
Setelah dirasa aman, raja dan permaisuripun keluar dari toko buku. Kini mereka tengah berjalan menuju sebuah kedai makanan yang cukup sederhana. Sesampainya disana, mereka berdua mengamati kesemua penjuru kedai untuk mencari tempat duduk. Namun sangat di sayangkan, bahwa mereka tidak kebagian tempat untuk duduk. Karena kedai tersebut sangat ramai pengunjung, kemudian saat Rani mengatakan kepada raja agar mencari kedai lain saja, tiba - tiba ada seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka.
" Tuan Kang joon, selamat datang." Sapa wanita paruh baya tersebut sambil membungkuk memberi hormat.
Rani tampak kaget dan mengerutkan dahi, mendengar sapaan wanita paruh baya itu kepada raja.
Raja mengangguk menerima hormat. " Kabarku sangat baik, sepertinya kedaimu sangat ramai hari ini?" Tanya raja balik kepada wanita itu.
" Benar tuan, ini semua karena kedai kami sedang mengeluarkan menu khusus untuk musim panas tuan. Jadi banyak orang berdatangan untuk menikmatinya tuan." Jawab wanita itu dengan senyum yang ramah.
" Sayang sekali padahal aku ingin mengajak istriku untuk makan makanan dikedai milikmu nyonya." Keluh raja dengan memasang muka kecewa. Dan melirik kearah permaisuri yang berdiri di sebelahnya.
Rani makin dibuat bingung dengan ucapan raja yang memperkenalkan ia sebagai istrinya. Emang istrinya sih, bagaimana mungkin seorang laki - laki yang tak pernah menganggap dirinya sebagai seorang istri. Lebih tepatnya Kim so hee yang asli. Kemudian tanpa tau malu, kini ia mengenalkan Rani sebagai istrinya. Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kemudian wanita itu melihat kearah Rani, dan terkejut. " Omo, hamba tidak percaya istri tuan Kang joon adalah seorang bidadari. Anda sungguh cantik sekali nona." Puji wanita itu kemudian tersenyum.
" Khusus untuk tuan Kang joon dan nona, hamba akan memberikan tempat sepesial. Mari ikuti hamba!" Ajak wanita itu.
Dan kemudian mereka berjalan mengikuti langkah wanita itu, yang menuntun mereka sampai dibelakang kedai. Hingga akhirnya mereka melihat sebuah dipan yang terdapat meja kecil diatasnya, tepat di bawah pohon.
" Silahkan tuan dan nona bisa duduk disini." Wanita itu mempersilahkan. " Mohon maaf kalo tempatnya seadanya. Harap maklum, tempat ini memang bukan disediakan untuk pengunjung. Tempat ini biasa di gunakan untuk para pekerja beristirahat." Ujar wanita itu menjelaskan.
" Tidak apa - apa ini sudah lebih dari cukup nyonya." Jawab Rani ramah.
" Oh ya tuan dan nona ingin memesan apa?"
" Kami juga ingin memesan menu khusus untuk musim panas, seperti orang - orang itu. Aku pesan dua porsi." Jawab raja sambil mengangkat dua jarinya keatas.
" Baik tuan, hamba akan segera menyiapkannya." Ucap wanita itu kemudian undur diri.
Suasana sunyi namun sejuk karena semilir angin yang meniupkan angin keranting - ranting pohon membuat raja dan Rani yang duduk dibawahnya merasa nyaman. Namun mereka sedikit canggung. Karena mereka hanya duduk berdua, tatkala sedang menunggu pesanan mereka yang tak kunjung datang.
" Hmmm." Raja berdehem untuk mencairkan suasana. " Bagaimana bisa, permaisuri berada diluar istana seperti ini. Tanpa penjagaan dari para pengawal?" Tanya raja sambil menatap kearah permaisuri.
