
"Ana ingin tinggal di permukaan!" Anastasia melotot. "Bibi Merah, biarkan Ana! Cepat biarkan!"
"Tidak ya tidak, Anak Kecil." Askala menopang dagu. "Tapi aku akan membiarkanmu melakukan sesuatu."
"Apa?"
"Tujuh hari dari sekarang, akan ada makan malam bersama untuk generasi ayahmu." Askala melirik Erekleus. "Kamu boleh datang ke acara itu. Jika mereka menerimamu dan berjanji tidak akan menjadikanmu alasan untuk melakukan kesalahan yang sama, maka kamu boleh tinggal di permukaan."
Erekleus tahu bahwa itu sebenarnya tantangan untuknya.
Yakinkan semua saudara-saudaramu, begitu kata Askala secara tidak langsung. Kalau mereka semua setuju dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan sama, maka Anastasia setidaknya boleh bertemu Erekleus.
*
"Itu keputusan yang sangat murah hati untuk ukuran Askala." Sanya langsung berkomentar setelah mendengar cerita dari Erekleus di pintu lift.
Tentu saja, dia harus mengantar Anastasia pulang walau sangat mau membawanya pulang bersama ke bangunan belakang.
"Tidak semurah hati itu, Bibi, kurasa." Erekleus menurunkan Anastasia. "Saudara-saudaraku pasti akan memanfaatkan ini untuk menekanku."
"Saudaramu tidak semengerikan generasi ayahmu, jadi bersyukur pada hal itu." Sanya menepuk kepala Anastasia. "Tapi jika ingin membawa anak ini naik, kurasa kamu harus memberitahu ibunya dulu."
"Ya, Bibi Askala mengizinkan aku bertemu Mutia sebentar, untuk memberitahunya."
"Maka tidak ada masalah." Sanya mengibas-ngibaskan tangan. "Pergilah. Kalian merepotkan diurus."
Melihat tangan Sanya, Anastasia menirukannya dan mengibas-ngibaskan tangan. Jelas saja Erekleus miris melihat anaknya itu terlalu sering bergaul dengan orang macam Sanya.
"Ana, peluk Ayah sebentar, Sayang."
"Argh, Ana lelah dipeluk!" Anastasia bersembunyi dibelakang Sanya. "Ana mau mandi lalu tidur."
"Ana—"
Sanya menekan tombol lift dengan ujung sepatunya, tak peduli jika Erekleus sangat berharap pelukan.
"Tuan Muda." Ikarus yang sejak tadi mengikutinya pun bersuara.
"Ya, itu mengkhawatirkan." Erekleus beranjak. "Dia bergaul terlalu lama dengan Bibi Sanya. Harusnya dia bergaul dengan Ibunda saja."
"Tapi dengan begitu Nona Muda jadi terlihat mudah melawan Nyonya Askala."
Ya, itu mungkin keuntungannya. Jika Anastasia tadi bersikap lemah, Askala mungkin muak padanya. Semua Narendra dilatih dengan mental yang kuat, karena itu mereka secara alami tidak menyukai orang lemah di posisi sama seperti mereka.
__ADS_1
Tapi Anastasia menunjukan sikap sangat baik. Semena-mena dan tukang perintah itu seperti sifat dasar dari semua gadis Narendra, jadi secara alami dia justru cocok dengan Askala.
"Aku perlu menyiapkan bujukan." Erekleus melangkah cepat meninggalkan danau. "Siapkan hadiah untuk Eusebia dan Ahelois dulu. Pertama, aku perlu mendapat restu mereka."
"Ya, Tuan Muda."
*
Mute memerhatikan sekawanan ikan berenang di sekitaran dinding kaca. Karena bangunan ini berada di bawah danau, tentu saja seluruh pemandangan jendela adalah air dan kawanan ikan.
Bisa dibilang, selain pekerjaan, tidak ada hal yang bisa dilihat di tempat ini.
Perempuan itu memejam, memikirkan pendidikan kedokterannya yang hampir selesai. Jika nanti pendidikan Mute selesai, ia akan diperbolehkan keluar dari Kastel Mawar ini dan bekerja di berbagai tempat seperti Erekleus.
Mungkin, Mute juga akan sesekali mengikuti rombongan Tuan Muda Narendra.
Mute sekarang bertanya-tanya apa saat nanti ia pergi dua tiga bulan, Anastasia akan kesepian? Mute tak bisa membawanya karena anak itu sangat berharga bagi keluarga ini.
"Bunda, Ana lapar!"
