Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
35


__ADS_3

Kini dirinya memang cuma menganggap Erekleus sebagai 'alat' pemuasnya. Sebagai seorang wanita dewasa, Mute tidak munafik dan berkata ia tak butuh pria.


Ia butuh dan secara sukarela pria ini datang.


Dia berniat merayu Mute agar ia mau menyerahkan anaknya, maka Mute tinggal memanfaatkan dia tanpa memberi apa yang dia inginkan.


"Padahal aku berharap memberinya nama Eirene jika dia seorang perempuan." Erekleus tersenyum kecil. "Aku berharap dia tumbuh secantik mendiang Bibi Eirene."


"Sanya berkata memberinya nama seperti Narendra akan menjadi masalah baginya nanti."


Erekleus terdiam.


"Kamu menyesal? Melahirkan Ana?"


"Pertanyaan bodoh." Mute menoleh dan mengetuk kepalanya sendiri. "Hanya wanita gila yang bisa menyesal melahirkan seorang anak, Tuan Muda. Saya tidak gila."


"Tentu saja. Bahkan sekalipun dia lebih meniru Bibi Sanya, aku bisa merasakan dirimu darinya, dan dirinya darimu." Erekleus terkekeh kecil. "Aku sungguh berharap bisa ada di sisi kalian sejak dulu."


Perkataan Erekleus membuat Mute meletakkan pekerjaannya. Wanita itu mendongak pada Erekleus dan berkata, "Saya juga."


"Apa?"


"Ada waktu saya berharap Anda ada di sana."


Terutama waktu awal-awal Mute merasakan dia. Waktu dia mulai menendang dalam perutnya, lalu saat dia lahir, menangis kencang siang dan malam, tapi alih-alih kesal justru Mute sangat suka menggendongnya, memandangi wajah Erekleus di wajah Anastasia yang tenang menyusu padanya.


Dulu, Mute bukan tidak berandai-andai Erekleus ada di sana.


"Tapi sekarang sudah baik-baik saja." Mute kembali menatap kertas di meja. "Anastasia justru tumbuh sangat kuat sampai saya khawatir karena dia terlalu baik-baik saja."


"...."


"Keputusan saya tidak berubah, jadi sekalipun Anda datang lagi, Anastasia tetap—"


Mute mendadak berhenti bicara karena Erekleus tiba-tiba datang, memegang pergelangan tangannya.


Pria itu menatap intens padanya, seolah-olah ada sesuatu yang perlu dia lihat secara serius di sana.


"Kalau begitu, menikah denganku."


Mute tertegun. "Anda tidak waras?" balasnya kemudian.


"Aku waras," jawab Erekleus yakin. "Mungkin kamu tidak mengerti karena kamu tidak mempelajarinya secara dalam. Alasan kenapa kami Narendra dilarang menikahi seseorang diluar Narendra itu bukan karena status kalian rendah, bukan pula karena kalian tidak berdarah bangsawan."

__ADS_1


"Tapi itu karena kalian tidak dididik menjadi istri Narendra. Istri Narendra adalah wanita yang patuh, yang tidak banyak bicara, tahu cara merendah, dan menghormati Narendra sebagai Tuan mereka. Mau dia pengemis, mau dia lahir di tempat sampah, jika dia menerima didikan Narendra, mereka bisa menjadi istri Narendra."


Erekleus memeluk pinggang Mute.


"Kamu yang dulu tidak menerima didikan, tapi sekarang kamu sudah mengerti. Kamu mengerti siapa Narendra dan kamu mengerti bagaimana Narendra. Kamu memanggilku Tuan Muda, kamu pun menguasai bidang kedokteran. Kamu memenuhi syarat menjadi istri Narendra."


"...."


"Karena itu, jika sekarang, itu tidak melanggar peraturan."


Mute mengerti apa yang Erekleus katakan. Kalau pria ini sampai berani mengatakan pernikahan sementara dia tahu kalau melanggar bibinya yang menakutkan itu akan melelehkan dia hidup-hidup, maka berarti itu tidak mustahil.


Tapi .... Bukankah itu cuma memberi dia kebahagiaan?


Mute bahagia tanpa dia. Anastasia pun bahagia tanpa dia. Lantas kenapa Mute harus menikahinya? Anastasia tidak pernah mencari Ayah. Dia cuma mencari cokelat.


'Bunda beri Ana cokelat', 'Bunda Ana lapar ingin cokelat', selalu begitu kalimatnya. Bukan 'Bunda, Ana rindu Ayah'.


"Anda ingin tahu sesuatu, Tuan Muda?" Mute meraih leher Erekleus dan tersenyum di pipinya. "Saat saya bercermin, saya tidak melihat seorang gadis desa bertubuh kurus yang tampak lebih cocok mengemis rasa kasihan."


