MENDADAK PERMAISURI

MENDADAK PERMAISURI
Cha Eun Woo


__ADS_3

Sampai di depan gerbang istana, hari memang terlihat sudah gelap. Raja terus memacu kudanya masuk ke dalam istana. Dan mengantarkan permaisuri kekediamannya.


Sesampainya dikediaman permaisuri, raja langsung turun dari kuda dan membantu permaisuri turun dari kuda miliknya. Kepulangan mereka berdua sudah ditunggu oleh para dayang permaisuri, dan langsung disambut oleh dayang utama Park bersama para dayang lainnya, yang memang sudah berada didepan kediaman permaisuri.


Wajah dayang utama Park nampak lega melihat junjungannya kembali dengan selamat. Setelah turun dari kuda Rani mengucapkan terimakasih kepada raja karena sudah mengantarkannya sampai kekediamannya dengan selamat. Dan segera bergegas masuk kedalam kediamannya. Rajapun kembali menaiki kudanya dan pergi dari kediaman permaisuri.


Rasa lelah itu yang dirasakan oleh permaisuri, setelah turun dari kuda. Seakan badannya pegal semua. Buru - buru Rani meminta Go jang mi menyiapkan air untuk dirinya mandi. Rani sudah tidak betah karena badannya terasa lengket. Dan Go jang mi pun segera bergegas menyiapkan permintaan dari junjungannya.


Sambil menunggu air untuk mandi siap, Rani duduk disinggahsananya terlebih dahulu. Didepan meja sudah tersedia minuman teh hangat dan sedikit cemilan yang disiapkan para dayang untuknya. Rani menuangkan teh kedalam gelas kecil dan meminumnya. Sementara dayang utama Park juga berada diruangan itu, untuk menemani permaisuri.


" Yang mulia, hamba ingin meminta maaf atas kecerobohan hamba yang mulia." Dayang utama Park membuka suara.


Mendengar ucapan dayang utama Park, Rani langsung menghentikan kegiatannya yang sedang menuang teko berisi teh lagi kedalam gelasnya.


" Tolong hukum hamba yang mulia, karena hamba sudah membahayakan yang mulia. Tapi hamba mohon tolong ampuni Go jang mi." Lanjut dayang utama Park.


Dayang utama Park terus menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya karena ia merasa bersalah atas perbuatannya yang dengan cerobohnya membongkar identitas permaisuri di halayak umum, tanpa pengawalan. Karena terpancing emosi.


" Sudahlah dayang utama Park, aku sudah memaafkanmu. Aku tau kau melakukan semua itu hanya karena ingin membelaku. Yang penting sekarang aku sudah sampai diistana dengan selamat." Ujar Rani mencoba berbesar hati.


" Tapi tetap saja yang mulia, hamba hampir mencelakakan yang mulia. Apa yang mulia tidak ingin menghukum hamba?" Tanya dayang utama Park yang masih merasa bersalah.


" Aku tidak akan menghukummu, dan kau tidak perlu merasa bersalah dayang utama Park, justru berkat dirimu aku bisa memiliki pengalaman yang cukup menyenangkan tadi."


" Benarkah, apa karena tadi yang mulia bisa berduaan dengan yang mulia raja?" Goda dayang utama Park dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah di bibirnya.


Pipi Rani langsung bersemu merah, karena mengingat tadi waktu ia menunggang kuda bersama raja. Namun buru - buru Rani menepisnya menyembunyikan rasa malu didalam dirinya.


" Apaan sih dayang utama Park, bukan itu. Pokoknya panjang ceritanya, besok aku ceritain deh. Sekarang aku mau mandi dulu dan istirahat. Capek sekali." Jawab Rani sambil menguap karena memang ia sudah merasa sangat capek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari diistana, sudah heboh dengan berita gempar mengenai permaisuri yang pulang dengan menunggang kuda bersama raja semalam. Berita itupun sudah sampai ketelinga selir agung.


