MENDADAK PERMAISURI

MENDADAK PERMAISURI
Festival Perburuan 3


__ADS_3

Raja menerima hormat dari orang itu, dengan menganggukan kepalanya. Sementara So joon terus menatap dan memperhatikan orang itu lekat, tanpa mengedipkan matanya sama sekali.


" Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak tau jika rusa itu adalah hewan buruan yang mulia. Betapa terkejutnya hamba, saat melihat yang mulia berada disini. Hamba tadi hanya terpesona saat melihat rusa yang berukuran besar dan memiliki bulu yang sangat indah, sehingga hamba ingin menjadikannya hewan buruan hamba. Sungguh hamba sangat menyesal." Ucap orang itu lalu menundukan badannya lagi sebagai tanda permintaan maaf dan penyesalan darinya.


" Tidak apa - apa, aku tadi hanya terkejut saja, saat tiba - tiba ada anak panah yang meluncur kearah rusa itu." Saut raja sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.


" Syukurlah kalo begitu, terima kasih yang mulia atas belas kasih anda." Saut orang itu.


Raja merasa tidak asing dengan pria yang tengah berbicara dan berdiri dihadapannya ini dan hendak menanyakan nama kepada si pria. Belum sempat raja bertanya, namun terdengar suara seseorang yang datang menyapa.


Rajapun mengalihkan pandangannya kesumber suara, begitu juga So joon dan pria itupun ikut menoleh. Terlihat perdana menteri Han dan beberapa rombongannya datang menghampiri raja, lalu membungkuk memberi hormat. Raja tampak terkejut karena perdana menteri Han tiba - tiba menghampirinya.


" Maafkan hamba yang mulia, jika hamba mengganggu waktu berburu yang mulia. Hamba datang kesini karena hamba melihat keponakan hamba tengah berbincang dengan yang mulia." Ucap perdana menteri Han yang menjelaskan akan maksud kedatangannya.


" Apakah yang kau maksud dengan keponakanmu itu, adalah pemuda ini?" Tanya raja sambil menunjuk kearah pria yang berdiri disebelahnya.


" Benar yang mulia, Han tae moo ini adalah keponakan hamba. Dari tadi hamba sedang mencarinya karena dia terpisah dengan tim kami." Jelas perdana menteri Han.


" Ooh jadi namamu Han tae moo, baru saja aku akan menanyakannya kepadamu." Ucap raja jujur.


" Ternyata kau keponakan perdana menteri Han, pantas aku merasa tidak asing denganmu." Lanjut raja.


" Memangnya hamba semirip itu dengan keponakan hamba yang mulia? Sampai - sampai yang mulia merasa familiar hanya dengan melihat wajah Han tae moo. Bukankah ini pertama kalinya yang mulia bertemu dengan keponakan hamba?" Pancing perdana menteri Han.


" Sebenarnya nggak begitu mirip, namun entah mengapa aku merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat." Jawab raja santai namun dengan senyum yang penuh arti.


" Benarkah? Mungkin saja yang mulia memang pernah bertemu dengan keponakan hamba disuatu tempat tanpa disengaja." Saut perdana menteri Han.


" Mungkin kau benar perdana menteri Han, namun aku tidak mengingatnya." Jawab raja kemudian memandang kearah Han tae moo.


" Dari tadi aku merasa penasaran akan luka diwajahmu, sepertinya luka itu belum lama kau dapatkan, karena luka itu belum mengering sepenuhnya?" Tanya raja ke Han tae moo.


" Ooh ini?" Ucap Han tae moo lalu memegang wajahnya yang terdapat luka. " Luka ini memang hamba dapatkan belum lama ini waktu hamba tengah berlatih pedang." Bohong Han tae moo.


" Benarkah?" Raja manggut - manggut, lalu tersenyum tipis dan menaikan satu alisnya. " Sepertinya kau adalah tipe orang yang selalu berusaha keras, aku menyukai usahamu dalam berlatih pedang. Pasti pamanmu sangat bangga terhadapmu, karena kau sangat bisa diandalkan." Ucap raja lalu menepuk pundak Han tae moo.


" Ooh iya perdana menteri Han, apa kau sendiri yang mengajari Han tae moo cara berpedang?" Kali ini raja mengalihkan pandangannya kepada perdana menteri Han.


" Benar yang mulia, sedari Han tae moo masih kecil memang hambalah yang melatih kemampuan berpedang serta seni beladiri Han tae moo secara langsung." Jawab perdana menteri Han.