Rani menggaruk lehernya yang tidak gatal, dan membuang mukanya kesembarang arah untuk mengalihkan pandangannya dari raja yang terus menatapnya dengan penuh selidik.
Belum sempat Rani bersuara. " Ayo jawab permaisuri?" Suara raja sudah mengintrupsi Rani untuk menjawab pertanyaan yang raja berikan.
Rani memberikan cengirannya. " Hamba hanya merasa bosan saja, jika harus berada diistana terus yang mulia."
" Lalu kenapa kau tidak membawa pengawal serta dayang?"
" Hamba tidak mau terlihat mencolok jika harus membawa pengawal, namun hamba membawa dayang hamba kok."
" Cih." Raja berdecak. " Dayang apanya? Bukannya melindungimu mereka malah membongkar identitasmu dan membahayakanmu. Pokoknya sesampainya diistana aku akan segera menghukum mereka."
Rani membelalakan matanya mendengar ucapan raja. " Mohon jangan hukum mereka yang mulia, ini semua salah hamba. Hamba yang memaksa mereka untuk keluar istana tanpa pengawalan." Rani memohon kepada raja.
Rani yang biasanya berani melawan raja, namun kali ini nyalinya menjadi ciut, karena ia tidak mau kalo para dayangnya harus dihukum karena dirinya. Rani memang mengakui kalo kali ini ia yang bersalah. Makanya Rani tak melawan raja dan mengajaknya berdebat seperti biasa.
__ADS_1
Kemudian makanan pesanan merekapun akhirnya datang. Dua porsi mul-naengmyeon ( mie dingin dengan kuah daging sapi ) sudah tersedia dimeja mereka. Selepas pelayan yang mengantarkan makanan pergi meninggalkan meja raja dan Rani, suasana kembali menegang.
Rani menelan salivanya karena gugup dengan nasib kedua dayang setianya. Makanan enak yang tersaji dihadapannya sama sekali tidak membuat Rani nafsu makan. Melihat Rani yang masih terdiam dan tak menyantap makanannya rajapun menyodorkan sumpit kedepan wajah Rani.
" Makanan bukan untuk diliatin, tapi dimakan. Makan!" Seru raja.
" Gimana mau nafsu makan, kalo tau kedua dayang hamba akan mendapat hukuman." Gerutu Rani sambil memanyunkan bibirnya.
" Mereka mendapat hukuman, Bukankah itu semua karena mereka menuruti perintahmu permaisuri." Ucap raja sinis.
" Huuuh." Rani mendesah membuang nafasnnya kasar. Dan memasang muka murung.
" Kenapa permaisuri begitu peduli mereka akan mendapat hukuman? Bukankah mereka hanya seorang dayang?" Tanya raja sambil menaikan satu alisnya.
" Mereka sudah hamba anggap seperti keluarga hamba sendiri, yang mulia. Disaat hamba merasa sedih, senang, mereka selalu menemani hamba. Disaat ada orang yang mencoba memfitnah dan mencemooh hamba, merekalah orang garda terdepan yang akan membela hamba. Disaat ada orang yang ingin mencelakai hamba merekalah yang akan melindungi hamba dan rela mengorbankan segalanya untuk hamba. Tentu, hamba tidak ingin melihat mereka mendapat masalah dan dihukum karena hamba."
" Baiklah karena aku sedang berbaik hati, aku nggak akan menghukum mereka." Ucap raja sambil memandang wajah sendu permaisuri.
" Jinjja?" Tanya Rani tak percaya dengan yang ia dengar.
Raja hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan dari permaisurinya itu. Mata Rani langsung berbinar ia merasa sangat senang dan merasa lega karena kedua dayangnya tidak jadi dihukum.
Namun seketika ia langsung menekuk wajahnya kembali, saat menyadari sesuatu. Raja yang mengetahui perubahan wajah permaisuripun merasa heran.
" Waeyo? Bukankah seharusnya kau merasa senang sekarang? Karena aku sudah mencabut hukuman mereka."
