MENDADAK PERMAISURI

MENDADAK PERMAISURI
Gosip Istana


__ADS_3

Raja bersama rombongannya tengah berjalan menuju aula dewan kerajaan untuk membicarakan rencana perayaan untuk hari ulang tahun ibu suri, serta membaca petisi dari berbagai wilayah di kerajaannya.


Namun sepanjang perjalanan, raja mendengar kasak kusuk dari para dayang yang tengah bergosip mengenai permaisuri yang katanya memasak di dapur istana.


Hingga membuat raja merasa penasaran, sebenarnya apa yang tengah para dayang istana bicarakan? Kemudian raja tiba - tiba memberhentikan langkahnya. Dan itu membuat kasim Jang dan Park so joon beserta para dayang yang berjalan di belakang raja mendadak juga ikut berhenti.


" Kasim Jang, cari tau apa yang tengah para dayang istana bicarakan."


" Baik yang mulia, hamba akan segera mencari tau untuk yang mulia." Kemudian kasim Jang memberi hormat dan segera pergi melaksanakan perintah junjungannya itu.


Namun raja beserta rombongan yang lain, kembali meneruskan perjalanan mereka.


Sesampainya di aula, Raja di sambut oleh jejeran para dewan kerajaan yang memberi hormat kepadanya. Raja berjalan kearah singgahsananya. Kemudian mendudukan diri di kursi kebesaran milik dirinya.


Seperti biasa raja mulai membaca petisi - petisi yang dikirimkan dari berbagai wilayah di kerajaannya, dan meminta pendapat kepada para mentri agar menemukan solusi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang di keluhkan.


Selesai membaca petisi, raja meminta pendapat para mentri tentang agenda perayaan hari ulang tahun ibu suri yang akan segera di selenggarakan. Dan seperti biasa pasti akan selalu penuh perdebatan di antara para mentri apalagi dari kubu perdana menteri Kim tae hoon ayah mertua raja dan juga dari kubu perdana menteri Han tae kyung ayah dari selir agung. Dan itu sungguh membuat raja selalu merasa pusing, di setiap diadakannya pertemuan rutinan dewan kerajaan.


Perdebatan terus berlangsung cukup lama, hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Raja yang sudah cukup merasa lelahpun segera bergegas meninggalkan aula, yang langsung di ikuti oleh pengawal raja dan para dayang yang selalu mengikuti kemanapun raja pergi.


raja yang baru saja keluar dari aulapun mendadak menghentikan langkahnya karena mendengar suara orang yang tengah memanggilnya. Kemudian raja menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah kasim Jang yang tengah berlarian menuju kearahnya.


Dengan nafas yang masih ngos - ngosan kasim Jang mencoba menetralkan suaranya. " Hamba menghadap baginda raja."


" Kenapa kau berlarian di istana kasim Jang? Bukankah kau tau, itu melanggar peraturan istana."


" Mohon ampuni hamba yang mulia, Hamba hanya takut jika hamba datang terlambat, Dan yang mulia sudah pergi."


" Baiklah, tapi ingat jangan kau ulangi lagi!"


" Baik yang mulia, hamba akan mengingatnya."


" Bagaimana tadi, tugas yang aku berikan?"


" Oh benar, hamba hampir lupa alasan hamba berlari - lari seperti tadi, karena ingin segera menyampaikan kabar yang menggemparkan seisi istana ini yang mulia."


Mendengar perkataan kasim Jang, raja menaikan satu alisnya dan menunggu kata selanjutnya yang akan terlontar dari mulut kasim Jang.


" Yang mulia pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan hamba katakan. Karena awalnya hamba juga tidak percaya saat mendengar dari dayang yang hamba tanyai, hingga hamba memutuskan untuk menanyai beberapa dayang dan juga pengawal istana yang tengah bergosip. Akhirnya hamba percaya karena hamba menanyakan langsung kepada sumber terpercaya yaitu kepala koki istana."


Raja semakin mengerutkan dahinya mendengar penjelasan dari kasim Jang, yang menurutnya malah membuatnya makin bertambah pusing.


" Apa maksudmu kasim Jang, katakan langsung pada intinya?"


" Mmmm, itu yang mulia permaisuri katanya semalam pergi ke dapur istana dan memasak makanan."


"Hahaha." Raja tertawa mendengar penjelasan dari kasim Jang. " Apa kau sedang bercanda?"


" Sungguh hamba tidak berbohong, awalnya hamba juga tidak percaya saat mendengarnya. Makanya hamba bertanya langsung kepada kepala koki istana, mengenai kabar yang tengah beredar di istana ini."