" Aku percaya dengan kemampuan melatihmu perdana menteri Han, yang memang tidak diragukan lagi dan sangat luar biasa. Namun aku sarankan, agar kau tidak terlalu keras saat melatih Han tae moo. Melihatnya terluka seperti ini, sepertinya dia sangat berusaha keras agar menjadi seseorang yang bisa diakui olehmu." Ucap raja kepada perdana menteri Han.


" Baik yang mulia, hamba akan mengingat saran dari yang mulia. Kalo yang mulia tidak keberatan, hamba bersama dengan Han tae moo pamit undur diri karena kami akan melanjutkan perburuan kami." Pamit perdana menteri Han.


" Tentu saja perdana menteri Han, silahkan! Maaf karena telah menahanmu serta keponakanmu terlalu lama disini."


" Hamba sama sekali tidak keberatan yang mulia, bisa berbincang seperti ini dengan yang mulia adalah sebuah kehormatan untuk hamba serta keponakan hamba. Kalo begitu kami undur diri yang mulia." Pamit perdana menteri Han lagi.


Kemudian perdana menteri Han dan Han tae moo membungkuk memberi hormat dan pergi meninggalkan raja serta So joon diikuti oleh rombongannya yang berjalan dibelakang perdana menteri Han dan juga Han tae moo.


Setelah perdana menteri Han dan Han tae moo pergi, So joon mendekatkan dirinya kearah raja. Sambil terus menatap rombongan perdana menteri Han yang sudah berjalan cukup jauh.


" Apa yang mulia memiliki pemikiran yang sama dengan hamba, tentang keponakan perdana menteri Han?" Tanya So joon terus terang.


" Apa kau berfikir kalau keponakan perdana menteri Han adalah orang yang menyerang kita kemarin dihutan?" Tanya raja balik.


" Benar yang mulia, dari bekas luka dipelipis serta diwajahnya yang belum sepenuhnya mengering, hamba yakin bahwa Han tae moo adalah orangnya." Jawab So joon mantap.

__ADS_1


" Aku rasa apa yang kau katakan memang benar So joon."


" Kalo dia memang orangnya? Lalu kenapa perdana menteri Han malah mengajaknya keacara perburuan ini? Seakan ia dengan sengaja ingin memperlihatkannya kepada yang mulia."


" Sepertinya perdana menteri Han mulai menunjukan siapa dirinya secara terang - terangan, karena ia tau kalo aku tidak mungkin akan menghukumnya sebelum aku memiliki bukti yang cukup."


" Sebaiknya mulai saat ini kita harus lebih berhati - hati lagi! Karena kita tidak tau apa yang tengah perdana menteri Han rencanakan. Dengan dia yang dengan berani menunjukan taringnya seperti tadi, aku rasa dia pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya dan konsekuensi yang akan ia dapatkan." Seru raja memperingatkan So joon.


Acara perburuanpun sudah hampir selesai, karena sudah terlihat beberapa para bangsawan serta para menteri kerajaan yang sudah kembali sambil membawa hewan buruan mereka.


Mereka membawa hewan perburuan mereka, ketenda tempat para nona bangsawan menunggu. Karena setelah raja mengumumkan siapa pemenang lomba, mereka akan mempersembahkan hewan buruan mereka kepada orang yang sepesial bagi mereka.


Disinilah pertarungan yang sesungguhnya, karena jika nona bangsawan yang mendapatkan atau menerima hasil buruan dari sipemburu, maka itu dianggap sebagai layaknya pernyataan cinta dari sipemburu.


Apabila ada nona bangsawan yang mendapatkan lebih dari satu hewan buruan dan bukan hanya dari satu orang saja, atau orang yang berbeda? Itu menandakan bahwa nona bangsawan itu mendapatkan banyak cinta atau lebih tepatnya nona bangsawan itu sangat populer. Dan biasanya nona bangsawan itu akan menjadi pusat perhatian diantara para nona bangsawan lain dan menjadi panutan mereka.


Namun sebaliknya, bila nona bangsawan itu tidak mendapatkan satu hewan buruanpun, maka ia dianggap tidak ada yang memiliki cinta untuknya. Makanya banyak nona bangsawan yang mempertaruhan harga dirinya diacara festival perburuan ini. Walaupun hanya mendapatkan satu hewan buruan saja, itu bisa menyelamatkan muka mereka.


Namun beda kasusnya dengan yang Kim so hee alami, walaupun ia mendapatkan hewan buruan dari ayahnya yaitu perdana menteri Kim. Namun ia sama sekali tidak mendapatkan hewan buruan dari suaminya yaitu raja yang dulu masih menyandang sebagai putra mahkota. Hal itu yang membuat Kim so hee malu, dan memutuskan untuk tidak mengikuti setiap diadakannya acara festival perburuan.