Jelas selir agung merasa marah, ia menjatuhkan semua barang yang ada di ruangannya hingga kamarnya berantakan. Berbagai barang berserakan di lantai kamarnya.


Selir agung meringis menahan kesal. " Bagaimana bisa raja menghabiskan waktu berdua bersama permaisuri. Setelah sekian lama aku selalu berusaha membuat raja membenci permaisuri dan menjauhkan raja dari permaisuri."


" Kalo sudah seperti ini, aku harus segera bertindak. Dan tidak boleh lengah sedikitpun. Pokoknya tidak boleh ada celah sekecil apapun untuk raja bersama dengan permaisuri."


Dayang Choi ji woon, dayang setia selir agungpun masuk kedalam kamar selir agung, karena mendengar keributan yang selir agung perbuat di kediamannya. Mata dayang Choi ji woon melihat kesekeliling ruangan yang tampak berantakan. Dan melihat junjungannya yang sedang duduk disudut ruangan dengan wajah yang tampak mengerikan, bagai devil yang siap mengambil nyawa manusia.


Jika digambar mungkin akan muncul tanduk dikepala selir agung. Muka cantiknya berubah menjadi merah tomat, matanya melotot tajam. Dan lidahnya menjulur keluar. Guk - guk, hehehe canda. Sungguh nyeremin, autor aja jadi merinding ngebayangin muka selir agung yang lagi ngamuk.


Beruntung tidak ada korban jiwa keganasan amukan selir agung. Karena para dayangnya sudah hafal betul, jika selir agung sedang marah atau keadaan mood yang kurang baik, lebih baik jauh - jauh deh. Hempas - hempas sana! Peringatan besar pokoknya.


Jika ada yang berani mendekat, sama saja mengantar nyawa. Karena selir agung tak akan segan lagi melampiaskan kekesalannya kepada para dayangnya. Seperti memukul, mencambuk atau bahkan hal kejam lainnya yang penting kekesalan dirinya bisa tersalurkan dan hilang.


Namun anehnya berita tentang sifat selir agung yang nyeremin, ketika sedang marah atau kesal itu, hanya diketahui oleh dayang pribadinya saja? Yang bertugas melanyani di kediaman selir agung.


Malahan selir agung dikenal diistana sebagai wanita cantik, lemah lembut, sopan dan memiliki tatakrama atau etitut yang baik. Ya walaupun agak sombong kepada para dayang atau seseorang dengan memiliki pangkat yang rendah. Selir agung tidak pernah mau menyapa atau sekedar basa basi kepada mereka. Dan hal itu yang membuat para dayang kini mulai membanding - bandingkan permaisuri dan selir agung.


Choi ji woon mencoba mendekati junjungannya dengan perlahan, walaupun ia sendiri merasa takut kepada selir agung, namun ia tetap menghampiri junjungannya itu. Dengan tubuh bergetar ia terus melangkah.


" Yang mulia, apa yang mulia baik - baik saja?" Tanya Ji woon tergagap.


Selir agung melirik tajam kearah Choi ji woon, namun Choi ji woon mencoba untuk tenang.


" Kenapa yang mulia, melakukan semua ini? Bagaimana kalo sampai tersebar berita buruk tentang yang mulia diistana?" Tanya Ji woon lirih.


" Kalo sampai ada yang berani menyebarkan berita buruk tentang diriku, akan langsung aku habisi." Ucap selir agung sinis.

__ADS_1


" Bukan begitu yang mulia, dari pada yang mulia seperti ini, lebih baik coba yang mulia ceritakan saja kepada hamba, apa yang membuat yang mulia kesal dan murka sampai seperti ini?" Bujuk Ji woon sambil mengangkat tubuh selir agung untuk berdiri dan memapahnya kesinggahsananya.


" Aku kecewa terhadap baginda raja, kenapa ia malah menaiki kuda bersama permaisuri. Bahkan aku saja belum pernah diajaknya menunggang kuda miliknya."


