ibu suri memintaku untuk mengantarkan gulungan ini kepada raja sih? kenapa nggak nyuruh dayang aja? Kan aku yang repot jadinya."
Rani menelan salivanya karena gugup, setelah memantapkan hati, Rani meminta dayang yang berjaga diistana raja untuk mengumumkan kedatangannya.
Setelah mendapat izin dari raja, Ranipun masuk kedalam ruangan raja. Ruangan raja tampak sangat asing bagi Rani, mungkin ini pertama kalinya Kim so hee menginjakan kakinya ke tempat ini. Rani berjalan kearah raja lalu memberi hormat, dan kemudian Ranipun duduk setelah raja mempersilahkannya.
" Ada apa permaisuri? Apakah ada sesuatu yang penting, sampai kau datang kekediamanku?" Tanya raja tanpa melihat kearah permaisuri, dan masih fokus membolak - balikan buku yang tengah ia pegang.
__ADS_1
" Ini hamba diutus oleh ibu suri untuk memberikan ini kepada yang mulia." Ujar Rani sambil memberikan gulungan yang ia bawa.
Raja menaruh buku yang ia pegang keatas meja, kemudian menerima gulungan yang permaisuri berikan, lalu membacanya. Rasa penasaran permaisuri akan isi pesan dari gulungan itu, membuat permaisuri melirik kearah raja. Berharap bisa melihat sedikit, isi pesan itu. Namun sayangnya permaisuri sama sekali tidak bisa mengetahui isi pesan dari gulungan itu. Setelah selesai membaca, raja menggulungnya kembali kemudian menaruhnya diatas meja.
" Terimakasih permaisuri, aku sudah membacanya." Ucap raja datar.
Dengan berat hati, permaisuri harus merelakan tentang rasa penasarannya akan isi pesan dari gulungan itu, dan hendak pamit. Namun ternyata raja malah menahannya, dan meminta permaisuri untuk membantunya mencari buku laporan pajak yang akan raja baca, namun malah hilang.
Dan kini permaisuri tengah mencari buku itu, di tumpukan buku - buku yang ada di sebelah meja raja. Ternyata banyak sekali buku dan gulungan yang tergeletak dilantai ruangan raja. Dan permaisuri baru menyadarinya, karena terhalang meja raja.
" Kenapa bisa ada buku dan gulungan sebanyak ini di sini yang mulia?" Tanya Rani yang mulai kesal karena tidak kunjung menemukan buku yang dimaksud raja.
" Iya soalnya hari ini aku lagi malas datang ke aula kerajaan, makanya aku meminta kasim Jang agar membawakan pekerjaanku kesini." Jawab raja sambil berjalan mendekat kearah permaisuri.
" Kenapa juga harus malas? bukankah itu memang sudah kewajiban yang mulia?" Tanya Rani lagi, yang masih mencari buku yang raja minta.
" Aku lagi malas aja bertemu dan melihat orang - orang yang bermuka dua dan suka menjilat raja. Apa lagi jika harus berdebat dengan mereka setiap hari, sungguh melelahkan." Ucap raja yang tiba - tiba menyenderkan kepalanya di bahu permaisuri dari belakang.
Jelas tindakan raja itu membuat Rani kaget, Segera Rani ingin menghindar dan menepis raja. Namun Rani urungkan karena mendengar suara raja yang berat.
" Sebentar saja, biarkan seperti ini. Sebentar saja permaisuri."
Rani diam mematung, tak tau harus berbuat apa. Jujur ini kedua kalinya ia berjarak sedekat ini dengan raja, setelah ditoko buku kemarin. Jantung Rani kembali berdegup kencang saat berada didekat raja, suhu tubuh Rani juga seakan meningkat.
Rani berfikir bahwa tidak seharusnya seperti ini, kalo dibiarin bisa baper nanti. Dan tidak baik juga buat kesehatan jantung Rani yang terus berlari maraton. Karena jantung Rani juga perlu istirahat asal jangan istirahat untuk selamanya. Bisa gawat.
