
Atau paling tidak itu pikir Dinda saat masuk ke rumah Mute tanpa izin, menemukan gadis itu tengah muntah-muntah.
Dinda sempat mengira dia muntah karena stres. Tapi seperti sebuah wahyu, Dinda mendadak berpikir lain.
Dia kurus, mendadak tidak banyak makan, matanya hitam kurang tidur, terlihat lesu, dan muntah-muntah.
"Kamu hamil?" Dinda melotot lebar. "KAMU HAMIL?!"
Mute yang syok akan kedatangan Dinda buru-buru memberi isyarat dia diam.
"Sssshhhttttt, jangan sampe orang tau! Plissssss!"
Dinda menutup mulutnya buru-buru. "Siapa?" tanya dia berbisik, agar tidak terdengar. "Kamu yah, Mute, bisa-bisanya tidur sama ...."
Tunggu sebentar.
Mute selalu dikenal tidak ganjen. Juga tidak banyak yang naksir padanya. Dia anak rumahan yang sibuk mengurus nenek. Dan satu-satunya yang cukup dekat dengan Mute belakangan adalah ... Erekleus.
"Ya Tuhan." Dinda limbung, menutup mulutnya agar tidak berterkak kencang. "Kamu ... kamu hamil anaknya Erekleus?!"
"Ssshh, Dinda, jangan teriak. Aku mohon. Plisss, jangan."
Tidak. Dinda lebih suka mati daripada teriak dan membeberkan semuanya.
Kalau sampai Erekleus tahu dia punya anak, itu berarti dia terpaksa menikahi Mute sementara dia tidak mau menikahi Dinda!
Tidak bisa! Tidak akan bisa!
"Erekleus udah punya istri," kata Dinda, yang panik memikirkan Mute jujur. "Istrinya cantik banget, Mut. Cantik banget sampe aku aja minder!"
Mute pucat pasi.
"Jangan sampe dia tau. Jangan sampe. Dia enggak bakal tanggung jawab. Dia cuma bakal ninggalin kamu malu!"
Mute putus asa sampai-sampai dia menangis pada Dinda. "Terus aku harus gimana, hiks? Kalo dia pergi pun anak aku tetep bakal lahir. Orang juga bakal tau, Din."
"Kalo gitu gugurin!"
"Tapi—"
"Kamu mau malu ditinggalin kayak sampah atau mau nyelametin harga diri kamu plus jagain nenek kamu?" ancam Dinda telak.
__ADS_1
Kini Dinda sungguhan menjalankan tugasnya sebagai teman baik Mute, yaitu bersikap baik dan menjaganya.
"Tenang aja. Aku bakal pastiin kamu aman,'" kata gadis itu. "Kita gugurin nanti malem. Aku bakal temenin sampe selesai. Aku juga bakal minta tolong Ibu. Tenang aja."
Mute menangis terisak-isak di pelukannya. Mau tak mau dia merasa sedikit lega karena bisa menceritakan beban itu.
Tapi saat Dinda pergi dari kediaman Mute, Dinda berjalan tergesa-gesa pulang untuk mengadu pada Bunga.
"Mute hamil anak Erekleus, Bu!" Begitu jerit Dinda histeris. "Dia tidur sama Erekleus padahal enggak sama aku! Sekarang malah dia yang hamil! Kalo Erekleus tau, dia yang bakal tinggal di istana, bukan aku! Aku enggak rela!"
Bunga juga syok berat, tapi wanita itu bergegas paham apa yang harus dilakukan. "Tenang aja. Kita ke bidan gugurin bayinya diem-diem. Nanti malem kita pergi bareng-bareng."
Di depan tenda, Yohana dan Erina melihat Dinda berjalan pergi tadi dengan wajah pucat. Itu bukan ekspresi normal jadi mereka bergegas melaporkannya pada Erekleus.
"Pucat? Maksudmu marah?" balas Erekleus yang menduga mungkin Dinda marah-marah karena Mute bersikap menyebalkan.
"Tidak, Tuan Muda. Itu lebih seperti ... sikap orang yang ketakutan. Gelisah karena sesuatu."
Erekleus mengerutkan kening. "Kalau begitu pergi dan cek kondisi neneknya. Bisa saja dia sekarat."
Mira bergegas pergi untuk memastikan dugaan kalau Nenek Iyem mengalami sesuatu, tapi Mira kembali dengan kabar beliau masih baik-baik saja. Bahkan tidak terlihat ada tanda sakit.
Erekleus menghela napas. "Gadis kecil itu mengalami hal buruk dalam hidupnya," keluh pria itu kasihan. "Jika aku tahu siapa ayahnya, akan kupastikan tangan dan kakinya patah. Dasar pria tidak berguna."
