
Erekleus hanya merenung.
"Untuk kali ini saja, akan kuanggap itu tidak sengaja." Ares menghela napas. "Sekarang pergilah. Tenangkan dirimu."
"Ya, Kakak."
Erekleus beranjak pergi dengan punggung tertunduk. Tangannya masih bisa merasakan tubuh kecil anak itu dalam pelukannya. Ia mau. Ia sangat mau memeluknya lagi.
Melihat dia bicara dengan mulut menggemaskannya lagi.
Putrinya.
Putri kecilnya.
"Anastasia." Erekleus cuma bisa menggumamkan nama dia dan mengurung diri di bangunannya sendirian.
Sementara di dalam ruangan Ares, pria itu beranjak, menggeser tirai yang sejak tadi menutupi Ariadne.
"Erekleus sudah pergi."
Ariadne tersenyum getir. "Saya bisa merasakan Tuan Muda saya terluka."
Tidak ada yang lebih memahami kesedihan Erekleus tentang anaknya selain Ariadne. Setiap saat dia memikirkannya dan sekarang dia tahu seperti apa anak itu.
Dia akan semakin memikirkannya.
"Permintaanmu tadi, kamu tahu itu terdengar konyol, kan?"
Alasan Ariadne ada di sini, itu karena dia secara tiba-tiba meminta agar Erekleus setidaknya diperbolehkan bertemu anaknya.
Terlepas dari apa pun, Ares sendiri tidak menyangka kalau wanita yang mencintai Erekleus sampai ke sumsum tulangnya ini justru datang meminta hal menyakitkan.
Kenapa?
*
"Ini kedua kali saya mengantar Nona kembali." Ikarus menghela napas seraya menurunkan Anastasia di depan lift menuju bangunan bawah danau. "Nona, bukankah Nona berjanji tidak akan naik ke permukaan lagi?"
"Janji hanya janji." Anastasia menjawab tanpa masalah. "Bibi Sanya berkata janji itu ilmu kebohongan."
"Nona, jangan meniru Nyonya Sanya kecuali pada—"
"Kecerdasannya." Anastasia memutar mata kecilnya. "Ya, ya, kamu dan Bunda sama saja."
Bocah ini. Ikarus merasa bingung ingin mencubit pipinya atau menjewer kupingnya. Walau tentu saja Ikarus akan mati jika sampai melakukan itu.
"Mulai sekarang saya akan berjaga di sini. Persis di sini." Ikarus menunjuk lantai depan lift agar dia paham. "Nona tidak akan bisa lewat lagi."
Anastasia malah menjulurkan lidah, lalu memukul keras tombol lift hingga pintunya tertutup. Anak itu menunggu sampai pintu lift terbuka, kemudian berlari menuju kamarnya untuk ganti baju.
Kalau Mute tahu ia basah, Mute pasti akan curiga.
"Bunda, Ana lapar."
Mute berpaling dari pekerjaannya. "Satu-satunya waktu kamu mencari Bunda itu jika lapar," komentarnya miris tapi jelas langsung beranjak.
Wanita itu mengajak anaknya ke dapur, membuatkan sandwich gandum isi potongan daging ayam kesukaan Anastasia. Mereka makan berdua tanpa suara, memang selalu begitu satu sama lain ketika mendadak datang pelayan.
"Ada cokelat kiriman untuk Nona Ana."
__ADS_1
Mute memiringkan wajah. Cokelat? Tapi stok cokelat untuk Anastasia masih cukup untuk dua minggu di lemari.
"Dari siapa?"
"Nyonya Roxanne, Nona."
Ah, neneknya, kah? Mute pun mengangguk, menerima mau tidak mau karena tidak mungkin ditolak. Itupun sudah biasa bagi Roxanne mengirimkan sesuatu pada cucunya.
Walau kali ini, itu adalah kebohongan. Anastasia tahu bahwa itu pemberian dari Erekleus, pria yang katanya dipanggil Ayah.
"Bunda."
"Ya?"
"Kenapa kita tidak boleh naik?"
Anastasia sudah sering bertanya tapi dia juga belum puas dengan jawabannya.
"Karena tidak boleh," jawab Mute sambil melanjutkan makannya. "Kenapa? Kamu tidak senang hidup di sini? Walaupun ada cokelat?"
"Ana hanya bertanya. Kata Bibi Sanya, sesuatu yang tidak boleh itu memiliki alasan."
"Alasannya adalah tidak boleh."
"Apa alasannya tidak boleh?" Anastasia tetap ngotot.
"Ya karena tidak boleh."
"Tapi kenapa tidak boleh, Bunda?"
"Karena tidak boleh."
Anastasia melotot. "Bunda menyebalkan!"
