Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
11.


__ADS_3

"Beri aku saran." Erekleus mengusap-usap kasar wajahnya lagi. "Beri aku saran agar tidak perlu menyakiti gadis itu. Setidaknya cara agar aku bisa membuat dia mengerti bahwa itu harus dilupakan."


"Mari berharap itu mudah, Tuan Muda." Yohana membungkuk, menepuk punggung Erekleus lembut. "Bagaimana jika perlahan Anda menjauh saja?"


"Menjauh?"


"Mendekatlah pada gadis bernama Dinda itu, secara alami. Kami akan membantu. Saya rasa keberadaan Dinda bisa mengintimidasi Mutia dan membuat dia berpikir harus menyerah pada Anda."


Erekleus langsung menoleh. "Menurutmu itu bisa?"


"Mari berharap itu bisa."


Erekleus mengangguk. Bukan ia tidak mau minta maaf, sungguh. Bukan itu. Ia akan minta minta maaf bahkan dua kali kalau perlu. Namun masalahnya Mute bisa saja berharap dan itu tidak boleh.


Dia tidak boleh salah paham.


"Aku seorang Narendra." Erekleus tersenyum getir. "Tugasku di sini hanya memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi, bukan mencari wanita."


"Itu benar, Tuan Muda."


"Hubungi adikku sore nanti. Aku perlu bicara dengannya."


*


Mute izin pada Nenek Iyem sebelum beranjak ke tenda Tuan Muda Erekleus. Di sana hanya tersisa seorang pengawal dan satu sekretarisnya, kalau tidak salah bernama Mein. Saat datang, mereka terang-terangan menatap Mute hingga ia tahu mereka mendengarnya.


Mereka mendengarnya, demi Tuhan!


Soalnya kesembilan anggota tim Erekleus tidur di sekitaran kamar pria itu untuk menjaganya. Jadi kalau mereka bangun, bahkan mungkin terbangun untuk mendengar semuanya.


"A-aku disuruh ke sini a-ambil kesemek kering, Kak."


Mein mengangguk, memberikan toples kecil berisi kesemek kering untuk Mute.


Lalu dia juga memberikan toples lain. "Ini cokelat khusus. Tuan Muda memang berencana memberikannya padamu."


Pada beberapa orang juga, tapi Mein merasa dia tidak perlu tahu siapa saja.


Mute pergi dengan wajah berseri-seri yang membuat Mein dan Ikarus agak serba salah.


"Dari wajahnya, kurasa Tuan Muda tidak jadi mengatakan sesuatu," kata Mein sambil merapikan kembali kotak kiriman dari Kastel Mawar. "Aku merasa bersalah. Dia tentu saja juga terbawa suasana."


"Tapi terlalu memikirkan perasaan gadis itu juga buang-buang waktu," jawab Ikarus. "Maksudku, mau bagaimanapun sepertinya kita kembali ke Kastel Mawar dua bulan lagi. Dia akan menerima kenyataan pelan-pelan."


"Ya, tentu saja." Mein mengangguk setuju karena memang tidak akan pernah ada opsi lain.


Dua bulan dari sekarang semua program Erekleus akan selesai dan yang akan tinggal di sini hanya perwakilannya saja. Karena empat bulan kemudian dia harus pergi lagi ke lokasi lain untuk melakukan hal sama.


Dua bulan seharusnya waktu cukup untuk Mute menerima kenyataan.

__ADS_1


Harus cukup, sebenarnya.


*


*


*


Erekleus tidak menyangka bahwa untuk pertama kali, dirinya, takut pada sesuatu.


Erekleus tidak diajari takut. Bahkan saat ia takut, ia diajari melawan rasa takutnya.


Di usia Erekleus yang ke sepuluh, dirinya disuruh loncat dari atas kuda yang sedang berjalan. Itu membuat ibundanya histeris, tapi ayah bodohnya terus menyuruh ia melakukan itu sampai Erekleus patah tulang.


Setelah sembuh, Erekleus disuruh melakukannya lagi sampai ia berhenti patah tulang dan bisa selamat loncat dari kuda.


Hidupnya sebagai Narendra ibarat hidup seorang raja tapi ia harus menanggung berat dari mahkotanya itu dengan hidup diluar batas normal.


Erekleus juga dipaksa rutin meminum racun lalu pada suatu pelatihan, ia dibiarkan terpatuk ular beracun untuk melihat sejauh apa ketahanan tubuhnya.


Takut bukanlah Erekleus. Takut bukanlah Narendra.


Namun Erekleus sekarang malah takut pulang.


