
Kini mereka telah sampai diistana, tepatnya dikediaman raja. Kasim Jang terkejut melihat kondisi raja yang tak sadarkan diri dan digendong oleh So joon.
Tanpa di minta, kasim Jang langsung membuka pintu ruangan raja. Dan So joon segera masuk lalu menidurkan raja diatas futon. Kasim Jang terlihat sangat panik dan penuh tanda tanya, karena melihat junjungannya kembali dengan kondisi yang seperti itu.
Kasim Jang juga melirik kearah permaisuri, keadaannya juga tak kalah mengenaskannya dari raja. Permaisuri terlihat pucat dan tampak kelelahan, pakaiannya juga terlihat lusuh.
" Sebenarnya apa yang terjadi So joon?" Tanya kasim Jang kepada So joon yang sedang memeriksa luka raja.
" Ceritanya panjang." Jawab So joon singkat.
Kasim Jang memanyunkan bibirnya karena tidak mendapat jawaban yang diinginkannya, karena kasim Jang sangat penasaran, dan ingin tau sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka bertiga pulang dalam keadaan yang kacau.
" Apa tadi yang mulia permaisuri yang mengobati luka raja?" Tanya So joon kepada permaisuri yang kini tengah duduk di belakang So joon.
" Benar, kenapa memangnya? Apa ada masalah?" Jawab Rani khawatir.
" Nggak kok, semuanya baik - baik saja. Untung yang mulia tau tentang tanaman obat dan segera mengobati luka baginda raja. Kalo tidak, mungkin luka yang mulia akan mengalami infeksi." Jelas So joon.
" Syukurlah kalo begitu."
" Sebaiknya sekarang yang mulia permaisuri membersihkan diri terlebih dahulu, lalu makan dan istirahat. Hamba tau yang mulia pasti lelah." Ucap kasim Jang yang khawatir dengan kondisi permaisuri.
" Baiklah, tolong siapkan air untuk aku mandi!"
Kasim Jang sudah memanggil para dayang untuk membantu permaisuri mandi dan juga meminta makanan kedapur istana. Tentu para dayang yang melihat kejadian ini disuruh untuk tutup mulut, agar tidak menyebarkan rumor diistana. Apalagi raja keluar istana secara diam - diam. Makanya kasim Jang tidak memanggil tabib, dan hanya cukup So joon saja yang memeriksa luka raja.
Setelah selesai mandi dan juga makan malam, permaisuri pun meminta kasim Jang untuk mengambil satu futon lagi untuk dirinya. Karena disituasi seperti ini, tidak mungkin permaisuri tidur disatu futon bersama dengan raja.
Setelah semua sudah siap, permaisuri meminta So joon dan kasim Jang juga untuk beristirahat. Apalagi So joon, pasti dia juga lelah. Akhirnya kasim dan pengawal itu, menunduk memberi hormat dan keluar dari ruangan raja. Tak lupa kasim Jang menutup pintu lalu memerintahkan agar para dayang tetap siaga berjaga didepan pintu.
Permaisuri mematikan lilin dan bersiap tidur diatas futon miliknya kemudian menarik selimut sampai dada untuk menutupi tubuhnya. Rani melirik kearah raja yang tidur di sebelahnya namun dengan futon yang berbeda. Ada rasa khawatir, cemas serta kasihan pokoknya campur aduk saat Rani melihat muka raja yang tampak kalem saat tengah terlelap dan tak sadarkan diri seperti ini. Kemudian Ranipun memejamkan matanya untuk menuju kealam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya raja sudah sadar, raja terbangun dari tidurnya kemudian duduk, lalu menoleh kesamping dan melihat permaisuri yang masih terlelap dalam tidurnya. Raja tersenyum, saat melihat muka polos permaisuri ketika tidur.
Suara dari luar ruangan membuat permaisuri terbangun, pasalnya kasim Jang memanggil dan meminta izin kepada permaisuri untuk masuk keruangan untuk membawakan sarapan.
Rani yang baru terbangunpun mengucek matanya terlebih dahulu, lalu merenggangkan tubuhnya menggeliat menarik tangannya keatas, kemudian menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Rani masih melakukan kebiasaannya ketika bangun tidur saat dikosan, Rani tak menyadari kalo raja sudah bangun dan duduk manis tengah memperhatikan dirinya.
