
Pada awalnya itu Ikarus yang melihat Mute pergi bersama Jaler. Lalu karena tahu Erekleus peduli pada Mute, tentu Ikarus menyuruh Yohana membangunkan Erekleus.
"Jaler? Maksudmu preman kacang yang kalian ikat di pos ronda dulu?"
"Ya, Tuan Muda."
"Itu jelas tidak normal. Dia memukul Mute waktu itu." Erekleus bangun, menerima mantel dari Erina. "Kalian tetap di sini. Biar aku dan Ikarus saja yang pergi."
"Tolong berhati-hati, Tuan Muda."
Erekleus memasang kacamata berlensa khusus yang membantunya melihat dalam kegelapan. Sejak masih sangat kecil memang dia terlatih melangkah tanpa suara, jadi keduanya mengikuti empat orang itu tanpa ketahuan.
"Apa Argan sedang istirahat? Dia seharusnya melapor padaku jika ada masalah terdengar," gumam Erekleus.
"Anda tahu dia selalu antara hidup dan mati saja."
Argan yang sesungguhnya dengar mencak-mencak atas hinaan mereka. Sialan! Dari kemarin ia tidak tidur gara-gara ini, brengsek!
Akh, terserahlah! Biar Tuhan saja yang mengatur!
*
"Bukankah ini kediaman Bidan Sulis?" tanya Erekleus yang mengenal wanita pemilik rumah sebab dia satu-satunya bidan terdekat di sekitar desa. "Kenapa mereka datang ke bidan malam-malam?"
Ikarus tiba-tiba punya firasat. Otaknya tidak bodoh jadi dia memahaminya. "Saya rasa lebih bijak menanyakan kenapa Mutia ikut dengan mereka."
Nama itu membuat otak genius Erekleus ikut bekerja. Rasa tegang nampak di wajahnya. Pria itu seketika ingat ada sesuatu yang pernah terjadi.
"Gadis itu tidak disterilisasi," gumamnya, merujuk pada Mute.
Istri Erekleus menjalani sterilisasi sementara atau yang akrab disebut KB agar tak hamil berapa kalipun mereka berhubungan. Itu baru boleh dilepas setelah pernikahan adik terakhirnya resmi.
"Ikarus, katakan aku cuma berpikir negatif."
"Anda cuma berpikir negatif," kata Ikarus sesuai perintah, tapi dia juga sedang berpikir negatif.
Erekleus beranjak. "Sialan!" umpatnya lirih, sambil buru-buru mendekat ketika semua orang itu masuk ke dalam.
Mereka berusaha mencari ruangan tempat mereka masuk, berdiri di dekat jendela untuk mendengarnya.
"Ini, Dok, yang mau aborsi."
Keringat dingin membasahi kening Erekleus. Dalam hati ia berharap itu Dinda. Karena kalau Dinda maka otomatis bukan miliknya.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan kandungannya?" tanya Bidan Sulis dengan suara ramah yang akrab.
"E-enggak tau, Dok." Suara selanjutnya cukup memberi kepastian.
Membuat Erekleus beku di tempat.
"S-saya cuma sekali, Dok, jadi mungkin bukan hamil. Tolong pastiin dulu. Saya enggak hamil, kan?"
Erekleus memejam.
Ibunda dan Kakak akan membunuhku setelah ini, pikirnya kosong.
*
Karena perkataan Mute, Bidan Sulis memastikan lewat alat apakah benar itu kehamilan atau bukan. Mute terbelalak saat melihat isi perutnya di layar menunjukkan memang ada sesuatu yang tumbuh di rahimnya, penyebab ia mual-mual hebat sejak beberapa waktu terakhir.
Sesuatu menusuk Mute sangat dalam. Ia menangis tanpa suara membayangkan anak yang bahkan belum selesai terbentuk itu harus dikeluarkan karena ayahnya seorang badjingan.
Kenapa sebenarnya semua ayah di dunia ini badjingan?
"Pokoknya saya enggak mau tau, Dok! Anaknya dia harus digugurin! Ini namanya anak zinah! Enggak pantes lahir!" cerca Bunga yang emosinya tersulut.
Di melihat bayi di perut Mute itu sebagai berlian yang diberikan ke tempat salah. Seharusnya di perut Dinda, bukan malah gadis ini.
Jaler cuma menikmati itu seperti sebuah komedi.
"Iya, sabar dulu, Bu Bunga." Bidan Sulis menatap Mute yang justru menangis. "Kamu siap?"
Mute menggeleng dengan air mata bercucuran. Ia tak mungkin siap membunuh. Tapi ia tahu anaknya akan bernasib sial jika lahir.
