Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
23


__ADS_3

"...."


Erekleus menarik napas sebelum berjalan mendekati gadis itu.


Dia tidak mengerti. Dia sedikitpun tidak mengerti.


Jika Erekleus tidak dibesarkan di keluarga Narendra, mungkin malam itu akan ia biarkan Mute menggugurkan kandungannya. Tidak ada ketertarikan dalam diri Erekleus pada Mute, bahkan sedikit. Dia hanya seperti adiknya saja, tidak lebih.


Namun sayangnya Erekleus memiliki nama Narendra. Keluarga Narendra.


Ingat Sanya? Dia bukan Narendra. Dia anak keturunan dari keturunan dan keturunan dari keturunan Trika, lewat jalur Iaros, anak haram Trika, istri Narendra. Tapi Sanya diakui sebagai Narendra karena dua ratus tahun lalu, nenek buyutnya hidup sebagai Trika Narendra.


Tidak ada Narendra yang boleh keluar dari Narendra. Tidak ada.


Jika aku tidak melindunginya, nasib terburukmu itu bukan kelaparan dan kemiskinan, ucap Erekleus di hatinya. Nasib terburukmu adalah anak keturunanmu disiksa seperti Bibi Sanya dulu, didoktrin siang malam sampai tidak lagi pantas disebut hidup.


Tapi Mute tidak mengerti. Yang dia pahami hanya dia tidak mau jadi orang ketiga.


Orang ketiga bahkan bukan masalah di sini. Orang keseratus pun bukan. Masalahnya adalah anak itu anak Erekleus yang akan lahir di masa tidak seharusnya.


"Tetaplah di sini." Erekleus hanya bisa memakai cara ini. "Aku mohon. Aku ingin kamu di sini."


Bersikap seolah ia sedikit mencintainya. Jika Mute merasa Erekleus mencintainya, paling tidak dia akan memiliki motivasi.


"Karena anak?" Mute melirih. "Kamu begini karena anak kamu? Kamu enggak mau nikah karena kamu punya istri, kamu enggak mau gugurin dia karena dia anak kamu, tapi kamu juga enggak mau lepasin saya. Terus mau kamu sebenernya apa?!"


Erekleus buru-buru memeluknya. "Sudah kubilang menjagamu."


Pria itu memastikan ia memeluk erat agar dia percaya bahwa setidaknya itu bukan kebohongan.


"Aku akan menjagamu, Gadis Kecil, jadi tenanglah. Aku tidak akan bersikap seperti badjingan."


"Tapi kamu—"


"Fokus pada kehamilanmu saja." Erekleus buru-buru memotongnya. Mengusap-usap perut Mute yang masih rata. "Fokus pada bayimu saja."


Lalu agar Mute berhenti berpikir hal negatif—dan berlarut-larut akibat hormon kehamilan—Erekleus menariknya pergi.

__ADS_1


"Ayo pergi melihat-lihat sekitaran. Ada sangat banyak hal yang ingin kamu lihat di tempat ini. Danau, hutan, sangat banyak hal. Ayo, aku akan menuntunmu secara langsung."


Mau tak mau Mute dipaksa berhenti mengatakan keinginannya. Apalagi Erekleus mendadak bersikap seperti dia menginginkan Mute dan itu membuat Mute melihat harapan.


Apa tidak masalah di sini? Apa ia bisa menjadi pantas dan berdamai dengan Ariadne?


*


Ahelois menatap dingin pemandangan Erekleus dan Mute tengah naik perahu di danau seolah-olah keadaan sudah membaik. Kalau saja bukan karena perintah Arkas untuk tidak mengusik wanita hamil itu, Ale bahkan ingin mendorongnya tenggelam ke danau.


"Kenapa kamu hanya diam saja seperti orang bodoh?" Ale hanya bisa melampiaskan pada Ariadne. "Kamu membiarkan suamimu pergi bersama wanita lain, yang hamil anak haram Narendra. Kenapa kamu jadi sangat bodoh, Aria?"


"Saya hanya mengikuti perintah Tuan Muda saya, Nona," jawab Ariadne sopan, sebab status anak perempuan Narendra itu seperti tuan bagi semua istri Narendra.


"Kamu melupakan sejarah?" Ale menatap tajam. "Kamu melupakan nasib anak haram terakhir Narendra? Salah satu dari mereka membusuk di kurungan dan sisanya mati tanpa keturunan. Anak haram Narendra selalu hidup menderita dan karena itulah mereka selalu dihapuskan. Lalu sekarang kamu bersikap manis, pura-pura lupa karena suamimu bersikap bodoh?"