Ranipun bangun dan duduk, kemudian Rani mengerjap - ngerjapkan matanya. Dan menguceknya lagi, dengan suara serak khas bangun tidur, Rani mengizinkan kasim Jang untuk masuk.
Kemudian kasim Jang masuk dengan beberapa dayang yang membawa nampan berisi makanan dan juga minuman. Begitu terkejutnya kasim Jang saat melihat raja sudah sadarkan diri. Kasim Jang langsung menunduk memberi hormat.
" Jeonha, sudah sadar?" Tanya kasim Jang yang merasa senang dan kegirangan.
Sontak permaisuri yang tak tau kalo raja sudah sadarpun terkejut, mendengar ucapan dari mulut kasim Jang. Permaisuri menoleh kesamping dan daaam, benar saja raja sudah duduk manis disampingnya.
Permaisuri sampai melongo tak percaya, kemudian merutuki kebodohannya barusan. Karena permaisuri merasa malu, Rani terus mengutuk dirinya didalam hati, karena tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya ketika bangun tidur.
" Mampus malu banget aku anjiiir, bodoh. Berarti tadi raja lihat waktu aku bangun tidur dong? Kebiasaan buruk sih, nggak pernah ilang - ilang. Pasti raja mikirnya, jadi permaisuri bangun tidur kok nggak ada cantik - cantiknya. Aduh masa bodo, lagian mana ada orang bangun tidur cantik? Yang ada muka lecek dan bau iler."
Raja hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan kasim Jang. " Apa yang mulia baik - baik saja?" Tanya kasim Jang lagi.
" Iya aku baik - baik saja."
__ADS_1
" Hamba hanya menyediakan sarapan untuk permaisuri, karena hamba tidak tau kalo yang mulia sudah sadar dan bangun. Apa perlu hamba menyiapkan makanan lagi untuk baginda?" Tawar kasim Jang.
" Tidak perlu, aku akan makan makanan itu, bersama dengan permaisuri." Jawab raja lalu menoleh kearah permaisuri, kemudian terkekeh geli melihat ekspresi permaisuri yang seakan tengah terkejut.
Walaupun raja tidak tau permaisuri terkejut karena apa, entah karena ucapan raja yang akan bergongsi makanan dengan dirinya, atau juga karena permaisuri merasa kesal dan malu karena raja sudah memergoki kebiasaan buruknya ketika bangun tidur.
Karena biasanya selama permaisuri tidur dikediaman raja, permaisuri yang selalu bangun terlebih dahulu. Kalaupun raja yang bangun duluan, paling juga raja sudah ngacir duluan untuk rapat bersama para dewan kerajaan. Jadi ini pertama kalinya raja memergoki kebiasaan buruk Rani.
Raja dan permaisuripun selesai sarapan, mereka sarapan dengan suasana yang canggung dan dalam mode diam. Jadi bisa selesai dengan cepat. So joon langsung datang menghadap raja, setelah So joon mendengar kabar bahwa raja sudah sadar.
So joon datang untuk memeriksa luka raja, dan mengoleskan obat yang baru serta mengganti perban raja dengan kain yang baru.
Setelah selesai, So joon memberikan sebuah plakat kepada raja. Rajapun mengambil plakat itu, raja mengerutkan keningnya karena plakat yang So joon berikan adalah plakat yang tidak asing bagi raja.
Raja melirik kearah So joon untuk memastikan, Dan dibalas anggukan oleh So joon. Berarti pemikiran raja tidak salah tentang plakat itu.
" Bagaimana kau bisa mendapatkan plakat ini So joon?" Tanya raja yang penasaran.
Sementara permaisuri yang tak tau apa - apapun hanya diam, duduk disebelah raja. Kemudian So joon mulai menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan plakat itu.
FLASHBACK ON #
Setelah raja dan permaisuri melarikan diri dari para komplotan itu, So joon mulai memperlihatkan skill berpedangnya yang dijuluki pedang iblis. Dan mulai membasmi satu - persatu orang - orang yang berpakaian serba hitam itu. Hingga menyisakan satu orang saja, yaitu orang yang memiliki luka dipelipisnya.
So joon tentu tidak berniat untuk membunuhnya sama sekali, karena orang itu merupakan kunci dari dalang dibalik kelompok penimbun beras. So joon berniat hanya akan menangkapnya dan menjadikannya sandra. Kemudian mengintrogasinya untuk mengorek informasi tentang dalang dibalik semua ini.