" Dan itu di benarkan oleh kepala koki. Bahkan kepala koki sendiri memuji masakan permaisuri, katanya masakan permaisuri sangat enak bahkan ia baru pertama kali memakan makanan yang seenak itu. Dan kata kepala koki istana menu makanan yang di masak permaisuri jenis masakan baru, bahakan ia tidak mengetahuinya bahwa ada makanan yang bisa seenak itu.


" Hmmm." Raja berdehem dan meneguk salivanya mencoba untuk mencerna perkataan kasim Jang yang menurutnya koyol dan segera menetralkan suaranya.


" Baiklah kau melakukan perkerjaanmu dengan sangat baik."


Raja lalu menepuk - nepuk punggung kasim Jang. Dan melanjutkan perjalanannya. Kasim Jang masih diam mematung karena habis ditepuk pundaknya oleh raja, keseperkian detik akhirnya kasim Jang tersadar dan tersenyum puas menampilkan deretan gigi putihnya dan juga merasa bangga terhadap dirinya sendiri, karena telah melakukan pekerjaan yang sangat bagus. Kemudian kasim Jang mulai menyusul raja yang telah pergi mendahuluinya. Dan segera merapat ke barisan para dayang menempati posisinya di belakang raja bersama pengawal raja Park so joon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di kediaman permaisuri, Terlihat dayang utama Park yang telah meluapkan emosinya kepada Rani dan juga Go jang mi.


Mereka sudah seperti anak yang sedang dimarahi oleh ibu mereka. Sudah hampir satu jam dayang utama Park mengomel dan mengulang - ulang terus kata - katanya. Dan itu membuat kuping mereka terasa panas.


" Bagaimana mungkin, yang mulia datang kedapur istana dan memasak makanan sendiri. Dan kau juga Go jang mi kenapa kau membiarkan permaisuri melakukan hal semacam itu?"

__ADS_1


" Ampuni hamba dayang utama Park, hamba sudah mencoba mencegah yang mulia permaisuri dan melarangnya namun apalah daya hamba yang seorang dayang." Go jang mi mencoba menjelaskan dengan muka sedihnya.


" Sudahlah dayang utama Park, kau sudah mengomel hampir satu jam dan terus mengulangi kata - katamu. Apa kau tidak lelah? Kami saja yang mendengarnya sudah merasa lelah."


" Go jang mi tidak bersalah, dia hanya menuruti perintahku. Aku tau kau hanya mengkhawatirkanku. Sekarang aku disini, dan aku baik - baik saja. Jadi berhentilah memarahi Go jang mi."


" Yang mulia." Ucap Go jang mi terharu bahwa permaisuri membela dirinya.


" Baiklah, maafkan hamba yang mulia." Sesal dayang utama Park.


" Sudahlah, kalian berdua kemarilah mendekat kepada ku."


Dayang utama Park dan Go jang mi pun menurut dan mendekat ke arah permaisuri.


" Kesini, kalau disitu masih jauh!"


Dayang utama Park dan Go jang mi pun hanya saling lirik, karena menurut mereka, mereka sudah duduk dengan sangat dekat dengan permaisuri. Walaupun masih ada jarak diantara mereka.


Permaisuri yang merasa gemas dengan kedua dayangnya yang tak kunjung mendekat dan malah saling lirik. Akhirnya permaisuri berdiri dan mendekat ke arah mereka kemudian merangkul bahu kedua dayangnya dan memeluk mereka berdua.


Dayang utama Park dan Go jang mi pun merasa kaget dan seketika diam mematung.


" Terimakasih karena kalian berdua sudah sangat baik terhadapku dan selalu mengkawatirkan diriku. Aku sangat beruntung memiliki kalian berdua. Kalian sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri, jadi mulai sekarang hilangkan rasa canggung kalian kepadaku dan bersikaplah nonformal disaat hanya ada kita bertiga." Bisik Rani di telinga kedua dayangnya.


Kemudian Rani melepas pelukannya dan kembali duduk di singgahsananya. Sementara Kedua dayangnya masih diam mematung, tak percaya dengan apa yang barusan junjungan mereka lakukan.


Suara dari balik pintu membuyarkan suasana hening dirungangan permaisuri.


" Yang mulia, Dayang Jung dari istana ibu suri datang menghadap."


" Persilahkan masuk." Rani langsung membenahi penampilannya dan posisi duduknya.


" Drrrt." Suara pintu terbuka.


Terlihat dayang yang mungkin seumuran dengan dayang utama Park, berjalan mendekat kearah permaisuri dan memberi hormat. Permaisuri kemudian mengangguk menerima hormat dayang tersebut. Dan mempersilahkannya untuk duduk.


