
Raja kini tengah berada di kediamannya, sedang duduk di singgahsana miliknya sambil menopang dagu dengan tangannya yang ia letakan di meja kecil dihadapannya. Sesekali raja mengusap kepalanya kasar seperti sedang melampiaskan kekesalan dan juga kekecewaan di hatinya.
Sedangkan So joon pengawal pribadi raja dan kasim Jang yang melihatnya hanya bisa diam dan duduk manis memperhatikan tingkah laku rajanya.
" So joon kenapa kau tak bilang padaku, kalau kau memungut saputangan itu?" Tanya raja kepada pengawal pribadinya dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
" Ampuni hamba yang mulia, tadinya hamba berfikir saputangan itu milik selir agung sepeti yang dikatannya kepada baginda. Dan hamba berencana untuk mengembalikannya langsung kepada selir agung. Namun hamba belum sempat memberikannya karena hamba sedang sibuk mengurus sesuatu, makanya hamba selalu membawa saputangan itu di saku hamba, karena jika sewaktu - waktu hamba bertemu dengan selir agung hamba bisa langsung memberikannya." Jawab So joon yang mencoba untuk menjelaskan kepada junjungannya, dengan muka datar.
" Huuuh." Raja membuang nafasnya kasar.
" Terus mau di taruh dimana mukaku di hadapan permaisuri? aku bahkan langsung menuduhnya dan tak menanyakan terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya. Aku langsung percaya dengan ucapan Han sora."
Han sora adalah nama selir agung putri dari perdana mentri Han tae kyung.
" Aku nggak habis fikir, kenapa Sora bisa berbohong kepadaku. Dan kenapa ia mendorong permaisuri kedanau?"
" Aaaaaah." Teriak raja frustasi dan mengusap wajahnya.
Sementara So joon hanya diam mendengarkan kekesalan rajanya dan membiarkan rajanya menumpahkan segala kekecewaan yang bersarang dihatinya. dengan memasang muka datar tak bergeming sedikitpun. Sedangkan kasim Jang merasa takut dan bersembunyi di belakang tubuh So joon, dan sesekali memiringkan tubuhnya mengintip kearah raja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara dikediaman selir agung, terlihat selir agung Han sora sedang mengerang kesakitan karena habis mendapatkan hukuman cambuk dari ibu suri sebanyak 100 kali dan sekarang tengah di obati oleh dayang pribadinya yaitu choi ji woon.
" Aduh sakit, pelan - pelan." Bentak Sora.
" Maaf yang mulia."
" Ini semua gara - gara permaisuri sialan itu, kenapa dia harus sadar segala. Semua rencanaku jadi berantakan. Padahal tinggal selangkah lagi, kalau permaisuri tidak sadarkan diri, pasti aku yang akan mengantikan posisinya."
" Sial - sial, bagaimana aku akan menjelaskan kepada baginda raja nantinya."
Keesokan harinya, dikediaman permaisuri sudah terjadi keributan padahal hari masih pagi. Karena permaisuri sedang membantu pekerjaan para dayang membersihkan kediamannya.
Sontak para dayang heboh, dan melarang permaisuri agar tak melakukan pekerjaan itu.
" Yang mulia, tolong hentikan! anda tidak boleh melakukan itu." Ucap Dayang utama park memohon.
" Benar yang mulia, itu tugas hamba." Saut Go jang mi.
Ucapan para dayangnya berhasil membuat Rani menghentikan kegiatanya. Pasalnya sekarang Rani tengah mengelap meja dengan menggunakan kain lap.
" Apa sih, aku bosan tau. disini tidak ada hal yang bisa aku lakukan. Lebih baik kalian diam saja." Gerutu Rani merasa malas karena dayang - dayangnya selalu merengek agar ia tak melakukan apapun.
Kemudian Ranipun dengan santai melanjutkan lagi pekerjaannya yaitu mengelap meja.
Satu jam kemudian akhirnya pekerjaan Ranipun selesai, kediaman permaisuri kini sudah terlihat sangat bersih. Rani turut melakukan pekerjaan para dayang dengan baik. Dari mulai menyapu, mengepel dan mengelap beberapa prabotan dan pajangan agar tidak berdebu. Meski harus berdebat dengan para dayangnya.
Kini Ranipun merasa lapar, dan meminta Go jang mi untuk mengambilkan makanan untuknya. Akhirnya yang ditunggu - tunggu pun tiba, Go jang mi datang membawa nampan berisi berbagai macam makanan yang terlihat lezat di mata Rani.
