MENDADAK PERMAISURI

MENDADAK PERMAISURI
Festival perburuan 2


__ADS_3

Setelah permaisuri berhasil melengserkan selir agung dari tempat duduknya, permaisuri langsung menampar wajah selir agung dengan keras, sampai meninggalkan bekas merah dipipi mulus selir agung.


Sontak semua orang yang berada disana, menatap kearah permaisuri, seakan tak percaya apa yang baru saja permaisuri lakukan. Begitu juga dengan selir agung, yang kini tengah merintih kesakitan sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh permaisuri.


Selir agung jelas tidak terima dirinya diperlakukan seperti itu oleh permaisuri, kemudian selir agung mengayunkan tangannya bersiap membalas tamparan yang tadi dilayangkan oleh permaisuri kepada dirinya.


Namun, sebelum selir agung berhasil membalas, ternyata permaisuri sudah menepis tangan selir agung terlebih dahulu.


" Singkirkan tangan kotormu itu, dariku! Jika kau tidak terima atas perlakuanku, sebaiknya kau perbaiki dulu tingkah lakumu!" Seru permaisuri dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi. Sampai - sampai nyali selir agungpun menciut.


Sayang seribu sayang semua adegan tadi, hanya mampu Rani bayangkan. Kenyataannya Rani hanya diam menahan kesal atas tingkah selir agung yang berani kurang ajar terhadap dirinya.


Biar bagaimanapun Rani sadar, bahwa dirinya kini adalah seorang permaisuri yang harus menjaga tingkah laku dan mengedepankan sopan santun. Apalagi kini semua pasang mata tengah memperhatikan dirinya dan juga selir agung.


Rani lebih memilih mengalah dari pada ia harus terus berdebat dengan selir agung. Dan menjadi pusat perhatian dan tontonan para nona bangsawan yang berada disana.


Mengalah bukan berarti kalah, hanya saja Rani lebih memilih menjaga imagenya sebagai seorang permaisuri. Berperan sebagai tokoh yang teraniaya dan tak berdaya? Bukankah jauh akan mendapatkan lebih banyak simpati dari banyak orang, dibandingkan memerankan tokoh antagonis yang jahat dan suka menindas.


Disamping itu, Rani juga bisa membuat image selir agung menjadi buruk dihadapan semua orang dan mempermalukannya sekaligus. Menyerang bukan hanya dalam bentuk kekerasan namun juga bisa dalam bentuk tipu muslihat. Karena tipu muslihat, dapat menggiring opini dari banyak orang. Tentu semua itu merupakan pembelajaran Rani dari setriming drakor dan juga hasil dari komik atau novel yang sering ia baca.


" Dayang utama Park, Go jang mi, ayo kita pergi menyapa para nona bangsawan yang sudah hadir keacara ini!" Seru permaisuri terhadap kedua dayang setianya.


Permaisuri lebih memilih pergi meninggalkan selir agung, selir agung tersenyum puas atas kepergian permaisuri, dan merasa menang karena posisinya tidak dapat tergantigan oleh permaisuri.


" Memangnya kenapa kalo dia permaisuri? Aku sudah duduk dikursi ini terlebih dahulu. Mau menggantikanku? Jangan harap! Seharusnya memang akulah yang pantas menduduki kursi ini, dan menjadi permaisuri, karena aku yang lebih dulu dicintai oleh yang mulia. Bukan begitu Choi ji woon?" Ucap selir agung dengan nada mengejek dan penuh percaya diri.


" Tentu, selir agung." Jawab Choi ji woon.


Semua orang mulai berbisik - bisik menggunjingkan tingkah selir agung yang tidak menghormati permaisuri.


" Bisa - bisanya selir agung bersikap sombong dan tidak sopan seperti itu, kepada permaisuri? Meskipun selir agung mendapatkan cinta dari yang mulia raja, tidak sepantasnya dia berbuat seperti itu." Kata salah satu nona bangsawan.


" Iya benar, tidak seharusnya selir agung berbuat seperti itu." Saut nona bangsawan lainya.


" Kasian sekali permaisuri, walau bagaimanapun permaisuri tetap memiliki setatus yang lebih tinggi, seharusnya selir agung tetap menghormatinya. Bukan malah menyombongkan diri seperti itu, hanya karena dia mendapat kasih sayang dari raja." Imbuh nona bangsawan lainnya lagi.