Mute mengusap-usap tengkuknya.


"Saat saya bercermin, saya melihat seorang wanita dewasa cantik yang membuat banyak pria rela menjilat tanah untuknya. Lalu Anda pikir saya mau memilih Anda?"


"Tolong mengerti bahwa saya hanya butuh pada kej4ntanan Anda. Selain dari itu, sedikitpun, saya tidak butuh."


Alih-alih marah, mata Erekleus justru berkilat lain. Dia balas meraih wajah Mute, menciumnya lamat-lamat seperti itu adalah ciuman pertama dalam hidupnya sebagai pria.


"Akan kubuat kamu mau," bisiknya. "Bahkan kalaupun harus memakai cara kotor."


Mute menyeringai. "Maksudnya kotor karena Anda mengotorinya dengan air liur?"


*


"Ayah?"


Anastasia terkejut saat ia bertemu Erekleus menuju lift. Tapi Anastasia lebih terkejut lagi karena Erekleus bersama Mute yang seketika melotot melihat Anastasia.


"Ana!" Mute buru-buru datang pada anaknya. "Apa yang kamu lakukan di lift Bibi Sanya?"


"Tentu saja dia menyelinap ke atas," jawab sebuah suara yang membuat Mute mematung.


Itu Ahelois. Salah satu orang yang paling keras menentang kelahiran Anastasia meski dia tidak sampai memaksa membunuhnya karena Sanya bersedia merawat mereka.

__ADS_1


"Anastasia!" Ketakutan membuat Mute spontan berteriak.


Tapi Erekleus langsung menahan bahu Mute. "Hentikan. Jangan berteriak padanya."


Sebagai ayahnya, Erekleus tidak bisa melihat putrinya dimarahi bahkan kalau dia berbuat salah.


Merasa Erekleus membelanya, Anastasia langsung bersembunyi di belakang tubuh pria itu. Dan sebagai ayahnya, Erekleus berjongkok, memeluknya erat.


Jika dia adalah Putri Narendra sepenuhnya, Mute pasti sudah dicambuk karena sempat berteriak.


"Bunda, Ana minta maaf." Anastasia menatap Mute melas. "Ana melakukannya karena Bibi Sanya berkata terserah Ana."


Mute menahan rasa kesal di mulutnya. Dia akhirnya tidak bisa marah karena ada tiga Narendra sekaligus di sana. Apalagi ketika Ares maju, datang mengusap puncak kepala Anastasia.


"Jangan marahi anakmu, Mutia. Dia keturunan Narendra. Dia boleh berbuat sesukanya dan tidak ada yang boleh menghalanginya."


"Tuan Muda, putri saya bukan—"


"Dia putri Narendra. Aku mengakuinya begitu. Kamu mau membantah?"


Mute menunduk. Sempat diam sebelum dia patuh menjawab, "Tidak, Tuan Muda."


"Maka itu baik." Ares tersenyum. "Aku dan Ahelois datang menemuimu untuk mengizinkan Anastasia hadir di pertemuan nanti. Kudengar kamu menolaknya, jadi mungkin kamu ingin menjelaskan alasannya padaku?"


Kalau Tuan Muda Pertama dan adiknya datang secara khusus, itu berarti dia mau memerintah bukan berdiskusi. Tapi karena Ares adalah pria berbudi, dia menggunakan bahasa halus.


Mute tahu ia harus menjawab, "Tentu, Tuan Muda. Anastasia boleh hadir di mana Anda ingin."


Erekleus agak mencebik. Giliran Ares yang meminta dia malah tak membantah, tapi Erekleus yang membujuknya lewat berbagai tindakan justru ditolak.


"Tapi, Tuan Muda," lanjut Mute sebelum Ares berpikir itu sudah selesai, "bisakah saya meminta keadilan?"


"Keadilan?"


Mute menunduk sopan dan berkata, "Tolong jangan sampai ada sesuatu seperti 'perubahan' peraturan dan membuat putri saya menjadi Putri Narendra. Tolong biarkan kami tetap sama seperti sekarang karena inipun sudah cukup."


Artinya : saya tidak mau sekalipun Anda merestui saya menikahi Erekleus karena kalian sudah memutuskan mengucilkan kami.


Sejenak Ares melihat Erekleus dan menemukan adiknya menggeleng. Jangan setuju, begitu pintanya.


Tapi Ares mengangguk. "Baiklah. Anastasia tetaplah anak khusus. Dia milikmu sepenuhnya."


"Terima kasih."

__ADS_1


*


__ADS_2