
Sesuai kesepakatan kemarin, hari ini raja, permaisuri, dan So joon akan melakukan infestigasi kembali kepara petani yang kemarin sudah diwawancarai oleh So joon.
Pagi - pagi buta mereka bertiga sudah pergi menyelinap keluar istana. Raja memerintahkan kasim Jang untuk membawa pekerjaannya kekediamannya saja, dengan alasan raja sedang tidak enak badan dan akan mengerjakan pekerjaannya dikediamannya. Agar para anggota dewan kerajaan tidak ada yang curiga akan kepergian raja dari istana.
Sesampainya mereka didaerah pedesaan, lebih tepatnya diarea persawahan, So joon memimpin jalan untuk mengarahkan raja dan permaisuri ketempat seseorang yang kemarin ditanyainya.
So joon melihat kearah seorang laki - laki paruh baya yang terlihat tengah duduk santai, menyenderkan badannya dibawah pohon, sambil memandangi sawah yang ada didepannya.
So joon berhenti didepan pria paruh baya itu, disusul oleh raja dan juga permaisuri yang ikut berhenti ditempat So joon berhenti.
" Apa bapak masih ingat dengan saya?" Tanya So joon kepada pria paruh baya itu.
" Iya tentu saja tuan, tuankan yang kemarin datang kesini dan menanyakan tentang siapa pemborong hasil panen warga disini." Jawab pria paruh baya itu.
" Benar pak, saya orang yang kemarin. Saya datang kesini lagi, karena ada yang ingin saya pastikan pak?" Terang So joon terus terang.
Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya karena mendengar pemaparan So joon. " Kalau boleh tau, apa tuan?" Tanya pria itu polos.
" Apa benar yang kemarin bapak katakan, bahwa orang yang memborong hasil panen warga desa sini adalah orang suruhan menteri pertanian dan bahan pangan?" Tanya So joon memastikan.
Sementara raja dan permaisuri yang berdiri dibelakang So joon, merasa gugup dengan jawaban pria paruh baya itu.
" Kalo soal itu, hamba tidak tau tuan? Hanya saja, orang itu mengaku dan mengatakan bahwa ia adalah orang suruhan menteri pertanian dan bahan pangan." Jawab pria itu apa adanya.
" Bagaimana ciri - ciri orang itu?" Tanya So joon lagi.
" Orangnya tinggi, dan masih muda, mungkin sepantaran dengan tuan, dia mempunyai bekas luka dipelipis matanya." Terang pria itu.
So joon mengangguk mengerti, kemudian mengucapkan terimakasih. Lalu berjalan menjauh dari pria baruh baya itu, dan diikuti oleh raja dan permaisuri yang berjalan dibelakangnya.
Kemudian mereka bertigapun mencoba bertanya kebeberapa petani didaerah itu lagi, untuk mencari tau lebih ditail lagi tentang orang yang memborong hasil panen didaerah ini. Namun nihil, jawaban mereka sama saja, tidak ada yang mengetahui siapa dia, dan juga siapa namanya.
Kini So joon dan raja serta permaisuri tengah beristirahat disebuah kedai, sekalian makan siang dan sekaligus mengisi kembali tenaga mereka yang sudah terkuras, karena berkeliaran disawah untuk mencari petunjuk tentang sipemborong hasil panen warga.
Raja tampak memesan makanan, sementara permaisuri dan So joon tampak pasrah dan ikut saja, dengan menu yang akan raja pesankan untuk mereka.
" Bagaimana menurut yang mulia? Kita sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun tentang orang itu. Hanya ciri - ciri fisiknya saja, sedangkan orang bertubuh tinggi dan sepantaran dengan hamba tentu sangat banyak." Ucap So joon membuka percakapan.
" Kau benar So joon, tapi jangan lupakan petunjuk penting yang kita dapatkan. Yaitu bekas luka dipelipis matanya." Jawab raja.
So joon mengangguk tanda sependapat dengan raja, tentunya tetap dengan muka datarnya.
" Kalo begitu, kita fokuskan untuk mencari orang itu saja. Jika kita berhasil menemukannya, pasti akan mempermudah kita untuk mengetahui dalang dibalik penimbun beras ini." Permaisuri memberi usul.
" Memang benar, jika kita bisa menemukan orang itu, pasti akan mempermudah jalan kita untuk mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Tetapi mau mencari dimana permaisuri? Sedikitpun kita tidak mendapat petunjuk tentang tempat tinggal atau keberadaan orang itu." Ucap raja yang sedikit frustasi.