Namun naas orang itu melarikan diri, So joon berusaha mengejarnya namun kehilangan jejak pria itu. Tapi So joon tidak khawatir, walaupun sudah kehilangan pria itu. Karena ia tinggal mencari orang yang memiliki bekas luka dipelipisnya dan juga diwajahnya. Karena tadi pedang So joon mengenai dan menggores wajah pria itu, waktu mereka tengah bertarung.
Saat So joon berbalik badan dan hendak mencari keberadaan raja dan permaisuri, tiba - tiba So joon merasakan kakinya menginjak sesuatu. So joon menundukan kepalanya, melihat benda apa yang ia ijak. Ternyata sebuah plakat, So joon kemudian mengambilnya.
So joon tau persis tentang plakat itu, yang merupakan plakat anggota pasukan dari menteri perang dan pertahanan. Kemudian So joon memutuskan untuk menyimpannya.
" Oh begitu rupanya." Ucap raja sambil mangut - mangut.
" Kemarin waktu aku dan permaisuri bersembunyi didalam gua, aku juga mendengar dari salah satu orang yang mengejar kami, bahwa mereka adalah anak buah dari menteri perang dan pertahanan."
So joon tampak terkejut bahwa ternyata raja sudah mengetahuinya, So joon menatap raja dalam, melihat apakah ada luka dari sorot matanya. Mengingat raja dulu sangat mencintai selir agung. Walaupun belum tentu selir agung juga terlibat dalam hal ini. Namun So joon tak melihat itu, So joon hanya melihat rasa kecewa dan marah.
" Bukankah dengan adanya plakat ini, malah bagus yang mulia. Kita jadi memiliki bukti untuk mengungkapkan kebusukan perdana menteri Han."
" Memang benar tapi jika hanya dengan plakat ini, jelas bukti yang kita miliki belum cukup." Ujar raja.
" Bukankah masih ada pria itu, pria yang memiliki luka dipelipisnya. Kita tinggal menangkap pria itu, untuk kita jadikan saksi." Usul So joon.
" Benar yang mulia, kita tinggal mencari pria itu. Pasti pria itu berada disekitar perdana menteri Han." Saut permaisuri.
" Tidak bisa, masalah seperti ini tidak bisa kita selesaikan dengan terburu - buru." Tolak raja.
Permaisuri seketika menjadi murung, dan menganggap bahwa raja membela dan ingin melindungi perdana menteri Han, yang merupakan ayah dari selir agung.
Raja mengetahui perubahan expresi dari permaisuri, Jelas raja tau apa yang kini tengah permaisuri pikirkan terhadap dirinya. Tak mau jika ada kesalahpahaman diantara mereka, rajapun mencoba menjelaskan alasan kenapa ia menolak usulan dari So joon dan juga permaisuri.
" Begini, aku tau jika masalah ini kita ungkapkan dan laporkan kedewan kejaksaan kerajaan, pasti bisa menjerat perdana menteri Han. Karena kita memiliki bukti dan juga saksi. Tapi pertanyaanya, apakah perdana menteri Han melakukannya sendirian? Tentu tidakkan? Jelas dalam hal ini pasti melibatkan banyak orang yang berpengaruh cukup besar dikerajaan ini, tepatnya orang - orang yang memiliki jabatan cukup tinggi diistana ini."
" Tugas kita sekarang ini adalah menemukan semua sekutu dari perdana menteri Han terlebih dahulu. Sekaligus mengumpulkan lebih banyak bukti, agar mereka tidak bisa mengelak lagi. Bagaimana, apa kalian setuju dengan ucapanku?"
__ADS_1
" Hamba setuju yang mulia." Jawab So joon tanpa ragu.
Sedangkan permaisuri hanya diam, dan masih memasang wajah yang murung, walaupun raja sudah menjelaskan alasan dirinya menolak usulan untuk segera mengungkapkan kejahatan yang sudah dilakukan oleh perdana menteri Han.
" Bagaimana menurutmu permaisuri?" Tanya raja, yang seketika mengagetkan permaisuri.
" Hamba setuju." Jawab permaisuri tak bersemangat.
Raja yang melihat permaisuri, masih memasang muka murungpun menjadi bertanya - tanya. Apa yang membuat permaisurinya tidak suka? Padahal dirinya sudah menjelaskan alasannya.