Selir agung yang mendengar semua orang berkasak - kusuk tentang dirinyapun, hanya cuek dan pura - pura tidak mendengarnya. Selir agung tetap duduk santai sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia dihadapannya.


" Oh iya, apakah kakamu juga datang keacara ini Ji woon?" Tanya selir agung penasaran.


" Iya selir agung, mungkin kini kakak hamba sudah berada di arena berburu bersama dengan ayah hamba dan perdana menteri yang lainnya."


Selir agung tersenyum senang mendengarnya, " Apakah kakamu sudah memiliki pasangan?" Tanya selir agung lagi.


" Mmmm." Choi ji woon tampak berfikir sambil menaruh jari telunjuknya diatas bibirnya. " Kalau itu, hamba tidak tau yang mulia. Tapi sepertinya belum."


Mendengar jawaban dari Choi ji woon, senyum diwajah selir agung tampak semakin merekah. " Benarkah?"


Choi ji woon mengangguk, " Setau hamba sih begitu, memangnya kenapa yang mulia?"

__ADS_1


" Nggak apa - apa hanya penasaran saja."


Entah mengapa Choi ji woon merasa aneh dan bingung, saat selir agung menanyakan perihal kakanya. Namun perasaan aneh itu, segera ia tepis. Karena hubungan antara keluarga mereka memang terjalin baik dan sangat dekat.


Sementara itu, Go jang mi dan juga dayang utama Park tengah mengoceh, ngedumel, mengeluarkan sumpah serapah mereka dan menumpahkan semua kekesalan mereka terhadap selir agung. Mereka berdua tengah perotes dengan permaisuri yang malah diam saja diperlakukan seperti itu oleh selir agung dihadapan orang banyak.


" Yang mulia, kenapa yang mulia diam saja diperlakukan seperti itu? Seharusnya yang mulia menunjukan bahwa posisi dan setatus yang mulia jauh lebih berhak untuk duduk dikursi itu." Protes dayang utama Park.


" Benar yang mulia, bisa - bisanya selir agung berani bertindak kurang ajar seperti itu dihadapan banyak orang. Kurang puas apa dia selalu menindas yang mulia diistana? Dan sekarang masih ingin mempermalukan yang mulia diacara ini, sungguh tidak bisa dibiarin begitu saja yang mulia!" Saut Go jang mi yang juga tak terima.


" Aku tau kalian pasti marah, akupun sama seperti kalian. Ingin rasanya aku tarik dan jambak rambut selir agung dan aku gunting sampai botak. Tapi aku juga harus menjaga wibawaku sebagai seorang permaisuri, melawan musuh dengan cara seperti itu justru akan membuat kita dipandang rendah. Kita harus melawan mereka dengan cara yang berkelas dan elegan." Jelas permaisuri mencoba untuk menenangkan kedua dayangnya yang tengah terbakar emosi.


" Maksud yang mulia apa? Bagaimana caranya kita melawan selir agung dengan cara yang seperti itu?" Tanya Go jang mi bingung, dayang utama Park juga mengangguk setuju dengan pertanyaan Go jang mi.


Permaisuri diam sejenak, tampak berfikir. Lalu melirik kearah kedua dayangnya secara bergantian. Terlihat jelas rasa penasaran dan rasa ingin tau dari pancaran mata mereka.


" Kenapa?" Goda permaisuri, menaikan satu alisnya. " Nungguin ya?" Hahai b**albale balbale bale.


" Yang mulia." Teriak dayang utama Park dan Go jang mi bersamaan. " Udah serius juga." Rengek Go jang mi.


Permaisuri tertawa, melihat tingkah lucu kedua dayangnya. " Iya - iya, jadi maksud aku tuh, kita tidak perlu mengotori tangan kita buat ngebalas selir agung, kita hanya perlu meminjam kartu tetangga untuk mempermalukan selir agung. Jadi kita cukup hanya dengan diam dan menonton saja. Arasseo?"


Dayang utama Park dan Go jang mi, hanya terdiam. Mereka sedang mencerna penjelasan dari junjungan mereka yang sepertinya masih loading diotak mereka.


" Maksud yang mulia apa ya? Hamba sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan yang mulia." Tanya Go jang mi polos dengan muka penuh tanda tanya. Permaisuri sampai gemas dibuatnya.