" Bagaimana bisa senang, kalau hamba tidak tau, bagaimana nasib mereka sekarang? Setelah terpisah dengan hamba."
" Haaah, bukannya ini memang mie dingin ya? Lucu." Ucap Rani lalu menggelengkan kepalanya yang tak habis pikir dengan ucapan sang raja.
Mereka berduapun menikmati mie dingin itu dengan lahap dan hikmat. Hanya terdengar bunyi sruputan mie yang diiringi dengan hembusan angin. Dan sesekali Rani memuji rasa makanan yang tengah ia makan. Karena menurut Rani, makanan itu sangat enak dan menyegarkan. Memang pas dinikmati saat musim panas.
Raja dan Ranipun sudah selesai makan dan membayar makanan mereka. Mereka sudah bersiap akan meninggalkan kedai. Namun suara wanita pemilik kedai memberhentikan langkah kaki mereka.
" Maaf tuan dan nona, hamba hanya mau memberikan ini." Ucap wanita pemilik kedai sambil menyodorkan sebuah bingkisan kepada Rani.
Rani mengernyit bingung, " Apa ini nyonya?" Tanya Rani sambil menggoyangkan bingkisan yang sudah ia tenteng.
" Hmmm, itu samgyetang ( sup ayam utuh dengan rempah yang menyehatkan ) hadiah dari hamba untuk nona. Karena ini pertama kalinya tuan mengajak istrinya datang kekedai hamba. Biasanya tuan hanya mengajak rekannya saja." Jawab wanita pemilik kedai.
Rani yakin, kalo yang dimaksud oleh pemilik kedai pasti Park so joon. Rani tersenyum senang, " Terimakasih nyonya, pasti makanan ini sangat enak, seperti mie dingin yang aku makan tadi."
" Terimkasih nyonya, istriku memang sangat suka makan." Ucap raja sambil tersenyum jahil kearah permaisuri.
Rani langsung melirik kearah raja dengan tatapan tidak suka. Kepala Rani sekarang seakan ditumbuhi dua tanduk seperti iblis. Rasanya ingin sekali Rani menguncir bibir raja yang suka nyinyir itu.
" Raja kok mulutnya lemes."
Padahal tadi niat Rani sehabis dari kedai, ia akan mengucapkan terimakasih kepada raja, karena telah menyelamatkan dirinya dan membatalkan hukuman terhadap dayangnya. Namun sepertinya niat itu harus Rani urungkan karena merasa sebal dengan ucapan raja yang mengejeknya.
__ADS_1
Dari kedai, raja dan Rani berjalan - jalan, melihat - lihat pemukiman warga penduduk disekitar pasar. Itu semua kemauan Rani, yang penasaran dengan pemukiman warga di jaman joseon. Dengan alasan ingin jalan - jalan terlebih dahulu, sambil menurunkan makanan yang baru saja dimakan, Rajapun menuruti apa mau permaisuri.
" Yang mulia, boleh hamba bertanya?" Ucap Rani yang memecah keheningan.
Raja menghentikan langkah kakinya dan menghadap Rani, kemudian menganggukan kepalanya.
" Sepertinya bukan kali ini saja, yang mulia pergi keluar istana dan menyamar sebagai bangsawan? Bahkan yang mulia sepertinya sudah akrab dengan pemilik kedai tadi? Dan bagaimana bisa tadi yang mulia tiba - tiba berada di tempat pertunjukan dan menyelamatkan hamba?"
Akhirnya pertanyaan - pertanyaan yang sedari tadi membuat Rani penasaran, dan ingin sekali menanyakannya kepada raja sudah ia lontarkan.
