Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
8.


__ADS_3

Tenda Erekleus selesai dibuat hanya dalam waktu satu setengah jam. Lagi-lagi warga berkumpul menatap kemegahan tenda yang kelihatannya malah jauh lebih layak daripada rumah-rumah mewah di sekitaran.


Itu bukan tenda biru atau tenda orange, tapi itu kain besar, super duper besar yang lebih mirip hiasan pengantin, berdiri seperti rumah yang sangat luas. Warnanya hitam legam, tapi dihiasi gambar-gambar mawar mewah berwarna emas. Di atas tendanya ada bentangan tenda lagi, warna hitam yang nampaknya untuk memastikan kain tidak terkena hujan.


Spring bed diangkut ke dalam tenda bersama barang-barang lainnya. Semua orang sibuk mengagumi tenda ala horang kayah itu, sementara pemiliknya malah sibuk bekerja.


"Tuan Muda." Walau nama dia Erekleus, rasanya aneh memanggil nama dia langsung di depan dia, jadi Mute ikut memanggilnya Tuan Muda. "Kamu enggak istirahat dulu? Tuh, kayaknya udah selesai tenda kamu."


"Aku butuh menghitung anggaran," jawab dia tanpa melirik. "Bisa tolong panggilkan aku Yohana? Dan panggil juga Dinda kemari, jika dia ada."


Mute buru-buru pergi memanggil Yohana lalu mencari Dinda yang ternyata juga ada, mengintip dari kejauhan teras rumah orang.


"Kamu dipanggil Erekleus."


"Serius?" Dinda langsung gembira. Buru-buru merapikan rambutnya dan berlari menuju tempat Erekleus berada.


Mute bisa mengerti kenapa. Setelah melihat tenda khusus Tuan Muda berdiri, semua orang kayaknya rela menjilat tanah asal dilirik oleh dia.


Kayanya pasti sangat luar biasa!


Mute kembali ke rumahnya buat melihat nenek, sementara Dinda ketar-ketir dipanggil oleh Erekleus.


"Tuan Muda."


"Ya." Erekleus menoleh pada Dinda. "Bisa kamu beritahu ayah dan ibumu, aku mengundang semua pengusaha di desa ini untuk datang makan bersamaku. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan."


"Bisa, Tuan Muda. Bisa." Dinda mengangguk-angguk. "Ada lagi?"


"Tidak, pergilah."


Erekleus mengatakan itu bukan buat mengusir tapi untuk menyuruhnya segera pergi menyampaikan karena ia benci orang lelet. Pria itu kembali fokus pada kertas-kertas di depannya, abai pada kerumunan sekitar.


Walau Erekleus bersikap begitu, Dinda berusaha tak patah semangat. Gadis itu pulang mengatakan pada orang tuanya pesan Erekleus, tentu saja juga bercerita tentang tenda super megah yang bahkan lebih megah fari tenda pengantinan.


Walau yang diundang hanya pengusaha, Pak Surya menyuruh Dinda untuk berdandan cantik, demi memikat hati Erekleus.


Ya, tidak ada yang percaya pada fakta Erekleus sudah menikah.


*


Malam harinya Erekleus bersiap-siap di tenda untuk menyambut tamu-tamunya.

__ADS_1


"Ikarus," panggilnya pada salah satu pengawal. "Kamu pandai membuat sesuatu, kan? Buat pembangkit listrik tenaga matahari besok. Hanya hari ini aku meminjam listrik warga di sini."


"Tuan Muda Pertama memang berpesan melakukannya, Tuan Muda."


"Ya, lakukan. Oh, dan kirim pada Kakak laporan mengenai situasi sekolah dan rumah sakit di semua desa sekitaran sini. Lalu, minta juga Ese menulis pendapatnya."


"Baik, Tuan Muda."


Erekleus meregangkan tangan agar sekretarisnya bisa leluasa menata pakaiannya. "Baru dua hari," gumam Erekleus. "Tapi aku sudah lelah. Bekerja di lapangan ternyata sangat melelahkan."


"Itu karena Anda berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, Tuan Muda." Mereka menjawab. "Anda menangani terlalu banyak hal di hari yang sama. Tolong bersantai sedikit."


"Aku tidak bisa," jawab Erekleus dengan senyum miris. "Aku hidup di Kastel Narendra, Mira, tempat yang mungkin tidak akan di bayangkan oleh mereka di sini. Jika aku tidak berusaha membangun hidup mereka setidaknya lebih baik, maka apa gunanya aku mendapat keistimewaan?"


"Nyonya Roxanne sangat bangga pada Anda, Tuan Muda," balas Mira penuh ketulusan.


"Tentu saja. Aku hidup untuk itu." Erekleus juga tersenyum tulus.


Setelah semua pakaiannya selesai dipasang, Erekleus keluar dari tenda. Disambut oleh meja-meja yang disatukan hingga membentuk persegi raksasa, berisi makanan-makanan yang Erekleus pesan dari luar desa untuk tamunya.