Mereka bertiga seakan kompak menghela nafas berat mereka bersamaan. Lalu tenggelam kedalam pemikiran mereka masing - masing.
Rani sebenarnya merasa yakin, kalo sebenarnya dalang dibalik penimbun beras itu jelas rifal dari perdana menteri Kim. Mereka sengaja menggunakan identitas palsu agar bisa menjadikan perdana menteri Kim sebagai kambing hitam. Tapi kira - kira siapa, orang yang pantas dicurigai sebagai tersangka?
" *Ayolah otak cerdasku, berfikirlah! Jangan sia - siakan beasiswa yang kau dapat saat kuliah."
" Mau bagaimanapun caranya, aku harus melindungi keluarga Kim so hee. Aku sudah berjanji kepadanya untuk menegakan keadilan untuk dirinya. Dan itu juga termasuk dengan keluarganya*."
Selama ini, selir agung selalu menindas Kim so hee, dan kemungkinan besar orang yang berambisi dalam hal politik tentu berhubungan dengannya.
__ADS_1
Pasti ini juga berkaitan dengan keluarga selir agung, yang notabennya juga adalah salah satu anggota dewan kerajaan, yaitu perdana menteri Han.
Biasanya kalo didrakor - drakorkan suka gitu, tapi Rani bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada raja. Ngomong tanpa bukti juga bego namanya. Jika hanya mengandalkan insting pengalaman menonton drakor, nggak bisa dijadiin bukti kuat. Nggak bisa jelasinnya juga, yang ada dikira fitnah.
Walaupun pengalaman nonton drakor itu jelas lebih relefan, jalan ceritanya sudah bisa ditebak siapa musuh dan dalang dibalik ini semua. Tapi nyatanya, kalo nggak ada bukti, tetap saja nggak bisa ujug - ujug main tuduh. Terus terbongkar gitu aja. Jadi nggak seru jalan ceritanya.
Rani jadi paham, kenapa kalo disinetron suka nggak jelas. Walaupun si pelaku sudah didepan mata, tetap sipemeran utama nggak bisa ngeliat tuh sipelaku. Yang ujung - ujungnya membuat sipenonton gemas.
Dan inilah yang sedang Rani rasakan saat ini, walaupun tau dalang dari si penimbun beras, tapi tetap nggak bisa ngomong dan jelasin keraja. Beda tipislah ya sama sinetron indonesia?
Rani yang masih kalut dalam pikirannya, tiba - tiba mendapat ide jitu, yang akan menyelamatkan keluarga Kim so hee dan melepaskan mereka dari tuduhan siinforman palsu.
" Hmmm." Permaisuri berdehem untuk menarik perhatian raja dan So joon, yang masih tenggelam dalam pikiran mereka. Raja dan So joon pun kompak menoleh kearah permaisuri.
" Yang mulia, hamba punya usul agar kita bisa mengetahui bahwa ayah hamba bersalah atau tidak." Ucap permaisuri yakin.
Raja dan So joon saling melirik, tak percaya dengan ucapan permaisuri.
" Usul apa permaisuri?" Tanya raja yang sebenarnya tak terlalu minat dengan ucapan permaisuri.
" Begini saja, bagaimana kalo kita berkunjung kekediaman ayah hamba. Jika ayah hamba bersalah, pasti kita akan menemukan petunjuk disana." Usul permaisuri.
Namun So joon langsung menepis usulan permaisuri itu, " Tapi bisa saja, yang mulia permaisuri sudah mengabari ayah anda untuk menghilangkan jejak, dan membuatnya tak bersalah. Bisa saja ini upaya yang mulia agar ayah anda tidak disalahkan dalam kasus ini." Tolak So joon mentah - mentah.
" Aku saja tidur di kediaman yang mulia raja, pagi - pagi sudah ikut bersama kalian meninggalkan istana. Mana sempat aku mengabari ayahku? Apa yang mulia, melihat gerak - gerik aneh dari hamba?" Ucap permaisuri kesal.
Raja manggut - manggut, setuju dengan ucapan permaisuri yang masuk akal. Jika mereka datang secara mendadak, pasti perdana menteri Kim belum ada persiapan untuk menyingkirkan barang bukti. Lalu raja menyetujui usulan permaisuri.