Permaisuri mencoba menjelaskan kembali, tentang maksud dari ucapannya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kedua dayangnya. " Maksud aku tuh, kita hanya perlu meminjam tangan ibu suri untuk mempermalukan selir agung dihadapan semua orang."


" Selain cantik, yang mulia memang paling pintar, hamba bangga bisa menjadi dayang yang mulia." Puji Go jang mi.


" Ara." Jawab permaisuri penuh percaya diri.


" Hamba juga bangga bisa menjadi dayang yang mulia." Timpal dayang utama Park. Mereka bertigapun tertawa bersama.


Tak lama kemudian, tandu yang membawa ibu suri sampai di acara festival perburuan. Ibu suri keluar dari tandunya dan langsung disambut oleh semua orang yang berada disana. Semua orang membungkuk memberi hormat saat ibu suri berjalan melewati mereka.


Ibu suri langsung berjalan kearah tenda, menuju tempat duduk yang sudah disiapkan untuk dirinya. Namun dari kejauhan ibu suri melihat ada hal yang mengganjal, saat melihat kearah tempat duduk yang disediankan oleh para dayang.


Ibu suri mempercepat langkah kakinya, para tamu undangan atau para nona bangsawan yang berada disana, mereka langsung mengerti situasi yang sepertinya tidak akan baik saat melihat gelagat raut kemurkaan dari wajah ibu suri. Dan mereka hanya diam sambil saling melirik ke arah satu sama lain, untuk mengkode agar mereka tidak usah ikut campur, cukup diam dan melihat saja apa yang akan terjadi.


Selir agung yang melihat kedatangan ibu suri, langsung berdiri dari tempat duduk lalu membungkuk memberi hormat. Ibu suri menatap selir agung dengan tatapan tajam penuh amarah.


" Kenapa hanya ada dua kursi disini? Dan dimana permaisuri? Bukankah seharusnya permaisuri sudah ada disini?" Tanya ibu suri beruntun.


Selir agung menelan ludahnya kasar, lalu menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya, sebelum menjawab pertanyaan dari ibu suri yang beruntun.


" Hamba tidak tau yang mulia ibu suri, sepertinya para dayang hanya menyediakan dua kursi, karena mereka tidak tau jika permaisuri akan hadir keacara ini. Dan hamba juga tidak tau jika permaisuri akan datang, karena setiap tahunnya memang permaisuri tidak pernah ikut serta dan hadir keacara festival perburuan." Kilah selir agung.


" Dan sekarang dimana permaisuri?" Tanya ibu suri lagi, dengan nada tinggi.

__ADS_1


" Hamba tidak tau ibu suri, tadi hamba hanya melihatnya sekilas." Jawab selir agung memasang muka polos pura - pura tidak tau.


" Hamba disini ibu suri!" Seru permaisuri dari balik kerumunan tamu undangan yang tengah penasaran dan memperhatikan ibu suri dan juga selir agung.


Ibu suri menoleh kearah sumber suara, " Darimana saja kau permaisuri?" Tanya ibu suri dengan suara lembut dan dengan nada khawatir.


Permaisuri membungkuk memberi hormat, " Hamba habis menyapa dan berbincang - bincang dengan para nona bangsawan yang hadir diacara ini."


Ibu suri mengusap pundak permaisuri lembut. " Kau ini, membuatku khawatir saja. Mari sekarang kita duduk!." Ajak ibu suri, mengarahkan permaisuri untuk duduk dikursi milik selir agung.


" Ibu suri, tapi itu kursi hamba!" Protes selir agung.


" Selir agung, kaukan bisa meminta dayang untuk membawakan satu kursi lagi untukmu!"


" Tapi itu akan memakan waktu yang lama ibu suri, jarak dari istana ketempat ini cukup jauh." Elak selir agung.


" Benar ibu suri, lagian itu memang kursi selir agung, hamba tidak apa - apa, hamba bisa berdiri." Ucap permaisuri pura - pura mengalah.


Selir agung tersenyum puas, mengira permaisuri takut terhadap dirinya. " Tuhkan ibu suri, permaisuri saja tidak keberatan jika hamba duduk di kursi ini."


" Jaga batasanmu selir agung! Seharusnya kau tau posisimu! Apa kau tidak malu?" Bentak ibu suri.