Rani merasa kecewa karena aksinya menuntut keadilan terhadap selir agung dan keluarganya untuk Kim so hee harus tertunda. Padahal tadinya Rani sudah senang, dan berharap dengan tuntasnya masalah yang menjerat Kim so hee, dirinya bisa kembali kejaman moderen lagi. Karena Kim so hee tidak mengatakan apapun, hanya meminta Rani untuk memberi keadilan untuk dirinya. Dan Rani berfikir dengan jatuhnya posisi selir agung diistana ini, merupakan bentuk keadilan untuk Kim so hee.
Namun Rani harus berlapang dada dan sabar, karena mimpinya untuk kembali kejaman moderen harus tertunda. Rani membuang nafasnya berat.
Kasim Jang kembali masuk keruangan raja, dan mengatakan bahwa tadi dayang utusan dari ibu suri datang. Dan menyampaikan pesan bahwa yang mulia raja dan juga permaisuri, disuruh datang menghadap ibu suri dikediamannya. Rajapun menyanggupi titah ibu suri dan segera bersiap.
Kini raja dan juga permaisuri sudah berada di kediaman ibu suri, sebenarnya tadi permaisuri sempat akan menolak saat kasim Jang memberi tahu bahwa ibu suri memanggil raja dan juga dirinya.
Karena mengingat kondisi raja yang belum pulih sepenuhnya. Bahkan wajahnya juga masih terlihat pucat. Namun raja langsung menyanggupi titah dari ibu suri. Dan sekarang mereka berdua kini tengah duduk santai sambil minum teh bersama dengan ibu suri.
" Kalian ini ya, memang cucu yang tidak berbakti. Kalo tidak aku suruh datang kemari, kalian tidak akan pernah mau datang kemari, mengunjungi orang tua ini." Maki ibu suri.
" Bukan begitu ibu suri, ampuni hamba! Cucumu ini memang tidak tau diri. Tapi akhir - akhir ini memang pekerjaan hamba sedang menumpuk dan hamba sangat sibuk, sehingga hamba tidak sempat berkunjung kekediaman ibu suri." Jawab raja.
" Alah alesan, memangnya aku tidak tau. Kau memerintahkan kasim Jang untuk membawa Semua pekerjaanmu kekediamanmukan? Kau bahkan kemarin tidak menghadiri rapat dewan kerajaan, dengan alasan sakit. Mentang - mentang dapat mainan baru." Semprot ibu suri.
Mendengar ucapan ibu suri, Raja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara permaisuri yang tidak mengerti maksud omongan dari ibu suri, malah dengan polosnya menanyakan kembali maksud dari ucapan ibu suri.
" Mainan baru apa ibu suri?"
" Ha..ha..ha.." Ibu suri tertawa dengan kepolosan permaisuri.
" Maksudku mainan baru raja, yaitu kau permaisuri."
" Hamba?"
" Iya kau permaisuri, bukankah kau sudah beberapa hari ini terus tinggal dikediaman paduka raja?"
Permaisuri mengangguk, walaupun masih belum paham maksud arah dari ucapan ibu suri.
" Apa sekarang sudah ada tanda - tanda?" Tanya ibu suri ambigu.
" Tanda - tanda apa ibu suri?" Tanya permaisuri yang semakin dibuat bingung dengan ucapan ibu suri.
" Tanda - tanda akan adanya wangseja." Bisik ibu suri ketelinga permaisuri. Yang masih didengar oleh raja.
Bluush
Wajah permaisuri langsung merah, "Oh jadi ini toh, arah dari pembicaraan ibusuri."
Permaisuri jadi salah tingkah dan bingung bagaimana menjelaskannya kepada ibu suri. Karena hubungannya dengan raja tidak sedekat itu, dan hubungan mereka juga bukan tahap bisa melakukan hal seperti itu. Sepertinya ibu suri salah paham, karena permaisuri terus menginap dikediaman raja.
" Ibu suri tenang saja, kalau soal itu pasti akan ada saatnya. Tidak perlu terburu - buru." Celetuk raja dengan santainya.
Permaisuri langsung menoleh kearah raja, mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya. " Maksud L apa ya? Ngomong main asal jeplak aja, nggak pake di saring dulu."
__ADS_1
Permaisuri bedecak sebal dan malas menanggapi ucapan raja yang mulai nglantur.
Jangan lupa like dan komen ya🤗😘🙏