Go jang mi pun, menaruh makanan yang ia bawa di meja kecil milik permaisurinya. Go jang mi merasa heran kenapa permaisurinya itu, menyuruh dirinya untuk membawa makanan begitu banyaknya, apakah permaisurinya mampu menghabiskan semua makanan itu sendirian? Itulah yang ada dipikiran Go jang mi.
" Kalian berdua duduklah!" Perintah Rani kepada dayang utama park dan Go jang mi sambil menunjuk tempat untuk mereka duduki.
Kemudian mereka berduapun menurut dengan ucapan permaisuri, dan duduk di tempat yang telah di tunjuk untuk mereka duduki.
" Kalian berdua pasti lapar, makanlah.!"
" Haaah." Terikak dayang utama park dan Go jang mi bersamaan.
Mereka jelas kaget dengan perintah permaisurinya itu, mana mungkin mereka berani makan bersama dengan seorang permaisuri. Mereka cukup tau diri, jika hal ini di ketahui oleh raja dan ibu suri mungkin nyawa mereka bisa melayang.
" Kenapa reaksi kalian aneh begitu? Ayo buruan makan!" Ucap Rani yang menatap aneh kedua dayangnya itu.
__ADS_1
" Mohon ampun yang mulia, kami tidak berani." Ucap dayang utama park.
Dan di angguki oleh Go jang mi.
" Tidak apa - apa, kalian tak perlu takut, aku yang menyuruh kalian."
" Lagian makanan segini banyaknya siapa yang mau ngabisin, aku sendiri tentu saja nggak akan sanggup. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku kepada kalian karena sudah mau melayaniku dan setia kepadaku." Ucap Rani mencoba meyakinkan kedua dayangnya itu.
Awalnya dayang utama Park dan Go jang mi ragu - ragu, namun karena ini perintah permaisuri, akhirnya mereka mau dan mulai mengambil makanan menggunakan sumpit. Ada rasa haru di dalam diri dayang utama Park dan juga Go jang mi karena permaisuri yang mereka layani mau makan bersama dengan orang rendahan macam mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang harinya Rani tengah rebahan di tempat tidurnya, ia hanya memandangi langit - langit kamarnya. Kemudian berguling - guling kekanan kekiri. Bosan itu yang kini tengah Rani rasakan. Pasalnya tak ada yang bisa ia kerjakan. Karena semuanya sudah ada yang mengerjakan yaitu para dayang - dayang.
Dayang utama Park dan Go jang mi yang setia menunggu menemani permaisuri di ruanganya itupun merasa bingung dengan tingkah junjungan mereka.
Rani mencoba untuk memejamkan mata supaya bisa tertidur, namun gagal total. Rani merasa aneh bagaimana Kim so hee menjalani hari - harinya ini. Rani saja sudah tidak tahan dan merasa bosan setengah mati.
Andai di sini ada internet dan wifi pasti nikmat dunia tiada tara. Mau apa - apa sudah ada yang mengerjakannya kita cuma tinggal leyeh - leyeh sambil mainan handpone. Sangat cocok buat kaum rebahan yang selalu mager.
Rani yang merasa bosanpun, memutuskan untuk keluar dari kediamannya, dan berjalan - jalan mengelilingi istana. Karena selama Rani terdampar di sini Rani belum sempat melihat - lihat istana yang mereka tinggali. Soalnya Rani lebih sering menghabiskan waktu di kediamannya.
Seperti biasa, Rani pasti akan di temani oleh dua dayang setianya yaitu dayang utama park dan juga Go jang mi, dan 5 dayang lainya yang ikut di belakangnya. Kali ini Rani hanya membawa sedikit dayangnya, karena malas kalau kemana - mana harus di ikuti bayak orang. Udah kaya anggota paskibra saja.
Kali ini Rani berhenti di depan salah satu gazebo yang lumayan besar dan teletak di pinggir danau. Menurut ingatan Rani inilah tempat pertama kali Kim so hee bertemu dan berkenalan dengan raja.
Rani menatap gazebo tersebut. Namun aneh, entah perasaan sesak apa yang menyelimuti dirinya, " Mungkinkah ini perasaan Kim so hee? Batin Rani. Tanpa terasa, airmatapun lolos terjatuh membasahi pipi Rani.
" Dasar bodoh, kau tak pantas menangisi pria macam dia." Rani terus merutuki tubuh Kim so hee.