" Apa kau fikir aku tidak tau, apa yang kau lakukan terhadap permaisuri sebelum aku datang?"


FLASH BACK ON#


Setelah ibu suri turun dari tandu, ada seorang dayang yang langsung menghampiri ibu suri dan melaporkan bahwa selir agung menolak memberikan kursinya kepada permaisuri. Bahkan selir agung tampak mengejek dan menghina permaisuri didepan banyak orang. Mendengar hal itu, ibu suri langsung bergegas menuju ketenda dan menghampiri selir agung.


FLASH BACK OFF#


Mendengar ucapan ibu suri, tubuh selir agung seketika langsung mematung. " Lebih baik kau diam saja selir agung! Jika tidak, kau malah justru akan mempermalukan dirimu sendiri. Sebaiknya kau menuruti perintahku, jika kau masih ingin punya harga diri!" Ancam ibu suri.


Rani tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah pucat serta ekspresi selir agung yang menggigit giginya menahan kesal dan amarahnya karena ancaman dari ibu suri.


Rasanya saat ini Rani benar - benar membutuhkan pop corn, karena menurut Rani, saat ini sama saja seperti ia sedang menonton serial drama kolosal yang penuh interik dan menunjukan siapa yang lebih berkuasa itu yang akan menang. Dan adegan kali ini, adalah adegan yang paling seru dan ditunggu - tunggu oleh penonton. Tapi sayangnya disini tidak ada pop corn, Rani harus berlapang dada melewatkan tontonan yang menarik serta menghibur ini, tanpa cemilan ataupun pop corn khas ala bioskop. Dayang utama Park dan Go jang mi juga tampak menahan senyum.


Sementara raja dan So joon serta kasim Jang kini sudah berada diarena perburuan. Tempat yang terpisah dari tenda, tempat para perempuan beristirahat dan menunggu hasil buruan. Yang jaraknya juga tidak terlalu jauh.


Raja sudah berdiri didepan podium, didampingi kedua pengikut setianya, siapa lagi? Kalo bukan kasim Jang dan juga So joon. Raja tengah memberikan sambutan kepada para kontestan yang akan ikut berburu. Terlihat jelas, jajaran para menteri beserta anak, ponakan serta sanak sodara mereka lainya, dan juga para bangsawan yang sudah berbaris rapi dihadapan raja.


Setelah sambutan dari raja selesai, suara gong yang terdengar keraspun berbunyi, sebagai tanda dimulainya ajang berburu. Semua kontestanpun berhamburan mulai menyusuri hutan. Tak terkecuali raja, raja juga tengah bersiap menaiki kudanya dan akan segera memasuki hutan didampingi oleh So joon. Sementara kasim Jang, tetap berada disana tidak ikut dalam perburuan, berjaga dan memastikan jika ada kebutuhan para kontestan agar terpenuhi.


Raja memacu kudanya masuk kedalam hutan, begitu juga dengan So joon yang mengikuti dibelakang raja. Sudah hampir satu jam raja dan So joon mengitari hutan, namun mereka belum mendapatkan hasil buruan yang memuaskan. Karena raja hanya mendapatkan beberapa ekor kelinci.


Namun tak disangka, raja tiba - tiba melihat seekor rusa yang berukuran cukup besar. Rusa itu memiliki warna bulu yang indah, yaitu coklat susu dan memiliki corak tutul - tutul berwarna putih di tubuhnya.


Raja sangat menyukai rusa itu, dan hendak memanahnya. Namun tak disangka, sebelum anak panah raja berhasil diluncurkan, sudah ada anak panah yang melesat mengarah kerusa itu terlebih dahulu.


Sayangnya anak panah itu meleset, dan membuat rusa itu berlari pergi menjauh. Raja dan So joon menoleh melihat kearah anak panah itu diluncurkan, dan hendak melihat siapa orang yang telah menembakan anak panah, sehingga membuat rusa itu kabur.

__ADS_1


Begitu terkejutnya raja serta So joon saat mengetahui dan melihat orang yang menembakan anak panah itu, namun raja dan So joon segera merubah ekspresi wajah mereka. Orang itu menghampiri raja lalu menunduk memberi hormat.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN TERIMA KASIH 🤗🙏


__ADS_2