" Benar aku memang sudah sering keluar istana dengan menyamar, dan kedai tadi, memang kedai langganan aku bersama So joon untuk makan, saat berada di luar istana. Dan bagaimana aku bisa ada di sana, karena aku tidak sengaja melihat seseorang yang sepertinya aku kenal, sedang asik berlari - lari kesana kemari di pasar seperti anak kecil, pergi tanpa pengawalan. Makanya aku memutuskan untuk mengikutinya karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ternyata yang aku khawatirkan benar adanya, orang itu berbuat onar dan memancing keributan di tempat pertunjukan." Jawab raja sambil menyindir permaisuri.
Rani memutar bola matanya jengah karena mendapat sindiran dari raja.
Memang sudah Rani duga, dari sejak pertama bertemu dengan raja diperpustakaan tadi. Rani yang melihat raja mengenakan pakaian biasa, pasti tengah menyamar untuk meninjau langsung kehidupan rakyatnya. Kaya didrama - drama yang seriang ia tonton.
" Iya hamba minta maaf yang mulia, omong - omong sepertinya nyonya pemilik kedai tadi, pasti tidak mengetahui identitas asli yang mulia ya? Melihat dari cara memanggil yang mulia, dengan sebutan tuan Kang joon." Tanya Rani lagi yang masih kepo.
" Tentu saja nyonya pemilik kedai tidak tau, kalau tau pasti dia akan pingsan. Karena mendapat tamu agung, yang bersedia makan makanan dikedainya." Jawab raja narsis.
Ranipun merasa jengah dengan kenarsisan raja satu ini. Hingga kemudian mata kecil Rani, tidak sengaja menangkap hal menarik yang membuatnya merasa takjub dan ingin menghampirinya.
Rajapun merasa heran dengan tingkah permaisuri yang tiba - tiba pergi meninggalkannya. Dengan segera raja menyusul langkah permaisuri. Hingga langkah mereka berdua berhenti di depan kediaman rumah warga, terlihat seorang pria paruh baya tengah melakukan atraksi membuat permen dengan berbagai bentuk lucu. Pria paruh baya itu tengah dikerubungi beberapa anak kecil yang hendak membeli permen buatannya. Mereka tampak sedang menunggu permen pesanan mereka jadi.
Mata Rani tampak berbinar - binar melihat pemandangan di depannya. Menyadari hal itu, kemudian raja menawari permaisuri.
" Apakah kau mau ppopgi?"
" Ppopgi?" Ulang Rani bingung.
" Iya, permen yang sedang dibuat itu namanya ppopgi." Jawab raja sambil menunjuk kearah permen berbentuk bulat, pipih dan ada gambar karakter ditengahnya, menggunakan dagunya.
" Oh namanya ppopgi." Rani langsung menganggukan kepalanya. " Iya mau."
" Tunggu sebentar, aku pesankan dulu!" Ucap raja memberi isyarat dengan mengangkat 5 jari tangannya.
Akhirnya ppopgi pesanan raja sudah jadi, raja memesan dua ppopgi. Kemudian raja menghampiri permaisuri dan memberikan satu ppopgi miliknya kepada permaisuri.
Sungguh hati Rani kali ini merasa sangat senang sekali, tidak sia - sia rasanya ia keluar istana. Senyum manis dari bibir Rani terus terpancar. Melihat itu, entah kenapa raja merasa ada yang berdesir menggelitik hatinya. Raja kemudian menyunggingkan bibirnya tatkala melihat tingkah Rani yang imut kala memakan ppopgi. Kemudian mereka berdua menikmati ppopgi sambil berjalan.
Raja lagi nyamar tetep cakep kan?😍🤫
Ciyee yang dibeliin ppopgi sama raja 😘🤗
Mohon maaf berhubung lebaran, mungkin untuk beberapa hari aku nggak bisa update dulu. Mau fokus buat silaturahmi dan menggasak isi toples tetangga Wkwkwk🤣🤫
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442H BAGI YANG MERAYAKAN MOHON MAAF LAHIR BATIN
Jangan lupa LIKE & KOMEN🙏👍🏼