Selesai melihat pemandangan yang indah di depan mata, danau yang di penuhi dengan bunga teratai yang sedang bermekaran di samping gazebo. Kini Rani tengah berjongkok di tanah memainkan ranting pohon dan mulai mencoret - coret tanah, Rani tengah disibukan dengan pikirannya sendiri. Sedangkan para dayangnya hanya bediri tak jauh darinya, sambil nenundukan kepala serambi melihat apa yang sedang junjungannya lalukan.
Rani merasa kasihan dengan kehidupan Kim so hee, menjadi permaisuri yang terabaikan. Yang Kim so hee lakukan hanya menyulam, merajut dan sesekali bermain gayageum ( alat musik tradisional korea yang memiliki 12 senar dan cara memainkanya dengan cara dipetik). Untuk mengisi kesehariannya yang terasa kosong. Pasti hati Kim so hee rasanya sakit sekali menahan ini semua dan menyembunyikan fakta dirinya menjadi permaisuri yang terabaikan dan terbuang dari ibu suri, keluarganya serta orang - orang tercintanya. Semua ia pendam sendiri. Hingga tubuh Kim so hee pun bereaksi sebegitunya sampai menangis hanya saat melihat tempat kenangannya bersama dengan raja. Bahkan saat raganya di isi oleh Rani.
" Saat ini, tubuh ini milikku. Kau akan ku ajak bersenang - senang menikmati indahnya dunia. Sampai kau akan lupa dengan semua rasa sakit dihatimu."
" Mohon ampun yang mulia, kami tidak berani. Itu melanggar etiket istana." Ucap dayang utama Park.
" Tidak apa - apa, jika ada masalah aku yang akan bertanggung jawab."
Namun para dayang hanya saling melirik.
" Oh ayolah aku sungguh bosan jika harus menyulam dan bermain gayageum setiap hari." Bujuk Rani.
Mau tidak mau akhirnya para dayangpun menyetujui perintah permaisurinya. Kini Ranipun memulai aksinya, dan membagi menjadi 2 tim. Tim pertama terdiri dari Rani, Go jang mi dan 2 dayang lainya. Dan tim 2 yaitu Dayang utama Park dengan 3 dayang bersamanya. Jadi masing - masing beranggotakan 4 orang.
Coba tebak, permainan apa yang akan mereka mainkan? Jawabanya ialah gobak sodor.
Mereka semua sudah siap dengan posisi mereka masing - masing, permainan pertama yang akan bermain adalah tim Rani dan yang jadi penghadang adalah tim dayang utama park.
Awalnya para dayang merasa terpaksa karena tidak berani dan hanya menuruti kemauan permaisurinya, namun lambat laun mereka mulai menikmati permainan mereka.
Dan kini Dayang utama Park sudah telihat mulai jago menghalau lawan agar tidak masuk ke wilayah kekuasaannya. Tawa riang dan senyum dari Rani bersama para dayangnyapun menggema di sepanjang permainan.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada dua pasang mata yang terus menatap ke arah mereka.
" Berani sekali mereka para dayang, bermain dan tertawa bersama permaisuri." Ucap raja dengan tatapan tajamnya setajam silet. Yang terus ke arah permaisuri dan para dayangnya.
Kebetulan tadi raja tengah lewat bersama rombongannya, raja habis menghadiri rapat rutinannya bersama para mentri diruang pertemuan. Dan hendak mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya sejenak, yang habis terkuras ia gunakan untuk berdebat dengan para menteri dan tokoh bangsawan. Apa lagi ditambah dengan masalah hukuman yang diberikan kepada selir agung.
Namun berbeda dengan biasanya kini raja tengah ditemani oleh adiknya yaitu pangeran Lee jong hoon yang tengah berkunjung ke istana.
Pangeran Lee jong hoon pun ikut melihat apa yang tengah di tatap oleh kakanya. Kemudian tersenyum dan merangkul pundak sang kaka.
__ADS_1
" Waw, permaisuri sekarang terlihat berbeda ya ka, lebih cantik dan lihat kini ia bahkan bisa tertawa." Ledek pangeran Lee jong hoon.
" Hey, kenapa kau bicara non formal denganku." Teriak raja yang merasa kesal dengan ucapan adiknya.
" Ampuni hamba yang mulia." Pangeran Lee jong hoon langsung melepas rangkulannya di pundak raja.
" Kasim Jang, cari tau siapa saja dayang yang bermain bersama permaisuri dan hukum mereka karena lancang berani melanggar etiket istana." Perintah raja.
" Baik yang mulia." Jawab kasim Jang.