Terpaksa So joon mengikuti perintah junjungannya, yang akan mencoba menggeledah kediaman perdana menteri Kim.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini permaisuri dan raja serta So joon sudah berada di kediaman perdana menteri Kim. Kedatangan mereka disambut gembira oleh nyonya Kim ibu dari Kim so hee. Nyonya Kim langsung memeluk erat dan hangat begitu melihat kedatangan putrinya yang sudah lama tidak ia lihat.
Perasaan Rani mendadak aneh saat nyonya Kim memeluknya erat, seakan kehangatan yang ia rasakan tak asing baginya dan Rani sangat merasa nyaman dengan pelukan itu. Seakan perasaan tulus nyonya Kim dapat tersampaikan kepadanya.
Begitu nyonya Kim melepas pelukannya, Rani dapat melihat nyonya Kim sedikit menitihkan air matanya. Mungkin itu adalah air mata kerinduan, Rani terenyuk melihatnya.
Pasalnya Rani merasa bersalah karena dirinya bukanlah Kim so hee putri yang selama ini nyonya Kim rindukan. Rani menjadi memasang muka sendunya, namun itu hanya sementara karena Rani tidak mau membuat nyonya Kim khawatir. Dengan segera Rani memasang senyum termanisnya untuk menutupi rasa sedih dan rasa bersalahnya kepada nyonya Kim.
Nyonya Kim menunduk memberi hormat kepada raja serta permaisuri lalu meminta maaf atas tindakannya yang kurang pantas tadi, karena ia terlalu senang karena putri semata wayangnya datang berkunjung. Raja tidak mempermasalahkannya dan justru memakluminya.
" Justru saya yang seharusnya meminta maaf ibu, maaf karena tidak pernah mengajak permaisuri untuk datang berkunjung." Ucap raja tulus.
Nyonya Kim tersenyum bahagia mendengar raja memanggilnya ibu.
" Tidak apa - apa yang mulia, hamba tau pasti yang mulia sibuk sekali diistana. Mari silahkan masuk."
Kini mereka sudah berada disebuah ruangan khusus untuk menyambut tamu yang datang. Nyonya Kim meminta pelayan untuk membawakan minuman serta cemilan untuk raja dan permaisuri serta So joon.
Nyonya Kim duduk disamping permaisuri, sedangkan raja duduk bersebelahan dengan So joon. Mereka duduk berhadapan.
" Ibu, apakah ayah berada dirumah?" Tanya permaisuri berbasa basi.
" Tidak, ayahmu berada diistana. Bukankah ini adalah jam kerjanya?" Jawab nyonya Kim yang merasa heran dengan pertanyaan putrinya, namun nyonya Kim tidak berfikir terlalu jauh, karena nyonya Kim berfikir bahwa mungkin putrinya sedang merindukan ayahnya.
__ADS_1
" Hmmm, begini ibu." Ucapan permaisuri terhenti saat pelayan mengantarkan minuman serta cemilan.
Setelah pelayan itu pergi, permaisuri mencoba melanjutkan lagi ucapannya yang tertunda.
" Ibu, maksud kedatangan kami kesini itu bukan hanya untuk mengunjungi ibu."
Nyonya Kim tak mengerti dengan maksud dari ucapan putrinya itu. " Apa maksud dari ucapanmu permaisuri?" Tanya nyonya Kim memandang putrinya dengan heran.
" Sebenarnya kami sedang menyelidiki kelompok yang menimbun beras, sehingga harga beras dipasaran menjadi tidak masuk akal." Ujar permaisuri mencoba menjelaskan.
Jujur raja dan So joon kaget dengan ucapan permaisuri yang langsung membeberkan misi rahasia mereka. Namun mereka diam saja, menunggu kata selanjutnya yang akan permaisuri katakan dan bagaimana reaksi dari nyonya Kim.
" Bukankah ayahmu selalu memantau harga jual dipasar, dan bukankah hasil panen tahun ini juga cukup melimpah. Bahkan ayahmu bercerita jika lumbung padi istana penuh dan sampai tidak muat untuk menampung pajak dari para petani." Ucap nyonya Kim yang tampak syok.
" Memang benar ibu, namun ada kelompok yang memonopoli hasil panen rakyat. Mereka memborong hasil panen mereka, lalu menjualnya dengan harga tinggi."