Tapi sekarang beda ceritanya, karena Rani sama sekali tidak berharap akan mendapatkan hewan buruan dari raja. Rani juga tidak perduli dengan cibiran atau cemooh yang akan ia dapatkan dari para nona bangsawan yang hadir. Karena tujuannya datang keacara ini adalah hanya untuk menunjukan posisinya sebagai permaisuri.


Karena menurut Rani sikap pengecut Kim so hee yang bersembunyi dan menghindari acara festival perburuan ini yang justru membuat reputasinya sebagai permaisuri menjadi hancur dan tidak dihargai lagi. Rani hanya ingin menunjukan kesemua orang termasuk selir agung, bahwa posisinya sebagai permaisuri itu kuat, kokoh, walaupun tertiup angin topanpun tidak akan goyah.


Bagaimanapun posisinyalah yang memegang kendali serta kuasa atas segala hal, setelah raja dan ibu suri tentunya.


Saat Rani masih asik dengan pemikirannya sendiri, tiba - tiba pangeran Lee sudah berada di hadapannya dan itu sukses membuat Rani terkejut.


" Astaga, kau membuatku kaget saja pangeran?" Ucap Rani sambil mengelus dadanya.


" Aku tidak memikirkan apapun." Sanggah Rani.


" Benarkah, lalu kenapa kau tadi melamun?" Tanya pangeran Lee yang tak percaya dengan ucapan permaisuri.


" Sudahlah pangeran Lee, kau jangan menggoda permaisuri seperti itu." Tegur ibu suri. " Kemarilah, mendekat kepadaku!"


Pangeran Lee pun memanyunkan bibirnya karena mendapat teguran dari ibu suri, pangeran Lee pura - pura merajuk lalu menghampiri ibu suri.


" Bagaimana kabar selir Song? Apakah baik - baik saja? Akhir - akhir ini ibumu jarang mengunjungiku diistana." Tanya ibu suri kepada pangeran Lee.


" Ibu baik - baik saja, akhir - akhir ini ibu tengah memiliki hobi baru, yaitu menanam berbagai jenih tanaman." Jawab pangeran Lee terus terang.


" Syukurlah kalo begitu aku lega mendengarnya, sebenarnya aku sedikit khawatir karena dia sudah lama tidak mengunjungiku. Dan diacara ini juga ibumu tidak datang."


" Nenekan tau ibuku paling nggak bisa kalo melihat darah, apalagi hewan yang terluka, makanya ibuku tidak pernah datang keacara perburuan." Jawab pangeran Lee.


" Iya aku tau, dan rasa takut ibumu juga menurun kepadamu. Makanya kau tidak pernah ikut serta dalam berburu." Ejek ibu suri.


Perkataan ibu suri barusan menarik perhatian Rani, Rani yang sedari tadi diam saja tidak perduli dengan obrolan antara nenek dan cucunyapun kemudian langsung pasang telinga lebar - lebar bermaksud menguping pembicaraan mereka.


" Aah nenek, apa kau sedang mengejekku?" Pangeran Lee mendengus kesal. "Asal nenek tau ya, aku tuh berbeda dengan ibuku. Bukannya aku takut, aku hanya tidak tega jika harus menyakiti binatang." Bela pangeran Lee.


" Iya, nenekmu ini percaya sepenuhnya denganmu." Ibu suri tersenyum senang karena berhasil menggoda pangeran Lee.


" Oh ya dari tadi kenapa kau selalu berbicara nonformal denganku? Kemana tatakerama yang selalu kau pelajari hah? Dasar anak nakal!" Omel ibu suri lalu menjewer telinga pangeran Lee.


Pangeran Lee meringis kesakitan, dan permaisuri tertawa puas melihat pemandangan yang menghibur dirinya. Tau dirinya tengah ditertawakan oleh permaisuri, pangeran Lee melotot tajam kearah permaisuri. Bukanya takut akan pelototan dari pangeran Lee, namun permaisuri malah terkesan cuek. Dan justru permaisuri makin mempermainkan pangeran Lee dengan mengejek dan memeletkan lidahnya, pangeran Lee pun mendengus kesal.

__ADS_1


" Aaw sudah, tolong lepaskan nek! Nanti telingaku bisa putus." Rengek pangeran Lee.


Ibu suripun merasa iba dengan pangeran Lee yang sudah merintih kesakitan. Lalu melepaskan jewerannya, pangeran Lee pun mengusap telinganya yang tampak memerah akibat jeweran dari ibu suri.


