
Erekleus membaringkan Mute di kasurnya pelan-pelan.
"Mira menjaga neneknya, kan?"
"Ya, Tuan Muda." Yohana datang membawakan botol wine untuk Erekleus. "Anda terlihat lelah. Bukankah seharusnya hari ini hanya bersantai?"
"Ada banyak gadis mengelilingiku dan gadis sangat suka bicara, Yohana." Erekleus meringis memegangi rahangnya. Ia pegal mengoceh tapi demi kesopanan tentunya ia harus terus bicara pada mereka.
"Aku merindukan istriku," gumam Erekleus. "Apa jadwalnya hari ini?"
"Nyonya Muda sedang berada di Shanghai mewakili Anda, Tuan Muda."
Erekleus cemberut. "Aku tidak bisa mengganggunya kalau begitu."
"Anda memerlukan kami?" tawar Yohana.
Ya, itu sesuatu yang normal bagi para Narendra. Dalam situasi darurat, mereka bisa digunakan sebagai objek pelampiasan terutama saat istri-istri Narendra jauh dari suami mereka.
"Tidak hari ini," jawab Erekleus sambil melirik Mute. "Ada tamu di kamarku, sayangnya. Biarkan dia tidur."
"Saya mengerti."
*
Erekleus merasa segar ketika bangun tidur. Kepalanya kemarin berat tapi Ia merasa habis bermimpi indah. Pria itu turun dari kasur, meninggalkan selimut dalam kondisi tel4njang menuju sofa tempat jubah mandinya tergeletak.
"Mein, masuklah," perintahnya singkat pada sang sekretaris yang hari ini bertugas melayaninya sebelum berangkat kerja. "Jam berapa ini?"
"Jam setengah delapan pagi, Tuan Muda."
Erekleus menoleh syok. "Berapa?"
"Jam setengah delapan pagi, Tuan Muda." Mein mengulangnya persis seperti tadi.
Tapi Erekleus malah lebih syok. Menurut peraturan Narendra, jam bangun tidur adalah jam empat. Jika sangat lelah, baru boleh jam lima dan sangat tidak boleh bangun di bawah jam itu kecuali sangat sangat sangat terpaksa.
"Kalau begitu cepat bersiap! Aku harus bertemu tukang kayu jam delapan ini!"
"Ya, Tuan Muda." Mein buru-buru keluar meminta seseorang menyiapkan air mandi untuk Erekleus lalu masuk bersama setumpuk seprai baru dan selimut.
"Sepraiku baru diganti kemarin, kenapa menggantinya lagi?" tanya Erekleus bingung.
Mein ikut bingung. "Tapi Tuan Muda, kemarin ...."
__ADS_1
"Apa?"
Erekleus menoleh pada kasurnya dan menarik selimut itu. Aroma khas yang sangat-sangat ia kenali karena sangat sering ia ciptakan jika bersama istrinya tentu saja membuat Erekleus beku di tempat.
Tunggu, kemarin ia merasa tidak meniduri Yohana, Erina, Mira ataupun Mein. Erekleus juga tidak menghubungi istrinya karena dia sedang sibuk bekerja di Shanghai.
"Siapa?" Erekleus mendadak pucat. "Siapa yang di kasur ini kemarin?"
Mein tercenung sesaat. Jadi Tuan Muda tidak ingat? Begitu pikirnya.
"Kami diam saja karena berpikir Anda membawanya kemari untuk itu," jawab Mein.
Jawabanan yang cukup memastikan bahwa Erekleus menyentuh anak kecil itu. Tamu yang ia bawa karena cuma ingin membiarkan dia terhibur sejenak.
"Oh, tidak." Erekleus mengusap wajahnya tak percaya. "Jelas-jelas aku langsung tidur setelah minum!"
Mein juga bingung. Semua orang di tenda kemarin mendengarnya dan berpikir bahwa Erekleus sengaja meniduri Mute karena dia tertarik. Apalagi Yohana bilang Erekleus merindukan istrinya jadi jelas dia butuh pelampiasan.
"Itu terjadi sekitar pukul dua belas malam, Tuan Muda," jelas Mein mau tak mau. "Anda memang tidur beberapa jam lalu ... mungkin terbangun dan ... merindukan istri Anda."
Erekleus terus tercengang. Walau kemudian ia terpaksa menerimanya karena tidak mungkin Mein berbohong.
"Aku tidak membawa gadis itu sebagai hiburan. Aku menghiburnya karena dia menangis." Erekleus menghela napas. "Lalu dia pergi begitu saja? Dia menangis?"