Dunia ini buruk. Dia pasti terlalu berharga sampai dia tidak boleh datang ke sini.
"Kalau begitu, kita mulai—"
"Aku memaklumi orang bodoh memang sangat banyak." Suara dingin Erekleus membelai telinga mereka.
Dia tiba-tiba melompat masuk dari jendela, menatap dingin semua orang di tempat itu.
"Aku sangat sangat sangat luar biasa memaklumi kebodohan," gumam dia lirih, tapi menusuk tulang. "Semua manusia berpotensi menjadi genius, tapi Tuhan membiarkan manusia lebih banyak menjadi bodoh karena pintar itu sangat sulit. Sangat."
Erekleus yang mendadak terlihat seperti hantu kini berdiri di depan Bidan Sulis, menatap matanya secara langsung.
"Kamu siap menanggung dosa kebodohan karena tidak menghargai nyawa Narendra, Nyonya Bidan?"
__ADS_1
"Tuan Muda—" Dinda mau bersuara tapi Erekleus menyambar rahangnya hingga Bunga terpekik.
"AKU SUDAH MEMPERINGATIMU JIKA MEMBUNUH ITU MUDAH!" teriak Erekleus menggila. "Aku memperingatimu, di wajahmu, tapi kamu membawa anakku ke sini?! Kamu siap menghilangkan dia jadi kamu juga harus siap jantungmu tercabut sekarang!"
Bunga terpekik histeris melihat anaknya diperlakukan demikian, tapi Jaler tak bisa membantu sebab Ikarus meninjunya sangat kuat.
Pria itu tergeletak pingsan dan Ikarus datang menutup mulut Bunga.
"Berhentilah cerewet, dasar wanita menyebalkan." Ikarus mendelik. "Tuan Muda sedang marah. Itu wajahnya yang sebenarnya. Wajah yang beliau tahan untuk orang bodoh seperti kalian tapi kalian tidak tahu berterima kasih."
Ya, itu wujud Erekleus. Dia bersikap ramah bukan karena dia ramah, namun karena itu harus. Itu tugasnya. Dia bersikap baik bukan karena dia baik, namun karena itu tugasnya.
Erekleus hanya melakukan tugasnya tapi semua orang sangat tidak tahu cara berterima kasih!
"Aku akan membunuhmu," desis Erekleus mencekik Dinda. "Akan kubunuh kamu jutaan kali karena berpikir menyakiti anakku. Siapa kamu berani berkomentar soal dia, hah? Siapa dirimu yang menjijikan ini? Kamu berpikir kamu pantas? Dari awal ingin kucabut jantungmu yang berdebar ini. Harusnya dari awal aku lakukan. Akan kubunuh—"
"Erekleus."
Racauan gila itu mendadak berhenti. Erekleus berpaling dari Dinda yang ternyata sudah pingsan saking takutnya, pada wajah pucat penuh air mata Mute.
Dia sangat kurus. Dia terlihat kurang tidur. Dia juga tampak tersiksa. Bagaimana bisa? Ada anak di perutnya. Kenapa dia menyiksa dirinya padahal anak itu bergantung padanya?
"Dasar bodoh." Erekleus meraih perempuan itu dan memeluknya. "Dasar bodoh," gumamnya lemah.
Mute mendadak terisak.
"Kamu seharusnya datang padaku, katakan padaku. Sudah kubilang aku akan menyelesaikan semua masalah. Kenapa kamu malah melakukan hal bodoh?" racaunya lemah
"Bodoh," kata dia lagi. Semakin mendekap Mute. "Kamu sangat merepotkan."
Mute akhirnya balas memeluk Erekleus. "Aku kira kamu enggak mau," balas dia meracau disela isak tangis. "Aku kira ujung-ujungnya bakal kamu gugurin."
Mungkin benar. Peraturannya begitu. Tapi Erekleus bukanlah badjingan. Ia tidak akan pernah bisa berpikir membunuh anaknya sendiri.
"Kamu pura-pura enggak inget." Mute menangis kencang di bahunya. "Kamu pura-pura enggak pernah ada apa-apa. Dasar br3ngsek! Kamu tuh br3ngsek! Sok suci!"
Semua mulut yang berani menghina Erekleus biasanya paling tidak kehilangan lidah, tapi ia justru membiarkan telinganya mendengar semua itu, terus mendekap tubuh kurus Mute.
"Maaf." Hal yang tertahan di sana akhirnya keluar juga. "Maaf, Gadis Kecil. Maaf membuatmu ketakutan."
Ia minta maaf bukan sekali atau dua kali, tapi bahkan tiga kali karena sungguh ia menyesal.
*
__ADS_1