" Nenek kejam sekali terhadapku, apa nenek sudah tidak sayang lagi kepadaku?" Gerutu pangeran Lee.


" Kalo aku sudah tidak sayang lagi kepadamu, aku akan langsung menggantungmu bukan malah menjewermu. Karena kau sudah berani kurang ajar kepadaku. Kau itu satu - satunya cucuku yang berani bicara nonformal kepadaku." Omel ibu suri.


" Maafkan aku yang mulia ibu suri yang cantik." Rayu pangeran Lee.


" Aku tidak akan termakan rayuanmu!"


" Siapa bilang aku merayu, neneku ini memang wanita paling cantik. Tapi setelah ibuku tentunya." Oceh pangeran Lee sambil cengengesan.


" Kau itu memang pandai sekali berkata manis, kali ini kumaafkan."


" Terimakasih, belas kasih yang mulia tiada tara." Ucap pangeran Lee dengan nada lebay. Sampai permaisuri yang mendengarnya ingin muntah.


" Lihat tuh nek! Permaisuri dari tadi mengejekku dan juga menertawaiku." Adu pangeran Lee, yang berharap permaisuri juga akan mendapat semprotan dari ibu suri.


Namun sayang, ibu suri tidak menanggapi ucapan pangeran Lee. Ibu suri hanya tersenyum melihat tingkah kedua cucunya yang seperti kucing dan tikus.


Akhirnya raja dan So joon pun kembali ketenda, terlihat So joon tengah menggendong membawa hewan buruan ya sangat memuaskan. Semua orang tampak terkagum - kagum, melihat hewan hasil buruan raja dan juga So joon.


Sementara raja, ia hanya menenteng beberapa ekor kelinci ditangannya. Karena nggak mungkin semua hewan hasil buruannya dibawakan oleh So joon.


Raja menghampiri ibusuri lalu memberi hormat, dan ibu suripun menerima hormat raja. Sebagai simbolis raja langsung memberikan beberapa ekor kelinci hasil buruannya kepada ibu suri, ibu suri menerima hasil buruan raja dengan senang hati.


Semua orang yang berada disana bertepuk tangan, mereka semua tampak bersuka cita dan bahagia menyaksikan serah terima hewan buruan raja.


Setelah serah terima hewan buruan raja selesai, ibu suri langsung kembali keistana. Sementara So joon menaruh hewan buruan raja yang lainnya kedalam kandang.


Pangeran Lee mendekati raja, lalu menengadahkan kedua tangannya didepan raja. " Hewan buruan untukku mana ka?" Ucap pangeran Lee sambil tersenyum kuda, yang menampilkan deretan giginya yang putih.


" Ini." Ucap raja singkat sambil memberikan satu ekor anak kelinci.


" Haaah, masa ini sih?" Protes pangeran Lee sambil menunjuk anak kelinci yang disodorkan oleh raja.


" Kalo tidak mau, ya sudah." Ucap raja lalu hendak menarik kembali tangannya yang tengah memengang anak kelinci.


Melihat raja yang hendak menarik kembali anak kelinci yang akan diberikan kepadanya, pangeran Lee buru - buru langsung merebut anak kelinci itu dari tangan raja.


" Aku mau ko hyung, terima kasih anak kelincinya." Ucap pangeran Lee dengan tersenyum kecut.


Permaisuri yang menyaksikan drama antara kaka beradik itupun memutar bola matanya malas. Setelah memberikan anak kelinci itu kepada pangeran Lee, rajapun pergi bersiap untuk melihat dan menilai hewan buruan dari para bangsawan yang mengikuti acara festival ini.


" Jadi kau datang keacara ini, hanya untuk mengemis hewan buruan kepada kakamu? Apa kau nggak malu?" Tanya permaisuri kepada pangeran Lee. Tentunya setelah raja pergi.


" Kaka ipar syirik aja, iri bilang bos? Kalo mau bilang aja?" ejek pangeran Lee sambil memamerkan anak kelinci pemberian raja.


" Idiiih, siapa juga yang ngarep dikasih hewan buruan sama dia." Saut permaisuri lalu melengos kearah lain.


" Hmmm, gengsi." Ucap pangeran Lee lirih, namun masih bisa didengar oleh Rani.


Ranipun berkacak pinggang dan melotot kearah pangeran Lee, kemudian langsung menggetok kepala pangeran Lee dengan keras.


Jangan Lupa Like dan Komen 😍🙏

__ADS_1


__ADS_2