" Sama sekali tidak, kebetulan aku sedang senggang. Katakan apa keperluanmu menemuiku?"


" Hamba diutus untuk menyampaikan pesan oleh ibu suri, bahwa yang mulia permaisuri disuruh untuk berkunjung kekediaman beliau."


" Baiklah aku mengerti, kau duluan saja! Aku akan segera menyusul bersama para dayangku."


" Kalo begitu, hamba undur diri yang mulia permaisuri." Dayang Jung memberi hormat dan pergi meninggalkan kediaman permaisuri.


Permaisuripun bergegas meninggalkan kediamannya bersama para dayangnya menuju kediaman ibu suri. Sesampainya di kediaman ibu suri, permaisuri langsung memberi hormat dan duduk berhadapan dengan ibu suri.


" Hey gadis nakal, kau tau kenapa kau ku panggil kesini?" Teriak ibu suri sambil memijit pelipisnya.


Permaisuripun menggelengkan kepalanya tanda ia tak tau, kenapa ibu suri memanggilnya.


" Beraninya kau memasak makanan di dapur istana, dan membagikannya kepada para dayang dan para koki istana." Teriak ibu suri, kemudian menjeda ucapannya.


Permaisuri sungguh merasa takut dengan amukan ibu suri. Ia sudah mulai bersiap - siap jika ibu suri akan menghukumnya. Permaisuri hanya menunduk tidak berani nengangkat kepalanya.


" Bukannya memberikannya padaku, aku juga ingin mencicipinya. Kata para dayang masakanmu sungguh enak." Lanjut ibu suri.


Mendengar perkataan ibu suri barusan yang tak marah kepadanya, Ranipun bernafas lega. Dan mulai mengangkat kepalanya dan menghadap ke ibu suri.


" Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak bermaksud untuk tidak membaginya kepada ibu suri."


" Kalo begitu, buatkan aku sesuatu yang enak. Aku sungguh penasaran dengan masakanmu, karena para dayang tak henti - hentinya memujimu. membuatku ingin memakannya juga."


permaisuripun tersenyum " Dengan senang hati yang mulia."


Kini Rani sudah berada di dapur istana, Rani sudah mengatakan kepada kepala koki bahwa kedatangannya kali ini kedapur istana, adalah untuk membuat makanan untuk ibu suri. Dan Rani sudah meminta kepala koki untuk menyiapkan bahan makanan yang ia butuhkan.

__ADS_1


Pertama - tama permaisuri meminta bantuan kepala koki untuk membuatkannya mie, karena di jaman joseon ini tidak ada mie instant, jadi jika ingin memasak mie, harus membuatnya terlebih dahulu, itu sangat menguras tenaga dan ribet menurut Rani. Jadi ia serahkan kepada ahlinya saja.


Kemudian Rani juga meminta para dayang untuk mencincang daging sapi sampai halus, karena di sini tentunya belum ada mesin penggiling daging.


Rani merasa salut dengan para koki yang harus menyiapkan makanan di istana ini, pasti sangat berat. Karena mereka memasak dengan cara manual. Yang mana itu benar - benar menguras tenaga dan juga memakan waktu yang lama.


Daging yang sudah dihaluskan, di beri bumbu lalu di campur dengan tepung tapioka, setelah tercampur rata, Rani membentuk bulatan - bulatan kecil dengan tanganya, lalu ia sendok dan di masukan ke dalam air mendidih.


Para koki dan dayang istana yang ikut membantu memasakpun merasa bingung, pasalnya mereka tidak tau apa yang akan junjungan mereka masak. Karena mereka hanya mengikuti arahan dari permaisuri.


Setelah memasak dalam waktu yang cukup lama, hingga kini saatnya pleating. Rani mengambil satu buah mangkok lalu ia beri isian mie, dan cesin yang sudah dipotong kecil - kecil, kemudian ia memasukan bola - bola daging kedalam mangkok lalu ia siram dengan kuah yang telah ia buat. Kemudian diatasnya Rani menaburi bawang goreng dan juga daun seledri.


" Aku akan membawa makanan ini kepada ibu suri, sisanya kalian boleh memakannya. Tapi ingat sisakan satu porsi untukku ya!" Ranipun terkekeh dengan ucapannya sendiri.


" Baik yang mulia." Saut para dayang dan koki istana yang tadi ikut membantu Rani memasak, bersama - sama.


Ibu suri sudah duduk di singgahsananya, dengan disuguhi satu mangkok makanan yang baru saja Rani masak. Ibu suri menatap makanan di depannya dengan tatapan aneh. Pasalnya baru kali ini beliau melihat jenis makanan seperti ini.


" Nama makanan ini apa permaisuri? aku baru melihatnya."