Melihat Mute sedikitpun tidak terpengaruh, Anastasia menggembungkan pipinya sebal. Tentu saja anak itu tidak tahu bahwa Mute diam-diam memikirkannya.
Ya, Anastasia benar. Kadang-kadang mereka memang ingin naik ke permukaan dan bukan hanya tinggal di tempat ini. Walau semuanya luas dan ada banyak pekerjaan, mungkin manusia memang serakah.
Mute sudah bertahun-tahun tidak melihat cahaya matahari. Bahkan Mute mengira anaknya pun tidak pernah terkena cahaya matahari.
"Bunda, Ana ingin ke ruangan Bibi Sanya saja."
"Sandwich-mu belum habis, Ana."
"Bunda saja yang makan." Anastasia datang, tak lupa menyambar sekotak cokelat. "Ana sudah makan jadi Bunda tidak boleh marah."
Mute menepuk dahinya. Haruskah ia khawatir?
Entahlah, tapi Anastasia berlari riang ke ruangan Sanya untuk melanjutkan pertanyaan tadi.
"Bibi Sanya, kenapa Ana tidak boleh naik ke permukaan?"
"Karena tidak boleh," jawab Sanya masa bodo.
"Bunda sudah menjawab begitu! Jawab Ana dengan hal lain!"
"Because it's not allowed to you," jawan Sanya, cuma berbeda bahasa tapi intinya berbeda. Walau jawabannya ya tetap sama, karena tidak boleh.
Anastasia menatap datar pada Sanya. "Bibi dan Bunda menyebalkan!"
__ADS_1
"Ya, ya, pergilah."
Anastasia menggeram jengkel. Makan cokelat sambil kembali berjalan menuju jalan rahasia, masuk ke lift, menekan tombol menuju ke permukaan.
Ternyata Ikarus benar-benar ada di sana, mengawasi.
"Nona Muda."
"Ana sedang marah!" Anastasia menyahut ketus. "Jangan membuat Ana tambah marah!"
Ikarus yang diberi perkataan begitu mau tak mau cengo.
Astaga, dia sungguhan Narendra. Tidak, dia sungguhan 'putri Narendra'.
"Baiklah, Nona Muda." Ikarus berjongkok. "Saya tidak ingin membuat Anda marah jadi bisakah Nona setidaknya duduk saja di sini dan tidak pergi ke mana-mana?"
"Baik, tapi dengan satu syarat!"
"Ya, Nona?"
Sepuluh detik kemudian Ikarus terkekeh karena syaratnya sangat lucu. Sang Nona Muda alias anak dari Tuan Muda Erekleus duduk di pangkuan Ikarus, minta kepalanya dielus-elus seperti Kakek sering mengelusnya sambil makan cokelat.
Rupanya dia merindukan Kakek alias Tuan Besar Eris.
"Apa yang membuat Nona Muda marah?" tanya Ikarus setelah beberapa waktu diam.
"Ana bertanya pada Bunda lalu pada Bibi Sanya, tapi mereka terus menjawab tidak dan tidak. Itu menyebalkan!"
"Memang apa yang Nona Muda ingin tahu?"
"Kenapa kami tinggal di bawah air?" Anastasia mendongak pada Ikarus yang ada di belakangnya.
Posisi dia memasukkan tangan ke mulut menjilat sisa cokelat ditambah hidung kecil dan mata polos menggemaskan entah kenapa jadi merayu Ikarus.
Ya, merayunya untuk gemas.
Jantungku berdebar-debar, gumam pria itu. Mungil sekali. Menggemaskan. Apa Tuan Muda juga merasa sepeti ini?
Erekleus terlihat luluh lantak tadi, hanya karena bertemu anaknya. Mungkin dia merasakan debaran yang lebih keras karena gemas.
"Kenapa kamu tidak menjawab?"
"Karena Nona menggemaskan." Ikarus mengelus-elus kepalanya lagi.
"Cepat jawab!" desak Anastasia sebal.
"Karena Nona harus selalu tinggal bersama ibunda Nona."
"Bunda bukan ibunda."
"Ibunda itu sebutan sayang untuk orang tua Anda, Nona. Seperti Ayah dan Bunda."
Ikarus tidak sadar sedang menginjak ranjau. Dia terlalu larut dalam perasaan gemas mengelus-elus Anastasia sampai tak sadar anak itu kini menyerap sesuatu.
"Bunda dan Ayah?" Anastasia bergumam. "Apa Bunda dan Ayah berpasangan seperti ikan jantan dan betina?"
"Pengandaian Nona sangat menakutkan tapi ya, seperti itu."
Anastasia mengerjap bingung. "Apa aku juga seperti ikan?"
__ADS_1
"Eh?"
*