"Tidak, Tuan Muda. Mutia pergi dalam kondisi baik-baik saja."
*
Mute duduk meringkuk di sudut kamar neneknya sambil terus memilin-milin bibir. Sejak pulang sampai sekarang, kecuali waktu membawa nenek ke kamar mandi dan menyuapinya makan, Mute hanya terus melamun.
Gadis itu ingat. Setiap detiknya.
Ia terbangun dari tidur karena sentuhan manis dari seseorang di kamar tenda yang sangat gelap. Bibir yang selalu ia pakai makan dan tersenyum saja tiba-tiba berada dalam ******* mesra seorang pria yang ia tahu Erekleus.
Apa Mute adalah perempuan gila? Atau ia mesum? Atau mungkin otaknya bermasalah?
Karena kemarin ... Mute sedikitpun tidak menghentikan Erekleus, melainkan terima apa adanya. Ia tak tahu kenapa. Ia bahkan tak sempat berpikir. Mute hanya terbawa dalam kenikmatan sesaat, hal yang bahkan tak berani ia pikirkan, tapi tiba-tiba terjadi dalam hidupnya.
Apa Erekleus menyukainya?
Tidak. Pasti tidak.
Tapi kenapa dia melakukan itu? Sejak awal, kenapa dia membawa Mute ke tendanya? Hanya untuk menghibur karena Mute menangis?
__ADS_1
"Mute." Suara nenek menyadarkannya lagi.
Mute datang, menggendong neneknya ke kamar mandi untuk buang air kecil, lalu menggendongnya ke kamar.
Baru saja Mute beranjak ingin membuatkan teh, Erekleus tahu-tahu muncul.
"Kamu mengizinkan aku masuk, Nona?"
Mute malah langsung merasa panas karena suara Erekleus. Wajahnya memerah dan ia mengangguk terpatah, membiarkan pria itu masuk.
Pria yang kemarin menyentuhnya. Merenggut kesuciannya. Harusnya Mute marah, tapi kenapa jantungnya malah berdebar senang?
Apalagi waktu Erekleus berdiri di depannya. Mute seolah-olah baru tahu bahwa dia jauh lebih tinggi hingga Mute harus mendongak. Mute juga seolah baru tahu bahwa dia sangat amat tampan sampai matahari pun iri akan sinarnya.
"Nenekmu baik-baik saja? Suara orang-orang di sekitar tidak mengganggu istirahatnya, kan?"
Mute menelan ludah. "E-enggak, kok."
Sementara itu, Erekleus yang melihat kegugupan Mute diam-diam dibuat gugup juga, untuk alasan sepenuhnya berbeda.
Aku harus minta maaf, begitu pikir Erekleus. Walaupun Narendra diharamkan meminta maaf, sangat haram, namun ia benar-benar harus minta maaf sekali saja pada gadis ini.
Masalahnya bagaimana? Bagaimana cara tepat mengatakan bahwa itu tidak disengaja, ia benar-benar tidak bermaksud, dan maaf karena sudah melakukannya?
Semuanya malah terdengar sangat badjingan.
"N-nona, aku ...."
"Hm?" Mute semakin berdebar-debar. Gadis polos itu mana mungkin mengerti isi pikiran Erekleus. Dia gadis desa, belum berusia dua puluh tahun bahkan. Dia hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SMP karena keluarganya terlampau miskin dan neneknya tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Apa yang dia tahu?
"A-aku mau memberimu kesemek kering." Erekleus mendadak sangat takut untuk bersikap jantan. "Pergi dan mintalah pada bawahanku di tenda. Aku harus ke kantor desa sekarang. Sampai jumpa."
Pria itu justru kabur, berjalan cepat menuju tempat kerjanya sambil mengutuk dirinya sendiri.
"Aku malah menghancurkan dia kalau berkata jujur," gumam Erekleus bahkan saat di kantor desa. "Aku hanya akan terlihat seperti pria tidak bertanggung jawab yang menjebak dia di ranjangku lalu lepas tangan!"
Erina dan Yohana saling melirik.
"Tuan Muda, setidaknya Anda bersikap jujur. Jika kemarin dia menolak Anda, kami semua akan berusaha menghentikan. Ini tidak sepenuhnya salah Anda."
"Aku tahu itu, Erina, aku tahu. Tapi keperawanan gadis adalah sesuatu yang berbeda. Itu sama seperti aku merenggut setengah nyawanya. Sengaja tidak sengaja, aku merenggutnya." Erekleus mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Arkh, bodoh! Kenapa aku bersikap bodoh?!"
__ADS_1
"Tuan Muda."
*