"Aku merasa bersalah," gumam pria itu saat sendirian. "Aku jelas-jelas merebut sesuatu tapi tidak membayarnya. Padahal bukan milikku."


Rasanya seperti mencuri. Erekleus tidak pernah mencuri jadi ia merasa gelisah dan merasa harus mengembalikan curiannya itu.


Narendra menikah di usia tujuh belas tahun untuk mencegah ada alasan perzinahan diluar pernikahan.


Pada akhirnya Erekleus pulang pukul sebelas malam. Jam yang sangat tidak normal baginya karena Narendra pun memberi peraturan harus tidur di bawah pukul sembilan, tanpa pengecualian umur.


Di tenda, Erina tetap menyiapkan transmisi untuk Erekleus bicara dengan adiknya, Eusebia.


"Ese," panggilnya lemah pada sang adik.


"Aku terjaga karena mereka bilang Kakak ingin bicara sore hari, tapi ini sudah pukul dua belas lebih."


"Maaf, Adik Kecil." Narendra hanya boleh minta maaf pada saudara perempuan atau ibu mereka saja. "Kamu menungguku?"


"Ya, Kakak. Kakak ingin bicara apa? Dan kenapa Kakak terlihat sangat lesu? Apa bekerja di sana sangat menyebalkan? Apa orang-orang terus mengerubungi Kakak seperti semut?"


"Ya, begitulah." Erekleus tersenyum miris. "Ese, kurasa aku melakukan kesalahan."


"Seorang Narendra tidak melakukan kesalahan, Kakak."


"Tapi aku merebut mikik orang lain, tanpa izin."


Eusebia mengerjap. "Apa itu?"

__ADS_1


"Aku tidur dengan gadis di tempat ini."


"Benarkah? Apa dia sangat cantik sampai Kakak tergoda?"


Erekleus terpaksa harus menggeleng. Ya, setidaknya bagi standar Narendra, Mute sedikitpun tidak cantik.


"Aku melakukannya saat berpikir itu hanya mimpi. Aku kelelahan, lalu merindukan istriku. Itu bahkan tidak direncanakan."


"Maka di mana masalahnya?"


"Kurasa dia menyukaiku balik."


"Memang ada gadis yang tidak menyukai Kakak? Dia pasti buta jika tidak."


"Ese." Erekleus menggeleng. "Aku akan pergi dari tempat ini dua bulan lagi, jika semuanya berjalan lancar. Jika aku terkesan menyukainya balik lalu meninggalkan dia—"


"Hei, kamu menggangguku untuk masalah yang bahkan tidak layak disebut masalah?" Eusebia melotot. "Kakak menjadi sangat bodoh!"


"Eh?"


"Jika Kakak terus memikirkannya itu, malah terkesan Kakak mencintainya. Jika tidak, maka tidak usah pikirkan dan lakukan saja tugas Kakak. Mau gadis itu suka pada Kakak, salah paham pada Kakak, itu urusan dia dengan hatinya sendiri. Kakak tidak perlu bertanggung jawab untuk urusan hati seorang gadis selain aku, adik kakak, dan Ibunda, tentu saja."


"Tapi, Adikku, aku masih merasa—"


"Jika Kakak peduli pada siapa saja yang berharap pada Kakak, maka istri Kakak sekarang bukan satu orang melainkan sejuta orang! Kalau sudah mengerti, cepat lupakan!"


*


*


*


Eusebia mungkin benar. Ayo lupakan saja bahkan kalau itu terkesan badjingan. Karena mau bagaimana lagi, kan? Itu sudah terjadi dan tidak seperti bisa dikembalikan.


Yang terpenting hanya menjaga agar tidak ada yang tahu lalu mengolok-olok gadis itu. Ayo pelan-pelan menjauh saja.


"Tuan Muda."


Erekleus tersentak oleh panggilan lembut dari Mute. Padahal ia berniat kabur pagi-pagi buta, tapi ternyata dia keluar menjemur baju.


"Selamat pagi, Mute." Erekleus tersenyum.


"Pagi." Mute tersenyum manis. "Mau berangkat ke kantor?"


"Ya, tentu."


"Kesemeknya enak. Saya udah makan. Nenek juga mau tapi enggak bisa nelen lagi soalnya enggak ada gigi." Mute bercerita sambil tertawa manis yang membuat Erekleus merasa bersalah.


"A-aku akan memberi buah lembut jika mau." Erekleus berusaha terus tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu."

__ADS_1


Setidaknya katakan bahwa kabur benar-benar pilihan terbaik karena sekarang Erekleus merasa seperti penjahat!


__ADS_2