Sementara ia makan malam sambil membicarakan keperluannya pada mereka, Erekleus juga meminta Mute mengundang warga desa makan di sisi lain bersama layar raksasa sebagai teman makan.


*


Iya ya. Pekerjaan dia apa sebenarnya? Kenapa Pak Kades saja sampai rela bungkuk-bungkuk di depan fia, padahal dia lebih muda?


Mute tidak tahu, tapi terus ditanya.


"Ibu-ibu, udah yah. Please bubar dulu, yah. Tuan Muda-nya udah mau masuk tidur."


Mute berusaha mengusir mereka karena sekarang sudah jam sembilan dan si Tuan Muda sudah masuk ke tenda karena acaranya sudah selesai. Tapi apa?


Semua warga masih sibuk kumpul, kepo berat bahkan tentang tidurnya si Tuan Muda.


Bahkan rumah Mute mendadak kebanjiran orang minta menginap. Mute sudah terlalu capek buat mengusir. Ia masuk saja, memastikan nenek sudah tidur dan tidak mau ke toilet lagi, lalu ia ikut tidur.


Esok harinya, jam lima pagi, Mute terbangun gara-gara suara pekikan gadis-gadis.


Mereka berteriak kenapa? Karena di depan tendanya, pengawal Tuan Muda plus di Tuan Muda sendiri sedang bertelanjang dada, bergulat dengan bapak-bapak dan pemuda kampung.


"Ya ampun." Mute menepuk jidat. Entah kenapa ia malah kesal, mereka seperti tidak peduli bahwa mereka itu macam artis yang kentut saja diperhatikan!

__ADS_1


"Muteeee!" Suara nenek berteriak memaksa Mute datang.


"Iya, Nek?"


Nenek berbicara tak jelas. Tergolek di tempat tidur tapi nampaknya dengar keributan di luar.


"Pada main sumo di sawah, anak-anak," jawab Mute setelah paham omongan tak jelas neneknya. "Ituloh, tamunya Pak Kades ngajak orang-orang main, olahraga. Makanya berisik."


Menjelaskan sesuatu pada Nenek Iyem itu butuh waktu setengah jam. Omongannya harus diulang-ulang biar dia paham. Tanpa sadar malah Mute melewatkan keseruan, sampai akhirnya Yohana datang.


"Mutia, bisa kupinjam kompormu dulu? Aku ingin mengukus ubi untuk Tuan Muda."


"Boleh, Kak. Boleh." Mute meninggalkan neneknya. Bermaksud membantu Yohana mengukus karena mungkin dia tidak tahu cara pakai kayu bakar, tapi ternyata dia bisa.


"Tenanglah, Mutia. Kami semua terlatih untuk hidup di lingkungan apa saja. Tuan Muda sudah bilang tidak butuh perhatian."


Tapi dia disebut Tuan Muda jadi semua orang berpikir dia manja.


Mute pun keluar meninggalkan Yohana, terkejut melihat halaman rumahnya malah tambah ramai oleh warga. Padahal ternyata kompetisi gulatnya sudah selesai dan mereka semua cuma duduk-duduk di sawah kering.


"Ganteng banget, yah? Ngalahin artis gantengnya! Duh, kalo jadi istrinya mah udah bahagia lahir batin!"


"Iya, malah orangnya ramah banget! Tadi dia senyum sama aku tau!"


"Iya, dia juga gitu ke aku. Kalo diajak ngomong ketawa manis banget! Ugh, suka banget!"


Mute tak tahu apakah itu pengaruh bisikan di sekitarnya atau pengaruh matahari yang mulai bersinar tinggi, tapi mendadak matanya terpaku pada Erekleus. Pria itu mendongak saat menenggak air putih di botol hitam dengan logo mawar (lagi), kontras dengan kulit putihnya.


Tetesan air jatuh dari sela-sela mulutnya, mengalir ke leher, jatuh ke dadanya yang juga dipenuhi bulir keringat, terus turun ke perutnya yang mirip susunan roti sobek. Atau cokelat batang?


Mute menelan ludah.


Tidak, tidak, tidak! Jangan terlena pada hal yang tidak terjangkau! Mana ada orang macam dia berjodoh dengan gadis desa!


Tapi seolah semesta sedang bercanda, Erekleus malah tertawa tiba-tiba oleh ucapan seseorang di sekitarnya. Tawa dia menciptakan gelombang jerit histeris dari gadis-gadis yang berkumpul di depan rumah Mute.


Jeritan yang membuat Erekleus bahkan terkejut. Dengan usilnya dia melambaikan tangan, lalu tertawa lagi mendengar jeritan semakin kencang.


Mute tak tahu kenapa tapi buru-buru ia masuk ke kamar neneknya, mengajak beliau bicara sambil berharap panas di seluruh tubuhnya mendingin.


*

__ADS_1


__ADS_2