Tapi bagaimana Rani harus mengatakannya pada raja, sedangkan raja terlihat sangat nyaman sekali, dan entah mengapa itu membuat Rani tidak tega untuk melarangnya atau menegurnya.
Selang beberapa menit, raja mengangkat kepalanya dari bahu Rani, dan Ranipun merasa lega.
" Apa kau sudah menemukan bukunya permaisuri?" Tanya raja seakan tanpa dosa.
" Bagaimana hamba bisa menemukannya, kalo baginda saja dari tadi nyender dibahu hamba." Ketus Rani.
Raja tersenyum, " Mau aku bantu mencarinya permaisuri?" Tawar raja.
" Nah gitu dong, jelas bolehlah. Kalo berdua yang nyarikan lebih cepet ketemunya."
Mereka berdua pun kompak mencari - cari buku itu bersama - sama. Hingga cukup lama meraka mencari tetap tidak ketemu, sampai kaki Rani kesemutan.
Rani mencoba berdiri, untuk menggerakan kakinya agar kesemutan yang ia rasakan cepat menghilang. Namun sial, saat hendak berdiri malah kakinya oleng dan kemudian hendak terjatuh.
Raja yang ada di sebelah permaisuri mencoba menangkap permaisuri, namun gagal hingga akhirnya mereka berdua terjerembab bersama. Dengan posisi permaisuri dibawah sedangkan raja berada diatas tubuh permaisuri.
Raja dan permaisuri tampak kaget dengan posisi mereka yang ambigu itu, belum selesai dengan keterkejutan yang membuat mereka salah tingkah, malah mereka kembali dikejutkan saat tiba - tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan raja.
Permaisuri dan raja menelan ludah mereka masing - masing dan menengok ke arah pintu. Betapa kagetnya mereka saat Kasim Jang dan So joon memergoki mereka berdua dalam keadaan yang absurd. Membuat orang yang melihatnya pasti salah mengira bahwa mereka sedang iya - iya.
Raja segera bangun dari posisinya dan membantu permaisuri.
" Kalian jangan salah paham, tadi tuh kami terjatuh. Jangan berfikir yang macam - macam." Jelas Rani sambil menutupi rasa malunya.
" Baik yang mulia, kami tidak salah paham." Jawab Kasim Jang sambil nyengir kuda.
Sedangkan So joon hanya mengangguk pelan.
" Hamba pamit undur diri yang mulia, buku pajak yang baginda cari, biar mereka saja yang membantu baginda mencarinya." Ucap Rani lalu langsung kabur.
Raja tersenyum melihat permaisuri yang salah tingkah dan malu itu.
" Buku apa yang mulia? Biar hamba bantu mencarikannya?" Kasim Jang menawarkan diri untuk membantu raja.
" Tidak perlu, bukunya sudah ketemu." Ujar raja sambil mengambil buku di bawah futon miliknya.
Gimana bagus nggak? Aku nggak pandai buat adegan romantis. Mohon dimaklumi baru belajar. Dan buat yang bilang ko ceritanya ngulang, jadi aku jelasin ya? Sengaja aku buat raja lagi mikirin masalalu dia dengan permaisuri dan menurut sudut pandang raja gitu. Kalo kita lihat dari sudut pandang permaisuri kan taunya raja cinta mati sama selirnya makanya raja telantarin permaisuri. Padahal dari sudut pandang raja, raja tuh menghindar dari permaisuri karena udah suka dari pandangan pertama sama permaisuri dan takut kalo dia malah nyakitin hati selir agung karena raja sudah berjanji nggak akan mengkhianati cinta mereka. Penyesalan raja adalah menolak perjodohan dengan permaisuri padahal belum melihat orangnya dan malah ngajuin persyaratan bodoh yaitu mau dijodohkan asal ibu suri dan raja terdahulu ngerestuin hubungannya dengan selir agung.
__ADS_1
Jangan lupa Like & Komen 🙏🤗