" Itu tidak mungkin, ibu selalu pergi kepasar untuk berbelanja kebutuhan sehari - hari, namun mereka menjualnya dengan harga normal dan terbilang lebih murah dari tahun - tahun sebelumnya."
" Mereka menjual dengan harga murah hanya kepada para bangsawan saja, kemudian menjualnya dengan harga tinggi kepada rakyat biasa ibu."
" Makanya kami sedang menyelidiki kasus ini. Dan dari penyelidikan kami, ada seorang narasumber yang mengatakan bahwa orang yang memborong hasil panen para petani adalah suruhan dari menteri pertanian dan bahan pangan."
Nyonya Kim sungguh terkejut dengan penuturan putrinya, sampai ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Nyonya Kim sampai tidak tau harus berkata apa - apa.
Permaisuri yang memahami keterkejutan nyonya Kim pun, kemudian menarik tangan nyonya Kim lalu menggenggamnya erat, memberinya kekuatan dan ketenangan.
" Ibu tenang saja, aku percaya ayah tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Maka tolong izinkan yang mulia dan So joon menggeledah kediaman ini."
Ucapan permaisuri barusan, sungguh tak terduga dan membuat raja dan So joon ternganga tak percaya.
Nyonya Kim kemudian memalingkan wajahnya yang kini mulai berderai air mata kearah raja dan juga So joon. " Yang mulia, hamba meminta maaf atas ketledoran suami hamba, hingga menyebabkan masalah yang begitu besar seperti ini. Silahkan geledah kediaman ini! Hamba mengizinkannya." Ucap nyonya Kim dengan nada yang lirih, tampak kecewa dan juga hancur dari ekspresi wajahnya. Walaupun ia mempercayai suaminya, namun ia tetap sedikit merasa takut jika yang dikatakan putrinya itu benar.
Nyonya Kim tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi terhadap keluarganya. Terlebih putrinya kini tengah menyandang status permaisuri. Pasti akan berdampak buruk juga kepada nasib putrinya.
Raja dan So joon saling melirik, kemudian mengangguk bersama sepakat untuk mulai menggeledah kediaman perdana menteri Kim. Sementara permaisuri menemani ibunya untuk menguatkan dan menenangkannya. Permaisuri memeluk nyonya Kim erat dan terus mengelus punggungnya dengan lembut.
Walaupun nyonya Kim tampak tak berhenti terus menangis, namun Rani tetap berusaha membuat nyonya Kim untuk tetap tenang.
" Ibu percaya padaku, ayah tidak mungkin melakukan hal yang akan merugikan rakyat biasa dan juga keluarganya. Aku sangat mengenal ayah, makanya aku membiarkan raja untuk menggeledah kediaman ini. Dengan begini, kecurigaan raja terhadap keluarga kita akan berkurang."
Setelah hampir satu jam raja dan So joon menggeledah seluhur tempat dikediaman perdana menteri Kim, tampaknya mereka tidak menemukan apapun.
Permaisuri dan nyonya Kim tampak lega, namun raja dan So joon harus berfikir keras karena mereka belum menemukan petunjuk dari sipelaku. Raja tampak tidak enak dengan ibu mertuanya itu.
" Maafkan kami ibu, karena sudah menggeledah kediaman ini." Ucap raja tulus.
" Tidak apa - apa yang mulia, hamba mengerti. Tapi hamba tidak habis fikir, siapa orang yang telah berani memfitnah keluarga hamba?"
" Sudahlah, ibu tidak perlu memikirkannya. Semuanya serahkan saja kepada kami. Dan tolong rahasiakan hal ini dari siapapun, karena yang mulia menyelidiki hal ini secara diam - diam." Ujar permaisuri yang memperingati ibunya.
Nyonya Kim mengangguk mengerti. Lalu raja dan permaisuri serta So joon, pamit undur diri. Sebelum pergi nyonya Kim kembali memeluk putrinya erat. " Jaga dirimu baik - baik, karena ibu tidak selalu bisa berada disisimu." Bisik nyonya Kim, lalu melepaskan pelukannya. Lalu membungkuk memberi hormat kepada raja. Mereka bertigapun pergi meninggalkan kediaman perdana menteri Kim.
Gimana seru nggak ceritanya? Maaf masih belajar dalam membuat konflik. Dan aku juga bukan tipe yang suka menye - menye, lebih suka kalo pemerannya langsung bisa menemukan solusi permasalahan.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN🤗👍🏼🙏
__ADS_1