" Bakso yang mulia."


" Baunya sangat harum, dengan menciumnya saja sudah membuat perutku keroncongan." Ujar ibu suri sambil mengusap perutnya.


" Bagaimana cara memakannya apakah aku harus mencampurkan sambal dan kecap ini, ke dalam bakso." Ibu suri menunjuk ke sambal dan kecap yang berada di sebelah mangkok bakso.


" Benar yang mulia. Sebenarnya akan lebih enak lagi, jika di tambah dengan saos, namun di kerajaan ini belum ada. Jadi hamba membuatnya dengan bahan seadanya saja."


Ibu suri mangut - mangut, dan segera memcampurkan kecap dan sambal ke dalam kuah bakso kemudian memakanya.


Wajah ibu suri langsung berbinar - binar begitu memasukan sendok berisi bakso pertama ke dalam mulutnya. Kemudian ibu suri langsung kembali menyuapi bakso kedalam mulutnya hingga tandas tak tersisa sedikitpun di mangkoknya.


" Bagaimana kau membuat makanan seenak dan selezat ini permaisuri? Aku benar - benar baru pertama kali memakan makanan yang seperti ini."


Rani menanggapi pertanyaan ibu suri hanya dengan tersenyum, karena ia juga bingung mau bagaimana menjelaskannya kepada ibu suri. Tidak mungkinkan kalo ia bilang ini makanan khas indonesia. Dan jika ibu suri bertanya apa itu indonesia? Akan panjang ceritanya.


" Perdana mentri Kim benar - benar sangat baik dalam mendidikmu. Aku kira kau hanya pintar dalam seni kau bahkan pintar memasak juga."


" Ibu suri terlalu memuji."


" Kau ini terlalu rendah hati permaisuri, hatimu terlalu lebut kau begitu baik, dan tak pernah membeda - bedakan seseorang. Aku dengar kau selalu memperlakukan dayang - dayangmu dengan baik. Bahkan kau tak segan untuk membantu pekerjaan mereka. Kau memang selalu membuatku bangga terhadapmu."


" Tidak seperti seseorang, yang sifatnya sombong dan selalu merasa dirinya paling tinggi. Hingga rela melakukan hal keji dan memfitnah seseorang demi menarik simpati seorang pria." Ujar ibu suri sambil melirik kearah raja yang tengah duduk disebelah permaisuri.


Flas****h**** back on#


Ketika permaisuri kembali dari dapur istana sambil membawa makanan yang baru ia masak. Ternyata di kediaman ibu suri, sudah ada raja yang sedang datang berkunjung.


Flas****h**** back off#


Raja yang merasa ibu suri tengah menyindir selir agungpun menjadi merasa sedikit marah karena ibu suri membanding - bandingkan selir agung dengan permaisuri. Namun ia hanya bisa diam dan tersenyum kecut.


Raja dan permaisuri tengah berada di luar kediaman ibu suri, mereka akhirnya memutuskan untuk undur diri dari kediaman ibusuri, setelah mengobrol cukup banyak dengan ibu suri mengenai acara perayaan ulang tahun ibu suri yang akan segera di adakan. Dan ibu suri meminta agar permaisurilah yang menyiapkan menu utama untuk jamuan dihari ulang tahunnya. Karena ibu suri sangat menyukai masakan permaisuri. Mendapat amanat yang begitu besar dari ibu suri, tentu membuat permaisuri gugup dan juga tentunya merasa senang.


" Memang seberapa enak makanan buatanmu? Hingga kau mendapat kepercayaan yang begitu besar dari ibu suri." Ejek raja.


Permaisuri yang malas berdebat dan meladeni rajapun hanya mengangkat bahunya kemudian pergi meninggalkan raja.


Diperlakukan seperti itu, jelas raja semakin marah dan geram dengan tingkah permaisuri, yang sekarang seakan cuek terhadap dirinya dan juga terkesan dingin.


" Berani sekali permaisuri memperlakukanku seperti ini. Aku yang seorang raja di negeri ini, benar - benar nggak ada harganya dimata dia."


" Kyruuuk"


Raja langsung memegangi perutnya yang sakit karena merasa lapar. Sebenarnya dari tadi raja tengah menahan rasa laparnya karena tergiur oleh makanan ibu suri yang dimasak oleh permaisuri. Dari harumnya saja sudah membuat raja merasa lapar dan ingin ikut menyantapnya. Namun karena merasa gengsi akhirnya raja menahan rasa laparnya.

__ADS_1


" Kasim Jang, cepat perintahkan koki istana untuk menyiapkan aku makanan! Aku merasa lapar, aku akan memakannya kediamanku."


__ADS_2