"Nona Muda—"


"Aku menganggapmu sedang menantangku sekarang." Ale berjalan mendekat. "Kamu sedang memaksaku bersikap kasar. Akan kupastikan gadis itu mati dan selanjutnya adalah kamu. Kecuali kamu menghentikan tingkah bodoh Erekleus."


Dia harus menentukan segalanya. Membunuh anak dari adiknya atau membiarkan anak itu lahir dan mengacaukan sistem Narendra.


"Kuharap aku juga bisa berbuat sesuatu, Nona," gumam Ariadne menyaksikan Erekleus di sana. "Kuharap aku bisa."


*


Mute tidak bisa tidak teralihkan dengan semua ini. Danau yang mereka naiki ini seperti danau yang bisa dihidupi oleh ratusan hiu. Apa di bawah sana ada buaya? Kalau mereka jatuh mereka akan mati?


"Wajahmu pucat."


Erekleus bersyukur telah mengalihkan perhatian Mute. Sekarang dia tidak lagi tertekan memikirkan soal masa depan, tapi memikirkan apakah dia akan dimakan buaya.


"Ada apa, Mutia? Kamu takut naik perahu?"


Mute terus mengintip ke air. "Kalo jatoh mati enggak?" kata dia polos.


"Tergantung. Jika bisa berenang, mungkin tidak?" Erekleus terkekeh. "Tidak ada hiu atau buaya di sini. Hanya ada ikan-ikan. Mana mungkin kami melepaskan hewan buas ke danau yang sering dinikmati para wanita."

__ADS_1


Mute cemberut, merasa tengah ditertawakan karena ia bodoh. "Ini umurnya juga dua ratus tahun?"


"Benar."


Mute tercengang padahal ia pikir tidak.


Tapi seharusnya ia tak tercengang di danau, karena saat Erekleus mengajaknya naik kuda, Mute butuh stok rasa kaget yang lebih banyak melihat sebuah pemukiman sangat panjang membentang di belakang bangunan raksasa itu.


"Itu rumahku," kata Erekleus menunjuk sebuah bangunan kayu tapi kokoh dan mewah.


Di depan rumah itu ada papan bertuliskan namanya.


"Bangunan utama biasanya cuma ditinggali oleh anggota keluarga utama. Kakak Pertamaku, tentu saja, lalu Kakak Kedua juga, Paman Pemimpin, istrinya. Walau ada banyak kamar sisa, kami lebih suka tinggal di rumah sederhana ini saja."


Mute mengerjap takjub. "Banyak banget. Emangnya di sini ada ratusan yang tinggal?"


"Ya. Jumlah Narendra sekarang hampir mencapai tiga ratus anggota keluarga."


Ucapannya sendiri malah membuat Erekleus ingat bahwa pembatasan keturunan Narendra juga telah diterapkan. Peraturan baru telah dibuat sejak lima puluh tahun lalu, bahwa anggota keluarga Narendra tidak boleh lebih dari tiga ratus orang.


Itu karena jika terlalu banyak, sangat sulit mengendalikan semuanya dan keluarga ini justru akan terpecah-belah.


Pantas saja Ale marah besar, pikir Erekleus tiba-tiba. Ares sekarang pasti sakit kepala memikirkan jumlah kami. Besar kemungkinan aku akan dilarang memiliki anak kedepannya, sebagai hukuman.


Sangat banyak peraturan di keluarga ini. Harga yang harus dibayar karena hidup sebagai Tuan Muda.


Apa ini pantas? Erekleus tiba-tiba memikirkan itu.


Apa anak di perut Mute pantas untuk ia perjuangkan? Atau haruskah ia menyerah dan menunggu saat yang tepat, sesuai peraturan?


"Pasti seru." Mute tiba-tiba membuyarkan lamunannya. "Keluarga kamu banyak dan tinggal bareng-bareng. Pasti seru, kan?"


Erekleus tak sanggup menjawab karena jantungnya sibuk tertusuk fakta. Wanita muda ini akan benar-benar sendirian kalau Erekleus menyerah.


"Ya, sangat seru." Erekleus tersenyum hangat. "Walaupun ada banyak hal menyebalkan."


*

__ADS_1


__ADS_2