" Aku merasa kini baginda mulai menaruh perhatian kepada permaisuri. Akan gagal usahaku menjauhkan mereka selama ini." Ucap selir agung mengeluarkan semua unek - uneknya.


" Kenapa yang mulia tidak mencoba meminta penjelasan baginda, kenapa ia menaiki kuda bersama dengan permaisuri? Dari pada yang mulia melakukan semua ini, justru akan merugikan selir agung sendiri." Ujar Choi ji woon memberi pencerahan.


" Sudah hampir lima tahun pernikahan kami, bahkan yang mulia raja belum menyentuhku sama sekali. Saat aku mencoba untuk merayunya ia beralasan bahwa ia masih muda dan belum siap untuk melakukannya."


" Walaupun yang mulia belum menyentuhku, tetapi aku tetap merasa tenang. Karena baginda tidak pernah memperdulikan permaisuri. Perhatian, dan kasih sayang yang mulia hanya untukku. Dan ia terus berkunjung dan bermalam dikediamanku."


" Hingga akhirnya semua orang yang berada diistana ini menganggap diriku adalah wanita yang paling dicintai oleh raja. Namun semua berubah, setelah permaisuri terjatuh kedanau. Baginda tidak pernah berkunjung lagi, dan dari sorot matanya, aku tau kalo baginda mulai tertarik terhadap permaisuri."


" Dan itu, membuatku marah dan frustasi. Aku tidak tau harus bagaimana, untuk menarik perhatian raja kembali kepadaku Ji woon?" Cerita selir agung panjang lebar.


" Haaaah." Choi ji woon mendesah, ia juga tidak tau harus berbuat apa. Namun ia merasa lega karena junjungannya sudah mau bercerita dengannya dan tampak emosi selir agung juga sudah mereda.


Sementara diaula gedung pertemuan, terlihat raja tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa petisi dari rakyatnya. Namun raja merasa aneh, kenapa dari semua petisi yang ia baca, tidak ada petisi yang berisi tentang komplenan masyarakat mengenai harga beras yang mahal. Padahal kemarin waktu ia pergi dengan permaisuri jelas sekali harga beras dipasaran sangat mahal dan tidak masuk akal.


" Pasti ada kongkalikong nih, dari tikus - tikus pengerat yang menggrogoti dan mencari untung demi kekenyangan perut mereka. Aku harus meminta So joon untuk menyelidiki ini."


Raja menaruh gulungan petisi ke atas meja yang ada di depannya. Kemudian melirik ke arah perdana mentri Choi. Raja mengingat betul, kemarin pria bangsawan yang bersikap kurang ajar terhadap dirinya dan permaisuri, mengatakan kalau ia berasal dari keluarga perdana mentri Choi.


" Perdana mentri Choi, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Suara raja memecah keheningan yang ada di dalam aula.


Para perdana mentri yang ada diaula hanya saling lirik saja, karena kepala mereka tengah menunduk. Mendengar ucapan raja yang memanggil perdana mentri Choi membuat tanda tanya besar bagi mereka, ada apakah gerangan? Karena tidak biasanya raja mengajukan pertanyaan terhadap perdana mentri Choi.


Perdana mentri Choi yang dipanggilpun mengangkat kepalanya dan menghadap raja. " Hamba yang mulia, apa yang ingin baginda tanyakan terhadap hamba?" Ucap perdana mentri Choi dengan sopan.


" Apakah kau memiliki anak laki - laki perdana mentri Choi?" Tanya raja dengan muka datarnya.


" Hamba memiliki satu anak laki - laki yang mulia." Jawab perdana mentri Choi apa adanya, walaupun ia tidak tau kenapa raja menanyakan hal tersebut.


" Choi kang cool yang mulia, ia baru berusia duapuluh tujuh tahun dan ia akan mengikuti ujian sarjana di istana." Jawab Perdana mentri Choi, ia berharap bahwa raja bisa meloloskan putranya itu saat ujian berlangsung nanti, agar putranya bisa meneruskan sepak terjang dirinya menjadi salah satu perdana mentri diistana ini.