Mendadak Erekleus dapat pencerahan.
"Hei, itu benar." Pria itu berdiri saking semangatnya. "Minta Argan mencari ayah badjingan yang menelantarkan putrinya itu. Akan kupastikan dia bekerja seumur hidup demi anak perempuannya."
Argan adalah pengawal keenam Erekleus yang bekerja di luar desa, mengawasi semuanya hanya lewat layar komputer. Dia ahli dalam berbagai hal mengenai teknologi, orang menyebutnya hacker atau apa pun itu.
Semua ponsel yang terhubung pada jaringan di desa sekitaran sini adalah telinga bagi Argan. Dia mendengar segalanya.
Segala-galanya.
Termasuk ... omongan Dinda dan Bunga.
"Ini bencana," gumam pria berambut merah yang dikelilingi ratusan layar dalam ruangan gelap itu. "Kalau benar itu anak Tuan Muda, ini bencana besar."
Kenapa bencana? Karena Erekleus adalah tuan muda Narendra. Mari kesampingkan fakta soal beda kasta. Mari bicara soal satu peraturan saja.
Peraturan Narendra turun-temurun: keturunan Narendra harus diatur. Yang dalam artian, Narendra menentukan kapan mereka boleh memiliki keturunan. Fase sebelum keturunan boleh dimiliki itu disebut fase sterilisasi yaitu sekarang. Dan kapan fase itu dihentikan sejenak?
__ADS_1
Adalah setelah pernikahan Tuan Muda Terakhir di mana Erekleus sebagai Putra Keempat Narendra masih punya sembilan saudara laki-laki yang belum menikah. Putra Terakhir Narendra sekarang masih berusia sembilan tahun yang berarti pernikahan dia adalah delapan tahun kemudian.
Itu adalah peraturannya.
Anak itu, anak di perut Mute, adalah anak yang tidak boleh lahir menurut peraturan Narendra. Tidak boleh ada. Karena dia akan merusak seluruh sistem yang ada.
"Aku harus diam?" gumam Argan cemas. "Atau harus kuberitahu?"
Tapi kalau diberitahupun peraturannya ya gugurkan jadi mungkin diam saja?
"Ayo diam saja." Argan memutuskannya. "Maaf, Tuan Muda. Aku tidak mau membuat kamu mengambil keputusan berat."
Kalau dia tahu dan harus membunuh anaknya, dia pasti terluka. Jadi lebih baik dia tidak tahu dan biarkan saja anak itu gugur.
Ya, semoga dia pergi ke surga yang lebih baik daripada dunia.
*
*
*
Dinda meminta bantuan Jaler sebagai satu-satunya orang yang bisa diperintah tanpa khawatir dibantah. Pria yang sudah sangat lama berharap jadi pacarnya itu langsung setuju saja ketika disuruh menjemput Mute diam-diam.
Bahkan dia tidak peduli waktu tahu mereka mau menggugurkan kandungan.
"Mute, Mute. Apa kata aku, kan?" celoteh Jaler sambil berjalan di depan. "Dibilang jangan main-main sama playboy. Iya sih kaya, ganteng, udah kayak artis tapi yah kamu kira bakal tanggung jawab? Cuih, mah. Kalo mukamu udah kayak Ariel Tatum baru tuh dia bakal tanggung jawab. Rela sujud malah."
Mute cuma menahan tangis sambil mengikuti Jaler yang membawanya ke tempat Dinda dan Bunga menunggu.
Malam-malam mereka takut jalan sendiri jadi Jaler adalah jaminan mereka sampai ke tempat tujuan.
"Bakal ketahuan kalo pake motor jadi jalan aja," kata Bunga sambil menarik tangan Mute. "Sini kamu! Dasar perempuan enggak bener!"
Mute membiarkan tangannya diseret-seret, menjadi objek pelampiasan Bunga yang sebal karena bukan anaknya. Kalau itu Dinda, mereka bisa menuntut tanggung jawab dan keluarga mereka otomatis akan berbesan dengan Narendra.
Tentu saja Bunga tidak tahu bahwa berbesan dengan Narendra itu mustahil. Dua ratus tahun Narendra berdiri, mereka tidak pernah punya besan.
Semua gadis yang menjadi istri Narendra adalah anak yatim piatu dan dibesarkan secara khusus hingga hidup dan mati pun demi Narendra saja.
Mereka semua berusaha berjalan dalam gelap mengikuti langkah Jaler, tanpa tahu bahwa Erekleus mencium gelagat anehnya.
__ADS_1