Padahal sebenarnya kasim Jang merasa khawatir dengan permaisuri dan para dayangnya, namun terpaksa iya harus menuruti perintah rajanya. Baru kali ini kasim Jang melihat permaisuri tertawa lepas dan senang seperti ini. Dari awal permaisuri masuk ke istana ini, dan menjadi istri raja tak pernah sedikitpun terlihat senyum bahagia di bibir permaisuri, hanya kediaman dan raut wajah yang murung yang terliat.
" Kaka biarkan saja mereka, apa kau tak melihat permaisuri tertawa bahagia bersama para dayangnya. Baru kali ini aku melihat permaisuri tertawa, sungguh cantik dan manis sekali." Ucap pangeran Lee jong hoon sambil menepuk - nepuk pundak kakanya.
Kemudian rajapun tersadar bahwa memang benar ini pertama kali iya melihat permaisuri tertawa.
" Apa kau mau mati? Dia itu istriku, kau tidak boleh memujinya seperti itu."
Mendengar ucapan sang kaka pangeran Lee jong hoon pun tertawa, kasim Jang pun ikut tersenyum kecuali pengawal pribadinya itu yang selalu memasang muka datar.
Salah satu dayang permaisuri ada yang sadar akan kehadiran raja. Dan meminta untuk menghentikan permainan mereka. Permaisuri yang merasa bingung dengan tingkah dayangnyapun akhirnya mendekat kearah para dayang.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya permaisuri polos.
" Itu disana ada baginda raja, bagaimana ini?" Ucap seorang dayang.
Wajah dayang utama Park pun berubah menjadi pucat seketika. ketika mendengar ucapan sang dayang, Ia merasa bersalah karena tengah melanggar etiket istana. Bukannya mencegah ajakan permaisuri, namun ia malah menikmatinya.
" Apa tadi baginda melihat kita?" Ucap Go jang mi panik.
" Kalian tidak perlu khawatir, kalo raja bodoh itu mau melakukan sesuatu terhadap kalian, aku yang akan melawannya dan membela kalian." Ucap Rani enteng.
" Lihat itu raja sedang bersama dengan pangeran Lee jong hoon." Ucap seorang dayang lagi sambil menunjuk kearah raja.
Permaisuri dan para dayangpun melihat ke arah raja dan rombongannya.
" Gila ganteng banget, ok fixs ini mah V bts. masa muka imut kaya gitu adiknya raja sih? Mukanya itu loh baby fase banget, lucu, aaaah emeeess."
Tanpa sadar Rani memukul - mukul bahu dayang yang berada di sebelahnya pelan. Dan itu sukses membuat semua mata para dayangnya menatap kearah Rani curiga. Sebenarnya apa yang tengah junjungan mereka pikirkan? Hingga berkelakuan aneh seperti itu.
" Kalian yakin itu adiknya raja?" Tanya Rani sepontan.
" Tentu hamba yakin yang mulia." Jawab seorang dayang.
Aneh tapi kok dalam ingatan permaisuri tidak ada laki - laki itu, apa Kim so hee dulu belum pernah bertemu dengan dia? Tapi masa adiknya raja Kim so hee nggak tau? Parah bener nih, si Kim so hee.
" Adik kandung?" Tanya Rani penasaran. Jiwa kepo dan ghibah warga +62 Rani meronta - ronta.
" Kandung, yang mulia namun beda ibu. Ibu raja yaitu permaisuri terdahulu sudah meninggal waktu melahirkan beliau, dan pangeran Lee jong hoon adalah anak dari seorang selir." Jelas si dayang.
" Hubungan mereka terlihat akrab padahal mereka beda ibu."
Biasanyakan kalo di drama - drama bakal jadi nggak akur, karena perebutan tahta. Menurut isi otak Rani.
" Tentu saja mereka akrab, dari kecil raja sudah di asuh oleh selir song ibu dari pangeran Lee jong hoon."
Rani dan para dayang lainyapun manggut - manggut mendengarkan penjelasan dari salah satu dayangnya itu.
" Kalian tau nggak nama panjangnya pengawal raja itu? yang mukanya kaya triplek. Datar, nggak ada ekspresi. Soalnya setauku raja cuma manggilnya So joon aja." Tanya Rani lagi.
" Setau hamba Park so joon yang mulia." Jawab Go jang mi.
" Pak so joon?" Jawab Rani kaget.
__ADS_1
Para dayang hanya mengangguk bersama, membenarkan ucapan permaisurinya.
" Gila si muka triplek namanya park so joon, nggak ada pantes - pantesnya. Walaupun dia ganteng tapi mukanya datar tanpa ekspresi boro - bobo senyum."