" Oh begitu rupanya." Raja tersenyum penuh arti. " Ku dengar kau juga memiliki seorang putri perdana mentri Choi?" Tanya raja untuk mengalihkan perhatian perdana mentri Choi agar tidak curiga bahwa ia tengah mengorek tentang putranya.


" Benar yang mulia, namanya Choi ji woon. Ia seumuran dengan selir agung, dan dia juga ditugaskan untuk melayani selir agung dikediamannya. Mungkin yang mulia pernah bertemu dengannya." Perdana mentri Choi tersenyum senang dengan pertanyaan raja, ia mengsalah artikan pertanyaan raja.


Perdana mentri Choi berfikir bahwa raja menanyakan tentang putranya hanya sebagai pancingan atau sekedar basa - basi, karena sebenarnya raja hanya ingin mengetahui tentang putrinya Choi ji woon.


Perdana mentri Choi berfikir raja menyukai putrinya, karena mungkin saja raja melihatnya saat berada di kediaman selir agung. Perdana mentri Choi berfikir bahwa mungkin putrinya akan diangkat menjadi selir berikutnya oleh raja. Karena selama ini raja hanya memiliki satu selir, yaitu selir agung.


Padahal mah, raja ingin mengetahui informasi tentang putranya yang sudah bersikap kurang ajar terhadap dirinya dan juga permaisuri, serta menindas rakyat biasa, dan menyalahgunakan kekuasaan yang keluarganya miliki.


Selesai dengan urusan diaula pertemuan, dan raja juga sudah mendapat informasi yang ia inginkan. Kemudian rajapun pergi meninggalkan tempat pertemuan itu, dan diikuti oleh kasim Jang dan pengawal setianya Park so joon serta beberapa dayang.


Dirasa raja sudah berjalan sedikit jauh dari gedung aula pertemuan, raja menghentikan langkah kakinya.


" So joon cari tau mengenai harga beras yang ada di pasaran! Karena aku yakin ada permainan yang tidak beres di sana." Raja memberi perintah tanpa menoleh kepada So joon yang ada di belakangnya.


So joon hanya mengangguk tanda mengerti akan perintah junjungannya. Kemudian raja kembali bersuara.


" Kasim Jang, pastikan anak perdana mentri Choi gagal dalam mengikuti ujian sarjana kali ini! Aku tidak mau ada hama yang berkerja diistanaku." Raja kembali memberi perintah.


" Baik yang mulia." Jawab kasim Jang.


" So joon apa kau sudah melaksanakan perintahku yang kemarin?" Tanya raja yang kemudian merubah ekspresinya menjadi sedikit gugup.


" Sudah yang mulia, mereka ada di gudang belakang." Jawab So joon dengan muka datarnya.

__ADS_1


" Antar aku kesana!"


Sesampainya digudang belakang, raja melihat beberapa orang pria yang tangannya diikat dan mulutnya disumpal dengan kain. Dari yang muda sampai pria berusia lanjut ada disana.


Raja melihat satu - satu wajah mereka, dan ia tersenyum kecut. " Diantara kalian mana yang bernama Kim taehyung?" Tanya raja dengan suara dinginnya yang menggelegar di dalam gudang.


Tiga orang mengangkat tangannya, satu pria berumur lanjut usia yang kurus kering badanya dan berpakainan rakyat biasa, satu lagi pemuda yang masih muda, mungkin berumur sekitar sembilan belas tahunan namun mukanya biasalah ia mengenakan pakaian bangsawan dan satu lagi anak kecil yang baru berumur delapan tahun.


Raja menarik kesimpulan bahwa kemungkinan yang dimaksud permaisuri, adalah bocah ABG itu. Kemudian raja bertanya kembali.


" Diantara kalian siapa yang bernama Lee min ho?"