Yah, mungkin dia akan baik-baik saja selama diberi cokelat. Sanya mungkin gila tapi dia selalu bisa diandalkan.
"Bunda, beri Ana susu juga."
Anastasia tidak merespons, malah sibuk menenggak susu kambing segar dari dalam kulkas.
Dia sangat mirip dengan para Narendra itu padahal Mute sedikitpun tidak mengajarinya menjadi Nona.
"Bunda."
"Ya?"
"Ada seseorang yang mau bertemu Bunda."
"Seseorang?"
"Ya, dia bilang akan datang satu dua hari lagi. Bunda harus bertemu orang itu, demi Ana."
Mute hanya berpikir bahwa mungkin itu seseorang yang dikenalkan oleh Sanya lagi dan sebenarnya itu tidak terlalu penting. Anaknya sering begitu. Mengenalkan seseorang yang ternyata cuma pengirim barang dari atas, karena dia dan orang itu bicara akrab.
"Baiklah." Mute tersenyum mencubit pipinya. "Suruh dia menemui Bunda jika sudah datang."
"Baik!"
__ADS_1
*
Mute menahan napasnya dan hanya bisa mematung ketika Anastasia menarik seorang pria ke hadapannya, yang Mute pikir adalah asisten laboratorium Sanya atau paling banter pengawal.
Tapi yang dia bawa justru Erekleus?
"Ana." Mute buru-buru menarik anaknya, memeluk dia defensif. "Ana, pergilah pada Bibi Sanya dan jangan keluar sampai Bunda datang. Mengerti? Jangan keluar."
Anastasia tentu saja bingung. Sedangkan Erekleus mengerti mengapa Mute mendadak takut. Dia sudah tinggal cukup lama di sini dan sudah bukan anak polos dari desa yang berpikir dia dibawa untuk dinikahi setelah hamil.
Mute sudah mengenal Narendra dari dalam. Dia tahu jika Narendra sungguhan memutuskan kematian Anastasia, tidak akan ada sesuatu seperti 'dia hanya anak kecil tidak berdosa'.
"Jangan khawatir." Erekleus berbicara pelan agar dia tidak merasa terancam. "Mutia, aku datang bukan untuk melukai Ana. Bukan seperti itu. Aku bersumpah."
Ekspresi tegang di sana sedikit melunak. Tapi Mute ternyata tetap berkata, "Anastasia, tolong pergilah pada Bibi Sanya. Bunda minta tolong."
Anastasia anak yang pintar sekalipun nakal. Melihat keseriusan di wajah Mute yang berbeda, Anastasia segera mengangguk, pergi meninggalkan mereka.
Begitu Anastasia pergi, Mute berdehem.
"Duduk, Tuan Muda." Dia bersikap formal sebagai seorang bawahan. Mempersilakan Erekleus duduk di sofa dan pergi menyeduh teh untuknya.
Erekleus sedikit merasa canggung. Hubungan mereka seharusnya tidak buruk tapi jelas tidak baik juga.
"Sejak kapan Anda menemui Ana?" tanya Mute seperti gumaman.
"Ini pertama kali." Erekleus ingat anaknya bilang jangan katakan pada Bunda dia naik ke permukaan. "Aku hanya berhubungan lewat Bibi Sanya."
"Tapi bukannya tidak boleh? Anda melanggar peraturan? Anda tahu itu membahayakan Anastasia daripada Anda sendiri, kan?" Mute membalas tajam.
"Bibi Askala memaafkanku." Erekleus buru-buru menenangkannya. "Juga, Bibi memberi syarat."
"Syarat?"
"Bibi bilang aku boleh menemui Anastasia jika aku berhasil meyakinkan saudara-saudaraku. Karena itu aku berencana membawanya ke pertemuan—"
"Tidak." Mute bahkan tidak membiarkannya bicara sampai selesai sekalipun tidak boleh untuk dia bersikap kurang ajar. "Tolong lupakan saja. Anastasia sudah sangat nyaman di sini jadi tidak perlu baginya naik ke permukaan."
Dia dendam, pikir Erekleus menahan ringisan. Tentu saja dia dendam. Aku bertanggung jawab tapi kurasa bukan tanggung jawab semacam ini yang dia mau.
"Jika izin diberikan, Anastasia mungkin akan mendapat perlakuan lebih baik dan bahkan tinggal di tempat seharusnya." Erekleus berucap hati-hati. "Pikirkan lagi, Mutia. Kamu dan aku sama-sama menyayangi anak itu."
"Tidak."
__ADS_1
*