Tidak ada yang mengangkat tangan, karena marga Lee memang itu khusus keluarga kerajaan. Jadi jarang sekali orang yang menggunakan nama dengan marga Lee.


Karena tidak ada yang mengangkat tangan, rajapun melanjutkan pertanyaannya.


" Diantara kalian siapa yang bernama Song jong ki?"


Satu orang mengangkat tangannya, seorang pria bertubuh besar dengan tompel di wajahnya. Raja hampir dibuat kaget saat melihat wajahnya. " Yang begini, dibilang lebih ganteng dari pada aku? Apa permaisuri masih waras?"


" Hmmm." Raja berdehem untuk menetralkan suaranya karena keterkejutan yang baru ia alami.


" Diantara kalian siapa yang bernama Gong yo?" Raja kembali bertanya.


Dua orang menganggkat tangan, dilihatnya oleh raja. Satu orang berbadan gemuk seperti babi, satunya lagi pria yang memiliki badan sempurna namun giginya tonggos. Raja hampir tertawa saat melihatnya, namun coba ia tahan.


Tinggal satu lagi yaitu nama laki - laki yang raja sebut Cha eun woo. Seorang pria dengan wajah tampan dan tubuh yang gagah dengan mengenakan pakaian bangsawan mengangkat tangannya.


Raja menelan salivanya, raja mengakui kalo pemuda itu memang tampan. Namun raja beranggapan kalo dirinya tetap jauh lebih tampan dari pemuda itu.


Sebenarnya masih ada satu nama lagi yang permaisuri sebut waktu itu lebih ganteng dari raja, yaitu Park so joon. Kalian masih ingat kan? Namun karena So joon adalah pengawal setia raja, jadi ia terbebas dan tidak ikut bergabung bersama pria - pria malang itu.


" Kalian tau kenapa kalian dikumpulkan disini?" Tanya raja dengan tatapan sinis yang mengintimidasi.


Para pria itu jelas menggeleng serempak, mereka memang tidak tau kenapa mereka disekap seperti ini.


" Itu semua karena permaisuri menyebut nama kalian, jauh lebih ganteng dan tampan dari pada aku." Jelas raja.


Mereka semua jelas tidak percaya dengan perkataan raja, mengenal permaisuri saja tidak. Bagaimana bisa permaisuri mengatakan kalo mereka jauh lebih ganteng dan tampan dibanding raja.


Walaupun mereka tampak bingung, namun mereka merasa senang bahwa mereka dianggap permaisuri lebih ganteng dan tampan dari paduka raja. wajah mereka seakan berseri - seri, bahkan ada juga yang sampai merona dan tersipu malu.


Namun seketika wajah mereka langsung berubah menjadi pucat, karena tatapan tajam raja yang setajam golok. Mereka berdo'a semoga nyawa mereka masih bisa selamat dan keluar dari kandang beruang ini dengan selamat.


Bahkan ada yang sampai mengolpol dicelana, karena merasa takut dengan tatapan raja yang seakan menusuk sampai ketulang - tulang.


" Aku peringatkan kalian, jangan pernah berani - barani mendekati permaisuri! Jika sampai kalian tetap nekat, aku pastikan kalian tidak akan menginjakan kaki kalian di tanah joseon ini." Ancam raja.


Mereka kompak mengangguk, agar bisa menyelamatkan nyawa mereka, yang seakan tengah ditarik - ulur siap dicabut oleh malaikat pencabut nyawa.


" So joon bebaskan mereka!" Raja memberi perintah, lalu pergi meninggalkan gudang.


Mereka bisa bernafas lega saat raja memberi perintah untuk membebaskan mereka. So joon di bantu kasim Jang mulai melepaskan ikatan di tangan dan mulut para tawanan itu.



Ini dia selir agung yang suka mengamuk 🤬🤪



Menurut kalian gantengan raja apa Cha eun woo?? 🤗😘

__ADS_1


PLIISSS LIKE & KOMEN BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT 👍🏼🙏


__ADS_2